Blind Love

Blind Love
Kisah 45



Keanehan sedang dilihat oleh Rigel ketika lelaki itu berjalan dan mendapati Al dan El, disusul oleh Ares turun dari mobil. Jelas-jelas itu bukan mobil Al, karena lelaki itu tahu betul mobil Al berwarna hitam dan memang jarang sekali dipakai kalau memang tidak ada hal yang mendesak.


Rigel berjalan pelan, untuk memantau apa yang sedang terjadi. Baru semalam El mengatakan jika mereka sudah baikan, dan lantas pemandangan di depannya itu terlihat tak menyenangkan?


Lelaki itu cemburukah? Entahlah, tapi dia hanya merasa tak suka melihat hal tersebut. Memang tak ada perubahan dalam ekspresi si kembar, tapi mereka terlihat sedikit akrab. Dan itu sedikit mengganggu Rigel.


“Kenapa lo?” Rigel sampai di depan kelas, dan mendapati El seperti sedang memikirkan sesuatu.


“Nggak ada.” El sudah mau menatap Rigel seperti biasanya. Menantang dan berani. Hanya El dan Odel yang berani melakukan itu kepada Rigel karena lalaki itu juga memiliki tatapan tajam yang bisa membuat orang lain menciut.


“Jadi apa tadi?”


“Yang mana?”


“Lo dan Al datang bersama si murid baru itu.”


Mengedikkan bahunya, El mengatakan yang sebenarnya, “Ban motor Al tiba-tiba kempes. Dan nggak sengaja ketemu sama dia. Ya udah, dibandinkan kami harus telat berangkat, mendingan kan nebeng dia.”


“Dan ada suatu perubahan pemikiran?”


“Gue nggak semudah itu merubah pemikiran tentang sesuatu. Lo seharusnya udah paham akan itu.”


“Oke!” Rigel tak ingin kembali bertengkar akan sesuatu hal yang sama sekali tak penting. Karenya meskipun dia ingin mendesak El, dia menahannya.


“Gue mau bicara sama lo, El.” Seseorang datang dengan wajah kakunya dan sepertinya akan melabrak gadis itu.


“Tentang? Kalau bukan hal yang penting nggak perlu.”


“Tentang Ares.” Wajah gadis yang mendatangi El itu benar-benar terlihat tak bersahabat sekali sekarang.


“Gue nggak ada urusan sama sekali dengan Ares. Kalau lo punya masalah sama dia, lo bisa langsung datangi dia.”


“Gue nggak punya masalah sama dia, tapi gue punya masalah sama lo.” Tantang gadis itu dengan angkuh.


“Gue diam aja ketika Rigel udah lo ambil ketika gue deketi dia, dan lo lakukan lagi ketika gue udah deket sama Ares.”


“Ambigu banget ucapan lo,” begitu sahut Rigel, “Gue nggak pernah merasa diambil oleh siapapun, termasuk lo.”


“Gue menyerah masalah lo, tapi gue nggak akan diam aja jika menyangkut Ares.” Gadis itu sepertinya memang sedang ingin memperjuangkan Ares sekarang. Atau mungkin saja dia tadi melihat El yang turun dari mobil Ares.


“To the point aja. Lo terlalu berbelit-belit.” Kata El. Gadis itu sudah berdiri dan menatap orang yang berani melabraknya tersebut.


“Lo jauhi Ares.”


“Gue bahkan nggak pernah mendekati dia.”


“Tapi lo tadi bahkan berangkat sama dia.”


“Karena motor Al ban nya kempes.”


“Gue suka sama dia, jadi gue akan mempertahankan dia. Lo sekalipun, nggak akan gue biarkan mengambilnya.”


“Kalau begitu perjuangkan. Lo salah kalau marah sama gue. Gue nggak pernah sekalipun menarik perhatian dia dan kecentilan di depan dia.” El bersidekap di depan dada dan memicing menatap gadis tersebut.


