
Tak ada hal yang sangat menyedihkan bagi orang tua selain anaknya sakit.Pun, yang dialami oleh Aksa dan Love.Mereka benar2 tak bisa memejamkan matanya barang sebentar saja untuk mengusir lelah yang dirasakannya.Avez terus merengek dan tak tenang dalam tidurnya karena demam yang dialaminya kali ini.
Panas tubuhnya sudah lebih stabil ketika jarum jam sudah menunjukkan pukul dua malam. Tapi
meskipun begitu, tak ada dari kedua orang tuanya yang sanggup memejamkan mata
mereka sampai Avez benar-benar terlelap dan tak lagi merengek. Mereka mulai
tidur pukul setengah empat, dan bangun kembali pukul lima subuh untuk
melaksanakan kewajibannya.
Jika Aksa bisa kembali tidur setelah itu, berbeda dengan Love yang tak bisa lagi memejamkan
matanya."Adek udah sembuh.Panasnya udah turun."Gumamnya sambil
mengelus kepala bocah itu.
"Ayang kerja nggak?"Ketika anak sedang sakit seperti sekarang ini, dan harus mengurus
suami juga, maka perannya sebagai seorang istri dan ibu dipertaruhkan. Love
mampu, setidaknya itulah yang dipikirkannya.
"Kerja. Udah jam berapa?"Aksa membuka sedikit matanya dan kemudian menutupnya kembali.
"Udah jam setengah tujuh."
"Kamu nggak tidur lagi?"Kali ini mata Aksa sudah terbuka sepenuhnya meskipun raut
lelah yg terlihat jelas di wajahnya.Matanya bahkan masih memerah karena kantuk
itu belum tersalurkan sepenuhnya.
"Enggak.Nggak bisa." Love mengelus dan menepuk pelan dada Aksa. "Bangun gih,
kubuatkan sarapan."Katanya dengan tatapan sayang yang terpancar di
matanya.
"Kamu nanti capek loh. Urusin aku, Avez juga lagi nggak enak badan." Komentar Aksa.
Lelaki itu sudah duduk di kasur sambil sesekali memejamkan matanya karena
rasanya ada yang mengganjal di dalam sana.
"Udah tugas istri mengurus anak dan suami.Ayang nggak perlu khawatir." Dia harus
memberikan kalimat menenangkan untuk sang suami jika tak mau suaminya itu terus
mengoceh. Aksa mengangguk dan turun dari ranjang untuk memulai bebenahnya.
Sedangkan Love
sendiri langsung turun ke lantai satu untuk membuatkan sarapan ala kadarnya
kepada sang suami. Dia tak akan membiarkan Aksa pergi ke kantor tanpa sarapan
terlebih dahulu.
"Kalau Avez udah sembuh nanti, kamu pergilah memanjakan dirimu.Biar Avez aku yang
jaga."Mereka sudah ada di meja makan untuk mengisi perutnya di pagi
hari.Sandwich, yang bisa Love buat di waktu yang terlalu mepet seperti ini.
Love tak menjawab dan menatap suaminya aneh. "Mas kan kerja."
"Bisa di hari libur.Sabtu atau minggu?"
"Kan kita bisa jalan-jalan bareng."
Aksa menggeleng."Kalau begitu, kamu pasti akan tetap mengurus Avez.Untuk satu
hari itu nanti, kamu bisa bersenang-senang.Deal?”Love tak langsung mengangguk
karena dia memerlukan waktu untuk berpikir.
“Aku pergi dulu.”Aksa mendongakkan wajah Love dan mengecup bibir perempuan itu dalam. Kemudian
berlalu dari sanan untuk segera berangkat ke kantor. Seperginya sang suami tak
membuat Love langsung beranjak juga dari ruang makan, dia masih memikirkan
tentang ucapan Aksa.
Tapi selanjutnya dia mengedikkan bahunya dan mengabaikan usul sang suami. Selama ini dia sama sekali tak pernah sekalipun ‘meninggalkan’
Avez bersama orang lain meskipun itu dengan sang ayah.
“Selamat pagi, ganteng bunda.”Avez sudah bangun dan tak menangis seperti biasanya.Bocah itu duduk di ranjang dan menoleh kesana kemari.Mungkin saja dia mencari ibu maupun ayahnya. Karena setelah sang bunda
masuk ke dalam kamar, dan netranya menangkap sosok ibunya, bibirnya langsung
maju dan menangis kencang.
