
“Benar ini rumah, Aksa?” Virgo benar-benar datang ke kediaman Aksa sekitar pukul empat sore.
“Iya, Mas. Tapi Bapak belum pulang.” Begitu jawab Bibi.
“Saya bukan ingin bertemu dengan Abang, saya mau bertemu dengan Avez.” Entah kenapa bibi seolah tak memepercayai apa yang di dengarnya. Perempuan itu melihat Virgo dari atas sampai bawah.
“Saya bukan penjahat loh, Bik.” Virgo tak suka dia diperhatikan orang sampai seperti itu karena dia merasa tak seperti preman. Penampilannya pun juga sangat biasa seperti remaja pada umumnya.
Si Bibi terkekeh. “Bukan begitu, Mas. Tapi aneh saja Mas mencari Den Avez.” Ungkap bibi kepada Virgo. “Masuk, Mas. Biar saya panggilkan Den Avez.”
“Gitu lah, Bik dari tadi.” Virgo langsung masuk ke dalam rumah Aksa dan duduk di sofa mewah rumah tersebut. Menunggu Avez keluar, dia memainkan ponselnya.
“Mas mau minum apa?”
“Astaga, Bik.” Virgo mengelus dadanya karena kaget. Dia pikir bibi sudah pergi tadi, dan nyatanya tidak. “Bibi ngagetin aja.” Lanjutnya dengan menggelengkan kepalanya. “Apa aja yang Bibi punya keluarin semua juga
nggak papa.” Virgo memang merasa sedikit jengkel dengan bibi.
“Abang kalau di latihan yang sungguh-sungguh ya, kalau mau sesuatu bilang sama Pak Joko.” Virgo mendengarkan percakapan dari ruangan sebelahnya dan tersenyum tipis. Begitulah memang seharusnya seorang ibu. Padahal Avez hanya pergi ke lapangan komplek rumahnya. Memang agak jauh, tapi jika Virgo bisa mengatakan, komplek perumahannya itu aman sekali.
“Iya, Bunda. Abang!” Love yang belum menyadari keberadaan Virgo mengerutkan keningnya. Kemudian pandangannya mengalih di sofa ruang tamunya.
Virgo berdiri dan tersenyum. Senyum untuk Avez, dan senyum ramah untuk Love. “Hai.” Keduanya bertos ria dan Love bisa melihat bagaimana putranya sepertinya sangat menyukai lelaki yang belum dia tahu namanya itu.
“Maaf, Kak. Saya mau menjemput Avez untuk berangkat bareng.”
“Virgo ya?” Ingatannya sepertinya memang mengingat sebuah nama asing yang dikatakan oleh Aksa kemarin.
“Iya, saya Virgo.”
“Bunda, Abang berangkat sama Abang Virgo ya?” Tatapan Avez penuh dengan harapan jika putranya itu menginginkan hal yang dikatakan.
“Boleh.” Love tersenyum. “Pak Joko tetap ikut Abang ya. Kalau Abang butuh apa-apa, biar ada Pak Joko yang kasih.” Virgo paham jika itu hanya sebagai alibi dari ibu Avez, tapi sebenarnya perempuan itu belum mempercayainya pergi dengan putranya.
Tapi meskipun begitu, Virgo tak mengatakan apapun. Dia tahu tak mudah untuk seorang ibu membiarkan orang asing membawa anak mereka.
“Iya, Bunda.” Avez menyetujui saja apa yang dikatakan oleh ibunya.
“Bunda.” Itu suara Ixy dari ruang keluarga. “Adek mau ikut.” Ixy sudah memakai baju gamis dengan kerudung di tangannya sebab belum sempat memakainya di kepalanya. Bocah itu akan berangkat mengaji.
“Adek kan mau ngaji.” Begitu kata Avez lebih dulu sebelum Love menjawab.
“Tapi mau ikut, Bang.”
“Tapi di sana laki-laki semua, Dek.” Ixy memanyunkan bibirnya dan cemberut. Virgo bahkan sangat terpesona dengan bocah kecil itu.
“Nanti kita akan latihan di halaman depan, biar Adek bisa lihat.” Virgo yang berbicara. Binar cerah di mata Ixy itu terlihat sekali.
“Bener, Bang?” begitu semangatnya bocah itu.
“Iya dong. Sekarang Adek ngaji aja ya. Kalau pulang ngaji masih ada waktu, Adek bisa lihat.” Persetujuan Ixy di tunjukkan dengan mengangguk.
