Blind Love

Blind Love
Episode 60



Libra berjalan di trotoar dengan langkah pelan. Entah berapa kali dia menghela nafasnya lelah ketika apa yang dilakukannya tak membuahkan hasil sama sekali. Dia sudah berusaha untuk menemui ayahnya agar lelaki itu bisa memikirkan kembali keputusannya. Sayangnya tidak, Ardi memang terlalu kaku dan egois.


“Kamu dari mana?” cekalan di tangan Libra membuat gadis itu terkaget. Dia mendapati tatapan Virgo yang tajam seolah penuh dengan amarah. “Aku cari kamu kemanapun, tante juga panik karena kamu nggak ada di manapun. Aku menghubungi kamu nggak ada satupun panggilan yang kamu jawab. Ini sama sekali nggak lucu, Libra.” Virgo sepertinya memang sedang marah sekarang. Bahkan tak ada senyum sama sekali di bibirnya.


Libra lelah. Hati dan fikirannya, karena itu dengan manja dia mendekat dan memeluk Virgo. Menempelkan wajahnya di dadanya dengan kedua lengannya memeluk pinggang lelaki itu. Tak mengatakan apapun karena tenaganya seperti terkuras sama sekali.


“Boleh minta es krim?” wajah gadis itu mendongak dan menatap lelaki itu penuh harap, “Aku mau minum es krim, Yang.” Rengeknya ketika Virgo sama sekali tak menberi jawaban.


Kalau seperti ini, Libra sepertinya memang membutuhkan waktu untuk mengatakan apapun yang baru saja dia lakukan kepada Virgo. Tak ada pilihan lain selain memenuhi apa yang diminta oleh kekasihnya itu, maka tanpa banyak kata lelaki itu menarik tangan Libra untuk berjalan. Masih di komplek apartemen yang dihuni oleh Libra, ada banyak restoran yang juga menyajikan es krim.


Sepasang kekasih itu berjalan dengan bergandengan tangan tanpa ada kata yang keluar dari mulut mereka. Mengingat akan melakukan sesuatu, Virgo mengeluarkan ponselnya di saku celana dan menghubungi seseorang.


“Aku sudah bertemu dengan Libra, Tante.” Libra melepaskan genggaman tangan Virgo dan beralih memeluk lengan lelaki itu. Menyenderkan kepalanya di bahu Virgo, mereka tetap melanjutkan langkahnya untuk segera sampai ke tempat tujuan. Libra hanya mendengarkan suara Virgo yang mengobrol kepada ibunya tanpa ikut bersuara.


“Aku mau es krim yang di minimarket aja, Yang.” Virgo menatap kekasihnya dengan kening mengernyit ketika ucapan itu keluar begitu saja dari mulut Libra.


“Kenapa nggak bilang dari tadi aja sih, Yang.” Keluar Virgo. Memang tak jauh dari sana ada minimarket. Tapi sepertinya Virgo memang sedang jengkel kepada kekasihnya itu.


Libra melepaskan pelukan di lengan kekasihnya dan berjalan lebih dulu dengan langkah ringan dan mendapatkan gelelengan kepala dari Virgo. Tapi Virgo tetap mengikuti langkah gadis itu dengan pelan di belakangnya. Menatap punggung Libra dan tersenyum kecil.


Siapa yang menyangka jika dia bisa mencintai Libra sebegitu besarnya sekarang. Bahkan sejak dulu ketika pengumuman jika dia akan ditunangkan dengan gadis itu saja sama sekali tak pernah memikirkannya. Sayangnya takdir berkata lain.


Dan sekarang mereka justru Bersatu ketika rencana itu hanya menjadi masa lalu. Memang harus seperti inilah perjalanan hidupnya. Karena kalau tidak, maka konflik dalam kehidupannya sama sekali tak ada.


Libra sudah masuk ke dalam minimarket dan memilih es krim yang akan dimakannya. “Yang, mau yang mana?” menyadari jika Virgo sudah ada di belakangnya.


“Yang banyak cokelatnya, sama ada jagungnya.” Karena tak ada rasa perpaduan dari dua rasa tersebut, maka Libra membeli dua rasa itu. Membawanya ke kasir untuk membayarnya. Virgo meletakkan dua botol minum ke meja kasir untuk ikut masuk dalam list barang yang harus dibayarnya.