“Maaf ya, bunda ninggalin Avez tadi.” Digendongnya bocah itu
dan langsung memberinya asi. Mengecek kembali suhu tubuh putranya itu dengan
telapak tangannya dan bersyukur karena suhu tubuh putranya sudah kembali
normal.
“Adek udah turun demamnya. Di lap dulu tubuhnya ya, adek
nggak boleh mandi dulu.” Love memang selalu mengajak sang putra untuk
berbicara. Meskipun mungkin saja bocah itu belum paham, tapi itulah cara Love
untuk tetap bisa berkomunikasi dengan putranya.
*.*
Satu minggu sudah berlalu setelah Avez demam waktu itu.Bocah
itu sudah kembali seperti sedia kala dan kembali ceria. Dan Aksa sepertinya
menginginkan apa yang di ucapkan kala itu menjadi kenyataan. Dia ingin sang
istri memanjakan dirinya sendiri dengan dia yang akan mengasuh Avez seharian
ini.
“Buat, Princess.” Salah satunya dengan melayani perempuan
itu. Dia memang tak ahli dalam memasak, tapi kali ini dia membuatkan sup ayam
ala dirinya dan menyuguhkannya di depan sang istri dan juga Avez.
“Terima kasih.” Begitu kata Love dengan senyuman lebar. “Aku
jadi ingin kembali kuliah kalau dipanggil seperti itu sama, Price.” Aksa
mengangguk-anguk dan tersenyum kemudian ikut duduk di kursi makan.
“Sepertinya kita memang harus rekam jejak.”
Kekehan Love terdengar.“Harus banget pakai kata-kata rekam
jejak ya?”
“Karena aku nggak mau pakai kata yang kurang oke. Aku kan
anak sultan.” Ucapan itu tentu saja menirukan ucapan sang istri. Karena memang
Love sering sekali ‘mengatainya’ dengan sebutan anak sultan.
“Jadi setelah ini apa? Ayah serius mau menjaga Avez seharian
sendiri? Ayah kerja loh.” Gelengan itu dia berikan sebagai jawaban.
“Aku kan bawa Mbak Ira. Semua bisa diatur.” Mbak Ira adalah
salah satu asisten rumah tanggannya. Dia memang sudah mengatakan itu kepada
Mbak Ira untuk meminta tolong untuk ikut ke kantor bersamanya agar bisa menjaga
Avez selagi dia bekerja.
Tentu saja orang tersebut menerima. “Yakin Avez mau diajak
sama Mbak Ira? Dia kan nggak pernah mau sama orang lain.” Seperti yang pernah
dikatakan waktu itu, jika memang Avez selalu bersama ibunya. Kalau memang tidak
ada hal yang urgent, bocah itu tak akan Love izinkan untuk diajak oleh orang
lain.
“Avez pasti mau. Aku akan bawa sopir.” Luar biasa sekali
memang Aksa kali ini.Dia benar-benar merencanakan semuanya.Bahkan seorang sopir
yang biasanya tak pernah mengantarkan dirinya kemanapun, harus dibawanya serta
agar dia bisa bersama Avez ketika di jalan nanti.
“Oke.” Kata Love yang memahami semuanya.“Aku akan
bersenang-senang hari ini. Tapi kalau memang Avez Cuma mau sama, Ayah, jangan
minta bantuan bunda ya.” Yang Love pikirkan sekarang adalah, jika suaminya itu
pasti nanti tak akan bisa bekerja dengan baik. Karena butuh ‘perjuangan’ untuk
memberikan Avez kepada Mbak Ira.
“Deal.” Jawab Aksa. “Bunda bersenang-senanglah.Lakukan
apapun yang ingin bunda lakukan.Belanja, salon, apapun.Dan jangan balik kalau
duit di dompet belum habis.”
Sontak saja Love tertawa keras dengan ucapan suaminya
itu.Sangat luar biasa sekali lelaki itu.Bahasanya benar-benar mengerikan.
“Duit di dompetku cuma ada lima ratus ribu aja loh, Yang.”
Wajahnya memelas sekali ketika mengatakan itu.Yang membuat Aksa mengedikkan
bahunya tak acuh.
“Entar utang dulu sama Mbak-mbaknya.” Entengnya.
Kemudian Love kembali bertanya.“Kenapa nggak suruh habisin
duit di ATM aja?” katanya.
“Kerena pasti kamu nggak bisa habisin duit di ATM.”
“Bisa.”
