
Aku, Cilla, dan Andre memulai penyelidikan dengan mengunjungi rumah nenek Rifa. Cowok itu absen lagi hari ini, membuatku semakin cemas saja. Bahkan guru-guru pun mempertanyakan ketiadaan Rifa di kelas.
“Tumben sekali Rifaldi alfa sampai lima hari berturut-turut begini,” ujar Pak Kamal, guru yang mengajar di jam pertama. “Biasanya dia atau neneknya selalu memberi kabar kalau tidak sempat mengirim surat. Kira-kira ada yang tahu kenapa Rifaldi tidak masuk?”
Berhubung tidak ada yang tahu, semua kontan menggeleng.
Begitu berulang-ulang. Setiap ada guru yang bertanya selalu kami balas dengan gelengan kepala.
Lima menit sebelum bel pulang berbunyi, aku dan Cilla sudah mengambil ancang-ancang untuk segera meninggalkan kelas. Meja kami telah bersih dari segala macam alat tulis juga buku-bukunya. Yohanes sempat memelototi kami, seolah memperingatkan ini belum waktunya berkemas.
“Sampai jumpa hari Kamis,” kata Pak Eno sambil berdiri. “Dua minggu lagi kalian sudah harus menghadapi ujian semester. Perbanyak belajar, kurangi bermain, dan tingkatkan kehadiran di kelas. Assalamualaikum!”
“Waalaikumsalam!” jawab kami kompak.
Begitu sosok Pak Eno menghilang di balik pintu kelas, aku dan Cilla melesat pergi diikuti tatapan heran anak-anak lain.
“Woy, mau ngejar setoran lo?” teriakan Dena yang diiringi tawa konco-konconya menjadi suara terakhir yang kudengar dari dalam kelas.
***
“Jadi, ini rumah Rifa?” tanya Cilla takjub, sama takjubnya sepertiku saat kali pertama melihat rumah ini.
Bukan lantaran kemegahannya—ukuran rumah Raka masih jauh lebih luas daripada ini—melainkan karena desainnya yang tampak ramah lingkungan. Alih-alih pagar besi setinggi kepala orang dewasa, rumah nenek Rifa justru dibatasi pagar tanaman setinggi dagu orang dewasa. Halaman rumah dikonsep bak taman kota. Berbagai macam bunga-bungaan juga apotek hidup ditanam di sana. Dua buah pohon besar tumbuh di sisi kanan dan kiri bangunan, membuat beranda rumah tersebut tampak teduh. Siapa pun pasti betah tinggal di tempat seperti ini.
Kami mematung di teras depan. Saling menatap cemas saat mendapati kedua jendela yang mengapit pintu tertutup gorden tebal. Seolah menegaskan bahwa rumah ini tak berpenghuni. Apalagi saat kuamati tanaman yang biasanya terlihat segar, kini mulai mengering dan berdebu. Debu-debu yang juga melapisi lantai tempat kami berpijak.
“Rumah ini kosong,” kata Andre menyimpulkan.
“Lo bener,” timpalku lemas.
Merasa tidak ada sesuatu yang bisa diperoleh dari tempat ini, kami memutuskan untuk melanjutkan diskusi di rumah Cilla. Bagaimanapun caranya, kami mesti tahu keberadaan keluarga Rifa agar bisa mengusut semuanya hingga tuntas.
***
Rumah Cilla sama kosongnya dengan rumah nenek Rifa. Ayahnya masih bekerja, sementara mamanya ikut pengajian bersama ibu-ibu satu kompleks. Bedanya, rumah Cilla tetap ‘hidup’ dan bersih.
“Haus, Bu?” sindir Cilla membuatku tersipu.
“Jadi,” Andre menaruh gelasnya di meja. “adakah kesan penting dari pertemuan terakhir lo sama Rifa? Maksud gue semacam petunjuk, gitu?”
“Ya, tentang si Kevin itu, Dre,” sahutku.
“Selain itu?”
Aku memijit keningku. Berpikir keras. “Waktu itu dia bicara tentang—orangtuanya! Ya, Rifa bilang ortunya kecelakaan dan mereka lagi kritis di RS.”
“Rumah sakit mana?” Andre dan Cilla bertanya bersamaan.
“Kalau gak salah nama rumah sakitnya Pondok … Pondok …”
“Pondok Indah!” potong Andre.
“Kok lo tahu, Dre?”
“Iya, lah! Gue anak gaul, Xa!” seru Andre serius. “Rumah sakit itu ada di Jakarta. Secepatnya kita harus ke sana. Xa, lo punya nomor HP keluarga Rifa?”
Otakku berpikir cepat. “Ada! Nomor neneknya.”
“Bagus.” Andre tersenyum puas. “Besok kita ke sana dengan nenek Rifa sebagai panduan. Bolos sehari lagi gak masalah kan, Xa?”
Sebenarnya masalah, tapi … “Oke, gak masalah. Cill, lo jangan ikut, ya?”
“Dengan berat hati.” Cilla tersenyum maklum. “Tapi kalau cuma pengin tahu Rifa ada di sana atau nggak, kenapa gak lo coba telepon neneknya aja sekarang?”
“Lo bener, tapi gue pengin lihat dia dan kedua orangtuanya secara langsung.”
Sekali lagi Cilla tersenyum paham. Selanjutnya kami mengokohkan strategi. Tak membiarkan ada celah yang bisa menggagalkan misi kami.