“Oke, Bang.” Kemudian berlari lagi dan kembali ke dalam untuk melanjutkan bersiap-siap.
“Kalian juga pergilah, saya titip Avez ya.” Virgo mengangguk dan mengajak Avez untuk berangkat. Love mengikuti dari belakang dan mengantarkan mereka sampai depan rumah. Love bisa menilai jika Virgo adalah dari kalangan berada. Kendaraan yang dibawanya, baju yang dipakainya, semua terlihat mahal.
Setelah Virgo dan Avez sudah hilang dari pandangannya, barulah dia meminta Pak Joko untuk mengantarkan Ixy sekaligus menunggu dan ‘memata-matai’ bagaimana Avez di tempat latihan Sketboard.
*.*
“Abang!” Ixy yang baru saja sampai di perkumpulan anak-anak sketboard berteriak memanggil kakaknya. Bocah itu sudah pulang dari mengaji dan dia langsung meminta ibunya untuk mengijinkan dirinya menyusul sang kakak. Awalnya Love tak mengijinkannya. Tapi karena rengekan Ixy yang tak kunjung berhenti, membuat Love menyerah.
Maka di sinilah Ixy sekarang bersama dengan dirinya. Di tempat tersebut sudah banyak orang, mulai dari yang hanya sekedar menonton sampai yang memang sedang latihan. Ternyata bukan hanya Avez saja di sana yang usia
anak-anak yang berminat dalam hal sketboard, ada sekitar tiga anak yang lain yang juga sama seriusnya dengan Avez mendengarkan arahan dari ‘gurunya’.
“Bunda, Adek.” Avez seorang diri mendekati mereka karena Virgo juga sedang asyik dengan papan sketboardnya.
“Abang capek nggak?” pertanyaan Love itu hanya mendapatkan gelengan dari Avez.
“Abang mau latihan dulu ya, Bunda.” Kemudian berlari dan mendekati Virgo. Tapi Ixy yang tak mau kalah, mengejar sang kakak dan melihat dari dekat bagaimana Avez meluncur menggunakan papan bergambar elang itu.
“Adek kalau mau lihat jangan di sini. Nanti kena marah Abang-abangnya.” Avez memberikan teguran kepada adiknya agar bocah itu mau bersama ibu mereka. Tak kurang akal, Ixy justru meminta izin kepada Virgo.
“Abang, adek boleh di sini kan?” Virgo yang sudah terpesona dengan bocah itu tentu saja menyetujuinya.
“Jangan deket-deket ya.” Begitu katanya sambil mengelus rambut Ixy sayang.
“Oke, Bang.” Setujunya. Kemudian mereka bertos ria dengan kompak.
Keberadaan Ixy di sana membuat remaja-remaja di sana malah mengajak bocah itu bermain. Ixy benar-benar menarik banyak orang di sana. Bahkan bocah itu langsung akrab dengan mereka. Sayangnya hal itu tak membuat
Avez senang. Permisi sebentar kepada Virgo, dia mendekati sang bunda.
“Bunda.” Panggilnya. “Adek biar sama, Bunda aja. Abang nggak suka adek di sana.” Awalnya Love tak paham kenapa Avez keberatan dengan hal itu.
“Kenapa?” tanya Love penasaran.
“Abang nggak suka.” Bibir Avez manyun. “Mereka cubit pipi adek dari tadi, Bunda.” Dan kini barulah Love tahu kenapa putranya itu complain kepadanya.
“Oke.” Putus Love mengerti. “Ayo, kita jemput adek.” Mereka berjalan beriringan untuk ‘mengambil’ Ixy dari kerumunan remaja-remaja tersebut.
“Ya, Bunda.” Senyum Love sumingrah sekali dikelilingi banyak ‘teman’.
“Kita ke sana yuk. Tunggu Abang di pinggir aja.”
“Adek mau di sini aja, Bunda.” Tolak Ixy. Dan dengan jawaban itu, membuat Avez seperti dongkol sekali.
“Adek. Sebentar lagi abang pulang. Adek sama bunda aja di pinggir.” Itu suara Avez. Mata bocah itu bahkan terlihat tajam dan penuh peringatan.
Mengerti aura kakaknya yang tak bersahabat, membuat Ixy memilih mengikuti ajakan sang bunda. Dia tidak mau kakaknya akan mengabaikannya nanti jika ucapan Avez tak di dengarkannya.
