Blind Love

Blind Love
Lanjutan 5



Tak ada hal yang sangat menyedihkan bagi orang tua selain anaknya sakit.Pun, yang dialami oleh Aksa dan Love.Mereka benar2 tak bisa memejamkan matanya barang sebentar saja untuk mengusir lelah yang dirasakannya.Avez terus merengek dan tak tenang dalam tidurnya karena demam yang dialaminya kali ini.


Panas tubuhnya sudah lebih stabil ketika jarum jam sudah menunjukkan pukul dua malam. Tapi


meskipun begitu, tak ada dari kedua orang tuanya yang sanggup memejamkan mata


mereka sampai Avez benar-benar terlelap dan tak lagi merengek. Mereka mulai


tidur pukul setengah empat, dan bangun kembali pukul lima subuh untuk


melaksanakan kewajibannya.


Jika Aksa bisa kembali tidur setelah itu, berbeda dengan Love yang tak bisa lagi memejamkan


matanya."Adek udah sembuh.Panasnya udah turun."Gumamnya sambil


mengelus kepala bocah itu.


"Ayang kerja nggak?"Ketika anak sedang sakit seperti sekarang ini, dan harus mengurus


suami juga, maka perannya sebagai seorang istri dan ibu dipertaruhkan. Love


mampu, setidaknya itulah yang dipikirkannya.


"Kerja. Udah jam berapa?"Aksa membuka sedikit matanya dan kemudian menutupnya kembali.


"Udah jam setengah tujuh."


"Kamu nggak tidur lagi?"Kali ini mata Aksa sudah terbuka sepenuhnya meskipun raut


lelah yg terlihat jelas di wajahnya.Matanya bahkan masih memerah karena kantuk


itu belum tersalurkan sepenuhnya.


"Enggak.Nggak bisa." Love mengelus dan menepuk pelan dada Aksa. "Bangun gih,


kubuatkan sarapan."Katanya dengan tatapan sayang yang terpancar di


matanya.


"Kamu nanti capek loh. Urusin aku, Avez juga lagi nggak enak badan." Komentar Aksa.


Lelaki itu sudah duduk di kasur sambil sesekali memejamkan matanya karena


rasanya ada yang mengganjal di dalam sana.


"Udah tugas istri mengurus anak dan suami.Ayang nggak perlu khawatir." Dia harus


memberikan kalimat menenangkan untuk sang suami jika tak mau suaminya itu terus


mengoceh. Aksa mengangguk dan turun dari ranjang untuk memulai bebenahnya.


Sedangkan Love


sendiri langsung turun ke lantai satu untuk membuatkan sarapan ala kadarnya


kepada sang suami. Dia tak akan membiarkan Aksa pergi ke kantor tanpa sarapan


terlebih dahulu.


"Kalau Avez udah sembuh nanti, kamu pergilah memanjakan dirimu.Biar Avez aku yang


jaga."Mereka sudah ada di meja makan untuk mengisi perutnya di pagi


hari.Sandwich, yang bisa Love buat di waktu yang terlalu mepet seperti ini.


Love tak menjawab dan menatap suaminya aneh. "Mas kan kerja."


"Bisa di hari libur.Sabtu atau minggu?"


"Kan kita bisa jalan-jalan bareng."


Aksa menggeleng."Kalau begitu, kamu pasti akan tetap mengurus Avez.Untuk satu


hari itu nanti, kamu bisa bersenang-senang.Deal?”Love tak langsung mengangguk


karena dia memerlukan waktu untuk berpikir.


“Aku pergi dulu.”Aksa mendongakkan wajah Love dan mengecup bibir perempuan itu dalam. Kemudian


berlalu dari sanan untuk segera berangkat ke kantor. Seperginya sang suami tak


membuat Love langsung beranjak juga dari ruang makan, dia masih memikirkan


tentang ucapan Aksa.


Tapi selanjutnya dia mengedikkan bahunya dan mengabaikan usul sang suami. Selama ini dia sama sekali tak pernah sekalipun ‘meninggalkan’


Avez bersama orang lain meskipun itu dengan sang ayah.


“Selamat pagi, ganteng bunda.”Avez sudah bangun dan tak menangis seperti biasanya.Bocah itu duduk di ranjang dan menoleh kesana kemari.Mungkin saja dia mencari ibu maupun ayahnya. Karena setelah sang bunda


masuk ke dalam kamar, dan netranya menangkap sosok ibunya, bibirnya langsung


maju dan menangis kencang.


