
“Ayo makan dulu.” Kakek Virgo mendekati cucunya yang sedang asyik dengan dunianya itu untuk mengajak makan siang.
Virgo mendongak dan melepas headset yang dipakainya. “Ya, Kek?”
“Ayo makan. Udah siang.” Katanya mengulangi lagi. Virgo menatap sekeliling dan mendapati kedua tamu yang tadi masuk bersamanya masih berada di sana.
“Hm. Iya.” Katanya dengan senyum.
“Kakek tunggu. Cepatlah.” Lelaki tua itu pergi dari hadapan Virgo dan kembali duduk di sofa. Sebelum mengikuti kakeknya, lelaki itu mengecek ponselnya dan melihat ada chat yang Libra kirimkan kepadanya.
Keningnya mengernyit dan melihat punggung gadis itu. Beginilah Virgo jika sudah berhadapan dengan laptop. Akan melupakan apapun yang bahkan jika itu adalah hal yang penting.
Virgo berdiri dengan membawa ponsel miliknya, berjalan mendekat ke sofa dan duduk di samping kakeknya. Duduk tepat di depan Libra yang menunduk tanpa ingin menatap lelaki itu. Virgo pun juga tak mencoba untuk mengatakan sesuatu agar gadis itu mendongak.
“Libra! Makan yang banyak, Nak.” Meskipun beliau tahu jika Ardi tak menyukai cucu kesayangannya, tapi lelaki itu sama sekali tak peduli dengan hal itu. Dia tetap memperlakukan Libra dengan baik.
“Iya, Kek!” jawab Libra dengan sungkan. Namun senyumnya juga terlihat meskipun tipis. Gadis itu mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Dan mengunyah pelan.
“Jadi sekarang Libra tinggal di kos?” suasana santai seperti ini memang kesempatan untuk mereka membicarakan di luar pekerjaan.
“Iya, Kek! Buat cari suasana baru.” Libra menyempatkan melirik ke arah Virgo ketika selesai mengatakan itu. Namun Virgo sama sekali tak merespon. Pun, dengan Ardi yang sejak Virgo duduk di sebelah kakeknya, lelaki itu tak hentinya melirik Virgo. Virgo bisa melihat dari ekor matanya betapa Ardi seperti ingin bertegur sapa dengannya.
Sayangnya, Virgo masih setia dengan aksi diamnya. Bahkan dengan kakeknya saja dia tak berbicara.
“Vir!” panggil kakeknya.
“Ya?”
“Melihat Libra, kakek jadi pengen kamu pacaran.” Situasi tiba-tiba mencekam. Ardi diam, degupan jantung Libra menggila, sedangkan Virgo tercenung sejenak. Dia tahu, pasti setelah ini akan ada tambahannya. “Carilah pacar, Nak. Biar kamu lebih semangat gitu kuliahnya. Anak muda masa nggak punya pacar?” Tawa khas seorang Wondo terdengar renyah.
“Kakek nggak papa kalau aku punya pacar?” Virgo kini menatap lelaki itu serius, “Yang mau sama aku banyak loh, Kek. Kalau aku mau, aku bisa pacarin salah satu dari mereka, dan kakek bisa punya cucu mantu. Bener nggak?”
Tawa pak Wondo kembali terdengar. “Bisa aja kamu,” katanya sambil menepuk lutut cucunya. “Lagian kan kamu kan masih muda, emang udah mau serius?”
“Iya dong, Kek. Nakal-nakal begini, aku nggak mungkin nyakitin hati anak orang.”
“Tapi kamu nyakitin hati aku.” Suara Libra memang tak keras, tapi tiga orang di sana mendengar dengan sangat jelas apalagi Ardi yang duduk di sebelah putrinya. Ketika menyadari di sekelilingnya terdiam, Libra mendongak dan meneguk ludahnya pelan ketika dia mendapatkan tatapan aneh dari tiga lelaki di sana.
Gadis itu tersenyum canggung dan berdehem dengan pelan untuk mengurai rasa tak enak di dalam hatinya.
“Libra bicara sesuatu?” Pak Wondo bertanya.
“Enggak, Kek. Cuma tadi saya bergumam kalau masakannya enak.” Dalihnya untuk menutupi rasa malunya.
