
Virgo berjalan dengan santai masuk menuju kelasnya setelah memarkir motor miliknya. Sapaan-sapaan dia dapatkan dari teman-teman sekolahnya, entah adik tingkatnya maupun satu angkatan dengannya.
“Vir!” Yana datang dan berjalan di dekat Virgo dengan santainya. “Kok sendirian? Yang lain mana?” Virgo menatap depan sambil berjalan.
“Belum datang. Gue kepagian juga kayaknya.” Yana melihat jam di pergelangan tangannya, kemudian berkomentar.
“Udah jam 07.10, udah siang lho ini.”
Virgo mengedikkan bahunya tak acuh, “Suka-suka mereka.” Jawabnya santai tanpa beban. Dia juga biasanya tak kalah santainya dengan teman-temannya, namun akhir-akhir ini dia berusaha menjadi murid yang patuh.
“Vir!” Bahkan mereka masih berjalan berbarengan, tapi panggilan itu Kembali dilayangkan kepada Yana, “Gue denger, lo udah putus sama Libra?” nada suaranya memang sangat berhati-hati Ketika mengatakan masalah itu, sayangnya Virgo tahu ada nada suka di dalamnya.
“Begitulah.” Tak ada lagi yang perlu ditutupi dari semua ini.
Tak ada yang dikatakan oleh Yana setelahnya, namun ada ekspresi senang yang benar-benar melekat di wajahnya seolah itu adalah berita yang sangat bagus. Bahkan senyumnya tak repot-repot dia tutupi.
“Gue ke kelas dulu.” Seperti biasa, Virgo tersenyum untuk gadis itu. Sedangkan Yana mengangguk dengan perasaan yang terlihat bahagia dari raut mukanya.
“Gue juga harus masuk ke kelas.” Katanya, bahkan Virgo sudah melangkah ke dalam kelas, Virgo yang mendengar itu berbalik sedikit dan mengangguk.
Duduk di bangkunya dan mengotak-atik ponsel miliknya. Teman-temannya memang benar-benar belum ada yang masuk ke kelas entah kemana perginya. Sam, Edo, Baro, Rai, sepertinya memang akan terlambat.
Tapi tidak, karena setelah dua menit kemudian, mereka datang dan berjalan Panjang-panjang untuk mendekat ke arah Virgo. “Vir!” Sam lebih dulu berbicara, “Libra kayaknya sakit parah.” Pergerakan jari Virgo terhenti mendengar itu. Namun sayangnya dia tak mengatakan apapun.
“Gue dapat info dari Riska, katanya dia kena lambung dan darah rendah.” Kemudian dia menceritakan kejadian yang terjadi Ketika Libra pingsan di sekolahnya. Tentu saja itu juga informasi yang di dapat Sam dari Riska.
Virgo menghela napas. Menatap Sam yang ada di sebelahnya dengan memikirkan kalimat apa yang akan dia sampaikan tentang masalah ini. “Gue tahu mungkin kali ini lo akan bilang apa yang gue lakuin kali ini adalah sebuah keegoisan,” Virgo masih memikirkan lagi untuk melanjutkan ucapannya supaya dia taka salah bicara, “Tapi gue nggak tahu apa yang harus gue lakukan sekarang. Gue nggak bisa kalau mengatasnamakan kalau gue peduli sama dia tapi justru menyakiti dia.”
“Tapi dengan lo melakukan ini adalah salah satu hal yang menyakiti dia,” Baro berbicara serius, “Kita semua tahu kalau elo tak kalah sakit hatinya dengan Libra, maka cobalah untuk mencari cara untuk memperbaikinya.” Semua teman Virgo memang mencoba untuk mengingatkan lelaki itu agar tak bersikap egois.
“Kalian emang sahabat terbaik gue,” Virgo tersenyum tipis, “Kalian nggak mau gue nyesel,” Anggukan itu diberikan kepada Virgo, “Tapi kali ini gue nggak mau berbuat nekat. Gue sayang dia dan dia pun tahu dengan itu. Bukan gue nyerah, tapi ini adalah sesuatu yang nggak bisa gue rubah aturan mainnya.”
“Vir!” Virgo menggeleng. “Kita nggak perlu lagi bahas masalah ini.” Virgo tak main-main dan kalimat itu dikatakan dengan keseriusan yang luar biasa.