“Maaf ya, bunda ninggalin Avez tadi.” Digendongnya bocah itu


dan langsung memberinya asi. Mengecek kembali suhu tubuh putranya itu dengan


telapak tangannya dan bersyukur karena suhu tubuh putranya sudah kembali


normal.


“Adek udah turun demamnya. Di lap dulu tubuhnya ya, adek


nggak boleh mandi dulu.” Love memang selalu mengajak sang putra untuk


berbicara. Meskipun mungkin saja bocah itu belum paham, tapi itulah cara Love


untuk tetap bisa berkomunikasi dengan putranya.


*.*


Satu minggu sudah berlalu setelah Avez demam waktu itu.Bocah


itu sudah kembali seperti sedia kala dan kembali ceria. Dan Aksa sepertinya


menginginkan apa yang di ucapkan kala itu menjadi kenyataan. Dia ingin sang


istri memanjakan dirinya sendiri dengan dia yang akan mengasuh Avez seharian


ini.


“Buat, Princess.” Salah satunya dengan melayani perempuan


itu. Dia memang tak ahli dalam memasak, tapi kali ini dia membuatkan sup ayam


ala dirinya dan menyuguhkannya di depan sang istri dan juga Avez.


“Terima kasih.” Begitu kata Love dengan senyuman lebar. “Aku


jadi ingin kembali kuliah kalau dipanggil seperti itu sama, Price.” Aksa


mengangguk-anguk dan tersenyum kemudian ikut duduk di kursi makan.


“Sepertinya kita memang harus rekam jejak.”


Kekehan Love terdengar.“Harus banget pakai kata-kata rekam


jejak ya?”


“Karena aku nggak mau pakai kata yang kurang oke. Aku kan


anak sultan.” Ucapan itu tentu saja menirukan ucapan sang istri. Karena memang


Love sering sekali ‘mengatainya’ dengan sebutan anak sultan.


“Jadi setelah ini apa? Ayah serius mau menjaga Avez seharian


sendiri? Ayah kerja loh.” Gelengan itu dia berikan sebagai jawaban.


“Aku kan bawa Mbak Ira. Semua bisa diatur.” Mbak Ira adalah


salah satu asisten rumah tanggannya. Dia memang sudah mengatakan itu kepada


Mbak Ira untuk meminta tolong untuk ikut ke kantor bersamanya agar bisa menjaga


Avez selagi dia bekerja.


Tentu saja orang tersebut menerima. “Yakin Avez mau diajak


sama Mbak Ira? Dia kan nggak pernah mau sama orang lain.” Seperti yang pernah


dikatakan waktu itu, jika memang Avez selalu bersama ibunya. Kalau memang tidak


ada hal yang urgent, bocah itu tak akan Love izinkan untuk diajak oleh orang


lain.


“Avez pasti mau. Aku akan bawa sopir.” Luar biasa sekali


memang Aksa kali ini.Dia benar-benar merencanakan semuanya.Bahkan seorang sopir


yang biasanya tak pernah mengantarkan dirinya kemanapun, harus dibawanya serta


agar dia bisa bersama Avez ketika di jalan nanti.


“Oke.” Kata Love yang memahami semuanya.“Aku akan


bersenang-senang hari ini. Tapi kalau memang Avez Cuma mau sama, Ayah, jangan


minta bantuan bunda ya.” Yang Love pikirkan sekarang adalah, jika suaminya itu


pasti nanti tak akan bisa bekerja dengan baik. Karena butuh ‘perjuangan’ untuk


memberikan Avez kepada Mbak Ira.


“Deal.” Jawab Aksa. “Bunda bersenang-senanglah.Lakukan


apapun yang ingin bunda lakukan.Belanja, salon, apapun.Dan jangan balik kalau


duit di dompet belum habis.”


Sontak saja Love tertawa keras dengan ucapan suaminya


itu.Sangat luar biasa sekali lelaki itu.Bahasanya benar-benar mengerikan.


“Duit di dompetku cuma ada lima ratus ribu aja loh, Yang.”


Wajahnya memelas sekali ketika mengatakan itu.Yang membuat Aksa mengedikkan


bahunya tak acuh.


“Entar utang dulu sama Mbak-mbaknya.” Entengnya.


Kemudian Love kembali bertanya.“Kenapa nggak suruh habisin


duit di ATM aja?” katanya.


“Kerena pasti kamu nggak bisa habisin duit di ATM.”


“Bisa.”