Setelah selesai bertransaksi, mereka keluar dari tempat itu. “Di taman aja, Yang.” Tak jauh dari sana ada taman dengan kursi-kursi panjang yang tersebar di seluruh penjuru taman. Virgo hanya mengikuti saja apa yang diminta kekasihnya itu tanpa mendebat.


Mereka duduk di salah satu kursi di bawah pohon. Semilir angin begitu segar menyapa kulit mereka. Libra mengeluarkan es krim dari kantong plastic, memberikan satu rasa jagung kepada Virgo dan dia sendiri membuka es krim miliknya dan melahapnya.


“Enak.” Komentarnya sambil tersenyum senang. Suasana hatinya memang belum sepenuhnya baik, tapi dia tetap berusaha untuk melupakan rasa sedihnya setidaknya di depan Virgo.


“Bahagia itu nggak harus melakukan hal yang selalu mewah, Yang. Hanya begini aja udah seneng aku lho.” Libra melanjutkan.


“Aku tahu kamu sekarang sedang menyembunyikan sesuatu dari aku.” Virgo masih sibuk dengan es krim di tangannya dan mulutnya masih aktif memakan, tapi matanya tak akan ketinggalan dengan perubahan raut wajah Libra.


Gadis itu menoleh dan menatap Virgo. Libra tahu jika dia tak akan bisa menyembunyikan apapun dari kekasihnya. “Kamu emang selalu tahu.” Libra memanyunkan bibirnya karena merasa kesal, “Paling enggak pura-pura nggak tahu kek.” Virgo mengacak rambut kekasihnya.


“Aku akan menunggu cerita kamu kalau memang kamu udah siap untuk bercerita.” Virgo tak mungkin mendesak kekasihnya untuk mengatakan apa yang sudah terjadi ketika gadis itu tak ada dimanapun sejak tadi.


Libra mengacungkan jarinya menyetujui apa yang dikatakan oleh Virgo. “Kau memang yang terbaik.” Katanya dengan senyum mengembang. Melanjutkan kegiatan makannya.


*.*


Virgo menggandeng tangan Libra ketika tangan gadis itu terasa dingin karena gugup. “Tenang aja, nggak ada yang mau marahin kamu.” Libra tak menjawab namun raut wajahnya begitu gugup.


Ini adalah kali pertama dia melakukannya, jadi hatinya pun terasa tak karu-karuan rasanya. Virgo berhenti di depan rumahnya dan mengajak Libra untuk duduk di kursi di depan rumahnya. “Tarik nafas panjang, keluarkan dengan pelan.” Perintah Virgo kepada gadis itu dan Libra tak membantah sama sekali. Dilakukan saja apa yang dikatakan oleh kekasihnya itu.


Genggaman tangan Virgo di tangan Libra di remasnya oleh gadis itu. Memejamkan matanya dengan erat dan meyakinkan dirinya sendiri. Virgo sama sekali tak menghalau apapun yang dilakukan oleh Libra dan menunggu gadis itu selesai melakukannya. Memberi waktu kepada Libra adalah yang dilakukan oleh Virgo.


“Udah.” Kata Libra, “Kita masuk aja.” Virgo tak langsung mengiyakan apa yang dikatakan oleh kekasihnya itu. Karena dia justru menatap Libra dengan pandangan meyakinkan. “Ya, aku udah siap.” Begitu kata Libra penuh dengan keyakinan.


Tanpa banyak kata, Virgo kembali menggenggam tangan Libra dan menarik gadis itu pelan untuk masuk ke dalam rumahnya. Penyebab dari Libra yang gugup adalah mereka memang sedang berkunjung di rumah Virgo. Mereka akan bertemu dengan orang tua Virgo.


Sampai di dalam rumah, mereka bisa melihat Sintya sibuk di dapur. “Ma!” panggil Virgo kepada perempuan itu.


Perempuan itu tersenyum, “Duduklah, makanan udah siap. Aaa, Vir, kamu panggil papa buat makan.” Perintah ibu Virgo kepada putranya. Virgo menyetujui dan meninggalkan Libra berdua bersama ibunya. Jelas saja gugup itu melanda gadis itu, bahkan tak ada kata yang keluar dari bibirnya meskipun hanya ucapan basa-basi.


