
Kelas sudah ramai saat aku tiba di sana. Tampak Vera tengah serius membaca buku hitam besarnya seorang diri, Yohanes menjelaskan sesuatu di white board pada sekelompok anak di depannya, Dena and the gank bermain kartu di pojok belakang kelas, dan Cilla melambai penuh semangat menyambutku.
Tapi, di mana Rifa?
Kuperhatikan sekeliling kelas sekali lagi. Tetap tidak ada.
Ke mana perginya anak itu?
Entah ada angin apa, tiba-tiba Cilla berseru kegirangan. “Cie ... cie ... gue lihat, gue lihat!”
Awalnya kukira ia memergokiku mencari-cari Rifa tadi, rupanya bukan. Ternyata—menurut pengakuannya—Cilla melihatku berboncengan motor dengan Andre kemarin. Ia bilang aku dan Andre sangat mesra sampai berpelukan segala. Baru saja hendak kudebat, guru Kimia keburu masuk ke dalam kelas. Oh, aku bahkan tak sadar bel masuk telah berbunyi.
Untuk yang terakhir kalinya kuedarkan pandangan ke sekeliling kelas hanya demi mendapati kekosongan di bangkunya. Kalau saja egoku tidak terlalu tinggi, sudah kutanyai Vera-si-absensi untuk memastikan apakah Rifa menitipkan surat atau tidak. Jika ya, sakit atau izin? Jika tidak, untuk apa ia membolos? Ini kelas dua belas, penentuan masa depan kita. Bukan saatnya untuk bermain-main lagi. Apalagi membolos tanpa arah tujuan.
Dan suara itu pun terdengar. Suara yang entah bagaimana sangat kurindukan saat ini. “Maaf, saya terlambat.”
Aku mendongak, lalu terperangah seketika. Demi Tuhan, cowok yang berdiri di depan kelas itu pasti bukan Rifa. Bukan, selama ia masih mengenakan kemeja kusut tanpa dasi—yang sebelumnya tak pernah absen bertengger di sana—rambut berantakan, bola mata merah, dan lingkar hitam di kantong matanya. Bahkan Bu Dyah pun sempat tak mengenali cowok yang tengah berjalan menghampirinya itu.
Tidak mungkin kan, semua gara-gara aku?
***
“Gak mungkin, lah! Logika aja, mana ada seorang Rifa galau berat gara-gara putus dari si jahat itu?”
“Tapi momennya pas banget ya? Begitu putus, langsung kacau si Rifa.”
“Jangan-jangan Rifa ditolak cewek?”
“Ah, ngaco lo! Cewek mana yang bakal nolak dia? Tapi, kalau lihat penampilannya hari ini sih, bisa jadi juga tuh.”
“Yeee … dia gak rapi baru hari ini. Jadi mustahil pas nembak udah kusut duluan.”
“Eh, eh, tahu gak? Denger-denger, si Alexa jahat itu sekarang lagi deket sama Andre teman sekelas Nadine.”
“Gosipnya sih, gitu! Eh, tuh ada orangnya lewat!”
Komentar-komentar nyinyir tersebut terdengar silih berganti mengisi telingaku. Setelah berusaha keras menulikan diri, akhirnya aku tiba di depan pintu perpustakaan. Belum juga tanganku menyentuh knop, seseorang keburu menepuk bahuku cukup keras. Aku menoleh dan mendapati seorang cewek bertubuh mungil tengah tersenyum manis padaku.
Tapi sayang, aku sedang tidak ingin beramah-tamah dengan orang lain sekarang.
“Ada apa? Lo siapa?”
“Vindy. Lo Alexa, kan?”
“Lo Rifa Maniac?” tanyaku balik, ketus.
Vindy seolah tak peduli dengan reaksi dinginku. Ia masih mempertahankan senyum ramahnya. “Bukan. Gue Raka Maniac.”
Aku mengernyit. Demi Tuhan cewek ini aneh sekali. Memangnya sejak kapan Raka punya fans club? Apalagi dengan nama hasil tiruan begitu.
“Oke, gue bercanda.” Vindy tertawa. “Gue Vindy. Cuma Vindy Anugrah tanpa embel-embel Rifa Maniac apalagi Raka Maniac (bahkan perkumpulan itu memang gak ada di sekolah ini). Gue ke sini mau ngasih tahu lo sesuatu.”
Ketenanganku mulai terusik. “Apa itu?”
“Lebih baik lo ke mading sekarang,” katanya. “Lo mesti lihat sesuatu yang sangat menarik di sana.”
