Blind Love

Blind Love
Kisah 6



Rumah baru itu terlihat ramai sekali sekarang. Rumah tersebut malam ini akan mulai ditinggali oleh pemiliknya. Setelah siang tadi mengundang anak-anak yatim untuk memberikan mereka santunan, giliran teman-teman pemilik rumah yang datang dan meramaikan suasana.


“Kalau modelannya begini, gue juga mau nikah muda.” Komentar Edo melihat betapa apa yang ada di dalam rumah Virgo dan Libra tak terlihat barang murahan sama sekali. Semuanya bermerk dan sudah pasti tak perlu diragukan lagi kwalitasnya.


Virgo dan Libra hanya perlu tinggal di sana tanpa perlu memikirkan harus membeli perabotan, atau kebingungan dan memikirkan bagaimana caranya agar mereka membeli sebuah kasur. Drama seperti itu sama sekali tak ada dalam kehidupan baru pasangan muda tersebut.


Tentu saja itu yang terjadi, bagaimana tidak, isi rumah dan perabotan itu ibu Libra yang membelikan. Memang mereka waktu itu keluar bersama dengan Sintya juga untuk berbelanja perbabotan rumah tangga. Karena tempat tinggal sudah Firman yang membelikannya, maka ibu Libra tak mau ketinggalan. Jadi dia mengatakan kepada Sintya untuk dia yang mengisi rumah tersebut.


Meskipun awalnya Sintya meminta agar dia ikut andil membayar, tapi Jihan menolaknya. Perdebatan kecil sempat terjadi tapi ketika Jihan berhasil meyakinkan Sintya, maka ibu mertua Libra itu menyetujuinya. Kendaraan pun sama, Virgo yang memang sudah memiliki mobil, mendapatkan tambahan satu mobil lagi dari kakeknya sebagai hadiah.


“Kalau gitu lo nikah lah. Udah ada calonnya ini.” Begitu kata Sam.


“Gue boleh aja pasti nikah muda, tapi gue belum sanggup buat biayaain kuliah gue dan kuliah Tere. Belum kebutuhan rumah tangga, belum kebutuhan lainnya. Jangan dulu lah, nunggu sampai aku mapan nggak masalah kan ya, Yang?”


Sorakan itu langsung menggaung di rumah Virgo ditambahi dengan tawa para orang tua. Kakek nenek Virgo, orang tua, dan ibu Libra memang sudah ada di sana. Jangan tanyakan dimana Ardi, karena lelaki satu itu masih hidup dengan keras kepalanya. Aksa dan Love kali ini Alpa karena mempunya urusan lain.


Tere yang mendapatkan pertanyaan seperti itu terkekeh sambil merona pula wajahnya karena merasa malu. Namun tak urung dia menjawab, “Aku siap menunggu kamu, Yang.” Katanya dan lagi-lagi sorakan itu semakin menjadi.


“Kalian ingin pernikahan kalian ini dirahasiakan atau nggak papa kalau anak-anak kampus tahu?” Rion yang bertanya kepada Libra. Lelaki yang awalnya dikira Virgo kekasih Libra itu juga datang. Tentu Libra yang megundangya.


Virgo juga sangat welcome sekali dengan teman-teman Libra. Dia tak perlu lagi cemburu dengan lelaki lain, toh faktanya dia sudah menjadi yang sah bagi Libra.


“Nggak perlu ditutupi. Tapi nggak perlu di umbar juga.” Virgo yang menjawab. Kalau memang mereka bertanya, tinggal bilang aja kalau kami memang sudah menikah, kalau mereka bukan orang yang pengen tahu, ya kalian hanya perlu diam.”


“Semester baru, suami istri baru.” Itu adalah teriakan dari Rai yang membuat semua orang menyumpahi dirinya. Tak urung mendapatkan kekehan juga dari mereka. Libur panjang mereka memang sebentar lagi akan berakhir, dan tugas mereka menjadi mahasiswa tentu saja akan kembali.


Semua orang sudah pulang dan tinggallah pemilik rumah sendiri. Libra sudah berbaring di atas kasur dengan memeluk guling. Virgo sedang mengecek pintu-pintu, gerbang rumah, barangkali ada yang belum terkunci. Sekarang hal seperti itu adalah tugasnya. Firman bahkan sudah memasang CCTV tersembunyi di halaman depan agar jika terjadi sesuatu bisa dilihat dan mudah untuk dipantau.


