
“Hancur?” El mengutarakan keherannya kepada lelaki di sampingnya tersebut, namun Rigel hanya diam.
“Gel!”
“Gue harus pergi sekarang. Lo udah sampai di rumah dengan selamat, jadi gue nggak perlu mengkhawatirkan lo lagi.” Katanya. Namun tak ada pergerakan dari lelaki itu.
“Lo mau lari gitu aja?” El tak akan membiarkan pertanyaan di dalam kepalanya berlalu begitu saja tanpa ada jawaban.
“Maksud lo?”
“Jawab dulu pertanyaan gue, baru lo bisa pergi dari sini. Masa bodoh dengan waktu yang udah sore. Odel aja masih di sini.”
“Nggak semua pertanyaan itu harus dijawab, El.” Kata Rigel lagi-lagi dia menghindar. El diam tapi wajahnya terlihat sekali jika dia tak terima dengan jawaban sahabatnya tersebut.
“Kalau gitu terserah lo,” jawab El. Gadis itu turun dari gazebo dan akan pergi meninggalkan Rigel, “Hati-hati di jalan.” Katanya dengan datar dan pergi dari sana. Membiarkan Rigel yang sendirian dan menatap punggung El.
Rigel dibuat kelimpungan dengan perasaannya sendiri sekarang. Dia memang bisa menahannya dan tak ada orang yang tahu jika dia sedang merasakan perasaan yang gelisah. Tapi Rigel merasakan itu sama sekali tak nyaman.
Sedangkan El, dia merasa jika mengabaikan apa yang sedang terjadi dengan Rigel sekarang ini adalah hal yang terbaik. Toh Rigel juga menghidari apapun dan tak menceritakan perasaannya kepada gadis itu. El akan mengalah dan memberikan waktu kepada lelaki itu untuk berfikir.
Menunggu jika nanti lelaki itu akan berubah menjadi Rigel yang dulu. Bukankah Rigel pernah mengatakan, jika Rigel yang dulu masih melarikan diri. Jadi biarlah lelaki itu melarikan diri, yang terpenting dia tahu jalan pulang.
“Kamu kayaknya memang nggak main-main sama Orion.” Malam ini Al sedang terlentang di atas kasur El dan mereka sedang mengobrol ringan. Entah apapun dibahas sama mereka. Termasuk masalah percintaan. El berbaring tengkurap dengan memainkan ponsel miliknya dan bertukar chat dengan Orion sejak tadi.
“Kamu yang bilang kalau aku nggak boleh main-main.”
“Kita memang nggak boleh main-main dengan perasaan.” Jawab Al.
“Lalu Odel? Kamu serius sama dia kan?” El sebetulnya hanya memastikan lagi jika apa yang sahabat dan kembarannya itu jalani, adalah benar-benar karena mereka saling mencintai.
“Aku serius sama dia. Aku sayang sama dia dan kami benar-benar menjalin hubungan karena saling menyayangi.” Jawaban Al tersebut melegakan El.
“Kalau gitu, bagus.” Keheningan itu terjadi karena keduanya sedang asyik dengan ponsel mereka.
“Aku mau keluar,” Al tiba-tiba bangkit dari kasur.
“Kemana?”
“Jalan sama Odel.” Kata lelaki itu. Dan El hanya mengangguk saja. Inilah yang terjadi ketika mereka sudah dewasa. Jika dulu, dimana ada El, disana pasti ada Al. Dan ketika sekarang Al sudah memutuskan untuk memiliki kekasih, El menjadi terasa sendiri.
Teman satu-satunya yang diharapkan bisa menemaninya pun sekarang juga memiliki kekasih. Maka dari itu, El mencari kesenangannya sendiri agar tak merasa sepi.
*.*
Al menggandeng tangan Odel ketika mereka berjalan di trotoar. Ini memang bukan kencan pertama mereka, tapi Odel masih saja merasa gugup ketika melakukan kontak fisik dengan Al yang memang berstatus sebagai kekasihnya.
“Aku nggak pernah sekalipun berfikir kalau akan jatuh cinta sama kamu,” Al membuka suara, “Kamu padahal dulu sering banget ke rumah, nggak pernah sekalipun aku pengen kenal kamu lebih… lebih… lebih lagi.” Lanjut Al menceritakan.