Membuat teman-temannya hanya menghela nafas pelan dan tak lagi membantah.
*.*
Libra memejamkan matanya akibat ulu hatinya yang terasa sakit. Tangisnya itu pecah Ketika rasa sakitnya tak lagi dibendung. Memang, dia sudah berada di rumah sakit, sudah ditangani oleh dokter dengan pengobatan. Tapi percayalah, jika sakit itu Kembali, rasanya serasa ingin dia mati saja.
“Sayang, ada temen-teman kamu datang.” Ibu Libra mendekat ke ranjang Libra dengan diikuti oleh teman-temannya. Sekilas, dia bisa melihat Sam dan teman-teman lelaki itu. Tiba-tiba jantungnya bertalu Ketika dia memikirkan kemungkinan jika Virgo juga ada di sana.
Sontak saja rasa nyeri itu Kembali lagi di dalam perutnya. “Sakit, Ma.” Memegang perutnya dengan deraian air mata membuat sang ibu panik.
“Dokter, Suster, tolong cepat!” Perempuan itu memencet tombol untuk memanggil dokter agar putrinya segera mendapatkan obatnya Kembali.
Tak lama setelah itu, seorang dokter masuk ke kamar inap Libra dan mengecek keadaan gadis itu. Teman-teman gadis itu saling menggenggam tangan satu sama lain karena melihat bagaimana Libra merasakan kesakitan.
“Buburnya nggak dimakan?” Ibu Libra melihat ke arah nakas dan benar, bubur di piring belum tersentuh sama sekali.
“Kamu bilang tadi mama nggak perlu suapin kamu, kamu mau makan sendiri, kenapa masih utuh, Libra?” Ibu Libra memang tadi meninggalkan putrinya sebentar untuk membeli sesuatu. Libra pun tadi juga mengatakan jika bubur itu akan habis Ketika ibunya Kembali ke kamarnya. Nyatanya nihil. Libra tak menyentuh sedikitpun bubur tersebut.
“Libra, kalau kamu cuma andelin obat dari kami, itu akan berbahaya. Perut kamu harus diisi, dan itu pun belum boleh nasi, harus makanan yang halus.” Dokter mengatakan itu setelah memberikan obat dengan menyuntikkan ke dalam infusnya.
Libra sudah mulai tenang meskipun perutnya masih terasa sakit, hanya saja dia sudah tak terlalu sakit seperti tadi. Libra hanya memeluk selimutnya seolah tak menghiraukan dokter tersebut.
Dokter tersebut meninggalkan kamar Libra dan menyisakan orang-orang di sana dengan keheningan.
“Tolong, Nak, kamu harus melakukan apa yang dikatakan oleh dokter ya, mama nggak mau kamu sakit terus. Mama nggak mau.” Perempuan itu meneteskan air matanya. Membuat teman-teman Libra merasa ikut sedih melihatnya.
Riska mendekati Libra. “Li!” Panggilnya, “Lo makan ya, biar gue yang suapin.” Riska mencoba membujuk temannya itu, “Kita sebentar lagi akan ujian, lo harus sehat biar bisa ngelanjutin belajar lo.” Libra hanya berkedip pelan dan tak merespon ucapan Riska.
Libra terlihat kurus dengan wajah yang pucat.
Kini Sam ikut mendekat. “Lo kenapa kaya nggak punya semangat hidup, Li? Karena Virgo?” Tadinya matanya memejam sekarang terbuka karena mendengar ucapan Sam. Sam menatap Riska dan mengangguk seolah memberi kode.
“Dia bukan orang yang pantas untuk ditangisi,” Lanjutnya. “Lo harus sembuh dan sehat, cari cowok yang lebih baik dari Virgo. Biarin dia nyesel karena udah ninggalin elo.” Itu hanya sebuah kata untuk membuat Libra bangkit, sayangnya gadis itu justru mengeluarkan air matanya.
Ule yang melihat itu mengedipkan matanya ke arah Sam. Dan yang dilakukan Sam hanyalah berusaha tenang sambil meneguk ludahnya.
“Dia bukan orang yang bersalah,” jawabnya, “Dia lelaki yang baik.” Namun, setelahnya matanya memejam dan kesadarannya hilang efek dari obat yang diberikan kepadanya.