“Kenapa Vez?” Itu adalah pertanyaan dari Virgo. “Adek kamu kan nggak ganggu.” Pertanyaan itu tak langsung mendapatkan jawaban dari Avez.
“Kamu nggak seneng kalau adik kamu deket sama kami.” Avez menatap Virgo. Kemudian menghela napas panjang.
“Bukan, Bang.” Jawabnya akhirnya. “Mereka cubit-cubit adek.” Suaranya terdengar rendah di akhir kalimat. Dan bukan hanya kaget, Virgo bahkan langsung menutup bibirnya dengan kepalan tangannya. Lelaki itu tertawa tertahan mendengar hal itu.
Entah apa yang dipikirkan oleh Virgo tentang Avez. Tapi tak urung dia juga berbicara. “Soalnya adek Avez kan cantik. Makanya disukai semua orang.” Namun Avez tetap kukuh dengan pendiriannya.
“Tapi Avez nggak suka, Bang.” Begitu saja yang dia katakan. Hanya dengan begitu saja semua orang yang berada di posisi Virgo akan tahu jika bocah itu memiliki sifat posesif terhadap adiknya. Mungkin itu bagus, tapi petaka bagi orang yang nanti menyukai Ixy, karena mereka tak akan mudah mendapatkan restu dari Avez.
Bahkan ketika sampai di rumah, Avez masih mengatakan ketidak sukaannya jika adiknya berada di tempat tersebut.
“Adek besok nggak usah ikut abang ke tempat latihan sketboard.” Kedua anak Aksa itu berada di kamar. Avez tidur tengkurap dengan memainkan stick drum, sedangkan Ixy sedang sibuk dengan bonekanya.
“Kenapa, Bang? Adek kan suka.”
“Tapi abang nggak suka.” Di tatapnya adiknya dengan serius. “Adek mau kalau abang-abang itu cubit pipi Adek?” Sepertinya pikiran Avez benar-benar berpikir dewasa sekali.
“Abang nggak suka kalau Adek di cubit-cubit pipinya sama mereka.” Lanjutnya lagi. Kemudian Avez tidur terlentang. Masih memainkan stick drum namun tak lama tertidur.
Ixy yang melihat kakaknya tidur, memilih keluar dan mencari orang tuanya.
“Bunda.” Ketika keluar dari kamar, dia mendapati kedua orang tuanya sedang duduk di sofa depan kamar mereka.
“Adek belum tidur?” Aksa yang lebih dulu berbicara.
“Belum, Yah.” Tapi wajah Ixy terlihat memendam sesuatu. Jadi Love yang bertanya.
“Adek kenapa?” Seperti sedang merangkai kata, Ixy justru memasang ekspresi yang sangat serius.
“Di cubit-cubit pipinya sama orang-orang itu nggak papa kan, Bunda? Nggak sakit kok.” Matanya menatap Love dan Aksa bergantian seolah dia ingin mendapatkan pembelaan. “Tapi Abang bilang, Abang nggak suka.” Sambil mengatakan itu, kepalanya menunduk dengan bibir mengerucut.
Aksa dan Love saling pandang. Keduanya saling tersenyum dan berbicara dengan nada pelan, “Habis di tatar dia, Yah, sama abangnya.” Begitu kata Love hanya bisa di dengar oleh Aksa.
“Dek!” Panggilan itu dari Aksa. “Abang itu bilang seperti itu karena memang abang sayang sama Adek.” Ixy diam saja sambil memelintir ujung baju tidurnya. “Abang nggak mau kalau pipi Adek di pegang sama orang-orang. Iya kalau tangan orang itu bersih, kalau nggak, pasti banyak kuman yang akan nempel di pipi Adek.” Tentu saja Aksa tak akan menjelaskan tentang hal-hal negative yang belum bocah itu mengerti. Nanti, mereka pasti akan menjelaskan dengan pelan-pelan.
“Tapi adek nggak boleh ke sana lagi, Yah.” Ada rasa kecewa yang diutarakan oleh Ixy dari nada bicaranya. “Kan adek suka di sana.” Inilah kenapa orang tua harus memiliki jawaban yang bisa dimengerti oleh anak-anak tapi dengan bahasa yang tidak membuat anak-anak salah mengartikan.
“Nanti biar ayah yang bilang ke abang ya.” Ixy mengangguk kemudian pergi ke kamarnya lagi tanpa mengatakan apapun.