“Karena aku nggak menarik.” Itu adalah kesimpulan Odel.
“Bukan, tapi nggak tahu kenapa kayak gitu.”
“Kamu itu terlalu kaku jadi orang.” Mereka memutuskan untuk duduk di kursi taman dengan pencahayaan lampu yang tak terlalu terang. Jangan memikirkan kalau mereka akan melakukan hal yang tidak-tidak, tapi memang mereka harus berhenti sejenak agar tidak kelelahan, “Aku aja cuma berani ngelirik.” Itu adalah keseriusan yang dikatakan oleh Odel kepada Al.
“Jadi kamu sering lirik-lirik aku ya dulu?”
“Nggak juga sih. Cuma kan kalau nggak sengaja aja.” Odel merutuki ucapannya karena terlalu blak-blakan mengatakan isi pikirannya.
Al menyeringai mendengar jawaban Odel yang mengelak. “Iya juga nggak papa kok. Nglirik kan nggak bayar.” Godanya kepada gadis tersebut. Mungkin kalau gadis-gadis di sekolahnya yang mendengar Al mengatakan itu, entah semerah apa wajah mereka meskipun godaan itu tak ditujukan kepada mereka.
“Tapi ada yang aneh sama Rigel dan El beberapa waktu ini. Dibilang tengkar, mereka masih ngobrol, dibilang mereka baik-baik aja, nyatanya kaya ada yang beda sama mereka.”
“Mungkin mereka itu saling menyukai.” Tanggap Al, makanya mereka mereka merasa canggung.
“Tapi Rigel kan punya pacar. Kalau semisal Rigel sukanya sama El, ngapain juga harus pacaran sama orang lain.”
“Nggak semua yang kita pikirkan itu sama dengan pemikiran orang lain,” Al menggenggam tangan Odel. Semilir angin malam membuat suasana terasa nyaman, “Kita nggak tahu apa yang dipikirkan oleh Rigel. Tapi kalau El, aku bisa ngelihat ada sebuah perasaan lebih untuk Rigel.” Al berasumsi, “Aku bisa melihat dan bisa menyelami perasaan El.”
“Kamu yakin?”
“Kenapa harus nggak yakin?”
“Kamu bisa aja salah mengartikan semuanya kan?”
“Aku hanya menebak, Sayang. Kalau memang nyatanya nggak kayak gitu ya bukan masalah. Toh aku bukan dukun atau cenayang kan?”
Odel berdehem ketika panggilan itu diberikan Al untuk dirinya. Entah itu hanya reflek atau memang benar-benar dari hati, dia belum mengerti.
“Ayo! Jalan lagi, jangan sampai kita hanya duduk di sini aja.” Ajak Al. Odel menurut dan mereka kembali berjalan untuk menikmati waktu berdua.
Keramaian tak jauh dari sana, membuat dua orang itu memutuskan untuk ikut bergabung di tempat tersebut. Mereka belum tahu apa yang menarik di sana, tapi mencoba melihat bukan masalah bukan?
“Pertandingan basket.” Kata Al yang menarik Odel agar berdempet dengannya. Dia tak ingin kekasihnya terjepit oleh orang lain. “Kamu di depan.” Al melindungi Odel dari belakang dan dengan reflek melingkarkan lengannya di perut gadis itu.
Bukan hanya gedoran yang ada di dada Odel sekarang, tapi benar-benar ribut sekali jantung gadis itu. Al benar-benar tak terduga memang. Bisa sekali membuat hati orang lain seribut itu. Menonton hal semacam ini adalah lebih asyik dibandingkan menonton bioskop. Setidaknya itu adalah pemikiran Odel.
“Minum!” menyerahkan sebotol air minum yang dibelinya dari pedagang asongan kepada Odel. Ini adalah pertandingan lepas, bukan pertandingan resmi seperti yang biasa Al lakukan di sekolahnya.
“Terima kasih.” Odel sepertinya memang kehausan karena satu botol itu ditenggaknya sampai sisa setengah.
“Haus, Bu?” goda Al yang membuat Odel terkekeh.
