
Fans Rifa bertebaran di seantero sekolah kecuali di kelasku. Bukannya tidak ada yang suka, hanya saja Rifa selalu menjaga jarak dari cewek-cewek IPA 5. Otomatis mereka berbalik segan dan tak pernah berharap lebih pada mantan pacarku itu. Hal inilah yang membuatku lebih nyaman tinggal di kelas dibanding tempat lain di sekolah.
“Xa, Andre ngajak kita main ke wisata kuliner malam Minggu besok,” kata Cilla ceria.
Wisata kuliner yang Cilla maksud adalah acara rutinan di Purwakarta setiap akhir pekan. Sesuai namanya, pada malam itu kalian dapat menemukan aneka jajanan di sepanjang jalan K.K. Singawinata. Malah terkadang ada pertunjukan seni seperti band, jaipongan, wayang golek, dan masih banyak lagi sebagai hiburan untuk para pengunjung.
Aku pribadi nyaris tidak pernah ke wiskul (begitu orang-orang menyebutnya). Kehadiranku di sana masih terhitung jari. Salah satunya saat acara ulang tahun Purwakarta berkonsep pawai yang menampilkan kesenian daerah 33 provinsi Indonesia plus beberapa negara ASEAN. Itu pun karena aku penasaran, benar kah orang daerahnya langsung yang tampil?
“Gue gak bisa keluar malem, Cill,” ujarku melas. “Mama pasti ngomel.”
Bukannya mengasihani, Cilla malah tertawa puas. Menyebalkan.
Sejak skandal mading minggu lalu, aku dan Cilla jadi semakin dekat dengan Andre. Nyaris setiap waktu kami habiskan bertiga, atau berempat jika sesekali Raka ikut bergabung.
Hal terbaik yang bisa kulakukan saat ini adalah tidak pernah meninggalkan Cilla seorang diri sementara aku berbahagia dengan teman baruku. Tidak lagi. Sekarang aku mengerti, walaupun menyebalkan, Cilla punya segudang cinta yang tulus untukku. Sudah selayaknya aku membalas ketulusan tersebut.
Saking dekatnya, kurasa tidak ada lagi rahasia di antara kami bertiga. Andre bahkan tak ragu saat mengakui ayahnya pernah terlibat kasus korupsi, hingga menjebloskannya ke dalam penjara. Hal tersebut menyebabkan seluruh kekayaan keluarga Andre raib, bahkan rumah yang mereka tinggali pun ikut disita.
Andre, Kevin, dan ibunya jadi hidup telantar. Keadaan membuat mereka menjadi luntang-lantung seperti sekarang ini.
“Jadi rumah mewah yang waktu itu tuh bekas rumah lo, Dre?” tanyaku suatu hari.
“Salah satu bekas rumah gue tepatnya,” jawab Andre dengan penekanan di awal kalimat.
“Kok gue gak tahu kalau bokap lo ….” Aku membuat tanda kutip di udara, sedikit ragu untuk mengatakan secara blak-blakan. Memang aku pernah mendengar desas-desus tentang anak koruptor ini dulu. Tapi aku sama sekali tidak tahu—juga tak menyangka—orang yang dimaksud adalah Andre.
“Lo aja yang kudet,” ledek Andre. “Anak-anak satu sekolah pada tahu, kali.” Ia menjitak kepalaku pelan. Walau demikian, aku tetap menjerit, dan tentu saja berusaha membalas perbuatannya.
Gara-gara kasus tersebut Andre sempat dibenci anak-anak satu sekolah. Berkat kejenakaan Andrelah kebencian orang lain terhadap dirinya perlahan meluntur, hingga lenyap sama sekali.
Lagipula, Andre memang tidak bersalah. Jika mesti diberi sanksi sosial, kurasa satu-satunya yang pantas menerima itu semua hanyalah ayah Andre. Sebab ia yang melakukan korupsi, bukan istri apalagi anak-anaknya. Mereka tak tahu-menahu soal itu.
Atau malah mereka justru bersekongkol? Entahlah.
“Kalau gue main berdua sama dia gak apa-apa, nih?” tanya Cilla hati-hati, menyadarkanku dari lamunan.
“Gak apa-apa, kok. Emang kenapa?” Aku balik bertanya.
“Ya … gak enak aja senang-senang tanpa lo.”
“Nyantai aja kali,” jawabku kalem sambil membuka buku latihan soal SBMPTN. Daripada bengong atau mengobrol tak jelas, lebih baik istirahat pertama ini kuhabiskan untuk belajar.
