Blind Love

Blind Love
Kisah 29



“Saya memikirkan banyak hal sampai isi kepala saya terasa tak bisa menampung semuanya.” Lanjut Ardi dengan suara rendah, “Saya tidak menyangka jika putri saya yang saya didik dan saya besarkan dengan kasih sayang sanggup melakukan hal sekeji itu kepada saya.” Virgo bisa melihat suara Ardi bergetar.


“Saya benar-benar minta maaf, Om.” Virgo sangat-sangat merasakan rasa bersalah yang terlalu dalam di hatinya. Pagi ini seharusnya dia bekerja, tapi menundanya karena tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang bagus ini untuk berbicara kepada ayah mertuanya.


Selama ini dia juga ikut menyalahkan Ardi jika lelaki itu terlalu pendendam. Tapi ketika semuanya sekarang terkuak, Virgo tak memiliki sanggahan apapun.


“Bagaimana caranya agar kami bisa memperbaiki semuanya, Om?”


Ardi menggeleng, “Saya pun tak tahu. Karena sebanyak apapun saya memikirkan ini, sebanyak itu pula kekecewaan saya terhadap Libra.” Semua ini sepertinya memang semata karena Ardi kecewa kepada putrinya, ditambah lagi Virgo adalah si pembuat onar dan putra dari pasangan yang tak disukainya. Maka terjadilah konflik ini bekepanjangan.


Virgo tak mampu lagi berkata-kata. Dia tak bisa mengatakan dengan lantang tentang kata-kata yang mampu membungkam ayah mertuanya. Keterdiaman Virgo membuat Ardi melirik ke arah lelaki itu sejenak kemudian kembali menatap depan dalam diam.


“Vir!” Jihan masuk memecah keheningan yang tercipta, perempuan itu membawa rantang berisi makanan untuk anak-anaknya dan tentu saja untuk suaminya juga, “Libra ada di depan, kamu temani dia gih. Mama mau ngelap badan ayah.” Virgo hanya berdiri tanpa mengatakan apapun, kemudian pergi begitu saja dari tempat tersebut.


Menyisakan Ardi dan Jihan berdua. Jihan duduk di kursi yang tadi di duduki oleh Virgo dan menatap suaminya. Digenggamnya tangan lelaki itu, “Maafkan putrimu.” Baru juga datang, perempuan itu sepertinya ikut berkonspirasi.


“Dia waktu itu masih remaja yang belum terlalu berfikir terlalu jauh dengan tindakan yang dilakukannya. Dia merasa jatuh cinta, karenanya dia sanggup melakukan hal yang mengecewakan kamu.” Ardi menatap istrinya dengan wajah datarnya.


“Aku mau makan.” Bukannya menjawab, lelaki itu justru mengatakan hal lain. Mengalihkan pembicaraan. Jihan hanya bisa menutup mulutnya rapat kemudian menyiapkan apa yang diminta oleh sang suami.


Jihan menyuapi suaminya dengan telaten tanpa ada dumelan sama sekali. Tangan Ardi memang baik-baik saja, tapi tentu saja Jihan tak akan tega jika dirinya membiarkan suaminya makan sendiri.


Memberekan bekas makannya, Jihan kembali duduk di kursi. “Bisa kita bahas ini sekarang?” begitu tanya Jihan.


“Nggak ada yang perlu dibahas.” Jawab Ardi dengan ringan, “Aku ngantuk, mau tidur.”


“Yah!” suara peringatan itu terdengar oleh Ardi tapi diabaikan begitu saja. Lelaki itu justru langsung memejamkan matanya tanpa lagi menghiraukan keberadaan sang istri.


Tapi Jihan yang tahu Jika Ardi sedang menghindar, bersuara, “Kamu nggak tahu selama ini berapa banyak kesedihan yang Libra dapatkan.” Sambil memijat kaki Ardi, Jihan memulai berbicara.


“Dia benci dengan dirinya sendiri katanya,” Ardi masih diam. Matanya tertutup, tapi telinganya terlalu jeli dalam mendengar.


“Aku juga minta maaf,” jeda sebentar sebelum perempuan itu kembali bersuara, “Selama ini aku juga selalu menyalahkan kamu.” Ardi dengan pelan membuka matanya, dan kemudian menatap istrinya.


