
Aksa termenung seorang diri di kamar setelah Love keluar dari sana. Dia bukan lelaki yang tak memiliki pertimbangan, tapi baginya, istrinya itu terlalu mengkhawatirkan hal yang tak berdasar. Meskipun bagi seorang perempuan, gossip adalah momok yang menakutkan. Sedangkan bagi kaum lelaki, itu hanya bumbu penyedap bagi kehidupannya. Kurang lebih seperti itulah yang Aksa pikirkan sekarang.
Tak lama berselang, Love kembali ke dalam kamar tanpa menatap ataupun berbicara kepadanya. Perempuan itu naik ke atas ranjang, menarik selimut, kemudian berbaring dan menutup tubuhnya dengan selimut tersebut.
Keheningan itu menyelimuti kamar tersebut. Avez sudah berada di box miliknya dan sudah menyelami alam mimpinya. Jika biasanya sebelum mereka terlelap, selalu saja ada obrolan-obrolan ringan yang mengisi kehangatan
hubungan mereka setelah tak bertemu selama seharian. Tapi sekarang sepertinya tak ada dari kedua orang itu yang ingin memutus keheningan yang mereka ciptakan itu.
Aksa ikut berbaring dengan mata menatap lagnit-langit kamar. Dia memikirkan cara untuk mengakhiri berita buruk yang sekarang ini sedang menimpanya. Dia ingin rumah tangganya kembali seperti semula. Dan perusahaan bisa stabil.
Sesekali menatap punggung istrinya yang dia yakini perempuan itu masih terjaga.
“Apa ini benar-benar berat buat kamu?” suara Aksa memang tak keras, tapi Love pasti akan bisa mendengar dengan jelas.
“Aku memang tak terlalu memikirkan hal ini, tapi aku juga tak hanya diam saja dengan membiarkan perempuan itu berbuat seenaknya dan menghancurkan kita sedikit demi sedikit. Aku sedang mengumpulkan apapun yang bisa membantai dia sampai dia tak berani lagi berurusan dengan kita.” Aksa kini memiringkan tubuhnya dan terus menatap punggung Love. “Bersabarlah, karena kita tak menyerang bukan berarti kita tak memiliki senjata. Justru kita sedang mengasah senjata kita agar lebih tajam dan bisa menumbangkan mereka dalam sekali tebas.” Love sama sekali tak bereaksi namun tangannya mencengkram erat selimut yang menutup sebagian tubuhnya itu.
“Selamat malam, Princess.” Dan perempuan itu mengetatkan rahangnya agar suara tercekat karena tangisnya itu tak terdengar oleh Aksa. Merasakan suaminya mengelus belakang kepalanya, ingin sekali dia berbalik dan memeluk lelaki itu. Tapi dia menahannya.
Pagi kembali datang, aktivitas pagi kembali terulang, dan Love seperti biasa yang selalu menyiapkan dari A sampai Z untuk keperluan sang suami. Mulai dari membuatkan sarapan sampai menyiapkan pakaian kerja Aksa.
Hanya saja, kali ini berbeda, dia tak banyak bicara dan melakukan apapun dengan diam.
‘Datangnya seorang perempuan asing yang di duga adalah selingkuhan Aksa A. Ganendra.’ Itu bukan sebuah judul artikel, tapi sebuah infotainment yang memberitakan di sebuah acara gossip di televise.
Love mendengarkan itu dengan sangat jelas. Tapi dia mengabaikannya dan seolah tak terjadi apapun. Sedangkan sang suami yang sedang berdiri di tengah ruangan, menatap televisi itu dengan datar. Dan dia bisa melihat Windy sedang berjalan dengan santai dari dalam gedung menuju mobilnya.
Love tak mengatakan apapun dan mempersiapkan makanan di atas meja makan.
“Adek kok harum sih.” Aksa menggendong anaknya yang berlari ke arahnya dan mencium bocah itu. “Adek udah mandi?”
“Dah.” Katanya sambil mengalungkan kedua lengannya di leher ayahnya. “Ayah, halum.” Lanjutnya ketika mendongakkan kepalanya setelah menempelkan wajahnya di dada sang ayah.
“Ayah dah mandi?” Aksa terkekeh mendengar pertanyaan itu. Avez memang selalu bisa membuat orang lain terkekeh dengan tingkah polahnya yang lucu.