“Kalau begitu kamu makan yang banyak ya. Lihat tubuh kamu itu, kurus.” Begitu katanya sambil menyendokkan satu ikan dan meletakkan di atas piring gadis itu. Libra tersenyum dan merasakan betapa kakek Virgo tulus melakukan hal itu.
*.*
Ardi diam saja sejak masuk ke dalam mobil. Pun, dengan Libra. Meskipun gadis itu baru saja bertemu dengan kekasihnya, tapi tak membuat hal itu serta merta membahagiakannya. Dia merasa takut akan apa yang akan dikatakan oleh Virgo itu adalah kenyataan.
Keheningan itu terjadi dan membuat terasa mencekam di dalam mobil. Libra tak berusaha untuk membuka obrolan terlebih dulu dengan sang ayah, dan Ardi pun melakukan hal yang sama.
“Sepertinya kamu masih mencintai Virgo.” Barulah setelah beberapa menit berlalu menghadapi keheningan Ardi bersuara. Libra menoleh ke arah ayahnya.
“Ya.” Tak perlu menutupi perasaannya. Begitulah pikir Libra. “Aku emang masih mencintai dia, Yah.”
“Tapi dia sepertinya sudah mengabaikan kamu.” Libra menduga jika apa yang dilakukan oleh Virgo tadi adalah hanya sebagai akting belaka. Entahlah, toh dia juga belum kembali menghubungi lelaki itu. Ada rasa khawatir yang dirasakan oleh hati gadis itu.
“Karena itu lah aku merasa sakit sekarang.” Libra menunduk memainkan kuku-kukunya, “Nggak akan mudah melupakan Virgo begitu saja, Yah.” Libra berkata dengan lemah.
“Kenapa kamu lemah seperti ini, Li?” Ardi kini menatap Libra dengan lurus melihat ekspresi yang keluar dari wajah putrinya itu. “Kalau memang dia udah nggak peduli sama kamu ya udah. Masih banyak laki-laki yang baik yang mau sama kamu.”
“Tapi hati nggak akan bisa berbohong, Yah.” Libra balas menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca, “Aku nggak akan bisa membohongi perasaan aku sendiri, bahkan ketika melihat Virgo dengan karyawan perempuan tadi aja aku cemburu.” Satu tetes air mata jatuh ke pipi gadis itu dan buru-buru diusapnya.
“Tapi aku nggak akan mendesak ayah buat merestui kami. Toh percuma saja kan, pasti udah banyak sekali cewek yang antri jadi pacarnya.” Ardi tak lagi menjawab dengan apa yang dikatakan oleh putrinya. Apalagi melihat gadis itu yang terlihat sangat kecewa sekali di matanya.
Mungkin saat ini, Ardi berpikir, apa yang dimiliki oleh Virgo sampai anak gadisnya begitu mencintai lelaki itu. Laki-laki berandalan, suka sekali membuat onar, dan juga suka mengancam. Tapi percayalah, jika ada dari sudut hati Ardi yang sedikit tercubit melihat putrinya seperti itu.
Sampai di rumah, Libra berperan seolah tak terjadi apapun sebelumnya. Ibunya tersenyum ketika melihat putrinya yang datang bersama sang ayah.
“Gimana di kantor tadi?” tanyanya dengan wajah sumringahnya.
“Bagus.” Jawab Libra santai, “Mama lagi ngapain?” hanya basa-basi saja bertanya seperti itu. Karena dia bisa melihat jika ibunya seperti biasa, hanya melihat-lihat majalah fashion, tak ada hal lain.
“Nggak ada. Mama cuma lagi santai aja.” Matanya memberi isyarat kepada sang suami untuk bertanya apa yang terjadi. Karena mungkin dia merasa jika ada yang tak beres dengan Libra kali ini. Sayangnya, respon yang diberikan oleh suaminya itu sama sekali tak memuaskan.
“Libra oke kan?” Tak perlu menahan rasa penasarannya, perempuan paruh baya itu bertanya tanpa rasa sungkan.
“Oke!” jawab Libra, “Emang aku kenapa?”
“Ada yang berbeda dari kamu, mama tahu.”
Libra terkekeh garing dan melambaikan tangannya, “Enggak. Itu hanya perasaan Mama aja.”