Sekali lagi Vindy tersenyum lebar, lalu pergi meninggalkanku. Aku terpaku sejenak, kemudian melesat menuju tempat yang tadi disebut cewek itu.
Area sekitar mading tampak ramai. Sepertinya memang ada sesuatu menarik yang ditempel di sana. Kecurigaanku timbul saat orang-orang mulai memandangku sambil menahan tawa. Akhirnya kupercepat langkah agar semua segera terjawab.
Demi Tuhan, apa-apaan ini!?
“Siapa yang nempel foto ini di sini?” lirihku menahan tangis.
Telunjukku menuding foto yang dimaksud. Sebuah lelucon tak lucu yang menampilkan seluruh tubuhku tanpa busana. Terdapat sensor blur pada beberapa bagian di foto tersebut. Tentu saja semua hasil editan! Dan begitu membaca caption-nya berbunyi “Full Service 24 jam”, aku langsung tahu orang tak berpendidikan yang melakukan ini pasti berasal dari klub Rifa Maniac. Hanya saja, siapa orangnya?
Tak ada yang menghiraukan. Senyum mereka justru semakin lebar. Senyum penuh cemoohan. Bahkan aku yakin di antara mereka ada yang memandang rendah diriku, seakan memercayai kebenaran foto tersebut.
Ini sungguh menyakitkan!
Air mataku mengalir tanpa bisa dicegah.
“Tolol! Siapa yang ngelakuin ini!?”
Semua terkejut saat seorang cowok tiba-tiba muncul lalu merobek apa yang semula tertempel dengan ukuran besar di mading. Seolah belum puas, dirobek-robeknya lagi foto tersebut hingga menjadi serpihan-serpihan tak bermakna.
Aku yang berdiri di sampingnya hanya mampu tercengang. Ia bertindak lebih cepat dari otakku berpikir.
“Kalau sampai gue lihat hal-hal seperti ini lagi, gue bersumpah bakal nyari siapa pelakunya sampai ketemu! Dan jangan harap lo bakal selamat,” ancamnya.
Tanpa memberiku kesempatan berpikir lagi, ditariknya tanganku menjauhi kerumunan. Terus ditarik hingga kami berhenti di lapangan sepak bola, tempat yang jauh dari hiruk-pikuk manusia. Dalam hati aku bersyukur ia membawaku ke tempat seperti ini. Aku memang butuh ketenangan.
Kami duduk berdampingan di atas rumput hijau yang diteduhi pohon. Saling membisu selama beberapa saat.
“Lo baik-baik aja, kan?” tanyanya lembut, membuka percakapan.
Aku mengangguk. “Makasih ya, Dre,” kataku tulus.
“Makasih buat?”
“Semuanya.” Aku tersenyum. “Kalau tadi gak ada lo, mungkin gue ….”
Andre menepuk-nepuk bahuku. “Udah. Lupain. Jangan peduliin mereka yang terus-terusan ngebully lo.”
Aku tersenyum dan mengangguk.
“Dulu gue sering dibully Kevin, abang gue sendiri,” katanya tiba-tiba.
“Oh, ya?” Aku tertarik. “Dulu? Berarti sekarang udah nggak lagi?”
Ia mengangguk. “Ya. Tapi bukan lantaran dia udah insyaf.”
“Lalu?”
“Semua karena kini kami hidup terpisah. Nyokap di Wanayasa, gue di Sadang ngekos sendiri, sedangkan Kevin gue gak tahu tinggal di mana. Nyokap juga gak tahu.”
Aku terenyak.
“Terakhir kita ketemu pas dia nitipin surat buat Rifaldi ke gue. Setelah itu, udah. Gue gak tahu apa pun lagi tentang dia.
“Mungkin kayak gak masuk akal. Gue sendiri gak nyangka hal ini bisa menimpa keluarga gue. Tapi ini real. Saking gak kuatnya sama kenakalan Kevin, nyokap akhirnya ngusir dia dan gak mau menganggap kakak gue sebagai anaknya lagi. Tapi yang namanya orangtua gak pernah bisa membenci anak sendiri, senakal apa pun anak itu.”
“Nyokap lo nyesel?”
“Jelas. Tiap hari dia nanya, ‘di mana Kevin? Udah dapat kabar dari dia belum?’ Ya, semacam itu lah,” ujar Andre menerawang. Untuk sejenak aku seperti melihat sosok lain dalam diri Andre. Ternyata selama ini ia hanya berusaha tampak tegar.
Berbicara mengenai cobaan hidup dengan orang lain selalu mengingatkanku untuk terus bersyukur. Mestinya aku sadar, bukan hanya aku, bahkan makhluk seajaib Andre pun memiliki kisah suram dalam hidupnya.