“Udah dong. Avez mandi sama siapa tadi?”
“Nda.” Jawabnya lagi. Aksa sudah duduk di kursi meja makan dan memangku Avez seperti biasa.
“Ayah, andi sama Nda juja?” Aksa melongo mendengar pertanyaan bocah itu. Benar-benar Avez ini, selalu menanyakan pertanyaan yang sama dengan pertanyaan yang ditanyakan kepadanya.
Aksa lagi-lagi mengulum senyumnya dan mencium pipi bocah itu berulang kali. “Avez ini.” Begitu katanya dengan gemas. Sedangkan Love yang mendengarkan itu tak bereaksi apapun.
Perempuan itu mengambilkan makanan dan meletakkan piring berisi makanan itu ke depan sang suami. “Ayah cepat sarapannya, udah siang.” Katanya untuk mengingatkan, kemudian mengangkat Avez dari pangkuan suaminya dan mendudukkan bocah itu di kursinya sendiri.
“Adek makan ya.” Memberikan piring kecil yang memang piring Avez dan meletakkan di depan bocah itu. Love tersenyum dengan tulus melihat putranya dan menciumnya.
“Sayangku.” Katanya. Membelai pipi Avez dengan sayang. Sedangkan Aksa menatap itu dalam diam. Dia tahu jika istrinya itu sedang memendam perasaan marah dan kalut yang bercampur menjadi satu. Dan perasaan itu
pasti akan meledak kapan saja.
“Aku pergi dulu.” Masih seperti biasa, Love tetap mengantarkan sang suami sampai mobil yang ditumpanginya itu tak terlihat lagi.
“Ya. Hati-hati.” Bahkan Love tak menatap lelaki itu. Berdalih membersihkan wajah Avez karena bekas makan, padahal wajah bocah bersih sama sekali.
“Jadi kenapa kamu bertingkah seperti ini sekarang?” Aksa sepertinya memang tak tahan lagi dengan sikap istrinya. “Dengar, Sayang…”
“Aksa!” bukan hanya Aksa yang menoleh, Love pun langsung terkaget ketika ada ayahnya dan juga David ke sana. Keseriusan pasangan itu, menjadikan mereka tak menyadari jika ada mobil yang masuk ke halaman rumah
mereka.
“Bisa kita bicara sebentar?” Marvel tak santai sekali wajahnya. Baik Aksa dan Love mengangguk menyetujui. Apalagi dengan kedatangan lelaki itu bersama David, membuat Love bingung dengan semua ini.
“Papa tak bisa tinggal diam dengan gossip murahan seperti ini. Papa kemarin diam saja ketika kalian bilang akan menyelesaikan ini sendirian tanpa ada campur tangan kami. Tapi papa nggak bisa.” Marvel langsung
memuntahkan apapun hal yang ingin disampaikan setelah dia duduk di sofa ruang keluarga. “Karena ini bergulir tak kunjung berhenti.” Marvel menarik napas dan menghembuskannya kasar.
“Jadi kalian akan membiarkan ini terus berlanjut atau kalian ingin segera mengakhirinya?” David yang berbicara. Sedangkan baik Aksa maupun Love hanya diam tanpa mengatakan apapun.
“Sebuah masalah datang bukan untuk dibiarkan, Nak.” David melanjutkan. “Karena sekali kalian diam, mereka akan merasa jika kalian membiarkan kalian diinjak-injak.” Baik Marvel maupun David menatap pasangan di depannya menunggu jawaban.
“Aku ingin semua ini cepat selesai.” Love yang menjawab. “Aku udah nggak tahan suamiku menjadi pergunjingan semua orang.” Tapi Aksa berpikir sebaliknya. Itu adalah lanjutan kalimat Love yang disimpannya di dalam hati.
“Apa yang sebenarnya perempuan itu lakukan di kantor kamu, Aksa?” Marvel mulai mengintograsi. “Apa yang dia inginkan? Kalau uang tidak mungkin karena papa sudah menyelidikinya dan dia tak kekurangan uang.”
