Blind Love

Blind Love
Godaan sang Mantan



Semilir nya angin sore begitu sejuk terasa menerpa wajah Mae yang sedang menikmati sunset ditepi pantai tepat di belakang sebuah hotel yang hendak ia tangani.


Langit terlihat jingga disinari mentari yang hendak pulang ke peraduan nya di ufuk barat.


Tanpa sadar senyum merona menghiasi bibirnya yang dipoles lipstik berwarna natural.


Pikiran nya melayang ke masa lalu tatkala Ia bersama seseorang di tempat yang sama beberapa tahun yang lalu.


Pas Ia lagi cupu cupu nya dulu tapi banyak Pria kaya yang mengejarnya saat itu.


Terlalu indah untuk di kenang,


terasa manis saat di ingat,


Tapi sekarang semuanya tinggal kenangan, terasa pahit kini terasa, hidupnya penuh dengan kejutan.


Mae akui, saat ini karirnya tengah menanjak,dan Ia sangat bersyukur dengan semua itu.


Tapi kehidupan percintaannya nya tak seindah seperti kisah Cinderella, Pangeran impian nya masih belum datang menjemput nya.


Mentari kini telah hilang ditelan kegelapan, langit jingga berubah menjadi temaram,habis terang terbitlah gelap,langit pun seperti nya lelah dan bergantian tugas menyelimuti bumi.


Mae pun bangkit dari duduk nya, berniat segera menutup setiap lembaran kenangan yang memang harus Ia kubur dalam-dalam di lubuk sanubari nya.


Drtttt, drtttt,,


Ponsel di dalam saku celananya terasa bergetar,Ia pun mengangkat telepon nya sambil berjalan.


"Hallo, Mbak Mae!Bos Kami sudah menunggu Anda di ruangan nya, silahkan Anda langsung masuk untuk menemui nya!"


Kata resepsionis hotel itu memberitahu nya.


"Baik Mbak, terima kasih atas informasinya!"


Jawab Mae sambil menutup sambungan telepon nya, lalu Ia pun melenggang masuk ke dalam hotel.


"Silahkan masuk Mbak!Bos sudah menunggu di dalam!"


Ucap resepsionis cantik itu setelah mengantar Mae sampai ke depan pintu sebuah ruangan.


Mae pun mengangguk sambil tersenyum dan mengucapkan terimakasih.


Sebelum Ia masuk, langkah nya terhenti mengingat sesuatu, perasaan Ia pernah masuk ke ruangan itu dulu.


Ya,ini adalah kamar pribadi milik Sultan dulu.


Namun sekarang berbeda.


Menurut informasi yang Mae terima, Hotel ini bukan lagi milik Sultan,tapi sudah diambil alih oleh Kakak nya, yaitu Raja, maka nya Mae mau mengambil tawaran untuk menjadi Desainer interior saat Bos nya menawarkan pekerjaan ini kepada nya.


"Assalamualaikum, permisi!"


Ucapnya begitu Ia masuk.


Tak terdengar ada jawaban.


Mae terus masuk sambil melihat sekeliling, tapi tetap tak menemukan seseorang disana.


Sampailah Ia di balkon yang menghadap tepat ke arah laut, cahaya remang-remang menghiasi balkon tersebut namun begitu indah dan nyaman untuk menikmati gemerlap nya bintang yang bertaburan di atas sana.


Nah! Itu Dia orang yang Mae cari, seorang pria bertubuh tinggi besar dan tegap tengah berdiri di tepi balkon sambil memegang sebuah kamera dan sepertinya sedang membidik gambar yang bagus.


"Selamat malam pak,ada yang bisa saya bantu?!"Sapa Mae,Dia juga penasaran dengan sosok dihadapan nya.


"Malam Mae!senang bisa bertemu kamu lagi disini!"


"Sultan!?Apa yang kamu lakukan di sini?!"


Mae begitu terkejut saat mengetahui jika Pria yang berada dihadapannya adalah Sultan.


*Kenapa jadi begini sih! kenapa Aku harus terus bertemu dengan nya lagi! Besok Aku harus pindah ke luar kota!Atau sebaiknya Aku pulang kampung saja ya?!*


Batin Mae sambil terus mundur berniat kembali keluar dari kamar itu, menghindari Sultan lagi.


"Ini kan Kamar ku,kamu tahu itu kan?! dulu bahkan kita pernah bersama disini,apa kamu lupa?!


Tenang lah Mae! jangan kabur,Aku tak akan menyakiti mu! duduklah disini!"


Sultan menarik tangan Mae dan mendudukkan nya di kursi yang Ia tarik.


Kata Sultan sambil menyodorkan piring ke hadapan Mae.


Mae masih terdiam kebingungan dengan tingkah Sultan, banyak sekali pikiran yang berkecamuk di kepala nya, takut inilah, takut itulah.


"Ini maksudnya nya apa ya?!Kita kan sudah sepakat untuk tidak saling bertemu lagi!kita sudah bercerai dan kamu juga sudah menjadi milik orang lain!"Kata Maa begitu ketus tanpa memperdulikan perhatian Sultan kepada nya.


"Memang kamu gak lelah terus terusan gencatan senjata dengan ku, padahal kita masih saling mencintai!"Ujar Sultan penuh godaan.


"Kita?!Lo aja kali,Gue nggak!Aku bukan pelakor yang suka rebut laki orang! ngerti kamu!?Udah deh!Aku sibuk dan Haikal sudah menunggu ku! Kita sudah janjian mau dinner malam ini!"Mae kembali bangkit dari tempat duduknya berniat segera pergi dari sana.