“Mana bisa. ATM itu kan isinya banyak. Bukan Cuma duit kamu
aja. Tapi duit orang lain.”
“Maksudnya?” yang bisa ditangkap oleh Love adalah jika uang
yang ada di ATM milik mereka adalah milik orang lain.
“Kalau kamu habisin duit di ATM, gimana caranya? Pakai apa
kamu bobol itu mesin?” dan barulah Love paham maksud dari sang suami. Bukan
kartu ATM yang dimaksud, tapi mesin ATM. Pusing lama-lama Love memikirkan
suaminya itu.
“Udahlah katanya manyun. Lama-lama aku bisa sakit kepala
karena ayah Avez ini.”Aksa menyeringai dan memberi isyarat kepada istrinya itu
“Kemari!” perintahnya.
“Kenapa?”
“Kemari.” Katanya lagi yang dituruti oleh Love. Berdiri,
perempuan itu duduk disamping sang suami.
“Apa yang bisa saya bantu, Tuan.” Ejeknya dengan membuat
seolah dia adalah seorang pelayan.
Diputarnya kursi yang diduduki oleh Love sampai
menghadapnya, Aksa memegangi kedua sisi kepala sang istri dan kemudian
mendekatkan wajah itu ke wajahnya. Hanya sangat dekat, belum sampai
bersentuhan.
“Sampai kapan kamu akan menggemaskan seperti ini?” tanyanya.
Tatapan Aksa menancap ke wajah sang istri tanpa ada keraguan sedikitpun.
“Kamu seharusnya udah nggak cocok melakukan itu karena kamu
sekarang sudah memiliki anak.”
“Memangnya aku melakukan apa?” Love pun bahkan tak paham
sebenarnya apa yang dibicarakan oleh suaminya.
Dikecupnya bibir berlipstik pink itu. “Bibir ini kenapa
selalu manyun kalau hatimu sedang tak menyetujui apapun.” Mendekatkan kembali
wajahnya dan digigitya bibir itu pelan.Tak mungkin juga Aksa sampai membuat
luka di bibir istrinya.
“Aku benar-benar tak bisa menahan diri kalau kamu terus
melakukan itu.” Lanjutnya.
Melepaskan kungkungannya di kepala sang istri, Aksa
memajukan tubuhnya dan memeluk perempuan itu. Dielusnya punggung istrinya
dengan sayang dan menenggelamkan wajahnya di pundak Love.“Beruntung ketika kita
waktu itu bertemu, dan kamu belum memiliki kekasih. Kalau tidak, mungkin
pelukanku ini akan menjadi milik orang lain.” Entah kenapa kalimat itu yang
harus dilontarkan kepada istrinya.
Karena Love yang awalnya haru dengan perlakuan Aksa menjadi
sebal.Membayangkan jika bukan dia orangnya yang menjadi istri Aksa saja sudah
uring-uringan.
Melepaskan pelukan mereka, Love menarik telinga
suaminya.“Bisa nggak sih ngomongnya itu yang wajar aja.Buat orang sebel aja.
Tadi di sayang, terus sekarang di banting, sakit tahu.” Aksa mendesis karena
Love tak main-main dalam aksinya.
Dia bisa pastikan jika telinga benar-benar akan memerah
setelah ini. “Aish. Sakit, Yang.” Katanya dengan meringis sambil memegangi
telingaya.
“Makanya jangan main-main.”
“Kenapa? Nggak sanggup ngebayangin ya?” cibirnya dengan
wajah menyebalkan andalannya, yang membuat Love menarik dasi yang dipakai sang
suami dan benar-benar mencekiknya.
Aksi mereka benar-benar bar-bar sekali.Jika ada yang
bertanya kemana Avez? Dia berada di sana, sedang asyik menggigiti cookies
kesukaannya tanpa peduli dengan apa yang dilakukan oleh kedua orang tuanya.
Mungkin saja dia berpikir, biarkan saja mereka melakukan apapun sesukanya, yang
penting mereka tak mengambil cookies kesukaanya.
*.*
Pagi heboh. Begitulah suasana yang pantas di sematkan pagi
ini ketika Aksa datang dengan Avez tanpa sang istri di sisinya. Mbak Ira berada
di belakangnya dengan membawa peralatan bocah kecil itu dan sesekali tersenyum
kepada orang-orang yang menyapanya. Ini kali pertama Mbak Ira datang ke kantor
majikannya dan merasa kagum dengan semua yang dilihatnya.
