
“Jadi kenapa kamu memutuskan untuk kuliah ke luar kota?” sarapan pagi ini diselingi dengan pembahasan masalah rencana yang dibuat oleh Libra. Ardi menatap putrinya itu dengan sungguh-sungguh. Sedangkan Libra lebih dulu menatap ibunya yang juga sedang menatapnya kemudian mengangguk memberikan tanda untuk gadis itu menjawab pertanyaan ayahnya.
“Kenapa, Ayah, ingin tahu?” bukannya langsung menjawab, Libra seolah menantang dan mengulur waktu.
“Karena ayah ingin memastikan jika kamu benar-benar akan belajar dengan benar di sana, dan bukan hanya menjadikan tempat pelarian.” Ardi memang tak bisa dibohongi. Lelaki itu terlalu peka dengan apapun yang dilakukan oleh putrinya.
“Kalau aku jawab salah satunya alasanku karena itu bagaimana?” Ardi menghela napas Panjang seolah dia sedang diuji kesabarannya.
“Kamu tahu kalau itu bukan tujuan yang baik?”
“Tapi aku ingin melupakan, tidak, setidaknya menyingkirkan dulu perasaan sakitku yang seseorang berikan kepadaku.” Ardi tentu merasa tertampar, tapi dia berusaha untuk bersikap biasa. Namun tak urung dia bertanya juga.
“Siapa yang kamu maksud?” tanyanya, “Ayah?” hanya untuk memastikan.
“Memangnya Ayah merasa kalau memberikan kesakitan itu?” ditatapnya Ardi dengan tegas tak ada keraguan sedikitpun dari tatapan tersebut, “Kalau memang merasa seperti itu harusnya Ayah dengan senang hati memberiku izin tanpa ada drama seperti ini.”
“Kalau kamu mau mendengarkan apa yang ayah katakan waktu itu, ayah nggak akan bertindak kasar.” Ardi tak akan pernah mengalah.
“Benar,” jawab Libra. Gadis itu menantang ayahnya dengan tatapannya. “Karena Ayah terlalu egois.”
“Semua itu demi kebaikan kamu,”
“Kebaikan seperti apa , Ayah?” berbeda dengan tatapan yang diberikan oleh Libra beberapa saat tadi, kini gadis itu justru memperlihatkan luka yang dirasakannya namun di pendamnya seorang diri. “Selama ini nggak pernah sekalipun aku menjadi anak yang pembangkang. Aku memendam apapun yang aku rasain seorang diri. Ketika ayah dan mama sibuk dengan apapun diluar sana, aku sama sekali nggak pernah mengeluh. Aku nggak pernah sekalipun merasakan kekurangan materi, tapi aku sangat kekurangan kasih sayang.” Kalimat itu membuat tertegun kedua orang tuanya.
Bukan hanya Ardi, tapi Jihan. Perasaan sakit itu sepertinya dirasakan oleh kedua orang tua Libra ketika putrinya menumpahkan semua rasa yang tersembunyi di dalam hatinya.
“Aku nggak akan menceritakan hubunganku dan Virgo berjalan selama ini karena itu sudah berlalu. Dan ketika Ayah mengatakan ketidaksetujuan tentang hubungan kami, aku merasa duniaku nggak akan sama lagi setelahnya. Dan voila, Ayah berhasil membuat hatiku pecah belah tak berbentuk,” belum mengakhiri ceritanya, Libra Kembali melanjutkan,
“Dan lebih menyakitkan lagi adalah Virgo memilih untuk menyetujui apa yang Ayah katakan. Meskipun dia nggak bilang kalau kami putus, tapi aku paham apa artinya ucapannya yang mengatakan banyak hal waktu itu. Dan untuk apa aku tetap berada di kota ini kalau aku harus mengingat kejadian tak menyenangkan ini, Yah?”
“Dibandingkan rasa sakit yang kamu dapatkan, kebahagiaan kamu lebih banyak.” Setelah mendengarkan cerita Panjang dari putrinya, barulah lelaki itu menanggapi.
“Dibandingkan kebahagian semu yang selama ini aku rasakan, kesakitan itu lebih nyata.”
Skak. Ardi tak lagi bisa mengatakan apapun kecuali hanya terdiam dan menatap Libra dengan tatapan kosong. Tak memiliki sanggahan, apalagi debatan.
