
Entah kebetulan dari mana, tapi setelah anak-anak mereka, maksudnya Avez dan Ixy akan dijemput sekolah oleh nenek mereka, Love langsung membawa mobil untuk pergi ke kantor sang suami. Berpakaian seadanya, dia memang tak bermaksud untuk mempesona orang lain. Baginya, memakai pakaian yang sopan lebih penting. Apalagi kalau di kantor seperti ini kan, kalau dia tidak memakai pakaian sopan, bisa diamuk suami tercintanya dia.
Dan selalu menjadi pusat perhatian, itulah ketika Love berada di kantor Aksa. Apalagi dia datang ketika jam makan siang seperti ini, orang-orang kantor yang melihat dirinya langsung tersenyum dan mengangguk sopan.
Namun sayangnya, ketika dia akan masuk ke dalam lift, Aksa keluar dari lift dan berekspresi kaget. “Yang?” Masih tak menyangka mungkin jika istrinya benar-benar ada di depannya. Bahkan Aksa melihat ke sekeliling istrinya mencari dua ‘buntut’ milikinya. Dan, tak ada.
“Sendirian?” Mereka masih di depan lift tapi agak jauh agar tak menghalangi orang yang akan lewat.
“Iya. Anak-anak katanya mau dijemput bunda, mau diajak jalan-jalan.” Aksa menggandeng tangan Love dan mengajaknya berjalan.
“Aku mau keluar sebenernya. Sekalian makan, sekalian mau ketemu klien. Mau ikut?” Pertanyaan itu seharusnya tak perlu lagi dilontarkan, karena tentu saja Love akan mengiyakan penawaran itu.
“Nggak sama Damar?”
“Dia ke toilet dulu.” Karena itu Aksa lebih dulu turun dan sekarang menunggu Damar keluar dari tempat ‘meditasinya’ itu. Namun entah apa saja yang dilakukan di toilet, karena lelaki itu tak juga kunjung keluar dari sana.
“Duduk dulu?” Aksa mengedikkan kepalanya ke arah sofa di lobi kantornya yang memang untuk para tamu. “Kamu nanti kecapean, suka sekali pakai high heels.” Bukannya Aksa tak suka jika istrinya itu memakai sepatu bertumit runcing, hanya saja dia pernah mengatakan jika dia ngeri melihat sepatu seperti itu. Membayangkan bagaimana seandainya kalau kakinya tiba-tiba tersandung yang jelas pasti akan sakit sekali.
“Sindirannya luar biasa sekali loh, Yang.” Tak lupa putaran bola matanya diberikan oleh perempuan itu. Dan menimbulkan tawa bagi Aksa. Dan itu sungguh luar biasa bagi orang yang melihat. Karena tawa Aksa tak pernah sekalipun menguar sampai seperti itu di kantor, dan entah apa yang dilakukan oleh Love sampai bos mereka itu bisa menunjukkan sisi lain dari lelaki itu.
“Eh, Pak.” Seorang karyawan berdiri ketika Aksa dan Love akan duduk di sofa lobi. Entah apa yang karyawan itu urus, karena seharusnya mereka yang sudah istirahat tapi dia masih melanjutkan pekerjaannya.
“Duduk, Princess.” Beginilah jika Aksa selalu sesuka hatinya. Panggilan yang diberikan kepada istrinya ini entah berapa biji, dan ketika panggilan masa lalu itu keluar di depan karyawannya, maka yang terjadi adalah orang yang mendengar panggilan itu ikut memerah wajahnya.
“Kamu juga, lanjutkan saja pekerjaan kamu. Harusnya ini sudah jam makan siang kan?” Itu ditujukan buat karyawannya.
“Iya pak, nanggung. Biar cepat selesai juga.” Jawabnya dengan sopan.
“Oke.” Katanya mengangguk-angguk mengerti. Kemudian mengotak atik ponsel miliknya. Dia ingin menghubungi Damar yang entah kemana manusia satu itu sejak tadi tak mucul juga. Tangan kanannya sibuk dengan ponselnya, tangan kirinya sibuk saling bermain dengan tangan Love. Reaksi yang ditunjukkan oleh karyawan yang masih berada di depannya itu sungguh berlebihan.