Aksa dengan tenang menjawab. “Dia mendklarasikan jika dia menyukai saya, Pa.” Rahang Marvel jelas mengetat mendengarkan itu. “Saya tahu masalah ini memang meresahkan keluarga kita, tapi bisakah kalian memepercayai
saya untuk menyelesaikannya sendiri?” ditatapnya ayah mertuanya dan juga David dengan pandangan memohon.
“Jadi kamu akan membiarkan Love terus bersedih karena hal ini begitu?” Marvel tak santai mengatakan itu.
“Kalau Love mempercayai suaminya, dia tak akan bersedih dan membiarkan serta memberi saya waktu untuk menyelesaikannya.” Itu adalah sidiran halus yang diberikan Aksa kepada Love agar perempuan itu mengerti.
“Sebenarnya bagaimana cara berpikir otak kamu itu, Aksa?” mungkin kejengkelan Maevel sudah mencapai puncaknya, sampai dia mengatakan hal yang agak kasar kepada menantunya.
David bahkan menggelengkan kepalanya mendengarkan jawaban Aksa.
Sedangkan Love merasa tertampar karena ucapan suaminya itu. Dia tak berbicara sepatah katapun. Jatungnya seolah diremas oleh mesin yang tak bisa dilihatnya tapi dia bisa merasakan betapa sakitnya itu.
“Saya tak pernah membiarkan orang lain masuk ke dalam hati saya selain, Love, Pa.” Lanjutnya. “Kalau setiap kami memiliki masalah selalu saja mendapatkan bantuan dari para orang tua, lalu kapan kami bisa menyelesaikan masalah yang kami dapat sendiri? Kapan kami pintarnya? Kapan kami dewasanya?” Aksa memang selalu tenang jika menghadapi segala sesuatu.
“Terakhir saya merasakan kalut dalam hidup saya adalah ketika Love tak mau menerima panggilan telpon dari saya beberapa tahun yang lalu. Dan ketika sekarang dia sudah menjadi istri saya, semua hal yang saya hadapi terasa mudah untuk saya lalui, karena istri saya, teman hidup saya mempercayai saya, suaminya.” Aksa diam dan menatap kedua lelaki di depannya yang begitu di hormatinya.
“Saya diam bukan karena saya tak ingin segera menyelesaikan masalah ini, Pa. Karena untuk melompat lebih jauh, kita juga perlu mundur agar jauh terlebih dahulu.” Seperti di setting sedemikian rupa, Marvel dan David menghembuskan napas kasar secara bersamaan. Dan itu membuat Aksa merasa geli sendiri.
“Kalau di keluarga tidak ada yang mempercayai saya dan berniat untuk melakukan penyelesaian di belakang saya, maka saya tidak tahu lagi saya akan melakukan apa setelahnya. Karena itu benar-benar menadakan jika saya memang bukan orang yang dipercayai oleh keluarga saya sendiri.” Itu adalah kalimat terakhir yang diucapkan oleh Aksa kepada ketiga orang yang berada di sana.
*.*
Love masuk ke dalam gedung GN grup dengan ekspresi seperti biasa. Meskipun bisik-bisik itu seperti tawon yang berdengung di telinganya, dia menahan untuk tidak mengeluarkan kata-kata menyakitkan kepada mereka.
Setelah menitipkan Avez ke rumah orang tuanya, dia datang ke kantor suami karena Damar memberi informasi jika perempuan itu kembali lagi ke sana. Dengan berdandan cantik, membulatkan tekat, dia akan menghabisi perempuan itu. Tentunya mungkin dia akan meminta izin terlebih dahulu kepada sang suami.
Membuka ruangan sang suami, jantungnya berdegup kencang karena perempuan itu menggunakan pakaian yang begitu sexy dan duduk di lengan sofa di mana Aksa duduk di sana.
“Waw, ada tamu rupanya.” Begitu awalnya sambil memasang senyum yang luar biasa manis. “Kok tamunya nggak di suruh duduk di sofa aja sih, Yang, sampai duduk di lengan sofa begitu?” Aksa merutuki Damar yang begitu
takluk pada perintah istrinya itu sampai mau-mau saja menjadi mata-mata Love.
Mengikuti acting sang istri, Aksa menyahut. “Mungkin dia merasa sungkan duduk di tempat yang layak, Yang, kan dia tamu tak diundang.” Aksa berdiri dan mencium bibir sang istri dan bermain di sana. Seperti mendapatkan durian runtuh saja lelaki itu, karena beberapa hari ini Love benar-benar menghindarinya.