“Li!” kini ibunya yang berbicara setelah diam sedari tak tadi. “Apa Virgo pantas mendapatkan cinta kamu segitu besar sampai kamu berani mendebat ayah kamu?” Libra seketika menatap ibunya dengan wajah kakunya.
“Aku lebih mencintai ayah dibandingkan dengan Virgo. Itu nggak akan bisa lagi di bantah oleh siapapun,” Libra sunguh-sungguh mengatakan itu, “Tapi aku ingin kedua orang yang aku cintai bisa saling menyukai juga. Itu akan lebih membahagiakan aku. Tapi sayangnya nggak, kedua orang yang aku cintai malah balik memberikan kesakitan yang membekas di dalam hati.”
Merasa dia tak ingin meneruskan obrolannya kali ini, Libra berdiri dan meninggalkan ruang makan. Dia sudah tak memiliki jadwal sekolah dan dia hanya menjadi seorang gadis tak memiliki kerjaan. Dia hanya menghabiskan waktunya untuk bersembunyi ke kamar seperti waktu lalu.
*.*
Avez dan Ixy adalah dua bocah pelipur lara bagi Virgo. Ketika dia merasakan kerinduan kepada Libra, adalah bocah-bocah itulah yang menjadi pelampiasan atas semua hal yang dirasakan di dalam hatinya.
Seperti hari ini misalnya, dia tak memiliki aktivitas lain dan tak ingin hanya makan dan rebahan saja, maka dia meminta izin dari Love untuk mengantar dan menjemput anak-anak itu ke sekolah mereka. Ada banyak wanti-wanti yang dikatakan oleh Love ketika dia menyetujui Virgo menjadi ‘sopir’ sementara bagi kedua anaknya.
“Abang!” Avez melambaikan tangannya dan tersenyum lebar ketika Virgo sudah berdiri menyender di samping mobil.
Virgo membalas lambaian tangan Avez, “Gimana sekolahnya?” Virgo merangkul pundak Avez yang tingginya sudah sampai di lengan atas Virgo.
“Semuanya baik, Bang.” Katanya dengan yakin. Dan tak lama dari itu Ixy datang dengan berlari.
“Abang udah keluar dari tadi ya?” tanyanya dengan napas tersengal karena Lelah.
“Kenapa Adek lari sih?” tanya Virgo.
“Adek takut di tinggal pulang.” Cengiran itu menunjukkan betapa manisnya gadis cilik itu.
Virgo terkekeh dan mengacak rambut Ixy, “Ya enggak dong, masa abang tega tinggalin adek.” Begitu katanya, “Pulang, yuk!” ajaknya sambil mereka berjalan untuk masuk ke dalam mobil.
Selama perjalanan, Ixy selalu mengeluarkan nyanyian, pertanyaan, atau apapun itu sehingga menjadikan mobil itu tak hening. Virgo juga melihat jika Avez lebih terlihat lebih aktif jika bersama adiknya.
“Mau makan ice cream?” tawar Virgo ketika melewati kedai ice cream yang banyak sekali pengunjung.
Teriakan ‘mau’ langsung memenuhi mobil. Virgo memutar balik mobilnya untuk sampai di kedai tersebut.
Virgo – aku ajak anak-anak mampir dulu di kedai ice cream. Pulang agak telat.
Itu adalah pesan yang dikirimkan oleh Virgo untuk Love. Kalau sampai dia tak melaporkan, maka dia akan dibabat habis oleh kakaknya itu ketika pulang nanti.
Topping ice cream berisi coklat, buble cokelat, keju, dan entah apa saja yang diletakkan di atas ice cream tersebut benar-benar membuat Avez dan Ixy sangat bahagia. Senyuman mereka lebar dan dan langsung menyendokkan ice cream tersebut kemudian memasukkan ke dalam mulutnya. Meresapi rasa dingin di sana sambil merem melek. Lezat sekali.
“Suka?” tanya Virgo karena merasa senang dengan ekspresi yang dikeluarkan oleh kedua adiknya.
“Kalau begitu habiskan.” Perintah Virgo dengan senyum lebar setelahnya. Beruntungnya Tuhan mempertemukannya dengan keluarga Aksa. Dulunya dia yang sering kesepian, kini tak lagi.