Mereka ada tiga orang, dan semua perempuan. Jadi dari sisi mana mereka tak ikut merona melihat perlakuan bosnya yang luar biasa tampan nan berwibawa itu memperlakukan istrinya super manis seperti itu. Mungkin saja mereka juga menginginkan lelaki seperti Aksa ini kan?
“Pergi aja ke klinik, biar cepet di periksa.” Panggilan telpon sudah diangkat oleh Damar, dan sepertinya memang bermasalah dengan lelaki satu itu. “Oke.” Panggilan diakhiri dan Aksa menghela napas sebelum menatap Love dan mengatakan sesuatu.
“Damar perutnya bermasalah. Berkas akan sampai sebentar lagi.” Hanya untuk laporan saja agar istrinya itu tak mrepet.
“Mau kugantikan Damar?” Tantangnya. “Aku akan menjadi skertaris yang luar biasa.” Itu bukan hanya bualan saja, karena Love tentu mampu melakukannya.
“Yakin?” Ekspresi tak yakin Aksa membuat Love kembali memutar bola matanya. Dan lagi-lagi membuat Aksa terkekeh dan nyengir di depan istrinya itu. “Ayah bisa melakukannya sendiri kok, Bunda duduk manis saja nanti ya.” Itu adalah bujukan agar sang istri tak merasa diejek.
“Terserah lah.” Putus Love, mereka tak akan berdebat di sini kan pasti. Malu. Kemudian tak ada lagi yang berbicara. Love menopang dagunya dengan tangannya, sedangkan Aksa masih dengan ponselnya.
“Lama loh, Yang.” Keluh Love sambil menyenderkan punggungnya. “Separah itu ya mulesnya si Damar?”
“Mungkin, padahal pagi tadi aja kayaknya belum deh.”
“Jadi meetingnya jam berapa?”
“Jam dua nanti. Kan tadinya mau makan siang sekalian lanjut meeting, tapi buyar semua mau gimana lagi. Kamu udah lapar?” Love beripikir sambil menatap suaminya. Keningnya mengkerut seoalah memikirkan calon penghuni perutnya adalah soal yang sangat sulit.
Dan endingnya pun dia bertanya. “Apa ya, Yang? Aku juga bingung.” Kini giliran Aksa yang memutar bola matanya.
“Ku gigit juga kamu.” Suara itu seharusnya tak keras, namun ada orang yang ikut baper dengan hal itu.
“Aku juga bisa gigit kamu balik kok.” Wajah Love yang menantang itulah yang membuat Aksa gemas setengah mati. Karena tak ingin aksinya dilihat oleh orang lain, maka yang Aksa lakukan adalah berdiri.
“Ayo jalan.” Begitu katanya dengan santai. “Orangnya udah datang itu.” Yang dimaksud oleh Aksa adalah orang yang ditugaskan untuk mengantarkan sebuah dokumen kepada dirinya.
“Maaf, Pak lama. Pak Damar perutnya sepertinya nggak bisa diajak kompromi.” Karena tak mau disalahkan, maka lelaki itu mengatakan hal demikian.
“Nggak papa. Terima kasih.” Katanya setelah menerima dokumen yang dibutuhkannya itu. Love mengambil dokumen itu dari tangan Aksa.
“Aku akan jadi sekertaris Ayah.” Sepertinya Love benar-benar serius dengan ucapannya tadi. “Pakaianku udah cocok kan jadi seorang sekertaris?” Ditegakkan tubuhnya sambil merentangkan sedikit tangannya agar sang suami bisa menilai.
Aksa bersidekap. “Cantik. Cantik sekali. Untuk kali ini kamu aku ijinkan bekerja. Tidak untuk lain kali. Deal?”
“Deal.” Love menyodorkan untuk berjabat tangan. Diambilnya tanyan Love, kemudian dikecupnya oleh Aksa. “My lovely sekretaris.” Katanya sambil menyeringai. “Kaya buku bacaanmu ya, Yang. Menye-menye.” Mereka sambil berlalu dari sana ketika Aksa mengatakan itu. Membuat Love berdecak dan mencubit pinggang suaminya.
“Bacaan menye-menye gitu juga pakai mikir loh, Yang buatnya.” Aksa terkekeh mendengar sanggahan yang diberikan oleh istrinya. Meskipun bacaan itu sering mendapatkan celaan dari seorang Love, tapi perempuan itu terkadang masih tetap melanjutkan bacaan online yang sudah masuk ke dalam librarynya itu. Dan lagi-lagi reaksi ketiga karyawannya itu sungguh benar-benar belebihan. Mereka heboh sendiri dan meremas tangannya, gemas melihat dua orang tadi.
