Blind Love

Blind Love
Kisah 36



Odel berbaring miring karena punggunya terasa sangat sakit. Dia bersyukur karena tidak ada cidera yang serius. Ibunya tadi datang dengan derai air mata yang membanjiri wajahnya. Namun dia berusaha untuk menjelaskan jika semua akan baik-baik saja. Meskipun ibunya tahu akah hal itu, tapi tangis itu masih saja tersemat disana.


“Tidur?” Odel yang tadinya menutup matanya kini kembali membukanya karena suara tersebut. Dia menatap ke depan dimana orang itu berada dan mendapati Al di sana.


“Hampir.” Jawabnya dengan suara lelah.


Al mendekat dan berdiri tepat di depan Odel, “Kalau begitu tidurlah.” Kata Al dengan lembut. Odel yang tak siap dengan perlakuan Al terhadapanya itu membuat jantungnya berdegup dengan kencang. Meskipun dia mengatakan itu bukan hal yang patut dibanggakan, kepada dirinya sendiri, tapi hatinya masih saja mengembang. Dan dia merasa tiba-tiba takut.


“Kenapa?” mungkin Al merasa diperhatikan oleh Odel namun gadis itu sama sekali tak mengatakan apapun. Jadilah lelaki itu bertanya.


“Enggak. Kamu belum pulang?” Al menggeleng. Odel bisa melihat jika pakaian Al masih sama, menggunakan seragam basket dan dia bisa pastikan jika lelaki itu tak ikut tanding tadi.


“Maaf, karena kamu nggak ikut pertandingan basket karena nolongin aku.” Odel menatap Al dengan sungguh-sungguh dan terlihat sangat menyesal.


“Justru aku yang seharusnya meminta maaf. Karena ingin melindungiku, kamu terbaring di sini sekarang.” Ini adalah interaksi terdekat yang mereka lakukan selama ini. Lima tahun Odel bersahabat dengan El, dan entah sudah berapa puluh kali dia sering datang ke kediaman Virgo, tapi interaksinya dengan Al sangat-sangat minim.


Bahkan Rigel saja sudah cukup akrab dengan Al, tapi tidak dengan dirinya.


“Ini bukan salah kamu.” Odel menjawab, “Kamu adalah pemain basket, kalau sampai kamu cidera, itu tidak bagus. takutnya kamu akan kesuliatan bermain basket lagi.”


Akankah Al terharu akan hal itu? kalau boleh dibilang, Al ini kaku. Apalagi masalah perempuan. Dan sekarang harus dihadapkan akan hal semacam ini, sepertinya sama sekali kikuk menghadapinya.


“Kamu terlalu memikirkan hal itu dan menciderai diri kamu sendiri.” Al kembali menyanggah. Lelaki itu menatap Odel dalam entah apa yang sedang difikirkan sekarang.


“Istirahatlah.” Katanya akhirnya setelah tak mendapatkan kata-kata lagi yang harus diucapkan. Odel mengangguk dan memejamkan matanya. Sedangkan Al masih setia duduk di kursi sambil sesekali melirik Odel yang sekarang sedang berkonsentrasi untuk tidur.


Gugup itu jelas ada. Tapi ditahannya mati-matian. Ketika matanya ingin kembali terbuka pun dia berusaha untuk tetap mempertahankan agar tetap memejam. Sampai alam mimpi benar-benar menariknya dan dia terlelap.


Sedangkan Al harus benar-benar memastikan jika tak ada efek lain setelah rasa sakit itu sudah menghilang. Karenanya dia berdiri, keluar dari kamar inap Odel dan mengunjungi dokter yang menangani Odel untuk menanyakan secara detail tentang kesakitan Odel sekarang ini.


“Bagaimana dengan efeknya nanti, Dok?” katanya dengan penuh rasa penasaran.


“Hantaman itu memang keras, tapi tidak sampai melukai bagian dalamnya. Karenanya sekarang memang sakit, tapi tak akan ada efek apapun setelah ini.” Penjelasan dokter itu memang dapat dimengerti, tapi rasa takutnya masih ada.


“Tenang saja, dia akan baik-baik saja. Nyeri itu akan hilang setelah pengobatan.” Al mengangguk mengerti dan sudah merasa lega sekarang. Dia tak was-was lagi akhirnya.