“Udah tidur,” Ibu Libra yang mengatakan itu, “Terima kasih, Nak, kalian sudah meluangkan waktu kalian dengan menjenguk Libra.” Lanjutnya dan meminta agar teman-teman putrinya itu bisa duduk di sofa kamar tersebut.
“Sudah berapa lama mereka berpacaran?” pertanyaan ibu Libra membuat semua orang saling memandang satu sama lain. Mereka tak ingin salah berbicara dan mengakibatkan semuanya menjadi berantakan. Hubungan Libra dan Virgo kali ini sudah berantakan, dan jangan sampai mereka menjadikan lebih berantakan lagi.
“Tante menyetujui kalau misalnya Libra sama Virgo?” Ule bertanya karena teman-temannya hanya diam saja.
“Apapun demi kebahagian putri tante,” katanya dengan tegas tanpa keraguan. “Jadi tolong agar kalian bisa menceritakan kisah Libra dan Virgo.”
Mereka tak tahu akan mulai dari mana. Namun Ule segera mengatakan apapun yang dia ketahui. Bahkan sebelum ‘berunding’ terlebih dahulu dengan teman-temannya. Apa yang dia tahu dan pahami tentang hubungan Libra dengan Virgo dia ceritakan kepada ibu Libra.
“Saya tahu kami sama sekali nggak pantas mencampuri urusan Libra terlalu dalam, Tante, tapi kami juga nggak akan tega melihat sahabat kami menderita seperti itu.” Tangis ibu Libra Kembali tak bisa terbendung. Beliau tergugu di depan teman-teman putrinya.
“Bukan hanya Virgo yang suka berbuat ulah, Tan, kami juga melakukannya,” kini giliran Rai yang berbicara. “Jika Virgo berbuat ulah, pasti akan ada kami juga di belakangnya. Tapi bukan berarti kami sama sekali nggak peduli dengan sekolah, Tante. Kami juga belajar meskipun sebentar.”
“Virgo, dia juga bukan orang yang mengingkari apa yang sudah di katakan,” giliran Sam yang berbicara. “Dia sudah mengatakan kepada Om jika waktu itu adalah terakhir kalinya dia bertemu dengan Libra, jadi meskipun saya mencoba untuk meminta dia menjenguk Libra, dia nggak akan mau.” Ibu Libra tertegun dan tak bisa mengatakan apapun lagi.
“Jadi, sekarang ini kita hanya perlu menghibur Libra agar dia nggak terus bersedih. Dia memang nggak bilang tentang kesedihannya,tapi kami tahu jika hatinya sakit sekali, Tante.” Riska meneruskan dan memberi saran.
“Maaf kalau kami banyak bicara, Tan, tapi memang seperti itulah yang terjadi antara Libra dan Virgo.” Ersya ikut nimbrung.
*.*
Setelah kepulangan teman-teman putrinya, ibu Libra duduk di kursi dekat dengan ranjang inap sambil menatap Libra dengan penuh sayang. Libra masih tidur dengan lelap.
“Gimana keadaannya?” Pulang kerja, Ardi tak pulang lebih dulu ke rumah dan memilih langsung ke rumah sakit. Istrinya tak menjawab dan mengabaikan saja lelaki itu.
“Kita perlu bicara,” tanggapnya kemudian berdiri dan memberi isyarat kepada suaminya untuk mengikutinya. Ruang VIP itu memang luas. Jadi agar suara pembicaraan mereka tak terdengar oleh Libra, maka mereka menyingkir di sudut ruangan namun masih di dalam ruangan tersebut.
“Kenapa? Ada masalah dengan Libra?” tanya Ardi.
“Aku mau tanya sesuatu dan aku berharap kamu bisa menjawabnya dengan jujur.”
Ardi diam tanpa mengatakan apapun kepada istrinya. Dia hanya menatap saja ibu dari anaknya itu dengan kernyitan dahi.
“Kenapa kamu nggak suka sama Virgo?” tanpa ada hal yang perlu lagi di tunda, karena itu ibu Libra langsung mengatakan keganjalan di dalam hatinya.
“Nggak ada alasan untuk tidak menyukai seseorang.” Jawabnya dengan pasti.