Barulah setelah memastikan semua pintu terkunci, dia masuk ke dalam kamar. Ikut berbaring di samping Libra yang terlihat sekali kelelahan.


“Ngantuk banget, Yang?” tidur miring agar bisa melihat wajah istrinya.


“He’em.” Mata Libra terbuka sedikit dan bergumam sebagai jawaban.


“Sini!” Virgo menarik tangan Libra agar istrinya itu masuk ke dalam pelukannya. Libra manut dan tidur di lengan kiri Virgo. Sedangkan tangan kanan Virgo digunakan untuk menepuk-nepuk pelan punggung Libra. Malam ini adalah malam kelima mereka menikah, dan tidur seperti ini adalah cara mereka tidur selama lima hari ini.


“Yang! Udah tidur?” Virgo menjauhkan sedikit wajahnya untuk bisa melihat wajah sang istri. Nafas Libra sudah teratur dan itu menandakan jika istrinya sudah terlelap.


Dengan pelan, Virgo melepaskan pelukannya dan turun dari ranjang, sebelumnya menyelimuti tubuh Libra. Mengecup kening perempuan itu kemudian keluar dari kamarnya membawa laptop miliknya.


Virgo memang sedang menyiapkan sesuatu, dan dia tak mau jika istrinya terbangun karena mendengar ketikan keyboard laptopnya. Dia harus bekerja keras mulai sekarang. Memiliki tanggung jawab yang besar tak boleh hanya berdiam diri.


Sudah pukul setengah satu ketika Libra terbangun karena haus. Dia mencari suaminya tak ada di sampingnya karenanya sekalian dia keluar untuk memastikan jika Virgo masih ada di dalam rumah.


Dan benar saja, ketika dia membuka pintu, Libra bisa menangkap sosok yang dicarinya sedang berkonsentrasi penuh dengan kekasih keduanya. Tahu betul jika lelaki itu suka sekali dengan cokelat hangat, maka dia membuatkan secangkir cokelat untuk sang suami.


Meletakkan di meja dan ikut duduk di sofa bersama Virgo. Sengaja tak mengatakan apapun karena terlihat sekali jika lelaki itu sedang konsentrasi penuh.


Kepala Libra di senderkan di kepala sofa, dan pandangannya jatuh pada kode-kode yang memenuhi layar laptop suaminya. Matanya sesekali terpejam karena kantuk itu masih melekat di matanya.


Kecupan di bibir itu diberikan oleh Virgo yang sontak saja membuat Libra membuka matanya. “Kenapa keluar?” tanya Virgo. Lelaki itu meletakkan laptopnya di atas meja dan beralih menatap Libra dengan penuh sayang.


Libra meringsek maju mendekati Virgo dan memeluk perut lelaki itu. Menyenderkan kepalanya di atas dada lelaki itu dan memejamkan matanya tanpa menjawab pertanyaan sang suami. Virgo dengan sigap membalas pelukan itu dengan erat.


“Aku tadi cariin kamu nggak tahunya di sini,” setelah diam akhirnya Libra menjawab.


“Kalau aku di dalam, kamu akan terganggu dengan suara cetak-cetik nggak jelas ini.” Katanya menjelaskan, “Terbangun karena emang cari aku, atau ada hal lain?”


“Haus, tapi sambil cari kamu juga.” Waktu sudah semakin larut, setelah memastikan apa yang dikerjakan olehnya itu tersimpan, maka Virgo mengangkat Libra di dalam gendonganya. Kaki Libra melingkar di pinggang Virgo, wajahnya di tenggelamkan di bahu Virgo sedangkan kedua tangannya dilingkarkan di leher lelaki itu. Virgo berjalan ke kamar untuk segera beristirahat.


Jika dilihat ini benar-benar sepeti bocah saja memang. Tapi siapa yang peduli, toh mereka menikmati saja hal ini.


*.*


Pagi pertama di rumah baru. Tak ada asisten rumah tangga, tak bisa memasak, dan itu adalah perpaduan yang luar biasa. Libra bahkan harus berdiri di depan kulkas untuk melihat apa yang bisa dilakukan dengan isinya.