“Mana bisa. ATM itu kan isinya banyak. Bukan Cuma duit kamu


aja. Tapi duit orang lain.”


“Maksudnya?” yang bisa ditangkap oleh Love adalah jika uang


yang ada di ATM milik mereka adalah milik orang lain.


“Kalau kamu habisin duit di ATM, gimana caranya? Pakai apa


kamu bobol itu mesin?” dan barulah Love paham maksud dari sang suami. Bukan


kartu ATM yang dimaksud, tapi mesin ATM. Pusing lama-lama Love memikirkan


suaminya itu.


“Udahlah katanya manyun. Lama-lama aku bisa sakit kepala


karena ayah Avez ini.”Aksa menyeringai dan memberi isyarat kepada istrinya itu


“Kemari!” perintahnya.


“Kenapa?”


“Kemari.” Katanya lagi yang dituruti oleh Love. Berdiri,


perempuan itu duduk disamping sang suami.


“Apa yang bisa saya bantu, Tuan.” Ejeknya dengan membuat


seolah dia adalah seorang pelayan.


Diputarnya kursi yang diduduki oleh Love sampai


menghadapnya, Aksa memegangi kedua sisi kepala sang istri dan kemudian


mendekatkan wajah itu ke wajahnya. Hanya sangat dekat, belum sampai


bersentuhan.


“Sampai kapan kamu akan menggemaskan seperti ini?” tanyanya.


Tatapan Aksa menancap ke wajah sang istri tanpa ada keraguan sedikitpun.


“Kamu seharusnya udah nggak cocok melakukan itu karena kamu


sekarang sudah memiliki anak.”


“Memangnya aku melakukan apa?” Love pun bahkan tak paham


sebenarnya apa yang dibicarakan oleh suaminya.


Dikecupnya bibir berlipstik pink itu. “Bibir ini kenapa


selalu manyun kalau hatimu sedang tak menyetujui apapun.” Mendekatkan kembali


wajahnya dan digigitya bibir itu pelan.Tak mungkin juga Aksa sampai membuat


luka di bibir istrinya.


“Aku benar-benar tak bisa menahan diri kalau kamu terus


melakukan itu.” Lanjutnya.


Melepaskan kungkungannya di kepala sang istri, Aksa


memajukan tubuhnya dan memeluk perempuan itu. Dielusnya punggung istrinya


dengan sayang dan menenggelamkan wajahnya di pundak Love.“Beruntung ketika kita


waktu itu bertemu, dan kamu belum memiliki kekasih. Kalau tidak, mungkin


pelukanku ini akan menjadi milik orang lain.” Entah kenapa kalimat itu yang


harus dilontarkan kepada istrinya.


Karena Love yang awalnya haru dengan perlakuan Aksa menjadi


sebal.Membayangkan jika bukan dia orangnya yang menjadi istri Aksa saja sudah


uring-uringan.


Melepaskan pelukan mereka, Love menarik telinga


suaminya.“Bisa nggak sih ngomongnya itu yang wajar aja.Buat orang sebel aja.


Tadi di sayang, terus sekarang di banting, sakit tahu.” Aksa mendesis karena


Love tak main-main dalam aksinya.


Dia bisa pastikan jika telinga benar-benar akan memerah


setelah ini. “Aish. Sakit, Yang.” Katanya dengan meringis sambil memegangi


telingaya.


“Makanya jangan main-main.”


“Kenapa? Nggak sanggup ngebayangin ya?” cibirnya dengan


wajah menyebalkan andalannya, yang membuat Love menarik dasi yang dipakai sang


suami dan benar-benar mencekiknya.


Aksi mereka benar-benar bar-bar sekali.Jika ada yang


bertanya kemana Avez? Dia berada di sana, sedang asyik menggigiti cookies


kesukaannya tanpa peduli dengan apa yang dilakukan oleh kedua orang tuanya.


Mungkin saja dia berpikir, biarkan saja mereka melakukan apapun sesukanya, yang


penting mereka tak mengambil cookies kesukaanya.


*.*


Pagi heboh. Begitulah suasana yang pantas di sematkan pagi


ini ketika Aksa datang dengan Avez tanpa sang istri di sisinya. Mbak Ira berada


di belakangnya dengan membawa peralatan bocah kecil itu dan sesekali tersenyum


kepada orang-orang yang menyapanya. Ini kali pertama Mbak Ira datang ke kantor


majikannya dan merasa kagum dengan semua yang dilihatnya.


