Blind Love

Blind Love
Epilog



Raka menatap nanar tubuh yang terkulai lemas dalam pelukannya. Berkali-kali ia meyakinkan diri bahwa ini hanya mimpi. Tidak nyata. Pistol ini, juga darah yang berceceran ini, bukanlah buah perbuatannya. Tapi sayang, bukti yang ada berkata lain.


Ya, Tuhan. Apa yang telah ia lakukan? Ia baru saja melakukan kesalahan besar. Seharusnya bukan ini yang terjadi. Bukan!


Semula, ia memang berniat menghabisi nyawa Alexa dengan tangannya sendiri. Namun begitu melihat gadis yang dicintainya kini terbaring lemah dan berlumuran darah, ia langsung panik dengan pikiran melantur ke mana-mana.


Bagaimana jika Alexa mati? Bagaimana jika ia tak bisa melihat gadis itu lagi?


Saat itulah Raka sadar, ternyata ia benar-benar mencintai Alexa. Ia takkan sanggup kehilangannya. Ia masih ingin melihat Alexa hidup, sehat, dan ceria. Rasa sakit setiap melihat kedekatan Alexa dengan Rifa tak seberapa dibanding penderitaan seumur hidup andai ia tak bisa melihat Alexa lagi.


Di tengah kekalutan, diteriakinya kelima anak buahnya untuk segera memanggil ambulan. Tapi tak ada yang mendengar. Semua bergeming. Melihat itu, Raka jengkel bukan main.


Apa-apaan ini? Berani-beraninya mereka membangkang!


“Apa kalian tuli?!” sentak Raka.


Salah seorang anak buahnya tampak tersinggung. Ia maju dan mengacungkan cambuk yang dipegangnya ke arah Raka. “Kenapa lo jadi lembek, hah?” balas Kevin berteriak. Yang lain mengiyakan kompak.


Raka mengerang kesal. Kesabarannya sudah habis. Setelah membaringkan tubuh Alexa dengan lembut, tanpa ba-bi-bu dilecutkannya tembakan bertubi-tubi ke arah manusia-manusia di depan matanya. Walau arah tembakannya tak terfokus, peluru-peluru tersebut berhasil menyasar satu-persatu objek tujuannya.


Cipratan darah menyebar ke mana-mana. Menciptakan bau amis yang memuakkan. Erangan-erangan kesakitan yang terlontar tak Raka hiraukan. Ia terus menembak dengan membabi buta. Mengenyahkan apa saja yang sekiranya harus dienyahkan. Ia telah gelap mata. Hilang akal. Emosi mengambil alih kesadarannya.


Tinggal satu tembakan yang langsung menembus jantung, semua ini akan segera berakhir.


***


Nadine menatap sekeliling dengan ngeri. Semua rekannya telah binasa. Terkapar begitu saja dengan banyak peluru tertanam di tubuh mereka. Bahkan salah satu peluru berhasil menjebol bola mata Andre, hingga kelopaknya menjorok ke dalam. Sekarang, tinggal Nadine yang tersisa. Ia yakin nasibnya pun takkan lebih baik dari yang lain.


Saat Raka dan pistol di tangannya mendekat, Nadine hanya bisa melangkahkan kakinya mundur dengan gemetar. Senjata api itu mengarah tepat ke dada kirinya, ia tahu itu.


“Pernah nyangka hidup lo bakal berakhir tragis?” Raka tertawa. Suaranya menggema di ruangan kosong tersebut.


Tubuh Nadine membeku. Space di belakangnya telah habis. Tertahan tembok. Tentu Raka senang bukan main melihat buruannya sudah tak bisa berkutik lagi. Bagai makanan instan yang siap dilahap kapan saja.


Nadine menghela napas berat. Pasrah. Dipejamkan matanya rapat-rapat. Berusaha mengendalikan getaran tubuhnya yang kian menggila. Tak ayal gigi pun ikut bergemeletuk. Ia menghitung mundur dalam hati. Menikmati detik demi detik kehidupannya yang akan segera terenggut.


Tiga … dua … satu ….


Hening.


Tidak ada suara letusan pistol juga tidak ada timah panas yang menembus jantungnya.


Penasaran, Nadine menghitung ulang dalam hati. Namun kematian yang dinanti-nantinya tak kunjung tiba. Mungkin kah kewarasan Raka telah kembali?


Gadis itu membuka matanya perlahan demi memastikan situasi sudah benar-benar aman sekarang.


Benar, Raka tak lagi memperhatikan Nadine. Laki-laki itu tampak sibuk mengutak-atik pistolnya dengan kening berkerut.


“Sial, peluru gue habis!”


***


Dengan wajah memerah, Raka campakan pistol sialan di tangannya hingga membentur tembok keras. Ia mendongak, menatap Nadine dengan kemarahan membara.