“Aku nggak mau bahas ini lagi.” Ardi kali ini benar-benar menutup matanya untuk tidur. Membuat Jihan menghela napas karena merasa agak jengkel dibuatnya karena sang suami.


Tapi yang Jihan yakin adalah pasti lelaki itu akan meluluh nanti. Perempuan itu memberikan waktu kepada suaminya terlebih dulu agar memikirkan semua yang telah terjadi.


*.*


Karena ketika di rumah sakit si kembar tak bisa diajak ke tempat tersebut, maka ketika Ardi sudah kembali ke rumah, Virgo dan Libra membawa kedua anaknya untuk datang ke kediaman Ardi.


“Tatek!” panggilan itu ceria sekali terdengar di telinga. Bocah berumur dua tahun itu mendekati Ardi dan menyodorkan tangan kecilnya, “Calim.” Katanya dengan tingkah lucunya. Ardi menerima angsuran tangan gadis cilik itu.


El tersenyum, “Tatek catit, ya?” bola mata bundarnya terlihat jernih sekali ketika menatap Ardi.


“Iya.” Ardi menjawabnya singkat. Ada senyum kecil yang muncul di bibir lelaki itu. Mata Ardi melihat sekeliling dan mendapati Al baru muncul dengan tangannya digandeng oleh Virgo.


“Salim sama kakek, Nak.” Virgo memerintahkan itu kepada putranya. Al menurut, namun setelahnya langsung kembali menggandeng tangan Virgo. Berbeda dengan El yang langsung duduk dengan tenang di samping kakeknya.


Virgo melakukan hal yang sama seperti yang anak-anaknya lakukan, yaitu mengangsurkan tangannya ke depan Ardi. Ardi tak banyak kata. Karena rasanya tak sopan jika dia menolak tangan Virgo yang ingin bersalaman dengannya. Pun dengan Libra yang melakukan hal yang sama.


Setelahnya mereka duduk di sofa yang berseberangan dengan sofa yang diduki oleh Ardi. “Bagimana badan Ayah sekarang? Sudah lebih baik?” tanya Libra penuh perhatian.


“Ya.” Hanya jawaban singkat saja yang diberikan Ardi kepada Libra. Tapi syukurnya adalah lelaki itu tak menghindar.


Suasana langsung hening karena tak ada dari mereka yang berbicara. Jihan berada di dapur dan Libra ikut kesana. Hanya ada Virgo dan juga Ardi. Keduanya menatap si kembar yang sedang asyik dengan dunia mereka sendiri.


Tawa renyah El membuat Ardi ikut terkekeh. “Al beli tokat? Hem, enak.” Seolah El sedang membaui aroma coklat di dalam gelas mainan. Dan itu membuat Virgo tersenyum melihat kelucuan bocah-bocah kecil itu. Ardi pun melakukan hal yang sama.


Al memang masih bereaksi sama seperti sebelumnya, tapi bocah itu sudah tak merasa takut kepada Ardi.


“Al beyi mobil.”


“Butan mobil, Al. El jual tokat.” Ekspresi El itu benar-benar menggelikan sekali. Seperti menjelaskan sesuatu yang sulit sekali.


Si kembar adalah hiburan sendiri bagi kedua orang-orang disekitarnya. Virgo akan kelimpungan jika pulang dari keluar dan tak anak-anaknya justru ‘di culik’ oleh kedua orang tuanya. Dia akan mengerutu panjang lebar kepada Libra.


“Makan sudah siap!” Jihan mengatakan itu dari arah dapur. Namun Libra memanggil mereka dengan mendekat.


“Ayah, makanan sudah siap.” Ardi tak menjawab dan berdiri begitu saja, kemudian berjalan ke arah dapur. Libra menghela napas panjang sambil menatap sang suami.


Dan ini adalah kali pertama Virgo makan bersama dengan keluarga Libra dalam formasi lengkap. Tak masalah kalau memang Ardi masih menampilkan wajah datarnya. Tapi baginya ini sudah benar-benar lebih baik dibandingkan lelaki itu terus menghindari dirinya.


Mereka semua makan dengan lahap. Tak terkecuali dua bocah kecil yang sudah memiliki kursi sendiri di sana.