Gedung bertingkat dengan design interior yang luar biasa
megah, mobi-mobil berderet di parkiran, sosok-sosok karyawan yang begitu rapi
dalam berpakaian, semua itu hanya pernah Mbak Ira lihat di dalam layar
televisi. Dan kini dia benar-benar melihat semua itu dengan nyata di matanya.
"Avez!"Para karyawan perempuan hanya sebatas itu
saja menyapa bocah tampan itu. Keinginannya untuk menyentuh Avez tertahan
karena ayah bocah itu pastilah akan mengeluarkan tatapan tak bersahabat ketika
mereka berani melakukan hal lebih dengan putranya.
"Astaga, ganteng banget sih."Kalimat itu juga
terdengar di telinga Aksa, namun tentu saja tak mendapatkan tanggapan dari
lelaki itu.
"Avez?" Nada heran itu keluar dari dari seorang
lelaki paruh baya pemilik perusahaan tersebut. Siapa lagi kalau bukan kakek
bocah itu.
"Yah." Aksa tersenyum dan bersalaman dengan lelaki
paruh baya itu dan mencium tangan beliau.
"Kok diajak kerja? Love kemana?" Tak biasanya Avez
ikut serta ke kantor tanpa sang bunda, dan itu membuat Daka kebingungan karena
melihat semua ini sekarang.
"Naik dulu?" Tawaran Aksa itu bukan tanpa alasan.
Karena dia tak ingin karyawan di sana yang sejak tadi 'mengerumuni' Avez
meskipun dalam jarak tak terlalu dekat, mendengarkan obrolan mereka.
"Oke." Setuju Daka. Dan mereka memasuki lift untuk
ke ruangan Aksa. Avez barang tentu sudah beralih di gendongan kakeknya sambil
terus berbicara dengan bahasa bayinya.
"Aku meminta Love untuk bersenang-senang, Yah."
Mereka sudah berada di ruangan Aksa dan Aksa sudah memulai bercerita. Avez
berada di pangkuan kakeknya dan bermanja-manja di sana. Meskipun tak setiap
hari bertemu dengan lelaki itu, tapi Avez tak pernah menolak jika Daka mengajaknya.
"Avez demam seminggu yang lalu, kami nggak tidur sampai
pagi dan aku tahu Love benar-benar berperan dengan sangat baik sebagai istri
dan ibu." Lanjutnya. Daka mendengarkandengan baik dan tak mengatakan
apapun.
"Aku tahu selama ini dia berusaha keras untuk bisa
menjadi ibu rumah tangga yang baik. Dan aku bangga akan hal itu."
"Kenapa kamu nggak bilang?" Daka bersuara.
"Maksud, Ayah?"
"Avez sakit, dan kamu nggak kasih kabar ke kami."
Tatapan tegas yang diwariskan Daka kepada anak-anaknya itu kini menancap di
mata putranya.
"Maaf, Yah. Hanya sedikit demam aja, kok. Nggak perlu
ada yang dikahawatirkan." Daka menghela napas berat dan menggelengkan
kepalanya.
"Kalau kalian membutuhkan bantuan, apa susahnya
menghubungi ayah atau bunda. Kamu tahu? Mengurus anak sakit itu nggak mudah.
Kita bisa bergantian menjaga Avez kan?"
"Aku ngerti, Yah."Meskipun sekarang Aksa sudah
berumah tangga, tak pernah sekalipun dia tak menghormati Daka dengan mendengus
apalagi berucap keras di depan lelaki itu. Aksa benar-benar menghormati kedua
orang tuanya.
"Ya sudah, kamu kerja lah. Mbak, bantu jaga jagoan ini
ya." Daka mengangkat bocah itu dan menggoyang-goyangkannya di atas
pangkuannya sampai Avez terkikik.
"Eyang kerja dulu ya. Makan siang, biar Yangti ke sini." Memberikan Avez kepada Aksa, Daka keluar dari ruangan putranya itu
dan tak menyadari jika setelahnya kegaduhan itu terjadi di tempat tersebut.
Ya, ketika Avez diberikan kepada Mbak Ira, bocah itu meronta
dan menagis kencang. Dia tak mau dan terus menolak. Dan itu membuat Aksa
kewalahan dan tak tahu harus melakukan apa selain terus menggendong putranya
itu.
Apa yang dikatakan Love memang benar. Aksa, tak akan bisa
bekerja hari ini. Ini bukan sebuah kutukan, tapi perempuan itu paham betul
bagaimana putranya.
*.*