Tanpa disadarinya ada seseorang yang melihatnya dari kejauhan. Gadis itu Libra. Melihat Virgo yang sejak tadi baru masuk ke dalam kedai tersebut sampai sekarang. Libra memang duduk di kursi pojok dan Virgo memang tak mengetahuinya.
Kalau dipikir, keadaan ini memang tak adil. Libra bisa melihat Virgo sepuasnya dan mengobati rasa rindu yang menggelayut di dalam hatinya. Sedangkan Virgo tak bisa melakukan hal yang sama.
*.*
Libra pulang ke rumahnya dalam keadaan hati yang sedikit senang. Ya, hanya sedikit. Begitulah memang sifat serakah yang dimiliki seseorang, ketika dia menginginkan sesuatu dan mendapatkannya, maka kepuasan itu masih belum ada di dalam hatinya dan menginginkan lebih.
Pun dengan Libra. Keinginannya tadi adalah menemui Virgo dan menunjukkan dirinya jika mereka berada di tempat yang sama. Sayangnya itu tak mungkin maka Libra hanya bisa menatap diam-diam dalam kejauhan. Dan harus puas hanya dengan hal itu.
Tak ingin menggalau terlalu lama, maka gadis itu menyibukkan dengan informasi tentang Universitas-universitas di Indonesia. Dengan melakukan itu, maka pikiran tentang Virgo sedikit teralihkan.
Ayah -- Ayah tunggu di restoran Oval. Tak lama setelah itu dia mendapatkan pesan dari ayahnya.
Mengernyitkan keningnya karena tak paham untuk apa lelaki itu memintanya untuk bertemu ke restoran tersebut, dia mencoba menghubungi ayahnya untuk menanyakan ada keperluan apa diminta ke sana. Sayangnya tak ada jawaban dari panggilan itu.
Maka dengan malas-malasan dia kembali keluar untuk pergi ke tempat di mana ayahnya berada.
Ada perasaan tak enak yang dirasakan ketika dia berangkat ke tempat tersebut. Masih menduga-duga tujuan dari sang ayah. Namun sayangnya tak ada jawaban dari semua pertanyaan itu. Dia harus bersabar untuk mengetahui jawabannya.
Maka dengan waktu satu jam, dengan kemacetan kota Jakarta, dia sampai ke tempat tersebut. Langkah santai tak buru-buru, dia masuk ke dalam restoran tersebut. Dan mencari keberadaan ayahnya dan dia menemukan di pojok sana ayahnya duduk.
“Yah!” panggilnya. Ketika lelaki itu mendongak dan menemukan putrinya sudah datang, senyumnya terbit dan meminta agar Libra duduk.
“Duduk!” perintahnya. Libra menurut. Dia duduk di kursi di depan sang ayah.
“Kenapa Ayah meminta aku datang ke sini?” sepertinya memang tak perlu basa-basi sama sekali.
“Ayah akan membahas masalah rencana kamu kuliah ke luar kota,” kedua tangan lelaki itu saling terjalin dan diletakkan di atas meja dan matanya menatap Libra dengan sungguh-sungguh.
“Pembahasan seperti apa? Kenapa kita harus membahas masalah sepele seperti ini terus menerus?” Libra memang sepertinya sudah malas dengan pembahasan yang sama namun tak ada keputusan yang diberikan sang ayah atas itu.
“Edzard, dia juga akan kuliah ke luar kota. Rencana ayah adalah kamu pergilah sama dia, kuliah di tempat yang sama dengan dia.” Libra sebetulnya juga sudah muak dengan hal ini. Kenapa harus Edzard dan Edzard yang menjadi pokok pembahasan di dalam masalahnya seolah lelaki itu adalah sebuah solusi terbaik.
“Kalau ayah menginginkan itu, aku lebih baik tetap di Jakarta,” jawabnya, “Aku nggak mau nanti ribet karena mengatas namakan dia diminta menjaga aku kemudian pergerakanku dibatasi.” Hanya ada mereka berdua dalam pembicaraan sore ini karena Jihan sedang arisan bersama teman-temannya.
“Ayah mempercayai dia,”
“Dan Ayah nggak mempercayai aku,” di tatapnya sang ayah dengan ketegasan luar biasa dengan kekecewaan di dalamnya.