“Ini baru kelas empat loh, Yah. Kalau udah dewasa tahu adiknya pacaran apa nggak asem banget itu wajahnya abang nanti.” Tak semua anak memiliki sifat seperti Avez. Dia sudah menunjukkan peran yang kuat sebagai
kakak. Bahkan adiknya saja sudah mematuhinya sejak mereka sama-sama kecil.
“Bukannya tugas ayah nanti semakin sedikit kalau udah ada ‘tentara’ buat putri ayah?” Memang benar apa yang dikatakan oleh Aksa. Memiliki anak perempuan itu ibarat berdiri di atas duri. Membiarkan anak bebas dengan dalih menyayanginya, akan berakibat tak baik. Mengekang demi kebaikan pun terkadang akan dianggap kolot.
*.*
“Avez, aku suka adik kamu loh. Aku cinta.” Avez sedang asyik dengan bukunya ketika seorang temannya yang berbeda kelas dengannya mendatanginya. Sontak saja perkataan temannya itu menimbulkan kejengkelan yang berusaha dipendam oleh Avez.
“Kamu kan masih kelas empat, masa udah bilang cinta-cinta.” Pengendalian bocah itu memang bisa diacungi jempol. Alih-alih langsung melayangkan bogeman ke wajah temannya itu, Avez malah berbasa-basi.
“Nggak papa lah.” Jawaban temannya itu membuat Avez menahan jengkel. “Aku mau Ixy jadi pacar aku.”
“Nggak boleh.” Mata Avez sudah melotot. “Dia itu masih kecil, nggak boleh pacar-pacaran.” Begitu katanya siap untuk menyerang.
“Kalau Ixy mau? Kata abangku, aku harus bilang kepada orang yang aku sukai kalau aku suka sama orang. Aku suka sama Ixy, jadi aku akan bilang sama dia.” Sepertinya teman Avez itu mendapatkan pengaruh buruk dari keluarganya sendiri. Karena tak seharusnya seorang kakak mengajari hal yang seperti itu.
“Ixy nggak akan mau. Kita itu masih kecil, harus pintar dulu.”
“Aku tetap mau bilang.” Kukuh teman Avez bernama Alex itu. Dan meninggalkan Avez di kelas.
Sayangnya Avez tak akan diam saja melihat Alex nekat. Di pegangi tangan Alex sambil mengatakan ‘jangan’. Tapi sepertinya Alex terlalu bebal untuk mengerti apa yang dikatakan oleh Avez.
Dengan mendorong Avez, Alex meneriakin bocah itu. “Kamu ini diam aja, aku kan cuma mau bilang sama dia kalau aku suka sama dia.” Entah menonton drama apa Alex ini jika berada di rumah karena ucapannya seperti menjiplak
dari cara orang dewasa berbicara.
“Tapi dia itu adik aku.” Teriak Avez tak mau kalah. Karena menurut Avez, matipun akan dia lakukan jika itu menyangkut sang adik.
Mendapatkan teriakan itu membuat Alex geram. Dipukulnya kepala Avez dengan tangannya. “Aku nggak takut sama kamu.” Begitu Alex bilang. Hal itu memunculkan jiwa horor Avez keluar. Maka dibalasnya Alex dengan memukul kepala bocah itu.
“Aku juga nggak takut sama kamu.” Suasana seketika riuh ketika dua anak itu baku hantam. Avez bahkan mendapatkan memar di pipinya dan Alex mendapatkan hal yang sama di pelipisnya. Bukannya memanggilkan guru, murid lainnya malah asyik menyoraki apa yang dilakukan oleh Avez dan Alex.
Beruntung ada seorang guru yang melintas di sana. Dengan segera melerai perkelahian tersebut, guru itu juga ‘mengusir’ murid-murid lain yang berkumpul di sana. “Kalian kenapa berkelahi!” Guru laki-laki itu melototi kedua anak didiknya itu dan ‘menyeret’ keduanya ke ruang guru. Sedangkan Avez dan Alex masih saja berusaha menyerang satu sama lain.
“Duduk.” Perintah seorang guru kepada mereka ketika berada di ruang BP. Bukannya menuruti, Alex masih saja ingin mendekati Avez untuk memukul kembali bocah itu. Teriakan para guru menggema dan memegangi dua bocah itu. kilatan mata mereka menandakan jika keduanya tak ada yang mau berdamai.
*.*