“El mau tambah lagi?” si kembar makan sendiri tanpa di suapi, memang terlihat belepotan di sekitar piring dan wajahnya, tapi itu bukan masalah. Namanya proses belajar.


“Ayam goleng.” Yang ditanya El tapi yang menjawab Al, kemudian kembali mengatakannya lagi, “Al mau ayam goleng, Bunda.” Dan Libra langsung mengambilkan ayam goreng untuk diletakkan di atas piring Al.


“El mau juga?” tanya Libra kepada putrinya.


“Mau!” anggukan itu diberikan kepada ibunya dengan semangat. Kedua bocah itu memang suka sekali dengan ayam goreng, karenanya Jihan memasak banyak ayam goreng. Ardi menatap kedua cucunya itu dalam-dalam seolah ini adalah kali pertama dia bertemu mereka.


*.*


Meskipun sekarang semua anggota keluarga sudah mengetahui alasan Ardi bersikap menyebalkan selama ini, namun hubungan mereka masih saja sama. Tak ada perubahan menjadi lebih baik ataupun lebih buruk lagi.


Ardi menjalakankan kehidupannya seperti biasa dan yang lain juga seperti itu. Hubungan Ardi dan Firman juga tak mengalami perubahan sama sekali meskipun mereka sering bertemu. Seperti sekarang ini misalnya, mereka bertemu, tapi kalau tak diawali oleh Firman yang mengatakan sesuatu, maka Ardi juga akan diam saja.


“Saya sebagai ayah dari Virgo meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan oleh putra saya.” Kebetulan mereka ada di satu meja yang sama ketika ada sebuah pertemuan.


Ardi melirik Firman malas, dia bilang, “Jadi semua orang sekarang mengeroyok saya untuk meminta maaf atas apa yang dilakukan oleh Virgo dan Libra?” ada dengusan sinis yang terdengar di telinga Firman.


“Terserah kamu bilang apa, saya hanya melakukan kewajibanku sebagai ayah dari seorang anak yang membuat kesalahan. Jadi beginilah.” Firman juga merasa tak perlu bebicara dengan cara serius meskipun kali ini dia memang serius untuk meminta maaf atas kesalah Virgo.


Bahkan ketika selesai melakukan pertemuan, tidak ada lagi pembahasan mengenai masalah Virgo dan Love.


Ardi kembali ke kantornya dan duduk termenung sambil menatap jauh ke depan. Dinding kaca yang membatasi dirinya dengan dunia luar terbentang di depannya. Entah sudah berapa kali dia menarik dan menghembuskan nafasnya panjang.


Kebingungan itu sepertinya sedang mendatanginya. Ingatannya kembali ketika di rumah sakit dimana Virgo yang malam itu terbangun karena mendengar suara langkah kakinya yang akan pergi ke toilet sendirian. Lelaki itu dengan cepat menyusul Ardi meskpiun tanpa kata. Memastikan jika Ardi kembali naik ke atas ranjang rumah sakit dan memejamkan matanya setelah selesai. Tak sampai di sana, karena Virgo tetap duduk di kursi dan menungguinya.


Ardi tak akan menyangkal jika Virgo memang tulus melakukan hal tersebut. Tapi juga tak bisa bersikap biasa saja ketika melihat wajah lelaki tanpa memikirkan bagaimana lelaki itu dengan berani melakukan hal yang tak di sukainya.


Membalikkan kursinya untuk kembali menatap layar komputernya. Ada satu artikel yang tiba-tiba muncul di komputernya.


‘Sukses di Usia Muda’ begitu judul artikelnya dan Ardi jelas tak akan mengabaikan begitu saja. Maka dia membuka artikel tersebut dan hal pertama yang di lihat setelah judul tercetak jelas di sana, maka gambar Virgo lah yang muncul.


Disana tertulis hasil dari wawancara yang dilakukan oleh salah satu media bersama Virgo. Ardi membacanya dengan teliti tak mengharapkan akan ada yang terlewatkan.


“Ketika saya ingin menyerah, saya mengingat wajah istri dan anak-anak saya. Saya memiliki tanggung jawab dan saya tidak boleh putus asa.” Itu adalah salah satu jawaban yang diberikan Ardi kepada pewawancara ketika menanyakan proses pembuatan aplikasi yang sekarang ini sedang di senangi oleh masyarakat.