“Tekadku sudah sangat bulat, Yah. Aku akan tetap melanjutkan kuliah di luar kota meskipun ayah menghalangi aku.” Libra berdiri, “Aku pulang dulu.” Kemudian dengan santai berjalan keluar restoran dan meninggalkan ayahnya seorang diri.
Jujur saja, apa yang dilakukan oleh Ardi adalah bentuk dari kepedulian yang diberikan kepada putrinya. Entah kekhawatiran seperti apa yang menyerang di dalam kepalanya, namun hal itu membuat Libra semakin sebal dibuatnya.
*.*
Pertemuan tak terduga, begitulah istilahnya. Ardi datang ke kantor pak Wondo, sedangkan Virgo juga berada di sana. Virgo yang memang menjadi pihak yang muda, bersikap sopan dengan menyodorkan lebih dulu tangannya untuk berjabat tangan, dan menciumnya.
“Bapak sepertinya sekarang semakin sehat saja.” Ardi memuji lelaki itu bukan tanpa alasan. Pak Wondo memang benar-benar terlihat lebih segar akhir-akhir ini.
“Begitukah?” katanya sambil terkekeh bahagia.
“Iya, saya melihatnya begitu.” Virgo memang tak berada di sofa yang sama karena dia paham jika dia tak boleh berada di sana ketika kakeknya menerima tamu. Sedangka Ardi sesekali melirik Virgo yang sedang asyik dengan laptopnya di kursi pojok di dekat kaca besar yang dia bisa melihat keramaian Jakarta dari sana.
Pak Wondo tertawa dan menyetujui, “Benar, karena cucu satu-satunya yang saya miliki ini sedang suka sekali menemani saya bekerja, duduk diam di pojokan sana entah sedang melakukan apa, tapi hanya begitu saja kebahagian saya meningkat sembilan puluh derajat.” Benar, akhir-akhir ini memang Virgo suka sekali datang ke kantor kakeknya, bermain-main di sana, bahkan sampai-sampai dia sudah terkenal di kalangan karyawan-karyawan kakeknya karena wajahnya yang tampan.
Ardi hanya tersenyum tipis untuk menanggapi namun sebuah kalimat membuat lelaki itu tercenung, “Saya tahu kamu tidak menyukai cucu saya,” dengan santai pak Wondo mengatakan itu. Virgo yang menggunakan headset di telinganya pun mendengar hal itu. Tidak ada music yang keluar dari benda itu karena memang dia sengaja tak menyalakan music. Dia ingin mendengar pembahasan seperti apa yang dibahas oleh kakeknya bersama dengan ayah Libra tanpa sepengetahuan mereka.
“Saya tahu semuanya,” senyum yang diberikan pak Wondo kepada Ardi adalah jenis senyum biasa tanpa arti apapun. “Tapi kamu pantas melakukannya.” Lanjutnya tak kalah Santai.
“Virgo bukan laki-laki baik seperti pilihan kamu. Dia hanya seorang remaja yang hanya ingin menikmati hidupnya dengan caranya, melakukan hal-hal yang dinamakan kenakalan sehingga dia akan mendapatkan cap buruk namun dia sama sekali tak peduli.” Hanya diam lah yang sanggup Ardi lakukan sekarang. Dia cerdik, namun pak Wondo juga tak kalah cerdik.
“Karena saya tahu kamu menyelidiki cucu saya, sebabnya saya mengatakan hal seperti itu waktu itu,” ‘akan membicarakan lagi tentang perjodohan itu’ adalah cara pak Wondo untuk ‘mengakhiri’ rencana tersebut.
“Lagi pula jalan mereka masih panjang. Mereka akan menemukan orang yang mereka cintai suatu saat nanti, begitu kan?” tak ada perubahan dari raut pak Wondo ketika mengatakan hal itu. Tak ada rasa jengkel ataupun marah. Tapi Ardi sudah dibuat mati kutu oleh lelaki tua itu.
Selama ini beliau hanya diam saja, tapi bukan berarti dia tak mengetahui apapun, mungkin begitulah apa yang ada di dalam otak Ardi sekarang. Maka setelah obrolan dan unek-unek yang dikeluarkan pak Wondo kepada Ardi, barulah mereka membicarakan masalah kerja sama mereka dengan sangat profesional. Dan tentu kalian tahu dari mana Virgo mendapatkan sifat santainya kan?
*.*