Setelah dia puas sudah mengetahui semua, maka dia kembali ke ruangan Odel. Namun kali ini dia mendapati banyak orang di sana termasuk El. Odel masih terlelap, sedangkan orang-orang itu sedang duduk di sofa sambil mengobrol.


Ketika Al masuk, mereka berhenti sejenak dan meminta Al untuk bergabung bersama mereka.


“Dari mana?” El yang bertanya.


“Dari ruang dokter, aku tanya beliau tentang keadaan Odel.” Tak merasa perlu menutupi apa yang sedang dia lakukan, karena itu Al berterus terang.


“Jadi?” El bertanya lagi.


“Nggak ada efek apapun. Setelah punggunya tak sakit, artinya dia sudah benar-benar sembuh.” Formasi masih lengkap di sana. Rigel juga masih ada di sana kecuali Libra dan Virgo yang lebih dulu pamit.


“Dia itu memang psikopat.” Kata ayah Odel mulai bercerita, “Sejak pacaran, Odel itu sepeti di kekang tak boleh melakukan apapun selain dengan dia.”


“Itu Radin ya, Om?” El mengatakan isi pikirannya.


“Iya. Kamu pasti mengenal dia kan?”


“Agak beda saja wajahnya, Om. Terakhir kali saya lihat dia itu tahun lalu. Dia masih ganteng dan nggak awut-awutan begitu.”


“Dia memang sudah berubah, El. Dulu dia baik meskipun agak menyebalkan. Tapi sekarang sepertinya dia menggunakan barang-barang terlarang.” El juga sempat mengira begitu. Dia memang mengenal kekasih Odel karena gadis itu sempat memperkenalkannya. Dan hanya dua kali bertemu.


Tapi Odel sama sekali tak memberitahukan kepada Rigel karena Rigel pasti akan memarahinya jika tahu bagaimana seorang Radin. Rigel adalah sahabat yang benar-benar melindungi mereka dengan sangat baik. Karena itu Odel tak ingin menceritakan itu kepada Rigel karena dia tahu apa yang akan dilakukan oleh lelaki itu kepada kekasihnya.


“Tapi dia nggak pernah bilang sama gue. Waktu itu pernah ketemu dia di sekolah, dia bilang cowok itu sepupunya.” Sepertinya Rigel tak terima dengan apa yang dilakukan oleh Odel terhadapanya.


“Karena dia takut sama lo.” Jawab El.


“Kenapa harus takut kalau pacarnya bukan orang yang bermasalah?” Rigel kembali mendebat dan El jelas akan meladeni.


“Ya karena pacarnya bermasalah, makanya dia nggak berani cerita ke elo.”


“Sudah-sudah.” Ayah Odel melerai, “kalian nggak perlu berdebat. Toh hubungan Odel sama dia juga sudah berakhir, meskipun ada adegan seperti ini juga.” Lanjutan itu terdengar kecewa sekali keluar dari mulut ayah Odel.


Kedua orang itu memang langsung diam ketika mendapat leraian tersebut, tapi Rigel sepertinya akan membahasnya lagi nanti setelah ini. Karena tatapan lelaki itu benar-benar memberi peringatan kepada El. Sayangnya El bukanlah gadis yang aku mengkerut ketika mendapatkan peringatan seperti itu, dia akan meladeni Rigel kalau memang lelaki itu menantangnya.


*.*


El dan Rigel sekarang berada di sebuah kafe tak jauh dari rumah sakit. Rigel akan mengantarkan El namun mampir makan karena El mengeluh lapar.


“Lo harusnya nggak perlu menutupi apa yang terjadi dengan Odel, El.” Benar kan, Rigel sama sekali tak akan melepaskan pembahasan itu begitu saja. El masih menikmati makanannya dan tak peduli dengan protesan sahabatnya itu.


“Lo tahu kan kalau akan begini jadinya. Gue nggak tahu apapun dengan masalah yang dihadapi oleh sahabat gue, dan itu buruk.” Tatapan Rigel sama sekali tak bergeser se inchi pun dari wajah El yang dengan nikmatnya memasukkan omelet ke dalam mulutnya.