“Benar, saya bukan hanya bekerja dengan teman-teman saya, tapi juga dengan istri saya. Dia kebetulan kuliah di jurusan Ekonomi, jadi saya mempercayakan posisi keuangan kepadanya.” Ardi masih membaca artikel tersebut dengan seksama.


“Untuk sekarang, belum. Kami masih bisa menangani pekerjaan kami.” Ada banyak pertanyaan yang diberikan oleh wartawan kepada Virgo, dan Ardi merasa jika Virgo memanglah berbakat dalam bidang yang digelutinya.


Dia tahu banyak tentang kesukaan Virgo. Lelaki itu suka dengan bidang olahraga. Dan otaknya juga pintar, Ardi tak akan memungkiri hal itu. Karenanya ketika waktu dimana mereka masih sering bertemu dan saling melemparkan sindiran, Virgo ahli sekali menjawabnya. Tak ada yang sia-sia ketika Ardi meminta seseorang untuk memata-matai Virgo.


Itu dilakukan ketika Wondo sudah memberikan pengumuman kepada rekan kerjanya ketika lelaki itu ulang tahun kala itu. Saat itu Ardi tak paham dengan pemikiran Wondo tentang melanjutkan perjodohan tersebut padahal lelaki itu tahu jika Ardi dan Firman sedang tak baik-baik saja. Tapi Ardi sama sekali tak membantah sama sekal dengan keputusan lelaki yang sudah dianggpnya ayahnya sendiri itu.


Tapi Ardi kelewat batas dan terlalu keras dengan Libra dan terlalu memperlihatkan ketidak sukaannya kepada Virgo. Maka kekacauan itu terjadi.


Ardi mengusap wajahnya dan kembali menarik nafasnya panjang. Sejujurnya dia merasa kasihan kepada Libra karena hukuman yang diberikan terlalu keras. Kesakitan putrinya itu sepertinya sudah menumpuk. Dia memang sekarang sudah bahagia dengan keluarga kecilnya, tapi Ardi juga tahu jika putrinya mengharapkan agar keluarganya kembali bersatu seperti sebelumnya.


Pulang ke rumah, lagi-lagi dia mendapati dua bocah kembar itu ada di ruang keluarga dan asyik main. Celotehan El yang memang cerewet, terdengar di telinganya. Akhir-akhir ini si kembar memang sering sekali datang ke rumahnya karena sudah pasti istrinya lah yang membawanya. Dan dia bahagia akan hal itu.


“Assalamualaikum.” Tak ada Jihan di sana, hanya ada dua bocah cilik itu dan keduanya langsung menjawab meskipun jawabannya tak jelas sama sekali. Ingat! Mereka masih cadel.


“Al, El main apa?” alih-alih duduk di sofa, lelaki itu mendekati kedua cucunya. Al yang sebelumnya antipati dengan dirinya kini sudah mulai membuka hatinya. Meskipun tak seheboh El jika berdekatan dengan Ardi, tapi Al sudah tak lagi menghindar.


“Boneka, Tek.” Katanya dengan senyum mengembang. Ardi memang bisa melihat jika El sedang menggendong boneka kecil dan berpura-pura memberinya makan.


“Kalau, El? Main mobil-mobilan ya?” Ardi mengusap kepala Al dengan lembut. Dari awal dia memang sudah tertarik dengan cucu lelakinya itu. Bukan berarti El tidak menarik perhatiannya, tapi Al sepertinya berada satu tingkat lebih tinggi dibandingkan dengan El. Entah karena apa.


“Iya.” Masih seperti itu saja interaksi antara dua lelaki berbeda usia itu. Ardi menatap kedua bocah itu dalam-dalam dan entah dapat dorongan dari mana, dia mencium pipi Al. Harum minyak telon bercampur parfum bayi masuk ke indra penciumannya. Al tak menolak, dan masih asyik dengan mainannya.


Lagi-lagi aksinya itu membuat jantungnya bergetar. Ada ketenangan dan kebahagiaan yang masuk ke dalam hatinya. Tak terasa bahkan matanya mengembun.


*.*