“Dan lo, adalah orang pertama yang berani melabrak gue. Mental lo sudah cukup kuat buat berurusan sama gue sepertinya.” Kalau gadis itu merasa jika ucapan El ini adalah sebuah ancaman, maka biarlah dia merasa diancam. Karena sebetulnya, El hanya menggertak. Dia sama sekali tak suka ada orang yang menyerangnya atas hal yang dia tak lakukan.


“Itu benar kan?” cukup terlihat perubahan ekspresi gadis tersebut. Seperti merasa ketakutan, dan gugup.


“Dengerin gue baik-baik,” El menatap dalam dan tajam gadis itu, “Gue paling benci jika ada orang yang berani menginjak harga diri gue karena seorang lelaki. Dan lo melakukannya. Lo sebelum melangkah dan meletakkan emosi lo di dalam kepala, harusnya lo bisa memikirkan lebih dulu hal apa yang akan terjadi ketika lo nekat melakukan ini ke gue.” El mendekat dan gadis itu mundur. Tak peduli jika sekarang dia sedang menjadi tontonan di kelasnya, El murka.


Odel yang sudah datang ketika melihat ‘pertengkaran’ itu sudah terjadi, berusaha mencekal tangan El. “Jangan lost control,” bisiknya yang membuat El mengangguk kecil.


“Karena lo sudah menuduh gue yang tidak-tidak di dalam kepala lo, gue akan melakukan apa yang sudah lo tuduhkan ke gue, gue, akan memacari Ares.” Bukan hanya gadis asing itu yang melebarkan matanya, tapi semua orang yang ada di kelas itu pun sama.


Rigel? Tentu saja dia bisa mengontrol ekspresinya, tapi kepalan tangannya menunjukkan hal yang sama sekali berbeda.


“Jangan sekali-kali lo mancing emosi gue. Gue bukan orang yang akan diam saja ketika ada orang yang kurang ajar sama gue.” Entah karena merasa tertekan atau apa, tapi gadis itu mengeluarkan air matanya. Jika dia merasa bisa mebuat El mundur, maka dia salah besar. Justru dia yang akan terpojok.


Dan lari pergi dari sana adalah yang dilakukan oleh gadis itu. Membuat kelas El seketika hening tanpa ada yang bersuara. Kalau seorang guru tidak masuk ke dalam kelas tersebut, maka mungkin kelas itu akan tetap hening.


Sepanjang kelas dimulai, Rigel sama sekali tak berkonsentrasi. Berbeda dengan El yang meskipun beberapa waktu lalu dia merasa panas di otaknya, tapi kini dia sudah bisa merubah suasana hatinya dan berkonsentrasi penuh dengan penjelasan guru.


Bahkan Odel pun sejak tadi hanya diam saja. Ketika berakhirnya pelajaran, Rigel langsung menyeret tangan El dan membawanya ke belakang sekolah. El sama sekali tak berontak dan mengikuti saja apa yang dilakukan Rigel kepada.


“Sebenarnya apa yang ada di dalam kepala lo itu, El?”


“Otak.” Rigel tak perlu merasa perlu memberikan El waktu terlebih dahulu, dan dia langsung mencercanya. Namun El dengan segala ketenangannya, tentu tak bisa diintimidasi begitu saja.


“Lalu dimana otak cerdas lo? Kenapa lo harus melakukan hal yang sama sekali nggak masuk akal? memacari Ares lo bilang? Lo___” Rigel tak bisa meneruskan apa yang dikatakannya dan menatap El sambil berkacak pinggang.


“Kenapa lo harus seribut ini, Gel?” jawab El santai. Gadi itu menatap hamparan rumput di depannya sambil memasukkan kedua tangannya di dalam saku jas sekolahnya, “Ini bukan hal yang sulit untuk dilakukan bukan?”


‘Cantik kan, Gel?’ dan kampretnya matanya justru gagal fokus. Namun dia menggeleng dan memfokuskan urusannya.


“Nggak ada orang yang mau harga diri orang itu diinjak oleh orang lain, tapi kalau lo melakukan itu, maka justru harga diri lo yang diinjak oleh orang lain.” Bukan menjawab, El mengetatkan rahangnya karena merasa jika apa yang dikatakan oleh Rigel memang benar adanya.