Sayangnya, tak ada ide sama sekali dengan itu. Maka dia hanya berjongkok dan bertopang dagu sambil berfikir apa yang harus dia lakukan sekarang.


“Aku bingung mau masak apa. Nasinya udah matang, Yang. Tapi nggak tahu lauknya apa.” Terlihat sekali Libra menyerah dengan fikirannya.


“Kalau nasinya ada, kenapa nggak buat nasi goreng? Nasi goreng kamu enak lho, Yang, waktu itu.” Ide Virgo di terima dengan senang hati oleh Libra tanpa bantahan.


“Oke,” cengirnya merasa senang akhirnya kegalauan itu bisa selesai juga.


“Aku akan membereskan rumah.” Inilah saatnya kerja sama yang baik harus terjalin. Jika semua hal harus dikerjakan oleh sang istri, maka Libra pasti akan pingsan lebih dulu karena kelelahan. Selama satu semerter ini dia juga mengerjakan semua sendiri di kosnya, tapi dia hanya perlu membersihkan kamarnya yang tak besar dan juga mencuci baju. Hanya itu saja. Itu pun dilakukan dua hari sehari jika untuk mencuci.


Nasi goreng dua porsi sudah di letakkan di atas meja siap disantap. Virgo sudah menyelesaikan tugasnya membereskan rumah. Lantai sudah disapu dan di pel sampi benar-benar bersih.


“Kayaknya kita nggak perlu mengepel lantai setiap hari deh, Yang.” Keringat Virgo sudah mengucur karena kelelahan. Ini adalah kali pertama dia melakukan pekerjaan rumah, dan dia merasa jika itu berat.


“Paling enggak tiga hari sekali aja lah, Yang.” Libra juga tak ingin suaminya kelelahan karena urusan rumah.


“Ya.” Jawaban persetujuan itu memang benar-benar di berikan oleh Virgo tanpa bantahan sedikitpun. Libra melihat suaminya yang seperti itu merasa kasihan. Jadi dia pun bertekad untuk menjadi istri yang baik bagi Virgo.


“Senin nanti udah mulai kerja ya, Yang?” mereka sudah menyelesaikan makannya. Virgo tak berkomentar banyak tentang makanan yang dibuat oleh Libra. Libra sudah pernah bilang kan, jika makanan buatannya yang paling bisa dimakan adalah nasi goreng.


Dia juga sudah mencatat resep makanan dari ibu mertuanya dan ibunya sendiri. Dia akan mempraktekkan itu siang nanti. Seharusnya ketika dia akan membuat sarapan tadi tak perlu repot-repot memikirkan makanan apa yang akan dia buat, toh semua resep dari masakan sudah dikantonginya.


Itulah yang disebut pemula. Masih sangat amatiran sekali. Makanya kebingungan itu terjadi.


“Iya. Senin adalah hari baru kan? Aku kerja, kita kuliah. Benar-benar akan menjadi hari yang panjang.” Virgo menaikkan kakinya di atas sofa dan saling tindih dengan kaki Libra. Kedua orang itu saling berhadapan dan saling menyangga kepalanya menggunakan tagannya.


“Liburan ini kita sama sekali nggak menikmati liburan ya, Yang. Konflik kita benar-benar tak berujung sepertinya.”


“Memang belum berujung, Yang. Tapi pasti akan segera selesai.” Virgo memang selalu memiliki fikiran yang optimis. Bahkan meskipun selalu mendapat penolakan dari Ardi, dia pun tak merasa ingin mundur dan meninggalkan Libra.


“Maaf, Yang, ayah selalu jahat sama kamu, sama kita.” Katanya dengan nada sendu, “Padahal mama dan papa saja baik banget sama kita.”


“Nggak perlu dipikirkan,” ucap Virgo menenangkan, “Kalau kisah kita nggak ada konflik, maka nggak akan seru. Kita nggak akan punya cerita untuk anak cucu kita nanti.” Ringan Virgo. Jiwa santai lelaki itu sepertinya memang sudah kembali, “Ngomong-ngomong soal anak, kita belum sempat membicarakan masalah ini sebelumnya.” Tambahan kerlingan matanya diberikan kepada istrinya.