“Libra gugup?” apalagi ditanyai seperti itu, membuat gadis itu keki bukan main. Senyum yang dikeluarkan begitu kaku. “Santai saja, kami nggak akan marahi kamu kok.” Sintya tersenyum untuk Libra kemudian melanjutkan, “itu hal yang biasa terjadi pada semua orang.” Kalimat terakhir itu dikatakan dengan suara berbisik seolah itu adalah hal yang begitu rahasia.


“Iya, Tante.” Tak sekaku tadi, Libra mengangguk dan mencoba untuk mengurai rasa canggungnya.


Tak lama setelah itu, Virgo datang bersama ayahnya. Firman yang melihat Libra tersenyum, sedangkan Libra yang paham akan situasi berdiri dan mengambil tangan ayah Virgo dan menciumnya. Dia tentu sudah melakukannya kepada Sintya ketika baru saja sampai tadi.


“Sudah, Om. Semuanya sudah membaik.” Maksud Libra baik hati dan fisiknya sudah benar-benar tak bermasalah sekarang. Ralat, hatinya masih menyimpan gejolak yang luar biasa meskipun dia bisa mengendalikannya.


“Bagus. Karena kamu nggak perlu memusingkan hal yang terlalu berat.” Kata Firman memberikan nasehat, “Kamu masih terlalu muda, untuk memikirkan hal seperti itu.” Makan malam kali ini memang tak ada yang spesial sama sekali, tapi bagi Libra, ini sangat berharga sekali baginya.


Selesai makan malam, obrolan mereka berpindah di ruang keluarga. Bahasa tubuh yang dikeluarkan oleh Libra memang masih terlihat kaku, tapi gadis itu berusaha untuk menyamankan dirinya berada di tengah-tengah keluarga Virgo.


“Tante ingin kalian benar-benar disahkan oleh agama dan negara.” Akhirnya obrolan mereka sampai di tahap ini sekarang. Libra meneguk ludahnya dengan gugup dan jantung yang tiba-tiba berdetak tak karuan.


“Kami tidak ingin gejolak cinta kalian akan menghancurkan kalian,” decakan Virgo terdengar.


“Mama itu kaya bilang, ‘Virgo itu sama sekali nggak bisa dipercaya kamu akan habis sama dia kalau melanjutkan pacaran sama dia’ gitu lho, Ma.” Firman tertawa mendengar ucapan putranya yang dibarengi dengan decakan itu.


“Suka-suka mamamu lah, Vir, mau bilang apa.” Begitu tanggap Firman dengan ringan. Dan Sintya pun hanya melirik dengan tajam ke arah suaminya.


“Ini adalah kekhawatiran seorang ibu ya, Mas. Kamu nggak akan tahu rasanya.” Bantah ibu Virgo dengan serius. “Waktu Virgo nggak punya pacar dan bersih dari namanya hubungan asmara, itu melegakan aku meskipun sikap nyebelinnya lima puluh tingkat lebih menyebalkan dari kamu waktu dulu. Tapi paling enggak aku nggak kepikiran tentang perempuan yang menjadi pacarnya. Dan sekarang, itu nggak berlaku lagi. Udah berani ciuman, itu artinya dia udah benar-benar berubah.”


Kata ciuman yang terlontar dari bibir ibu Virgo itu membuat Libra gugup. Muncul kemerah-merahan di pipinya. Malu tentu saja.


“Mama buat Libra malu tahu nggak.” Virgo yang mengatakan karena melihat wajah Libra yang berubah ekspresinya.


Sayangnya Sintya saa sekali tak mempedulikan sama sekali dan malah melanjutkan apa yang ada di dalam pikirannya. “Nikah di usia muda itu memang tak mudah. Masa depan kalian masih panjang dan masih ada banyak hal yang akan kalian capai kedepannya. Bagaimana menyelesaikan masalah rumah tangga seandainya kalian mendapatkannya, karena meskipun kecil, masalah itu pasti akan muncul. Dan disanalah kalian harus bisa menyelesaikannya.”


Bayangan berumah tangga seketika muncul di pikiran Libra dan Virgo ketika Sintya mengatakan itu. Mereka paham jika berumah tangga itu tak akan selamanya berjalan mulus, akan selalu ada hal remeh temeh yang akan menjadi sebuah masalah jika tak dibicarakan.