*.*
“Selamat siang, Pak Rudi.” Kemudian mereka duduk bersama dan mulai acara meetingnya. Dan Love benar-benar berperan sebagai sekertaris sungguhan. Dia mencatat apapun yang menurutnya penting, dan melakukan hal lain seperti dia adalah sudah professional di dalam pekerjaan ini.
“Sekertaris anda sangat cekatan, Pak Aksa.” Itu adalah tanggapan Pak Rudi ketika melihat betapa Love benar-benar total sekali dalam berperan menjadi sekertaris suaminya. Rekan kerja Aksa itu memang tak tahu jika Love ini sebenarnya adalah istri dari Aksa itu sendiri, karena memang mereka baru pertama kalin ini bekerja sama.
“Terim kasih.” Aksa pun juga berperan mengikuti ‘drama’ yang dimainkan sekarang bersama sang istri. “Saya memang beruntung.” Arti dari perkataan Aksa memang ambigu sekali, tapi Rudi jelas sama sekali tak paham maksud sesungguhnya yang dikatakan oleh Aksa.
“Saya, Rudi.” Di awal pertemuan tadi, mereka sudah saling memperkenalkan diri, tapi entah kenapa adegan tersebut terulang kembali.
Meskipun dengan perasaan tak nyaman, Love tetap menerima sodoran tangan dari Rudi atas nama kesopanan. “Saya Love. Tapi, Pak. Kitta tadi sudah saling berkenalan.” Meskipun Love mengatakan itu menggunakan senyum, tapi ada rasa jengkel di dalam hatinya.
“Bukan masalah.” Begitu jawabnya dengan santai sekali. “Tadi itu kita bekenalan karena kita akan menjadi partner kerja. Tapi perkenalan kedua ini adalah untuk menjadi teman.” Blak-blakan sekali Rudi mengatakan itu.
“Terima kasih sudah mau menawarkan menjadi teman Bapak.” Aksa yang melihat itu hanya bereaksi biasa saja. Apa salahnya memiliki banyak teman kan?
“Sama-sama. Sepertinya anda adalah orang yang menarik. Dan saya juga suka dengan orang-orang yang cerdas seperti anda ini.” Kalimat itu entah apa maksudnya, entah sebagai pujian yang tulus atau sebuah godaan.
“Mungkin orang akan menilai saya seperti yang Bapak katakan tadi ke saya, tapi saya sama sekali tidak pernah merasa seperti itu.” Love itu belut, dia bisa mengikuti bagaimana permainan yang akan dimainkan oleh lawannya. Dia pun tidak akan membiarkan saja Rudi berbuat semaunya tanpa perlawanan dari dirinya.
Rudi tersenyum dengan jawaban yang diberikan oleh Love untuknya. “Ya, Karena kita tidak bisa menilai dirinya sendiri.” Begitu kata Rudi sambil tersenyum.
Rudi bahkan kali ini mengabaikan Aksa yang berada di sana. Namun Aksa sama sekali tak ingin menghalau Rudi akan tindakannya kali ini. Dia tahu, Love pasti akan membungkam mulut lelaki itu nanti jika sudah waktunya.
“Jadi, sudah berapa lama Love bekerja bersama pak Aksa?” itu adalah pancingan agar mereka bisa berada di sana lebih lama lagi.
“Belum lama, Pak.” Love masih bersikap sopan seolah dia sama sekali tak merasakan sebal di dalam hatinya. Padahal, dia ingin sekali mendengus keras di depan lelaki itu dan mengatakan jika dia muak dengan wajah sok tampannya itu.
“Saya rasa saya akan sepakat dengan penawaran yang bapak berikan kepada saya.” Kini Rudi beralih menatap Aksa. Saya kira, kerja sama ini akan berjalan dengan baik.” Lanjutannya itu sambil melirik ke arah Love.
“Saya senang mendengarnya, Pak. Saya harap kerja sama ini akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa.” Aksa menjawab santai. “Kalau begitu saya pamit dulu.” Love sudah membereskan berkas-berkas yang berada di meja dan melatakkan di dalam satu map yang dibawanya tadi.