Gedung bertingkat dengan design interior yang luar biasa


megah, mobi-mobil berderet di parkiran, sosok-sosok karyawan yang begitu rapi


dalam berpakaian, semua itu hanya pernah Mbak Ira lihat di dalam layar


televisi. Dan kini dia benar-benar melihat semua itu dengan nyata di matanya.


"Avez!"Para karyawan perempuan hanya sebatas itu


saja menyapa bocah tampan itu. Keinginannya untuk menyentuh Avez tertahan


karena ayah bocah itu pastilah akan mengeluarkan tatapan tak bersahabat ketika


mereka berani melakukan hal lebih dengan putranya.


"Astaga, ganteng banget sih."Kalimat itu juga


terdengar di telinga Aksa, namun tentu saja tak mendapatkan tanggapan dari


lelaki itu.


"Avez?" Nada heran itu keluar dari dari seorang


lelaki paruh baya pemilik perusahaan tersebut. Siapa lagi kalau bukan kakek


bocah itu.


"Yah." Aksa tersenyum dan bersalaman dengan lelaki


paruh baya itu dan mencium tangan beliau.


"Kok diajak kerja? Love kemana?" Tak biasanya Avez


ikut serta ke kantor tanpa sang bunda, dan itu membuat Daka kebingungan karena


melihat semua ini sekarang.


"Naik dulu?" Tawaran Aksa itu bukan tanpa alasan.


Karena dia tak ingin karyawan di sana yang sejak tadi 'mengerumuni' Avez


meskipun dalam jarak tak terlalu dekat, mendengarkan obrolan mereka.


"Oke." Setuju Daka. Dan mereka memasuki lift untuk


ke ruangan Aksa. Avez barang tentu sudah beralih di gendongan kakeknya sambil


terus berbicara dengan bahasa bayinya.


"Aku meminta Love untuk bersenang-senang, Yah."


Mereka sudah berada di ruangan Aksa dan Aksa sudah memulai bercerita. Avez


berada di pangkuan kakeknya dan bermanja-manja di sana. Meskipun tak setiap


hari bertemu dengan lelaki itu, tapi Avez tak pernah menolak jika Daka mengajaknya.


"Avez demam seminggu yang lalu, kami nggak tidur sampai


pagi dan aku tahu Love benar-benar berperan dengan sangat baik sebagai istri


dan ibu." Lanjutnya. Daka mendengarkandengan baik dan tak mengatakan


apapun.


"Aku tahu selama ini dia berusaha keras untuk bisa


menjadi ibu rumah tangga yang baik. Dan aku bangga akan hal itu."


"Kenapa kamu nggak bilang?" Daka bersuara.


"Maksud, Ayah?"


"Avez sakit, dan kamu nggak kasih kabar ke kami."


Tatapan tegas yang diwariskan Daka kepada anak-anaknya itu kini menancap di


mata putranya.


"Maaf, Yah. Hanya sedikit demam aja, kok. Nggak perlu


ada yang dikahawatirkan." Daka menghela napas berat dan menggelengkan


kepalanya.


"Kalau kalian membutuhkan bantuan, apa susahnya


menghubungi ayah atau bunda. Kamu tahu? Mengurus anak sakit itu nggak mudah.


Kita bisa bergantian menjaga Avez kan?"


"Aku ngerti, Yah."Meskipun sekarang Aksa sudah


berumah tangga, tak pernah sekalipun dia tak menghormati Daka dengan mendengus


apalagi berucap keras di depan lelaki itu. Aksa benar-benar menghormati kedua


orang tuanya.


"Ya sudah, kamu kerja lah. Mbak, bantu jaga jagoan ini


ya." Daka mengangkat bocah itu dan menggoyang-goyangkannya di atas


pangkuannya sampai Avez terkikik.


"Eyang kerja dulu ya. Makan siang, biar Yangti ke sini." Memberikan Avez kepada Aksa, Daka keluar dari ruangan putranya itu


dan tak menyadari jika setelahnya kegaduhan itu terjadi di tempat tersebut.


Ya, ketika Avez diberikan kepada Mbak Ira, bocah itu meronta


dan menagis kencang. Dia tak mau dan terus menolak. Dan itu membuat Aksa


kewalahan dan tak tahu harus melakukan apa selain terus menggendong putranya


itu.


Apa yang dikatakan Love memang benar. Aksa, tak akan bisa


bekerja hari ini. Ini bukan sebuah kutukan, tapi perempuan itu paham betul


bagaimana putranya.


*.*