“Alexa.”
Seperti ada yang memanggil namaku.
Aku kontan mendongak dari soal-soal di atas meja kemudian mencari-cari. Tepat saat diriku menoleh ke belakang, di pojok sana Rifa pun tengah mengarahkan pandangannya padaku.
Tapi sayang beribu sayang, tatapan itu masih sama seperti sebelumnya. Kosong.
***
Mungkin Mama akan memarahi jika aku keluar malam bersama Cilla, namun tidak jika Raka yang menjemput. Alih-alih marah, Mama justru menyambut baik niatan Raka. Malah beliau menyuruhku bersiap-siap dengan cepat.
“Daripada nangis gak jelas terus di kamar,” kata Mama frontal. Aku bahkan tidak tahu Mama sering menguping isakan-di-bawah-bantalku setiap menjelang tidur.
“Kalau begitu, kami pamit, Tante,” ujar Raka seraya menyalami Mama. “Sama sopir, kok. Gak bawa mobil sendiri.”
Mama manggut-manggut dan mengatakan hati-hati pada kami.
Mobil Raka diparkir di depan gerbang rumahku. Cowok itu membukakan pintu belakang dan memintaku masuk duluan. Aku menurutinya dan mulai mencium aroma lemon yang entah bagaimana membuat pikiranku lebih rileks.
“Andre dan Cilla nunggu kita di Gedung Kembar katanya,” ujar Raka menyebut bangunan bersejarah yang terletak tepat di depan stasiun kereta api Purwakarta. Ia memperlihatkan pesan dari Cilla padaku.
“Kamu janjian sama mereka juga?” tanyaku.
Raka mengangguk. “Iya. Tadi siang mereka ke kelas aku dan ngajak hang-out malam minggu ini. Mereka juga minta aku ngebujuk Tante Linda supaya ngebolehin kamu keluar sekarang.”
Bahkan tanpa membujuk pun Raka sudah mendapat ijin dari mama. Hebat. Benar-benar hebat. Faktor keluarga kami bertetangga sejak puluhan tahun memang ampuh. Beruntung kedua orangtuaku tidak cukup kolot hingga berencana menjodohkan kami berdua. Atau justru orangtua Raka yang tidak ingin punya menantu dari keluarga biasa saja sepertiku?
Tepat di seberang gedung pengadilan, mobil menepi. Itu adalah batas akhir jalan raya yang masih bisa diakses kendaraan bermotor.
Raka bergegas keluar dari mobil, lalu membukakan pintu di samping kananku. Kalau saja ia bukan Raka, tentu perlakuan berlebihan ini akan membuatku canggung.
“Pak, nanti jemput kami jam sepuluh, ya?” kata Raka pada sopirnya.
Aku kontan melirik jam di ponsel dan menghitung berapa lama waktu yang akan kami habiskan di tempat ini. Tepat tiga setengah jam, dengan catatan sopir Raka tidak terlambat menjemput.
Setelah mobil Raka berlalu, cowok itu menuntunku menuju area Situ Buleud. Aku sedikit meloncat saat berusaha melewati fortal pembatas jalan.
Tempat ini selalu ramai seperti Sabtu malam biasanya. Trotoar di sekitar Situ Buleud dipenuhi remaja yang memang sengaja datang kemari hanya untuk nongkrong tampan dan cantik.
"Wow!"
Pemandangan di depan mataku kini benar-benar menakjubkan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, aku berhasil melihat tarian air mancur Sri Baduga secara live, bukan hanya dari TV. Bukankah sudah kubilang aku sangat jarang ke tempat ini? Tak heran jika aku out of date.
“Baru lihat?” Teguran Raka menyadarkanku dari ketersimaan.
Aku menggeleng pelan. “Pernah denger sih, tentang air mancur yang katanya bisa menandingi Merlion itu. Tapi kalau lihat secara langsung baru kali ini,” akuku jujur.
Raka tersenyum simpul. “Ya udah, jalan lagi, yuk! Kayaknya Andre dan Cilla udah kelamaan nunggu. Mereka terus ngirim ‘bom ping’.”
Walau belum puas memandangi air mancur, aku terpaksa mengikuti langkah panjang Raka dengan berlari-lari kecil. Tapi tetap saja aku kewalahan untuk mengimbangi. Tampaknya ia terlalu bersemangat malam ini.
Cowok itu baru mau menghentikan langkahnya ketika sadar aku telah tertinggal cukup jauh. Ia berputar balik untuk menyusulku, kemudian mengulurkan sebelah tangannya.