“Boleh saya meminta kontak Love untuk memudahkan kami berkomunikasi masalah pekerjaan ini?” Rudi memang sepertinya tidak ingin menyerah.
“Boleh, Pak.” Kali ini Aksa bereaksi. ‘Apa-apaan ini?’ begitulah kira-kira. Mengotak-atik sebentar ponselnya, kemudian mendikte nomor kepada Rudi. Mendengar nomor yang disebutkan bukanlah nomor Love, Aksa kemudian paham.
Rudi yang melakukan panggilan ke nomor tersebut mengernyit heran ketika ponsel Love tak bereaksi apapun. “Love pegang dua HP?” Rudi menyuarakan keheranannya.
“Tidak, Pak. Itu memang bukan nomor saya. Bapak boleh menghubungi nomor tersebut untuk membicarakan masalah pekerjaan.” Mati kutu sebetulnya Rudi ini, tapi dia menolak untuk menyerah. Lelaki itu bahkan tertawa melihat Love ternyata ‘mengerjainya’.
“Anda benar-benar luar biasa.” Begitu pujinya kepada peremuan itu. “Baiklah, saya akan menyimpan nomor ini juga. Siapa nama pemilik nomor ini?”
“Damar. Sekertaris Pak Aksa.”
“Jadi sebenarnya ada berapa sekertaris Bapak?” Mungkin Rudi tak ingin semakin terombang ambing dengan situasi seperti ini. Karena itu dia bertanya.
“Satu saja, Pak. Itu saja sudah lebih dari cukup untuk saya.” Kalem Aksa menjawab. Keterdiaman Aksa sejak tadi memang sedang mengamati situasi. Kalau memang sudah keterlaluan dan dia perlu turun tangan, dia akan melakukannya dengan senang hati. Karena istrinya sudah lebih dari cukup untuk menghadapi seorang Rudi, maka dia hanya perlu diam saja.
“Bukannya Love ini sekertaris Bapak?”
“Iya, untuk hari ini karena memang sekertaris saya sedang sakit, jadi Love yang menggantikannya.”
“Oke.” Putus Rudi paham. Dengan begitu, Aksa dan Love kemudian pamit kepada lelaki itu.
“Saya permisi dulu, Pak.” Aksa yang mengatakan itu dan mendapatkan anggukan dari Rudi. “Semoga kerja sama ini akan lancar.” Mereka saling berjabat tangan menandakan jika pertemuan itu memang akan berakhir.
Dan tentu saja tak menunggu lebih lama lagi untuk Aksa dan Love meniggalkan meja yang tadi digunakan oleh mereka meeting. Apalagi Love rasanya sudah sebal setengah mati kepada lelaki itu. Bahkan ketika sampai di dalam mobil pun dia duduk dengan kasar sambil menirukan cara berbicara Rudi.
“Untung kamu nggak kerja, Yang.” Itu adalah reaksi Aksa setelah mereka sudah sama-sama berada di dalam mobil. “Kalau kamu kerja, aku mungkin yang akan kalang kabut Karena para lelaki di luar sana.” Aksa cemburu sebetulnya, Love paham akan hal itu.
“Kan nggak semua lelaki seperti itu, Yang. Rudi aja tuh yang sok kecakepan.” Tanggapan Love. “Dia kayaknya masih single deh, Yang.”
“Emang kenapa kalau masih single?” Sepertinya Aksa sedang sensitif sekarang.
“Nggak ada.” Hanya begitu saja jawaban Love, karena merasa kalau Aksa mungkin akan uring-uringan kalau dia sampai salah bicara.
Sisa perjalanan, mereka berusaha melupakan apa yang terjadi barusan. Kembali ke kantor, Love pun ikut serta ke sana. Karena memang rencananya Love ingin berduaan dengan sang suami, maka dia akan merealisakannya mumpung kesempatan itu ada.
Masuk ke dalam gedung kantornya, Love masih berperan sebagai sekertaris yang baik dengan berjalan di belakang Aksa. Bahkan Aksa langsung menarik tangan istrinya itu untuk bisa berjalan di sampingnya. Menggenggam tangan perempuan itu, dan mengabaikan pandangan orang-orang akan apa yang dilakukan sekarang.
*.*