Setahunya, gadis itu paling sering mencari gara-gara dengan Alexa. Bahkan sudah dua kali mereka berseteru besar. Raka tak bisa tinggal diam. Ia harus membalaskan rasa sakit hati gadis yang dicintainya pada Nadine.


Nadine harus mati!


Raka tersenyum sinis mendengar pekikan Nadine kala melihat cowok itu mengambil sebilah pisau yang tergeletak di lantai.


Tanpa membuang waktu, Raka langsung menyerbu ke arah Nadine. Gadis itu berusaha berkelit. Berhasil. Pisau yang dihunjamkan Raka meleset ke arah tembok.


Merasa ada kesempatan, Nadine kontan menjauhkan diri dari Raka. Ia berlari kencang memutari ruangan. Terus berlari menghindari Raka yang juga tak henti mengejarnya.


Saat gadis itu memutuskan untuk menggunakan pintu ke luar, kaki Nadine terantuk sesuatu. Ia limbung kemudian jatuh tepat di atas tubuh kaku Jo. Ia berjengit kaget melihat bola mata Jo yang terbelalak berada tepat di depan wajahnya. Tatapan penuh kengerian menjelang ajal tiba.


Sentuhan dingin logam di kulit mengembalikan Nadine ke realita. Napasnya tercekat saat sedikit demi sedikit sebuah tangan menggulingkannya dari tubuh Jo. Begitu ikut telentang, ia tahu nyawanya benar-benar sudah berada di ujung tanduk. Tak ada harapan lagi.


Oh, mengapa kehidupan nyaris sempurna miliknya harus berakhir tragis seperti ini?


***


Raka menindih kaki Nadine agar gadis itu tidak bisa bergerak. Begitu dirasa aman, ia mengangkat pisaunya tinggi-tinggi. Diam-diam menghitung dalam hati. Pada hitungan ke lima, dihunjamkanlah benda tajam tersebut ke tubuh indah Nadine.


“Kyaaa …!”


Jeritan maha-dahsyat Nadine menggema di seluruh penjuru ruangan. Bahkan menembus lorong-lorong gelap rumah tersebut. Jeritan yang membuat semangat Raka kian berkobar kala perut rata yang dulu selalu dipamerkan di depan Jo kini hancur terkoyak-koyak. Ususnya terbuai menyedihkan seperti bangkai ular. Nadine hanya mampu melolong pasrah setiap si pisau menjamah tubuhnya.


Puas dengan bagian itu, Raka berpikir untuk pindah ke bagian lain. Lagipula tidak baik membunuh Nadine terlalu cepat. Ia belum puas mendengar lagu pilu yang disenandungkan Nadine sejak tadi.


Selagi tubuh Nadine tak henti menggeliat lemah, Raka merobek kemeja sekaligus pakaian dalam gadis tersebut. Nadine kembali menjerit, berusaha mencegah tindakan gila Raka padanya.


Sekali lagi, Raka tidak peduli. Tatapannya fokus pada dada sempurna Nadine yang selalu dielu-elukan teman-teman sekelasnya. Tapi di mata Raka, dada tersebut sama sekali tak menarik. Ia justru muak melihatnya. Maka, dikulitinyalah dada Nadine penuh perasaan. Ia sayat bagian itu sedikit demi sedikit sampai dagingnya mencuat ke luar. Setiap sayatan yang membawa kengerian bagi Nadine, namun kegairahan bagi Raka.


“Baiknya gue mengukir nama siapa di bagian satunya?” Raka berpikir. “Oh, Jo.”


Nadine kontan mengerang lemah. Ia sudah tidak tahan lagi. Lebih baik mati seketika seperti teman-temannya dibanding menderita berkepanjangn begini. Untunglah Raka tak merealisasikan ucapannya. Ia berhenti, dan menatap Nadine tajam.


Sebenarnya Raka masih ingin bersenang-senang. Namun ia sadar harus segera mengakhiri semuanya jika tidak ingin Alexa dan Rifa benar-benar mati.


Rifa? Ah, lucu sekali. Mengapa juga ia masih memedulikan orang itu? Mungkin benar, cinta kadang tak berlogika. Jika gadis yang dicintainya tak bisa berbahagia tanpa Rifa, maka Raka akan mengembalikan kebahagiaan tersebut secara utuh. Lagipula, sampai kapan pun Raka takkan pernah bisa mendampingi Alexa. Ia tahu, riwayatnya ikut berakhir di sini.


Raka menghela napas panjang. Matanya terpejam erat.


Begitu kekuatannya terkumpul penuh, pisau di tangannya kembali terayun. Ayunan yang sangat cepat. Hingga membebaskan penderitaan Nadine di dunia.