Blind Love

Blind Love
Kisah 28



Seperti yang sudah disepakati sebelumnya oleh Virgo dan juga ibu mertuanya kalau mereka akan bergantian menjaga Ardi di rumah sakit. Maka lelaki itu bersama Libra benar-benar datang seteleh menitipkan anak-anak mereka ke tempat Firman. Memang ketika mereka mengatakan rencananya, baik Firman maupun Jihan benar-benar tak menyangka jika mereka akan nekat melakukan hal tersebut.


Tapi Virgo menjelaskan tujuannya melakukan hal itu kepada kedua orang tuanya. Meskipun Sintya mendengus, tapi perempuan itu mengangguk saja.


"Ayah ingin sesuatu?" Libra mendekati ranjang Ardi dan mencoba untuk menawari lelaki itu sesuatu. Jihan memang bilang kalau suaminya itu sudah makan sesuatu, tapi Libra mencoba peruntungannya untuk melakukan hal tersebut.


Ardi hanya menatap Libra tanpa mengatakan apapun. Kemudian kembali menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong entah apa yang sedang dipikirkan. Virgo yang ikut berdiri di samping Libra hanya menghela napas panjang tanpa berkomentar apapun.


Dia merasa sebal karena istrinya diperlakukan seperti itu oleh Ardi, meskipun Libra adalah putri dari lelaki itu, tapi perlakuannya sama sekali tak mengenakkan hati.


Maka Virgo menarik tangan Libra dengan pelan, kepalanya mengangguk memberi isyarat kepada istrinya untuk meninggalkan lelaki itu. Dia paham jika Libra merasa kecewa, tapi apa boleh dikata, memang seperti inilah sekarang hubungan mereka.


"Kamu mau beli sesuatu?" setelah keduanya duduk di sofa, Virgo bertanya. Mata Libra masih menatap ayahnya yang terbaring dengan nafas teratur.


"Enggak!" jawabnya dengan cepat. Libra menarik nafas panjang dan menyenderkan kepalanya di bahu Virgo, "Kan tadi udah makan. Masih kenyang." Lanjutnya.


"Siapa tahu kan kamu pengen ngemil."


"Enggak sama sekali." Ardi sebenarnya bisa mendengarkan apa yang diobrolkan oleh anak dan menantunya itu di ruangannya, tapi bagaimana lagi, dia tak akan ikut dalam obrolan mereka. Maka Ardi memenjamkan matanya saja berusaha untuk tidur.


Ide gila ini memang benar-benar membuat ayah Libra itu mati kutu dibuatnya. Bagaimana tidak jika hatinya merasa tak tenang dengan keberadaan dua orang itu di dalam kamar rawat inapnya.


Dan entah sudah berapa lama Ardi melamun, karena ketika dia membuka mata, Libra sedang berdiri di samping ranjangnya sambil menatapnya. Bukan jenis tatapan kebencian atau semacamnya, tapi benar-benar tatapan lembut yang penuh dengan kasih sayang.


Libra duduk di samping ranjang ayahnya dan memberanikan diri menggenggam tangan lelaki itu. "Libra tahu, Libra nggak pantas untuk mendapatkan maaf dari Ayah," awalnya berbicara. Wajah sendu itu terlihat namun Libra hanya sesekali menatap ayahnya karena dia lebih memilih menunduk ketika berbicara.


"Aku juga nggak akan maksa Ayah untuk memaafkan semua kesalahan yang aku lakukan selama ini. Tapi memang inilah takdir yang harus terjadi di kehidupanku. Inilah takdir yang sudah Tuhan gariskan untukku." Senyum Libra kecil ketika menatap sang ayah.


"Virgo memperlakukan aku dengan sangat baik sekali, Yah." Lanjutnya dengan ekspresi bangga terlihat di wajahnya, "Bahkan ketika aku sakit waktu itu, dia selalu ada di sampingku. Mama, Mama Sintya dan semua keluarga Virgo juga tak kalah baiknya kepadaku." Genggaman tangan yang diberikan oleh Libra di tangan Ardi menguat, sesekali mengelusnya dengan ibu jarinya.