“Odel yang minta. Gue harus bisa menjaga rahasia dia yang memang tidak ingin di share ke elo.” El balas menatap balik Rigel dengan sama khusuknya, “Lo jangan buat gue jadi serba salah dong.” Begitu lanjut El tak terima karena dia merasa di desak.


“Pacaran itu privasi, Gel. Kayak elo yang bahkan nggak pernah kenalkan cewek lo ke kami.” El tak mau rugi dengan meninggalkan sisa makanan di piring. Maka dia menyuapakan makanan terakhir, kemudian minum sebelum melanjutkan ucapannya.


“Kami aja nggak protes, kenapa lo harus protes?”


“Karena masalah putusnya hubungan gue sama dia itu sama sekali tak menimbulkan kekerasan seperti yang dialami oleh Odel dan mantannya.” El diam menunggu kalimat yang akan Rigel ucapkan, “Kalau ini sudah berhubungan dengan kekerasan, udah nggak bener.”


“Lo nggak perlu mendesak gue.” Jawab El lagi, “Kalau Odel nanti udah keluar rumah sakit, lo bisa intograsi dia sebanyak yang lo mau.” Rigel menatap El memicing kemudian menghembuskan napasnya keras.


Dia sudah paham El, dan memang itulah yang akan terjadi. Rigel berfikir jangan sampai mereka menjadi bertengkar karena dia mendesak El. Benar apa yang dikatakan oleh ayah Odel, hubungan Odel sudah berakhir dengan kekasihnya. Dan hal ini tak perlu di bahas kembali.


Setelah makan selesai, dua orang itu akhirnya kembali ke rumah. El yang masuk ke dalam rumah dengan lunglai itu seolah baru saja terjun di medan perang.


“Iya, Bun. Tapi Rigel nyalahin El gara-gara nggak cerita masalah hubungan Odel sama pacarnya.” El cemberut dan merasa jengkel akan hal tersebut jika mengingatnya.


“Dia itu kan peduli sama kalian, makanya sampai seperti itu.” El hampir mengatakan sesuatu, ketika Al turun dari lantai atas dan terlihat rapi.


“Mau kemana?” El langsung bertanya.


“Ke sekolah. Nemuin anak-anak. Nggak mungkin langsung ngilang gitu aja kan?” Al duduk terlebih dulu di samping ibunya dan bermaksud pamit.


“Ikut!” El menegakkan tubuhnya untuk mengatakan jika dia bersungguh-sungguh.


“Ngapain?” Al sepertinya heran dengan tingkah El.


“Kalau mereka nanti nyerang kamu, aku bisa belain kamu.” Inilah yang Libra suka dari kedua anaknya. Mereka akan saling melindungi satu sama lain. Bahkan mengenai masalah kekasih, Libra pun tahu betapa protekifnya El kepada Al. Dan sebaliknya.


“Aku bisa sendiri. Nggak perlu khawatir.” Al berdiri karena tak ingin lebih lama lagi menunda apa yang seharusnya segera diselesaikan.


“Aku tahu kamu pasti dapat brondongan chat dari temen-temen basket kamu. Bener kan?” Al masih berada di belakang sofa ketika El mengatakan itu. “Kamu pasti di salahkan kenapa kamu nggak datang.”


Al menumpukan kedua tangannya di atas senderan sofa dan menjawab santai, “Begitulah.”


“Aku harus turun tangan kalau begitu.” Bukannya terharu, Al justru terkekeh dengan apa yang dikatakan oleh kembarannya tersebut.


“Aku ini gentle nggak sih, El?”


“Jelas lah.”


“Kalau kamu menganggap aku gentle, maka urusan seperti ini haruskah ajak kamu juga?” El memanyunkan bibirnya karena tak terima dengan jawaban Al.


“Serah mu lah,” katanya, dan meringsekkan tubuhnya ke sofa untuk berbaring karena merasa Al menyebalkan. “Pergi sana.” Usirnya dengan nada malas dan mendapatkan kekehan dari Libra dan Al. Virgo sedang beristirahat karena merasa kelelahan.


Al keluar setelah pamit kepada ibunya dan langsung memacu motornya ke sekolahnya. Dia kelelahan sebetulnya, tapi apa yang dibilang El memang benar, jika dia mendapatkan brondongan chat dari teman-teman di tim baketnya dan dia harus segera menuntaskan kesalah pahaman yang terjadi.