Aku mengernyitkan kening, menatap tangan itu heran.
“Take my hand.”
Hening. Aku belum juga bereaksi atas permitaan anehnya itu.
Kurasa ini bukan hanya aneh, melainkan sangat aneh. Memangnya, sejak kapan aku dan Raka sengaja bergandengan tangan seperti orang pacaran saat jalan berdua?
Tanpa menunggu persetujuan dariku, Raka meraih telapak tanganku ke dalam genggamannya lalu mulai menuntun lembut.
Wajahku merona seketika.
Ah, sepertinya bukan kami, hanya sosok Raka yang menarik perhatian mereka.
Aku baru sadar penampilan Raka malam ini jauh lebih istimewa dari biasa. Ketampanannya kian kentara di balik balutan polo shirt putih dan kemeja kotak-kotak jingga yang kesemua kancingnya dibiarkan terbuka. Jeans hitam juga sepatu kets jingga yang kuyakin bermerek terkenal melekat pas di kaki panjangnya. Aroma citrus yang menguar dari tubuhnya pun benar-benar menyejukan.
Raka memang sempurna. Tapi mengapa sangat sulit menjadikannya spesial di mataku?
“Alexa! Raka!”
Kudengar seseorang menyerukan nama kami. Aku celingak-celinguk dan berhasil menemukan sosok Cilla tengah melambai-lambaikan tangannya di depan Gedung Kembar bagian kanan. “Sini!”
Masih sambil bergandengan tangan, aku dan Raka berjalan menghampiri Cilla. Ada Andre di belakang cewek itu. Sedang duduk manis di bangku panjang yang kutaksir cukup untuk lima orang.
“Cie, mesra banget!” sambut Cilla seraya mendaratkan bokongnya di samping Andre.
Aku hanya tersenyum dan mengikuti Cilla duduk.
Kemudian mereka mulai berceloteh-ria bertiga. Aku hanya menanggapi sesekali sambil memejamkan mata rapat. Mencoba menikmati hiruk-pikuk sekitar lewat suara, bukan rupa.
Begitu banyak nada-nada alami yang tertangkap telingaku: suara muda-mudi berdebat, suara seorang ibu melarang anaknya membeli jajanan mahal, suara peluit serta kereta api dari arah stasiun, suara cekikikan Andre-Cilla-Raka, bahkan alunan musik.
Petikan lembut gitar yang diiringi suara merdu seorang gadis terdengar begitu menyejukkan hati. Irama yang mengalun membuat kakiku mengentak-entak tanpa sadar. Satu, dua, satu, dua. Ah … indah sekali.
Saat lagu berhenti, beberapa orang menyoraki heboh. Aku sendiri bertepuk tangan pelan di tempat sebagai bentuk apresiasi. Sungguh sebuah konser jalanan gratis yang menyenangkan.
Ketika mataku terbuka kembali, Raka dan Andre sudah tidak ada di tempatnya lagi. “Ke mana bocah dua itu?” tanyaku pada Cilla. Ketidakberadaan mereka membuatku melupakan niatan untuk mencari tahu siapa pemilik suara merdu tadi.
“Katanya mau beli lumpia basah sama bajigur,” jawab Cilla, menyebut minuman seperti air keruh khas masyarakat Sunda. “Tadi Andre nanya dulu sama lo, suka bajigur apa nggak? Eh, elo malah merem terus. Karena gak mau ganggu, akhirnya mereka pergi. Kata Raka sih, lo suka bajigur. Bahkan dia tahu makanan dan minuman kesukaan lo. Romantis banget deh, dia.”
“Romantis apaan?” sangkalku spontan. Entah mengapa aku merasa sedikit tak nyaman setiap ada orang yang mengistimewakan hubunganku dengan Raka. Bagiku, Raka tak lebih dari seorang teman masa kecil yang mungkin akan menjadi tetangga abadiku.
“Romantis apaan?” Suara lain menimpali. Aku mendongak. Ada Andre. Rupanya ia dan Raka telah kembali dari perburuan makanan. Mereka menenteng tiga keresek penuh kuliner khas nusantara. “Alexa gak ada hubungan apa-apa sama Raka. Dia kan, calon pacar gue!”
“Enak aja, lo!”
Kami kompak tertawa. Kami, kecuali Raka. Ia justru tampak murung. Tak seceria saat pertama datang tadi. Apa mungkin ia cemburu pada Andre?