“Nggak ada apapun, Ma. Aku cuma capek aja.” Kemudian berdiri, “Aku ke kamar dulu, capek.” Pamitnya tanpa menunggu jawaban dari kedua orang tuanya.
Keinginan dirinya kali ini adalah menghubungi Virgo. Tapi rasanya, itu susah. Apalagi jika mengingat apa yang dikatakan oleh Virgo tadi, dia merasa sekali dikhianati meskipun Virgo sama sekali tak melakukan apapun.
Mengunci kamarnya, Libra duduk di meja belajarnya tanpa melakukan apapun di sana. Tatapannya kosong, pikirannya melayang kemana-mana. Bahkan deringan ponselnya pun sama yang meraung berkali-kali pun tak diangkatnya.
Benar-benar entah berlari kemana isi kepalanya sekarang. Menghela nafasnya panjang, kepalanya di tidurkan di meja seperti orang yang memiliki beban yang sangat berat sekali. Kemudian, matanya terpejam namun seketika terbuka kembali ketika mendengar dering ponselnya.
Virgoku
Begitulah nama yang tertulis di sana. Tentu saja tanpa babibu, di langsung mengangkat panggilan itu.
“Halo!” sapanya dengan perasaan yang tegang. Meneguk ludahnya berkali-kali karena rasa gugup yang dirasakan.
Yang di seberang sana tak menjawab. “Halo!” Libra melihat layar ponselnya untuk mengecek sambungannya apakah masih ada atau tidak. Dan masih tersambung. Maka dia kembali menempelkan ponselnya di telinganya.
“Halo!” dan kali ini berhasil. Ada respon yang diberikan dari si penelpon.
“Yang!” panggil Virgo untuk mengawali obrolannya. Libra tak menjawab dan memilih diam untuk mendengarkan suara lelaki itu.
“Kamu oke?” tanyanya dengan hati-hati, “Maaf masalah tadi.” Virgo mungkin memiliki tujuan dengan melakukan hal itu.
Ketika dia tak mendapatkan respon dari Libra, dia pun ikut terdiam. Menganggap jika tebakannya adalah jika Libra sedang marah kepadanya.
“Kalau kamu nggak jawab, berarti kamu marah, dan kalau kamu marah aku harus meminta maaf sama kamu. Sedangkan meminta maaf lewat telepon begini bukan sikap dari seorang gentleman. Dan akhirnya aku akan datang ke rumah kamu. Kalau aku datang ke rumah kamu, artinya kita akan berurusan kembali dengan ayah kamu. Dan ada dua hal yang pasti akan terjadi, yang pertama, kita pasti akan disuruh putus. Dan yang kedua, kita pasti akan disuruh putus.”
“Kok sama?” akhirnya Libra berbicara.
“Karena memang nggak ada kemungkinan kedua. Kemungkinan pertama itu akan terjadi.” Jawab Virgo dengan penuh rasa tak peduli karena dia tahu hal buruk pasti akan menjadi keputusan. “Jadi kalau kamu mau, lakukan saja apa maumu.”
Virgo mendengar desisan dari Libra dan membuat dia terkekeh. Kalau ada yang bertanya di mana Virgo sekarang? Maka jawabannya adalah dia berada di ruangan meeting. Mengunci ruangan itu, untuk bisa leluasa menghubungi kekasihnya.
“Ishhhh, emang jahat sih kamu, Yang, sama aku.” Libra berjalan ke kasurnya untuk berbaring di sana.
“Udah milih nggak siapa yang akan jadi pacar kamu dan kamu kenalkan ke kakek?” sejujurnya Libra sebal luar biasa mendengar pembicaraan lelaki itu tadi. Tapi apalah daya, dia tak bisa melakukan apapun. Maka dia sekarang melampiaskannya kepada si pembuat onar di dalam hatinya.
“Udah.” Katanya dengan santai, “Kamu nggak penasaran siapa orangnya?” Virgo memancing Libra, “Atau aku kasih tahu ciri-cirinya aja?”
“Nggak mau,” Libra merasa ingin sekali marah dengan kelakuan Virgo sekarang, “Suka banget sih buat orang sakit hati.” Mungkin bukan hanya Libra saja yang akan berlaku seperti itu sekarang. Perempuan lain pun pasti akan melakukan hal yang sama.