“Tante tak akan mendesak kamu kapan pernikahan itu akan segera dilaksanakan. Tapi juga jangan menundanya terlalu lama. Tidak baik.” Lanjutnya kemudian.


“Mungkin itu juga yang dirasakan oleh Ardi. Dia ketakutan akan terjadi yang tidak diinginkan. Sayangnya dia terlalu keras kepala dan egois menanggapi masalah ini. Membiarkan kamu bersedih hanya karena dia tak ingin memiliki menantu Virgo.” Begitulah kata Firman.


Mengingat sesuatu, Libra mencoba untuk bertanya, “Kalau boleh tahu, ada rahasia apa yang antara Om dan Ayah?” tidak ada satu orang pun yang memberi tahukan tentang masa lalu yang terjadi antara ayahnya dan kedua orang tua Virgo. Bahkan Ardi sendiri pun enggan mengatakannya.


“Jadi, Ardi belum cerita sama kamu?” pertanyaan itu dari Firman lagi.


“Belum, Om.” Libra menjawab. Dia memang sudah penasaran, tapi apa boleh buat jika tak ada satu orang pun yang bersediah memberi tahu tentang itu.


“Dia mungkin terlalu malu jika mengatakan kepada putrinya bagaimana kelakuannya di masa lalu.” Tanggap Sintya dengan geram.


“Apa semenuyebalkan itu ceritanya, Tante?” ekspresi yang Sintya tunjukan memancing Libra untuk bertanya, karena memang terlihat begitu marah.


“Harusnya, biar Ardi sendirilah yang menceritakan kisah itu ke kamu. Itu adalah keharusan dia. Kenapa pula dia hanya diam saja?”


“Mama kenapa jadi marah?” Virgo sedari tadi memang tak banyak bicara karena lebih menikmati menjadi pendengar.


“Sebel aja mama.” Jawabnya ringan. Dan itu seolah mengatakan kepada Libra jika masalah ayahnya tidaklah sederhana. Namun dia tak mau mendesak untuk segera diceritakan meskipun rasa penasaran itu sudah sampai di ubun-ubun.


“Kami dulu itu memang memiliki keterikatan,” awal cerita Sintya. Libra menatap perempuan itu dan mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan oleh beliau.


Virgo yang sudah mengetahui semua cerita itu hanya ikut mendengarkan saja untuk kedua kalinya. Lancar sekali Sintya bercerita seolah dia sedang membacakan sebuah buku karena memang sudah hafal di luar kepala.


“Cinta segitiga.” Begitu tanggapan Libra ketika ibu Virgo selesai bercerita.


“Mungkin begitulah istilahnya.” Jadi karena itulah ayahnya begitu tak memberinya restu dirinya bersama Virgo. Keterkaitan antara kedua orang tua Virgo sepertinya benar-benar membuat lelaki itu memendam dendam.


Masalahnya sekarang adalah tentang kebahagiaan putrinya, seharusnya keegoisan itu tak lagi ada di hati Ardi. Tapi sayangnya tidak, lelaki itu bahkan sama sekali tak mengubah keputusan yang dibuatnya.


“Tak perlu memikirkan hal itu.” Sintya membuyarkan lamunan Libra, “Itu adalah masa lalu. Tak seharusnya dia memendamnya hanya karena masalah percintaan dan sekarang dia balas mempersulit kisah kamu.”


“Kamu memang harusnya nggak tahu.” Virgo bersuara, “Kamu itu mudah sekali kepikiran sesuatu, jadi masalah yang seperti ini nggak akan mungkin luput dari pikiran kamu.”


“Ada sesuatu yang harus dan tidak harus masuk dalam pemikiran kita,” Firman ikut mengeluarkan suaranya, “dan masalah masa lalu kami ini bukanlah hal yang harus kamu pikirkan karena semuanya sudah berlalu. Fokus saja pada apa yang ingin kamu capai, karena itu lebih baik.”


Memang tidak semua hal harus kita pikirkan, tapi jika menyangkut kehidupan ayah, kemudian berimbas pada kehidupannya sekarang, tak bisa diabaikan begitu saja bukan? Begitulah Libra sekarang. Tak bisa mengabaikan begitu saja cerita yang sudah di dengarnya.


*.*