Virgo sepertinya sudah mulai ‘nakal’ dengan Libra sekarang. Hei! Kalian tidak berfikir jika dua orang itu belum melakukan malam pertama kan? Tentu saja mereka sudah melakukannya. Karena itu, masalah anak harus segera dibicarakan sekarang.


“Kamu keberatan nggak kalau kamu nggak perlu melakukan progam KB?” Libra tak tahu harus menjawab apa usulan dari Virgo. Dia tak memiliki jawaban atas semua ini.


“Kalau kita nggak ikut program itu, maka cepat atau lambat kita akan mendapatkan malaikat kecil bernama bayi.” Virgo tersenyum ketika membayangkan hal itu. Libra jadi mengingat betapa suaminya itu sangat menyayangi Avez dan juga Ixy. Dia tahu jika Virgo memang suka dengan anak-anak.


Namun kemudian Virgo menambahi, “Aku hanya mengusulkan. Karena semua ini tergantung kamu. Nantinya bukan aku yang akan mengandung buah hati kita, tapi kamu. Kalau kamu memang merasa belum siap untuk memiliki anak, aku nggak akan pernah memaksa. Toh kita masih sangat muda. Masih panjang perjalanan kita untuk itu.” Virgo memang tahu jika dia tidak boleh egois dengan meminta Libra untuk memenuhi keinginannya.


“Kamu suka sekali anak-anak bukan?” tanya Libra hanya untuk memastikan.


“Banget. Kamu tahu keinginanku?” tanyanya dengan binar mata yang begitu terang seolah dia akan menceritakan hal yang begitu mengesankan, “Aku ingin memiliki anak kembar.” Katanya. Tak masalah kalau itu cewek-cewek, atau cowok-cowok, apalagi kalau cewek-cowok, itu lebih membahagiakan lagi.” Libra ikut tersenyum ketika membayangkan dirinya memiliki bayi kembar yang lucu.


“Itu akan melengkapi kebahagiaan kita, Yang.”


“Dan menyempurnakan cinta yang kita miliki.” Itu memang sebuah khayalan. Tapi bukankah akan membahagiakan jika benar-benar terjadi? “Karena aku yakin, anak-anak kita nanti yang akan meluluhkan hati ayah. Beliau bisa membenci kita, tapi dia nggak akan mungkin bisa membenci cucunya.” Entah kenapa Virgo begitu meyakini hal itu.


Memang kebanyakan orang seperti itu. Banyak dari mereka yang membenci menantunya, akan luluh dan menjadi baik jika cucunya sudah lahir. Pesona seorang cucu itu memang tak akan pernah bisa diabaikan begitu saja.


“Kalau mau anak kembar, harusnya keluarga kita ada yang memiliki gen kembar, Yang.”


“Papa kan kembar.” Libra menoleh dengan cepat mendengar itu. Pasalnya, dia belum pernah tahu saudara kembar ayah mertuanya.


“Meninggal waktu masih bayi,” lanjutnya. “Tapi setelahnya nenek nggak punya anak lagi, makanya papa nggak punya saudara.” Jelasnya kepada Libra. Jelas saja Libra baru mendengar masalah ini karena Virgo baru saja menceritakan.


“Tapi nggak papa kan kalau nanti kita punya anak bukan anak kembar?”


“Bukan masalah. Toh semua itu adalah rahasia Tuhan. Itu kan hanya keinginganku, kalau memang Tuhan memberikan yang lain, artinya memang itulah yang baik buat kita.” Virgo menyenderkan tubuhnya di senderan sofa kemudian melanjutkan,


“Tahu nggak, Yang, aku sebenarnya udah capek sekali memikirkan hal yang berat tentang konflik yang terjadi sekarang ini. Hidupku sebelumnya mengalir saja tanpa ada hal yang perlu aku pikirkan lebih-lebih. Namun takdir Tuhan memang tak ada yang bisa menduga. Maka inilah yang terjadi. Hidupku yang awalnya tenang harus terusik karena kamu, sayangnya aku suka-suka saja diusik sama kamu.” Libra hanya terlalu khusuk mendengarkan ucapan Virgo sampai tak tahu apa yang akan dia katakan.


*.*