"Hahaha! Haikal?!Aku tahu kamu hanya berlindung di belakang nya demi menghindari ku! Tak sedikit pun terlihat cinta di mata kamu untuk nya!"Ledek Sultan,dalam hati Mae membenarkan ucapan Sultan tapi Ia berusaha menutupi nya.


Mae tetap cemberut dalam posisi nya.


"Kamu lebih cantik sekarang di banding dulu,tapi dulu kamu lebih imut imut dan lucu,kamu sungguh menggemaskan Mae,dan sampai sekarang hanya ada kamu di hatiku! lihatlah kamu terlihat begitu indah, namun sekarang kamu terlihat lebih berisi dan semakin seksi!"


Kata Sultan sambil melihat lihat isi kamera nya, kemudian Ia bangkit untuk memperlihatkan gambar kepada Mae.


Mae melihat Foto dirinya disana saat ia sedang berjalan jalan tadi sore di pantai.


Ternyata Sultan sudah melihat nya dari tadi dan ia memotret dirinya,ih dasar tukang kuntit!


Batin Mae,kesal.


"Kamu mengikuti ku dari tadi?!dan kamu sudah merencanakan semuanya dari awal?! sebenarnya apa sih mau Kamu?!Kita sudah tidak ada hubungan apa apa lagi dan kamu pun sudah menjatuhkan talak kepada ku,apa kamu sudah amnesia?!"Mae terlihat benar benar marah sekarang.


"Aku hanya lelah dengan semua ini,Mae!Tak bisa kah kita tetap saling melihat tanpa harus saling menghindari, please! beri Aku kesempatan, meskipun hanya sekedar menjadi rekan kerja atau pun teman biasa, Aku mohon!"


Sultan menahan kaki Mae dan berlutut dihadapan nya.


Mae berusaha melepaskan diri ,namun Sultan semakin erat mencengkram nya.


"Oke,oke! tapi lepas kan dulu kakiku!Aku tidak bisa bergerak!"Seru Mae kesal.


"Tapi kamu jangan kabur terus!"Rengek Sultan seperti anak kecil.


"Oke kita lanjutkan pembicaraan kita, tapi hanya tentang pekerjaan!"Mae tidak ada pilihan lain lagi selain mengiyakan permohonan Sultan.


"Baiklah,kalau begitu duduklah kembali!"


Rengek Sultan lagi, Ia benar benar takut Mae pergi dari lagi.


Mereka pun duduk berhadapan dengan suasana yang kaku dan canggung.


"Berhenti berbuat sesuka mu, Sultan!Aku tak ingin celaka lagi gara gara istri kamu yang cemburuan itu!Lain kali jangan mengajak bertemu ditempat seperti ini, ajak serta istri mu, agar tidak salah faham!"Ucap Mae sambil membetulkan posisi duduk nya.


"Aku belum menikah dengan Laura! itulah kenyataannya, jadi untuk apa Aku mengajak Dia!"Sultan menyanggah perkataan Mae, Dia menatap Mae nanar.


"Berhenti membual Sultan! seluruh dunia tahu , Kamu sudah menikah dengan nya,jika ada yang melihat kita seperti ini, media akan ramai ramai membully ku dan mengatakan ku sebagai pelakor!Aku tidak mau membuat Ibuku sedih lagi!"


Mae sampai menggebrak meja saking kesalnya.


Dia berdiri dari duduknya dan benar-benar akan pergi sekarang.


"Aku terpaksa membohongi publik dan mengikuti sandiwara yang dibuat Ibu tiriku dan juga Laura demi bisa pulang ke tanah air, Aku berpikir jika sudah ada disini, setidaknya Aku bisa sekedar melihat mu meskipun hanya dari kejauhan,dan rencana resepsi di Bali itu adalah pernikahan yang sebenarnya, tapi aku tidak kuat lagi dan mengulur terus acara itu dan berharap bisa batal dan kembali bersama mu!"


Sultan terus berusaha menahan nya dan mengatakan yang sebenarnya terjadi.


"Aku tidak peduli,dan itu bukan urusan ku!"


Ucap Mae datar,ia tetap beranjak untuk segera pergi.


Sultan merangkul Mae dari belakang dan memeluk nya dengan erat.


"Ayo kita menikah lagi dan lari sejauh mungkin hingga tidak akan ada yang bisa menemukan kita! Aku hanya satu kali jatuh cinta dan itu hanya kepada mu, Mae!"


Bisikan Sultan terasa begitu menggelitik di telinga Mae,menjalar ke seluruh tubuhnya dan membuat meremang bulu kuduk nya.


"Bukan cinta namanya jika saling menghancurkan satu sama lain,Kita sama-sama tahu apa yang akan terjadi selanjutnya jika kita terus memaksakan diri,Aku tak mau hancur Sultan,,,!"


"Sutttt! Mereka bukan Tuhan yang mampu menentukan kehidupan kita,Aku ingin kita jangan menyerah,Aku tahu kamu masih mencintaiku!"


Sultan membalikkan tubuh Mae dan wajah mereka saling berhadapan begitu dekat, nafas mereka saling beradu terasa hangat menusuk kerongkongan.


Sultan memutar kepalanya dan mulut nya pun mulai menempel hangat di bibir Mae yang kenyal merekah berwarna jingga muda, lidah nya mulai bermain menerobos masuk ke dalam mulut Mae dan bermain disana.


Deru nafas kedua begitu terdengar membuncah menghanyutkan gelora rindu yang sekian lama terpendam,,