“Gue nggak mau lo menyesal, El.”


“Gue paham maksdud, lo.” El memutar tubuhnya dan menatap Rigel, “Gue nggak akan lakukan itu. Sepertinya memang gue harus mencari tameng seperti yang lo lakukan sekarang.” Rigel bukannya senang mendengar itu, dia bahkan tak menjawab.


“Gue tau kenapa gue selalu menempatkan elo sebagai yang prioritas, karena lo terlalu paham akan kehidupan. Gue sangat bersyukur memiliki sahabat lo.” Senyum tulus itu diberikan El untuk Rigel.


*.*


“Odel sekarang selalu ditinggalin.” Begitulah ucap Odel kepada dirinya sendiri ketika dia ada di depan kelas sambil memakan ice cream yang baru saja di belinya.


“Kenapa nggak ikut aja?” Al tiba-tiba datang dan duduk di samping Odel dan mengagetkan gadis itu.


“Lo ngagetin gue.” Katanya, dengan mata memicing.


“Emangnya mereka ada dimana sekarang?”


“Entah,” Odel mengedikkan bahunya karena memang dia benar-benar tak gahu dimana keberadaan dua sahabatnya itu. Dan kembali menikmati ice cream dan menjlatinya sampai hampir habis. Ini adalah pertama kalinya mereka menunjukkan interaksi ‘dekat’ di depan umum.


“Gue denger, El tadi dilabrak sama seseorang?” Al sudah mengetahui kejadian adiknya karena ada dari seseorang yang mengadu. Karenanya ketika melihat Odel di depan kelas duduk sendirian, dia merasa perlu menanyakan kebenaran tersebut.


“Iya. Mereka sempat adu mulut tadi. Tapi lo tahu lah, El nggak mungkin juga bertindak bar-bar kayak yang lainnya.”


Al menyamankan duduknya dengan menyenderkan punggungnya ke dinding. “Dia memang perempuan hebat.” Puji Al kepada kembarannnya, “Dia nggak akan kehilangan kendali dalam dirinya.” Lanjutnya lagi.


Odel mengangguk. Sedangkan Al menatap Odel sesekali. “Gimana perubahan menjadi Ratu sekolah?” Al bergeser memberi jarak agar bisa menatap Odel.


“Nggak ada, biasa aja. Cuma ada beberapa orang yang kadang komentar songong aja di media social.”


“Kalau hanya itu udah biasa, yang penting nggak main kasar aja. Kalau sampai itu terjadi, berarti mereka emang nantingin gue.”


“Kok gue ngerasa tersanjung ya?” Odel tersenyum dan membalas tatapan Al.


“Iya dong, kan lo Ratu gue. Raja macam apa yang nggak bisa melindungi Ratunya.” Kalau dengan wajah penuh senyum, mungkin itu adalah wajar dilakukan oleh kebanyakan lelaki jika mengatakan rayuan seperti itu. Sayangnya Al mengatakan itu dengan wajah yang sangat datar. Dan itu yang membuat Odel merasa ‘dipermainkan’.


“Gue balik lah, udah mau masuk.” Al berdiri dan menepuk puncak kepala Odel dengan pelan dan kemudian berlalu dari sana. Benar-benar tak terduga sama sekali apa yang dilakukan oleh Al ini memang. Odel bahkan hanya sanggup menyembunyikan malu-malunya dengan menunduk dan pura-pura memainkan ponselnya.


Karena di depannya sana, ada berjejer banyak sekali orang dan melihat ke arahnya. Dia tahu, mungkin saja dia sekarang ini sedang digunjingkan, maka dari itu dia hanya berusaha bersikap cool dan biasa saja, seolah semua hal itu sering dilakukan oleh Al kepadanya.


Namun berbeda dengan yang lainnya akan diam saja ketika melihat interaksi antara Al dan Odel, ada satu orang yang tidak bisa menerimanya. Gadis itu menatap tajam Odel dan merasakan dendam itu menancap di dalam hatinya. Kenapa bukan dia? Seperti itulah yang dipikirkan.