Aku lantas menggeleng cepat. Konyol sekali memikirkan hal seperti itu. Bukankah Raka sendiri yang bilang kalau ia sudah move on dariku?
“Buka kereseknya, buka!” seru Cilla dengan semangat empat-lima. Ia merebut paksa dua keresek dari tangan Andre. Ada empat bungkus sterofoam berisi lumpia basah di sana. Melihat Cilla membuka isinya membuatku tak sabar ingin segera melahap bagianku.
Belum sempat Cilla membagi makanan sama rata, suara datar Raka terdengar di udara. “Alexa, bisa ikut aku sebentar?”
Datar dan dingin. Aku tak yakin bisa menolak ajakannya. Seolah ikut berkompromi, nafsu makanku pun mendadak lenyap entah ke mana.
Aku langsung mengikuti Raka yang telah berjalan lebih dulu ke arah stasiun. Beruntung Cilla dan Andre tidak banyak bertanya. Mereka justru memberi tatapan mengerti saat aku melirik keduanya bergantian.
“Ada apa, Ka?” tanyaku begitu ia duduk di anak tangga stasiun, tempat yang jauh dari jamahan para penikmat wisata kuliner.
Walau berada di lingkungan yang sama dengan tempat berlangsungnya wiskul, spot ini serasa terasingkan. Begitu sepi dan gelap. Kumpulan manusia di depan sana serasa puluhan meter jauhnya.
“Duduk!”
Lagi-lagi aku menurut begitu saja.
“Kamu … ada hubungan apa sama Andre?”
Pertanyaan to the point Raka berhasil menciptakan kerutan dalam di keningku. Kuperhatikan wajah murung Raka lekat. Ia bahkan tak memandangku saat bertanya tadi. “Teman. Atau mungkin … sahabat?”
“Gimana kalau ternyata Andre suka kamu?”
Aku terkesiap. Ada-ada saja bicaranya!
“Ya, tinggal jadian,” sahutku asal, lalu tertawa setelahnya.
“Aku serius.”
“Aku juga serius,” timpalku. “Dan kamu bisa jadian sama Cilla dengan catatan cewek itu udah putus sama Jono—itu pun kalau bener mereka pacaran.”
“Gue lagi ngomongin lo, bukan diri gue.” Lagi-lagi Raka berkomentar ketus. Panggilannya mendadak jadi lo-gue. Tidak seperti biasanya.
Raka mendekatkan tubuhnya ke arahku, membuatku refleks bergeser menjauhinya.
Kucoba membalas tatapan tajam Raka dengan sorot memelas. “Ka .…” Suaraku nyaris berupa bisikan. Raka mengangkat sebelah alisnya, menuntut kelanjutan ucapanku.
“Ka, gue ….” Kuhela napas berat, lalu mengembuskannya perlahan-lahan. Tatapanku kian melas. “Gue gak mungkin pacaran sama Andre.”
“Why not?”
“Gue … gue ….”
Raka mengangkat sebelah alisnya lagi. “Ya?”
“Gue ….”
“.…”
“Gue masih sayang Rifa, Ka!” Suaraku bergetar. “Gue gak bisa lupain dia. Seberapa keraspun berusaha, gue gak bisa berhenti mikirin dia. Apa pun yang terjadi, gue tetep sayang Rifa, Ka.” Dadaku menyesak. “Gue cuma sayang Rifa! Cuma Rifa! Gak mau yang lain!”
Roboh sudah pertahananku. Aku menangis sejadi-jadinya. Tanganku berontak, memukuli dada Raka bertubi-tubi. Tak peduli orang-orang menonton drama kami dari kejauhan.
“Gue pengin Rifa, Ka! Pengin Rifa!”
“Xa, sadar, Xa!”
“Gue pengin Rifa, Ka! Rifa!”
“Alexa!” Raka mengunci pergelangan tanganku yang masih terus memukulinya. "Lo kenapa jadi gini? Sejak kapan Alexa bisa dibutakan cinta? Mana Alexa yang selalu tegar, mana? Sadar Xa, sadar!”
Aku terpaku.
“Baru diberi cobaan segini lo udah gila?” bisik Raka. “Lalu, apa lo bisa bayangin seberapa gilanya gue seumur hidup terus mengharapkan cinta lo?”
***
Jadi guys, anak SMA di sini setiap hari tempat duduknya berpindah-pindah sesuka hati. Beda sama jaman SD, ya. Makanya kadang Rifa duduk di depan Alexa, kadang di belakang. Seperti itu.