“Ya udah.” Suara Virgo terdengar tak acuh dan semakin membuat Libra geram.
“Ya udah, aku matikan dulu.” Tanpa aba-aba, gadis itu memutus sambungan telepon Virgo dan mencoba untuk tertidur. Ingin sekali mengabaikan suara notifikasi ponselnya, namun dia tak mampu.
Virgoku – Teruntuk Libraku yang sedang marah. Aku cinta kamu. So much.
Isi pesan itu tak akan berarti apapun jika orang lain yang membaca, namun mau tak mau dia terkekeh juga meskipun rasa jengkel itu masih bercokol di dadanya.
Virgoku – Sore nanti aku akan datang ke KFC deket perumahan kamu. Aku tunggu kamu datang.
Libra tak membalas pesan itu, tapi dia pasti akan datang. Kesempatan seperti itu memang mungkin akan jarang terjadi, maka sebisa mungkin jika memang ada kesempatan bertemu tak akan dia lewatkan pertemuan itu.
*.*
“Mama aku keluar sebentar,” pamitnya kepada sang bunda. Celana jeans panjang, kaos lengan panjang, rambut diikat ekor kuda, tas kecil yang digunakan untuk menyimpan ponsel dan uang, di tangannya sudah ada kunci motor miliknya. Libra siap berangkat ke tempat janjian ketemuan dengan Virgo.
“Mau kemana?” melihat putrinya yang berdandan rapi di jam seperti ini jelas mengagetkan orang rumah.
“Cari angin seger. Jalan-jalan aja deket-deket sini,” katanya.
“Nggak jauh-jauh kan? Nggak pulang malam kan?”
“Nggak tahu, Ma. Lihat nanti.” Kemudian berlari kecil keluar rumahnya. Memakai helm miliknya, dan naik ke atas motor dan menjalankan motor itu dengan pelan keluar pelataran rumahnya.
Dia tak tahu jam berapa Virgo datang ke tempat mereka janjian, tapi dia jangan telat. Itu saja. Berusaha selalu on time jika memiliki janji temu dengan orang lain.
Jarak tempat itu dengan rumahnya memang tak terlalu jauh, karena itu Libra tak perlu waktu lama untuk sampai di sana.
Dari tempatnya dia memarkirkan motor, matanya bisa melihat Virgo ada di lantai dua. Lelaki itu sedang memainkan ponsel dan di depannya sudah ada segelas minuman. Lelaki itu memang tak melihat ke bawah, karena itu tak melihat jika Libra sudah tiba di sana.
Libra duduk di depan Virgo dan mengejutkan lelaki itu. Senyum Virgo kecil menatap Libra yang memasang wajah tanpa senyum. Virgo berdiri, dan mendekatkan wajahnya untuk mencium dahi gadis itu. Libra melebarkan matanya karena merasa kaget dengan apa yang dilakukan oleh Virgo. Sebelumnya tak pernah lelaki itu bersikap ‘manis’ seperti itu.
Satu-satunya hal yang pernah dilakukan Virgo kelewat berani adalah ketika ciuman beberapa bulan yang lalu waktu itu, setelahnya tak pernah lagi laki-laki itu mengulanginya.
“Ciuman sayang dari aku,” katanya ketika Libra terlihat shock. Digenggamnya tangan Libra dan ditatapnya penuh cinta gadis itu. Ketika merasa sudah sadar, Libra terlihat blushing karena tindakan tak terduga yang baru saja dilakukan oleh Virgo. Membuat lelaki itu terkekeh geli.
“Wajah kamu merah,” katanya. “Biasain mulai sekarang, aku akan melakukan itu setiap kita ketemu.” Virgo memang tak pernah bisa ditebak. Karena itu selalu membuat Libra seperti sport jantung dengan hal-hal baru yang dilakukan oleh kekasihnya.
“Makan!” di meja mereka ternyata sudah terdapat makanan, dan Libra baru menyadarinya. Virgo ternyata memesan terlebih dahulu. Terkadang hal-hal kecil seperti ini memang bisa membuat Libra luluh dengan Virgo.
*.*