"Ayah mungkin memikirkan aku selama ini, karena aku percaya seorang ayah nggak akan mungkin langsung mengabaikan anaknya begitu saja." Sejujurnya Libra ingin sekali menangis namun ditahannya mati-matian. Berusaha tegar meskipun hatinya merasa lemah.


Ardi tak sanggup mengatakan apapun. Dia hanya mematung di atas kasur sambil menatap putrinya.


"Maafkan aku dan Virgo yang sudah berlaku buruk kepada Ayah." Kali ini Libra benar-benar mengeluarkan air matanya, "Kami menjadi manusia tak tahu diri dan membangkang, ini buat aku," merujuk pada kalimat terakhir. Libra menggenggam tangan Ardi menggunakan kedua tangannya sambil menunduk.


Ardi terpengaruh, lelaki itu meneguk ludahnya dengan pelan. Keinginan melepaskan tangannya tak berhasil karena Libra menggenggamnya dengan erat.


"Aku kecewa," aksi menunduk Libra berakhir ketika mendengar suara Ardi, ayahnya tengah menatapnya dengan ekspresi kuyu luar biasa yang membuat Libra benar-benar diserang rasa sakit yang teramat di dalam hatinya. Matanya kembali mengeluarkan air matanya deras.


Jika dalam keadaan baik-baik saja dulu, Ardi tak pernah sekalipun memanggil dirinya dengan sebutan 'aku' kepada Libra. Dan perempuan itu bisa merasakan jika jarak yang tercipta antara dirinya dan sang ayah memang benar-benar sudah jauh sekali terasa.


"Aku menginginkan semua yang terbaik buat kamu. Aku ingin melihat kamu lulus kuliah, kemudian melanjutkan ke S2, dan barulah aku sanggup melepaskan kamu untuk menikah. Dengan siapapun pilihan kamu. Tapi sayangnya semua itu sama sekali tak terwujud karena kamu lebih memilih Virgo dibandingkan denganku."


"Libra tak pernah memilih antara Ayah dengan Virgo, Tapi Ayah sendiri yang membuat semua ini seolah menjadi sebuah pilihan."


"Jadi aku yang salah?" Ardi memang tak memicing atau melototkan matanya di depan Libra, tapi nada suaranya begitu dingin dan sinis.


"Bukan, Libra lah yang salah." Libra mengalah karena tak ingin membuat suasana menjadi lebih buruk.


"Aku hampir memberikan restu kepadamu ketika aku melihat kamu menangis karena Virgo disukai oleh anak dari rekan kerja Firman." Libra termangu ketika mendengar fakta yang tentu saja baru saja didengarnya.


"Yah!" dan hanya kata itu saja yang bisa dia keluarkan.


"Tapi aku nggak tahu jika ternyata kamu sudah menjalin hubungan kembali dengan Virgo dan kalian membuat aku naik darah." Raut wajah Ardi masih menegang seolah masih menyimpan kemarahan karena kejadian beberapa tahun yang lalu. Ya, lelaki itu memang masih menyimpan kemarahannya kan?


"Maaf, Yah!" lagi-lagi Libra tergugu mendengar itu. Virgo tak akan muncul ke dalam kamar tersebut karena dua orang itu sudah sepakat jika akan berbicara satu per satu.


"Selama tiga tahun ini aku tak pernah tak memikirkan tentang itu. Kebencianku terhadap keluarga itu seperti terus tumbuh di dalam hati." Ardi menatap Libra yang menangis sesenggukan di depannya.


"Kenapa kamu menghianati ayah seperti ini, Li?" pertanyaan itu seolah memutus oksigen dalam diri Libra sampai perempuan itu diam tak berkutik.


"Kalau kamu mengira alasanku selama ini hanya karena kebencianku kepada kedua orang tua Virgo, itu tidak benar. Aku memang masih membenci dua orang itu, tapi ini semata bukan karena mereka, tapi karena kamu yang menyebabkan kekacauna ini. Kamu yang tak bisa menjaga harga diri kamu, membuatku merasa gagal menjadi seorang ayah."