“Jadi kamu harus bersikap egois dan membuat anakmu sekarang menderita?” Ardi mengernyit dengan tatapan datar karena tidak suka dengan apa yang dikatakan oleh istrinya.
“Aku menyayangi Libra, karena itu aku ingin yang terbaik untuk dirinya.”
“Dari mana kamu tahu kalau apa yang kamu lakukan sampai membuat putrimu sakit itu adalah Tindakan untuk sesuatu yang terbaik bagi Libra?” air mata perempuan itu menetes, “Mereka saling mencintai, dan tak seharusnya kamu menghalangi.”
“Virgo baik, tapi tak sebaik untuk menjadi kekasih Libra.” Jawaban lelaki itu tegas.
“Jadi lelaki seperti apa pilihanmu? Bagaimana kalau Libra tidak bahagia dengan pilihanmu, kamu mau memaksa dia? Dia masih remaja, dan pilahmu tidaklah penting. Toh dia juga nggak akan nikah sekarang.” Kemudian perempuan itu meninggalkan suami berdiri di sana dalam diam.
Libra bangun. Matanya mengedip pelan karena cahaya lampu yang silau. “Udah bangun?” ibunya tersenyum dan mengelus kepala Libra dengan sayang. “Makan ya, Sayang. Isi perut kamu biar cepat sembuh,” katanya masih sabar membujuk putrinya. “Kalau bukan demi orang lain, sehatlah demi diri kamu sendiri, hem.” Lanjutnya.
Gadis itu kemudian bangun dan duduk di atas ranjang meskipun rasanya dia masih tak terlalu kuat. Mengambil bubur di atas nakas, bubur itu sudah diganti dengan yang baru karena memang sudah waktunya makan malam Ketika dia bangun.
“Mama suapin?” tawaran itu dijawab gelengan oleh Libra. Dan melanjutkan makanannya meskipun rasa mual itu seketika terasa mengaduk perutnya.
Tanggap dengan keadaan, ibunya mengambil tempat agar Libra bisa memuntahkan apa yang ingin dikeluarkan oleh perutnya. “Nggak papa mereka keluar lagi, yang penting kamu mau makan lama-lama mualnya akan hilang, kata dokter gitu,” ibu Libra memberi tahu tentang apa yang dikatakan oleh dokter kepadanya.
Libra mengangguk dan melanjutkan makannya meskipun rasa muntah yang baru saja dia keluarkan masih terasa di dalam mulutnya. Dia tak boleh memikirkan apapun, dia tak boleh stress karena itu juga akan berdampak pada lambungnya.
“Udah.” Katanya dengan meletakkan piring tersebut ke atas nakas Kembali. Ibu Libra langsung membantu putrinya itu untuk berbaring Kembali dan menyelimuti gadis itu. Menggenggam tangan Libra dan menatap putrinya dengan sayang.
“Libra harus sehat, Libra harus kuat,” katanya. “Jadikan semua hal menjadi beban, kamu harus kuat meskipun tempaan dalam hidup begitu berat, artinya Tuhan sayang kita.”
Libra sambil memejamkan matanya mendengarkan apapun yang dikatakan oleh ibunya. Ingin dia Kembali menangis tapi ditahannya mati-matian.
Berbeda dengan Libra yang sedang berusaha untuk sembuh, Virgo sedang di tatar oleh teman-temannya. Bukan hanya ganknya saja yang menggerebek rumahnya, tapi juga teman-teman Libra.
“Lo nggak kasihan sama dia, Vir?” begitu tanya Ule, “Dia itu kurus kan sekarang?” pelakunya adalah Baro. Dalam diam merekam Ketika Libra kesakitan tadi dan menunjukkannya kepada Virgo.
“Dia nggak mau makan, gue nggak tahu sampai kapan dia akan seprerti ini.” Riska yang mengungkapkan kesedihaannya melihat sahabatnya seperti itu.
“Kalau lo mau, kita bisa cari cara agar lo bisa bertemu sama dia tanpa sepengetahuan ayahnya.” Virgo masih memegang ponsel Baro dan melihat video itu dengan ekspresi datarnya. Namun siapapun bisa melihat jika ekspresi itu menyimpan kesedihan yang luar biasa.
*.*