Tiba-tiba tak datang saat detik-detik terakhir pertandingan dimulai memang bukanlah hal yang benar. Al tahu jika dia sedikit disalahkan oleh sebagian tim. Dan menyadarinya saja tanpa menjelaskan itu akan sama saja. Karenanya datanglah dia ke sana.


Masih ada banyak orang karena mereka mengatakan mereka akan sampai sore di sana. Al masuk ke dalam gedung olaharaga di sekolahnya, dan mendapatkan tatapan yang berbeda dari teman-temannya.


Ada yang menatapnya penuh penghakiman, ada yang biasa saja. Bahkan memar yang terlihat di wajahya sepertinya tak membuat mereka menyusutkan pemikiran buruknya terhadap Al.


“Gue minta maaf karena terpaksa nggak datang.” Lelaki itu sudah duduk di depan teman-temannya untuk menjelaskan. “Ada hal yang harus selesaikan,”


“Kenapa nggak kasih tahu kami? Kalau lo pamit dengan baik-baik, kita pasti akan mengerti.” Salah satu temannya bersuara.


“Gue ada di suatu tempat di mana ada signyal tapi nggak bisa hubungi kalian.”


“Lo berantem?” tanya yang lain.


“Begitu lah. Tapi kalian menang kan?” tanya Al dengan sungguh-sungguh.


“Ya, tapi beda sedikit banget.”


“Tak apa yang pentin kalian menang, gue ikut senang.” Al tak bisa berlama-lama di sana karena dia akan kembali ke rumah sakit untuk menjenguk Odel. Sebenarnya teman-teman lelaki itu ingin memberondongnya dengan banyak pertanyaan sepertinya, karena dari gestur mereka Al pun tahu. Dia tak ingin mengambil pusing karena memang bukan hanya masalah itu saja yang perlu diurus.


Al melajukan motornya ke rumah sakit. Jika tadi dia sudah kesana, kali ini dia datang lagi dengan pakaian yang lebih sopan. Jeans, kaos hitam berlengan pendek diapisi jaket. Benar-benar tampan sekali meskipun wajahnya masih biru-biru.


“Sore, Tante.” Sapanya ketika ruangan Odel di buka oleh ibu Odel.


“Sore!” perempuan paruh baya itu tersenyum dan mempersilahkan masuk.


“Kebetulan Al datang. Om sama tante mau keluar sebentar boleh titip jagain Odel dulu?” Odel sedang duduk sambil memakan apel.


“Mama mau kemana?” tanyanya.


“Ke mini market sebentar. Nggak papa kan kalau mama sama papa pergi, Sayang?” dilihat dari mimic wajahnya, sebenarnya Odel keberatan akan hal tersebut. Tapi mau bagaimana lagi.


“Aku mau snack yang, Ma.” Katanya meminta sesuatu.


“Iya.” Setelah itu kedua orang tua Odel itu keluar dari sana dan meninggalkan Odel dan Al sendirian di dalam kamar.


“Sudah lebih baik?” Al mendekat dan langsung duduk dengan tenang di kursi.


“Iya. Dokter sudah memberikan obat anti nyeri. Mungkin besok udah boleh pulang.” Senyum Odel mengembang mungkin karena merasa senang dengan kabar yang dibawa oleh dokter tadi.


“Bagus lah.” Al menanggapi.


“El mana?”


“Di rumah. Kenapa?”


Senyum garing Odel terlihat, “Enggak. Aku kira kamu sama dia tadi.” Keduanya kembali diam. Al tak tahu apa yang akan dibahas, sedangkan Odel pun sama.


Mereka diam cukup lama dengan pikiran mereka masing-masing sampai si gadis berkata, “Kalau mereka tahu kamu baik begini sama aku, mungkin aku akan dimaki habis-habisan, Al.”


Al yang tadi memainkan ponselnya mendongak. “Mereka siapa?”


“Yang suka sama kamu.” Al kembali menatap Odel dalam sebelum mengatakan jawabannya.


“Untuk apa peduli dengan hal seperti itu. Kebaikanku hanya untuk orang tertentu saja, bukan untuk diumbar.” Odel hanya tercenung mendengar jawaban itu dari Al.


*.*