"Ayah!" Libra kini menenggelamkan wajahnya di lipatan tangannya dengan mengeluarkan tangisnya. Tapi sepertinya Ardi tak akan mengakhirinya begitu saja.


Ini adalah pukulan telak bagi Libra. Benar kata Ardi, jika semua orang selalu menyalahkannya karena mereka menganggap jika hubungan buruk yang terjadi antara dirinya dan juga putrinya adalah karena Firman dan Sintya. Itu memang benar, awal-awal dia meminta Libra dan Virgo putus adalah karena dua faktor. Karena Virgo adalah putra dari Firman, dan kedua adalah karena Virgo adalah pembuat onar.


Tapi setelah melihat putrinya yang begitu kesakitan melihat Virgo bersama Honey ketika pesta kala itu, dia merasa ikut sakit melihatnya. Karenanya dia mungkin akan berbaik hati dengan sedikit membutuhkan waktu untuk memikirkan dampak baik dan buruknya setelah Virgo dan Libra kembali menjalin hubungan.


Sayangnya, waktu memberikan jawaban. Dan ciuman itu adalah puncak dari kemarahannya. Dia memang tak mengatakan alasan sebenarnya kenapa dia menjadi sangat keras kepala seperti itu. Karena bahkan istrinya saja dengan lantang mengatakan jika dia akan mendukung putrinya dibandingkan dirinya. Maka dia merasa tak perlu mengatak alasan lain dari masalah tersebut.


"Maaf, Yah. Maaf." Libra sudah kembali duduk dengan tegak namun wajahnya masih menunduk dan air mata yang masih mengalir.


Ardi tak menjawab permintaan maaf dari Libra. Lelaki itu menatap langit-langit kamar rawat inapnya dengan pandangan kosong. Matanya hampir memejam ketika satu pertanyaan diajukan kepada putrinya.


"Kamu masih perawan ketika menikah dengan Virgo?" tatapan sungguh-sungguh itu diberikan kepada Ardi untuk Virgo.


Dan Libra pun terkaget ketika mendengar itu, "Tentu saja aku masih perawan, Yah. Ayah fikir aku akan dengan suka rela memberikan apapun kepada orang yang aku cintai padahal kami belum menikah?" Libra sedikit tak terima dengan dugaan yang barangkali sekarang ini berada di kepala ayahnya.


"Syukurlah, paling tidak pertanggung jawabanku kepada Tuhan nanti sedikit ringan." Jawaban itu memang enteng, tapi bagi Libra itu adalah rasa kecewa yang diberikan Ardi kepada dirinya. Hatinya lagi-lagi merasa sangat sedih mendengar hal tersebut.


*.*


Ardi sudah tertidur ketika Libra keluar dan menemui Virgo yang tertidur di depan ruangan sang ayah. Perempuan itu duduk dengan pelan di samping suaminya dan menatap lelaki itu dengan tatapan penuh cinta.


"Maaf." Suara parau itu keluar dari mulut Libra dan lagi-lagi meminta maaf akan semua hal yang terjadi. Perempuan itu mengelus lengan Virgo dengan pelan dan kembali meneteskan air matanya meskipun tak bersuara.


Virgo bangun dan mendapati istrinya duduk di sampingnya dengan air mata yang mengalir. Tanpa banyak kata, lelaki itu menarik Libra ke dalam pelukannya dan mengelusnya pelan. Membiarkan sang istri meluapkan apapun perasaan sakit yang dirasakannya sekarang.


Percakapan ayah dan anak itu memang tak mungkin mudah. Tapi mereka memang harus memberanikan diri untuk berbicara berdua bersama Ardi. Entah Libra duluan atau Virgo duluan. Memang itulah rencana mereka, akan bergantian berbicara dengan Ardi karena tak ingin Ardi merasa dia 'dikeroyok' oleh anak dan menantunya.


"Tidurlah," kata Virgo masih dengan memeluk sang istri.


"Kamu nggak mau denger apa yang kami bicarakan di dalam tadi?"


"Aku udah denger semuanya." Jam yang dipakai oleh Libra adalah jam yang sama seperti yang dipakai oleh kedua anaknya, yang bisa menghubungkan antara keempat anggota keluarganya. Ada system sadap, lokasi, yang jelas itu memudahkan mereka untuk berkomunikasi juga.