“Kenapa kamu selalu senikmat ini?” Wajah mereka masih saling berdekatan dan Love kembali mencium bibir lelaki itu.
“Memang begitulah hukumnya, milik sendiri itu lebih nikmat.” Di tolehkannya wajahnya ke arah perempuan itu dan menyeringai. “Ada tamu, Yang. Nggak baik membiarkannya melihat adegan tak senonoh kita.” Love membuktikan kepada perempuan itu jika upayanya untuk meruntuhkan rumah tangganya tak berefek apapaun.
Sedangkan Windy sendiri sepertinya juga tak kalah santainya menanggapi hal itu. “Silahkan duduk, Mbak.” Love yang mempersilahkan dan memberikan ijin perempuan itu.
Mereka duduk berhadapan dengan Aksa dan Love yang duduk di sofa yang sama. “Pertemuan kita kala itu benar-benar tak menyenangkan. Tapi saya tak akan meminta maaf akan hal itu.” Lanjut Love. “Karena itu juga kan,
Mbak bertindak nekat membuat gempar dengan pemberitaan itu?” Bersikap sok polos adalah hal yang akan Love lakukan sekarang.
“Wah-wah, hebat sekali ya anda ini. Mampu membuat orang heboh karena anda. Mungkin saja setelah ini anda akan menjadi perempuan yang paling dicari karena viral.”
Mengedikkan bahunya tak acuh, Windy berucap serius. “Anda tidak takut jika suami anda memiliki hubungan dengan saya?” Nyeri itu benar-benar di rasakah Love sekarang. Perempuan brengsek, begitu kata hatinya.
“Takut?” Love terkekeh dengan santai meskipun sakit hatinya berdenyut. “Saya mempercayai suami saya, Mbak.”
Wajah Love kini menoleh ke arah sang suami. “Sepertinya anda benar-benar sudah hilang kewarasannya.” Aksa berbicara dengan menatap perempuan itu tajam. “Anda masih single dan mengobralkan diri anda kepada lelaki yang sudah beristri? Itu sangat memalukan.” Ekspresi perempuan itu benar-benar tak terima dengan ucapan Aksa.
“Karena bagi saya, mengatakan apa yang kita rasakan bukanlah sebuah dosa.”
“Dosa karena saya sudah memiliki keluarga. Istri dan anak saya lebih berharga dari pada anda yang tidak memiliki nilai sama sekali di mata saya.” Aksa memiliki lidah tajam seperti ayahnya. Dia bisa menggulingkan seseorang dengan ucapannya. Karena itu dia berusaha menahannya agar tidak menyakiti siapapun. sayangnya, perempuan itu terlalu nekat.
“Saya bisa membuat berita itu menjadi lebih heboh lagi asal anda tahu.” Itu adalah peringatan dan senjata yang dimiliki oleh Windy.
“Lakukanlah. Saya memberi izin.” Aksa tak mau kalah dengan perempuan itu. Jika keinginan Windy berperang terlalu kuat, dia akan meladeni.
“Berita kehamilan saya, akan membuat image anda sangat buruk, Tuan.”
“Kurang ajar.” Love berdiri untuk menjambak rambut perempuan itu namun sanggup dicegah oleh Aksa.
“Jangan mengotori tangan kamu dengan menyentuh perempuan itu.” Begitu katanya.
Dan sepertinya, Windy terlalu cerdik membaca situasi. Dengan menyeringai, dia melemparkan dirinya ke meja kerja Aksa untuk mendapatkan luka. Bahkan dia rela membuat memar bibirnya agar terlihat meyakinkan. Meskipun dia
mendesis kesakitan.
“Terima kasih sudah memberikan saya ide untuk membuat semua ini semakin meyakinkan.” Setelah mengatakan itu, dia pergi begitu saja meninggalkan kekesalah untuk Love. Love bahkan meronta dari pelukan Aksa sambil
menyumpahi perempuan tersebut.
“Aku beneran akan bunuh kamu. Awas aja kamu.” Dan kalimat-kalimat lain untuk mengeluarkan kekesalannya.
*.*