“Iya, Pak.” Jawabnya menanggapi guyonan kekasihnya.
“Kamu nggak papa, keluar sama aku jalan-jalannya malah kayak gini?”
“Enggak. Aku udah sering ke mall yang isinya juga itu-itu aja.” Jawab Odel, “Kalau di tempat kayak gini kan aku bisa lihat apapun, dan asyik.” Odel meyakinkan Al jika dia tak mempermasalahkan tempat seperti apa yang digunakan mereka dalam berkencan.
“Kebahagiaan itu nggak bisa diukur dengan kemewahan.” Lanjut Odel. Dan mendapatkan elusan di puncak kepalanya oleh Al.
*.*
Kedekatan antara El dan Orion sekarang ini belum mengalami kemajuan yang signifikan. Hanya masih seperti itu saja. Orion pernah bilang jika dia akan melangkah pelan bukan? Dan dia membuktikan. El sudah tak asing lagi dengan masuknya Orion di dalam kehidupannya.
Karena Orion sekarang sedang pendekatan kepada El lantas dia terus-terusan mepet kepada gadis itu. Terus menerus, mengirim chat tanpa lelah, atau hal-hal lain yang biasa dilakukan remaja pada umumnya jika mereka sedang mendekati seseorang. Orion tidak melakukan itu, sepertinya dia memang sudah memiliki sifat dewasa yang melekat di dirinya, dan itu hal yang bagus.
Rigel pun mencoba untuk bertahan dengan keputusan yang diambilnya. Liondra adalah kekasihnya dan dia sebisa mungkin akan mencoba untuk bertahan dengan gadis itu.
“Lo, El, kan?” pagi itu, EL sedang berlari pagi seorang diri dan secara kebetulan bertemu dengan Liondra.
“Ya.” Jawab El. Melihat gadis asing di depannya, otaknya berpikir sepertinya dia pernah melihatnya. Namun dia tak sibuk menggali ingatannya akan hal itu.
“Kenalin, gue Liondra, pacar Rigel.” Diulurkan tangan Liondra kepada El dan El menerima nya.
“Gue, El.” Pantesan kayak pernah lihat, batin El.
“Sendirian?” Liondra ikut duduk di samping El.
“Ya.” El seperti biasa, selalu menjawab singkat pertanyaan orang lain. Dan sama sekali tak minat untuk balik bertanya dengan siapa gadis itu ke tempat tersebut.
“Kebetulan gue ketemu sama lo di sini.” Kata Liondra, “Keberatan kalau gue mau bicara sesuatu sama lo?”
“Tentang?”
“Rigel.” El sama sekali tak memiliki ide kira-kira apa yang akan kekasih Rigel itu bicarakan kepadanya, tapi dia tak menolak dan justru mengangguk.
“Gue mencintai Rigel.” Itu adalah awal, “Entah nanti kami akan berakhir seperti apa, itu adalah urusan nanti. Yang terpenting sekarang, gue ngejalani semua itu dengan senang hati meskipun lawan gue nggak melakukan hal yang sama.” El mendengarkan dengan baik tanpa ingin menyela lebih dulu.
“Gue nggak tahu perasaan lo kepada Rigel seperti apa.Tapi melepaskan Rigel untuk sekarang ini, gue rasa gue nggak bisa.”
“Gue nggak paham, obrolan ini apa maksudnya.” El menjawab santai dan tak ingin bertele-tele.
Liondra menghela nafas sebelum melanjutkan. “Ketika lo tahu, pacar lo menyukai perempuan lain, lo pasti berfikir, membicarakan semua ini dengan orang itu sepertinya akan lebih baik. Dan itu yang gue lakukan sekarang.” El tak bodoh untuk mengartikan semua ini, tapi dia sama sekali tak menyangka jika apa yang dikatakan oleh Liondra itu adalah kebenaran.
“Bersahabat antar lelaki dan perempuan, entah kenapa menjadi hal yang mustahil berhasil tanpa melibatkan cinta. Pasti salah satu dari mereka akan merasakan cinta dan membuat kekacauan. Itu kan yang terjadi antar lo sama Rigel?”