"Sepertinya aku rendah sekali di mata ayah." Libra mengeluh dengan mata menatap Virgo sungguh-sungguh. Bahkan air mata itu masih setia di sana, "Aku malu banget, Yang. Rasanya sekarang dunia sedang menertawankan aku. Aku harus bersembunyi dimana sekarang?" katanya dengan tangis tanpa henti.


Virgo kembali memeluk istrinya dan menyembunyikan wajah Libra di dadanya. "Maafkan aku." Kini giliran Virgo yang meminta maaf, "Ini semua adalah kesalahanku. Kalau aku bisa mengendalikan diriku waktu itu, kamu pasti nggak akan mengecewakan ayah." Virgo tak kalah merasa kecewa, namun lebih kepada dirinya sendiri.


Sekali lagi, bagi orang lain, sebuah ciuman bukanlah masalah besar, tapi sayangnya Ardi tak seperti itu dan membuat semuanya menjadi kacau seperti sekarang ini.


"Kamu nggak salah." Dengan pelan Libra melepaskan pelukannya, menatap lelaki itu dengan sungguh-sungguh. "Memang keadaannya yang seperti ini sekarang." Sesungguhnya Libra sama sekali tak bisa berkata-kata. Kenyataan yang dilemparkan ayahnya di depan wajahnya membuat dirinya hancur.


Virgo menghela nafas. Mengelus wajah Libra dan menyeka air mata yang ada di wajah sang istri. "Semua sudah berlalu, hanya perlu memperbaiki semuanya." Begitu kata Virgo.


"Aku akan meminta maaf kepada beliau. Sampai maaf itu aku dapatkan entah kapan." Tekat Virgo bulat. Dia tak akan mundur untuk melakukannya. Libra juga mengangguk menyetujui apa yang dikatakan oleh Virgo. Memang itu tugas yang harus diselesaikan.


Memang tugas itu bisa ditunda, tapi ditunda bukan berarti tak mengerjakan kan? Maka Libra dan Virgo akan berusaha mengerjakan sedikit demi sedikit sampai tugas tersebut selesai sama sekali.


Masih di hari yang sama, ketika pagi sudah menggantikan malam dan Libra pergi untuk membelikan coklat hangat untuk Virgo, lelaki itu hanya sendirian di dalam kamar bersama mertuanya. Ardi sudah bangun dan berusaha untuk berdiri dan akan pergi ke kamar mandi.


Virgo mendekat dan menawarkan bantuan, "Biar saya bantu, Om." Katanya.


Ardi tak menjawab dan memegangi infuse sambil berjalan pelan. Tak menghiraukan Virgo sama sekali. Tapi Virgo jelas tak akan tinggal diam, lelaki itu mengikuti Ardi dari belakang dan menungguinya di depan pintu kamar mandi. Berlaku seperti seorang bodyguard.


Ardi kaget ketika keluar melihat Virgo berdiri di depan kamar mandi setelah dia keluar dari sana. Jalan dengan pelan masih tak peduli dengan menantunya yang mengikutinya.


Dan ketika Ardi sudah naik ke ranjang rumah sakit, Virgo duduk di kursi dan memulai berbicara. "Maafkan saya, Om." Itu adalah awal dari percakapannya. Itupun kalau Ardi merespon ucapanya. Bahkan ketika Virgo mengatakan hal itu, Ardi sama sekali tak menyahut.


"Saya tahu selama ini saya benar-benar membuat kesalahan besar, tapi justru saya menganggap jika konflik antara Om dan orang tua sayalah yang menyebabkan hubungan ini semakin memburuk." Ardi sedikit melirik ke arah Virgo kemudian kembali menatap depan dengan ekspresi datar.


"Sejak hari itu, saya merasa saya tidak hidup dengan benar." Virgo menatap Ardi yang juga sudah menatapnya. Dia kali ini akan benar-benar mendengarkan apa yang ayah mertuanya itu katakan. Virgo akan berusaha tak mengatakan kalimat tantangan kepada lelaki itu seperti biasanya.


*.*