Odel masuk ke dalam kelas dan meletakkan kepalanya di atas meja. Menunggu dua sahabatnya yang tak tahu kemana, itu membuatnya sebal. Karenanya dia memutuskan untuk diam diri di dalam kelas. Biarlah El dan Rigel menyelesaikan apa yang akan mereka selesaikan. Toh nanti ujung-ujungnya, El akan mengatakan semuanya. Menceritakan apa yang terjadi dengan dirinya dan juga Rigel.


“Del, lo dicariin sama Raja. Ditunggu di gedung basket.” Salah satu teman sekelasnya memberitahukannya ketika dia akan keluar kelas. Sudah waktunya pulang, dan dia tak perlu menunggu lama di sekolah. Dan ya, sekarang semua orang akan memanggil Al dengan itu sesekali. Tapi jangan sampai memanggil Al dengan sebutan tersebut jika ada di depannya kalau tidak ingin mendapatkan tatapan tajam dari lelaki itu.


Mendengar hal itu, El dan Odel saling menatap. “Kalau gitu, bilang sama dia kalau gue tunggu di depan deh ya.” Begitu kata El. Mungkin El beranggapan jika Al akan mengobrol sebentar dengan kekasihnya itu.


Si kembar akan mengambil motor Al yang di masukkan ke bengkel. Entah mereka akan naik apa kesana, akan dipikirkan oleh keduanya nanti.


“Oke.” Meskipun Odel juga merasa bingung dengan Al karena tidak biasanya Al mencari dan memanggilnya. Tabiat Al adalah akan datang jika dia merasa memiliki suatu hal yang akan dibicarakan. Dia bukan orang yang suka perintah seenak jidatnya. Karena orang tuanya tak pernah mengajarinya seperti itu.


Odel dengan pasti berjalan ke arah gedung, namun belum sampai sana, dia merasa ada yang menariknya dengan kuat. Odel terpekik karena kaget.


Mendapati tiga orang di depannya, Odel tentu kaget. Dan pikirannya, inilah yang pasti terjadi. Pembulian. Dia benci sekali dengan pembulian dan sekarang malah dia yang mendapatkannya.


“Lo sepertinya terlalu nggak tahu diri sedang diperhatikan orang banyak orang dengan kebencian yang diberikan ke elo.” Itu ucap gadis di depannya yang sepertinya mengepalai dari dua orang yang ada dibelakangnya.


“Gue benci sekali sama lo sampai rasanya gue pengen ngebunuh elo. Gue benci kenapa lo yang dipilih sama Al dan bukan orang lain.”


“Lalu apa kalau orang lain, kalian semua akan menerima?” Odel memang tak sekeren El, tapi dia bukan tipe orang yang akan diam saja ketika ada orang yang menyerangnya.


Gadis itu maju satu langkah dan mencengkran baju Odel di bagian depan. Dari segi fisik, lawan Odel memang lebih besar, tapi Odel tak akan diam saja.


“Lo terlalu percaya diri sampai lo berani sama kita. Al nggak ada disini sekarang, dan lo nggak bisa ngandelin dia.”


“Kalau lo beraninya kroyokan seperti ini, untuk apa?” dan ketika ucapan itu berakhir, satu orang dibelakang sang ketua maju dan menjambaknya. Dan tak mau kalah, satunya lagi juga melakukan hal yang sama.


Odel merasakan sakit luar biasa di kepalanya. Sedangkan di dadanya terasa sesak karena cengramannya. Odel tak menangis, dia hanya mendesis karena rasa sakit tersebut.


“Kita akan benar-benar membuat lo merasakan sakit karena sudah berani melawan kami,” begitu kata si ketua dan melepaskan cengkramaannya di seragam Odel dan menampar wajah Odel sampai bibir gadis itu mengeluarkan darah.


Mata Odel terasa gelap, namun dia masih bertahan. “Ketika Al tahu kalian melakukan ini ke gue, bukan hanya sesaat rasa sakit yang akan lo rasakan. Tapi dia akan membuat lo tak bisa melupakan rasa sakitnya.” Dan tendangan di ulu hatinya membuat Odel tumbang.


*.*