Liondra menatap EL dari samping dan mencoba menilai penampakan gadis tersebut. Hidung kecil yang mancung, kulit wajah yang putih, bibir merah, alis yang masih tak tersentuh bahkan seperti tertata dengan baik, dan keseluruhan adalah cantik. Setelah mengamati El, gadis itu beralih untuk kembali menatap depan.
“Bagaimana perasaan lo sama Rigel?” akhirnya pertanyaan itu terlontar dari bibir Liondra yang membuat El memejamkan matanya dan menarik nafas panjang.
“Lo, bukan orang pertama yang mendatangi gue karna Rigel.” Jawabnya, “Dan ketika gue sekarang ditanya sama pacar Rigel tentang perasaan gue kepada cowok itu, gue benar-benar merasa marah.” Lanjutnya lagi.
“Karena gue tahu, Rigel mencintai lo.” Liondra mendesak, “Gue lebih marah ketika dia mengakui dan ingin mengakhiri hubungan kami karena nggak mau gue semakin sakit. Lo bayangin aja sesakit apa ketika dia bilang itu ke gue.” Jelas El tak tahu masalah itu jika Liondra tak mengatakan sekarang.
“Dan dia bilang secara gamblang kalau dia memang mencintai, lo.” Jantung El berdetak lebih cepat. Rigel menghindari rasa itu untuk dirinya bukan? Lalu kenapa dia sekarang justru blak-blakan mengatakan rasa cinta itu bukan untuk kekasihnya? Dan itu benar-benar buruk.
“Gue sama sekali nggak tahu cara kerja otak cowok itu.” El ingin sekali marah sekarang. Dia seolah sekarang menjadi orang yang paling jahat karena kekasih orang mencintai dirinya.
“Gue hanya pengen tahu perasaan lo ke dia.”
“Lo nggak perlu mendesak gue.” Nada suara El kaku karena dia merasa kemarahan itu di dalam dirinya.
“Tapi gue nggak akan tenang kalau belum mendapatkan jawaban dari lo.” Liondra juga sepertinya frustasi dengan apa yang terjadi. Tapi, El, bukanlah orang yang mudah diintimidasi.
“Perasaan Rigel adalah tanggung jawab dia. Dan perasaan gue adalah tanggung jawab gue. Kalau lo udah tahu perasaan dia yang sesungguhnya maka tugas lo untuk bertanggung jawab dengan perasaan lo sendiri. Hubungan kalian, seharusnya nggak perlu melibatkan gue. Rigel udah membuat keputusan dengan memacari lo, dan gue sama sekali nggak pernah ikut campur. Jadi gue juga mau lo melakukan hal yang sama dengan gue. Nggak perlu ikut campur dengan apa yang gue rasain sekarang.”
El berdiri dan membuat Liondra mendongak, kemudian gadis itu mengikuti El. Mereka saling berhadapan, seolah saling menantang.
“Seandainya sekarang Rigel berlari ke arah gue untuk meminta hati gue, gue nggak akan memberikannya. Gue bukan perempuan yang suka merebut milik orang lain. Setidaknya kalau dia mengakhiri hubungannya dengan lo, itu bukan karena gue.”
Liondra meneguk ludahnya, “Gue juga nggak akan membiarkan dia lepas dari gue.”
“Kalau gitu lo pertahankan,” enteng El. “Gue pergi dulu. Udah siang.” Waktu memang masih menunjukkan pukul delapan pagi, meskipun cahaya matahari menyorot dengan terang, tapi masih cahaya yang baik untuk Kesehatan.
Sayangnya El tak mungkin menunda untuk pergi dari tempat tersebut. Dan entah apa yang akan dilakukan ketika nanti dia bertemu dengan Rigel. Berawal dari keisengannya yang mengatakan kejujuran dalam hatinya, dan membuat Rigel merasa takut dengan hatinya sendiri, permasalahan itu semakin merembet kemana-mana.
Gadis itu memang sinis dan kaku, tapi mudah sekali dicintai. Dan Rigel sudah membuktikannya. Menghindar, hanya menunda sesuatu yang akan terjadi. Keputusan Rigel, akhirnya membuat kekacauan. Memacari seseorang tanpa cinta, itu adalah hal yang buruk.
*.*