
Semalam aku bermimpi buruk. Dalam mimpi tersebut aku dikejar-kejar cowok berpakaian serba hitam yang membawa belati tajam. Ia mengacung-acungkan belati tersebut sambil menyerukan sumpah serapah kasar.
“Jangan dekati Rifa! Jauhi Rifa!”
Aku takut, yakin akan mati saat itu juga. Untunglah tak lama kemudian aku pun terjaga.
Napasku masih ngos-ngosan saat mataku mulai mengawasi sekeliling. Aku berada di dalam sebuah ruangan terang benderang berukuran 5 x 5 meter. Terbaring lemah di atas ranjang berseprai putih.
Papa, Mama, Nenek, Rifa, dan Raka berdiri mengelilingi tempat tidurku. Wajah mereka tampak cemas. Tak lama, Jono serta Cilla menyusul masuk ke dalam ruangan.
Ada apa ini?
Papa yang pertama menyadari kehadiranku di alam nyata, bertanya lembut, “Kamu udah sadar, Sayang? Gimana perasaan kamu?”
“Rasanya ... capek.” Ya, aku capek. Padahal aku baru bangun tidur, belum melakukan aktivitas apa pun.
“Semalam kamu demam, badan kamu panas banget. Kata Jovano kamu sampai mengigau beberapa kali,” ujar Papa seraya menyentuh leherku. Beliau mengenakan pakaian kantornya yang menunjukkan hari sudah siang.
Mendadak aku seperti menyadari sesuatu. “Lho? Aku kan harus sekolah. Kalian juga. Kalian kan mesti sekolah.” tudingku pada Rifa, Raka, dan Cilla. Saat itu juga mataku menangkap kejanggalan pada sosok Rifa. “Kenapa kamu masih pakai baju bebas? Ke mana seragam kamu? Terus, kenapa tangan kamu pakai perban, Fa?”
Semua pertanyaan terlewat begitu saja. Tak ada satu pun jawaban yang terlontar. Anehnya, aku tidak menuntut lebih jauh.
“Baru jam setengah tujuh. Mungkin sebentar lagi,” jawab Cilla. “Alexa, gimana kepala kamu? Masih sakit banget?”
Kepala?
Refleks tanganku menyentuh bagian kepala, tepat di pelipis. Ada perban yang melilit di situ. “Ouch ...” Sakit.
“Hati-hati, Sayang,” tegur Papa.
Teguran keras Papa memantul mengenai gendang telinga, membuat sesuatu dalam kepalaku berdengung nyeri. Lalu semua serasa berputar kembali. Hujan deras itu, cahaya mobil itu, wajah panik itu, suara bantingan keras itu, benturan kepalaku ke kaca depan itu. Adegan demi adegan seakan berputar bergantian.
Hal pertama yang kurasakan saat mendapati pelipisku mengeluarkan banyak darah adalah kaget. Sungguh. Kemudian kepalaku berdenyut cepat. Menggantikan kekagetanku menjadi rasa sakit luar biasa. Aku sungguh-sungguh menderita hingga kegelapan mengambil alih kesadaran.
“Om, Tante, Nek, kemarin Alexa sedang bersama Rifa ketika peristiwa itu terjadi,” kata Raka mengadu. Sebenarnya tanpa pengaduan Raka pun semua pasti tahu sendiri.
Rifa bergeming, tidak bereaksi sedikit pun. Ekspresinya sulit ditebak. Sekilas tampak tak acuh, namun jemarinya terus mengelus lembut tanganku.
Mama, Papa, dan Nenek saling menatap penuh arti. Ada sesuatu yang ingin mereka sampaikan, aku tahu itu. Dan aku pun tahu perkataan mereka nantinya bukanlah sesuatu yang ingin kudengar.
“Alexa.” Papa akhirnya berkata, “Kami tahu ini pasti berat bagi kalian. Tapi, merujuk pada cerita yang baru saja disampaikan Rifaldi tentang teror-teror tak berperasaan yang belakangan ini menimpa kalian, kami rasa kejadian semalam pasti berhubungan dengan teror tersebut. Maka saran kami sebaiknya kalian ....”
Kepalaku menggeleng kalut. Oh tidak, jangan katakan itu! Kumohon, jangan katakan itu!
Papa membuka rahangnya kembali, siap-siap melanjutkan. Tidaaak! Stop, Pa, stop! “Sebaiknya kalian berpisah untuk sementara waktu. Papa gak mau terjadi sesuatu yang lebih buruk dari ini terhadap kalian.”
Ya Tuhan … padahal aku tahu apa yang akan Papa sampaikan, tapi mengapa tetap terasa berat?
Ini sungguh terlalu cepat. Masih banyak yang ingin kulakukan bersamanya. Masih banyak yang ingin kami raih bersama. Masih banyak kisah hidup yang belum kami ukir bersama.
Rasanya lebih baik tak pernah mengenal Rifa daripada harus berpisah dengan cara seperti ini!
Kugenggam erat jemari Rifa, tak rela melepasnya barang sedetik pun. Ternyata aku belum cukup dewasa untuk berbesar hati dalam melewati semua ini.
Penglihatanku mulai memburam, terhalangi genangan air di sudut-sudut mata. Tiba-tiba—entah dari mana datangnya—sebuah kekuatan baru merasuki ragaku. Kekuatan besar yang melahirkan sesak dalam dada.
Ini tidak adil. Benar-benar tidak adil!
“Tuhan gak adil sama aku!” teriakku frustrasi.
Tanpa diduga, Jono menyentil hidungku cukup keras. “Seburuk apa pun kondisi lo, jangan pernah berkata Tuhan gak adil. Mestinya lo bersyukur masih diberi kesempatan hidup. Gimana kalau malam itu lo langsung mati di tempat?”
Kalimat Jono merobohkan apa yang telah susah payah kutahan. Tak ayal dua anak sungai itu mengalir dari sudut mataku. Ia menderas. Semakin deras hingga keluar lolongan-lolongan lirih dari mulutku.
Kutarik bahu Rifa mendekat, lalu kupukul dadanya bertubi-tubi diiringi lolongan yang kian melirih. Tanganku memukul tak keruan, membabi buta. Tapi ia pasrah saja. Seperti semua manusia lain di ruangan ini. Mereka hanya bisa membisu. Hanya bisa menatap prihatin. Tapi tak ada yang mau menolongku. Tidak ada!
***
Mataku membelalak kaget. “Kamu gak sekolah?”
Cowok yang duduk di sisi ranjangku itu hanya menggeleng sambil tersenyum. Tangannya terulur menyentuh rambutku yang bebas dari perban, membelai penuh kasih.
Rifa bilang aku ada di Rumah Sakit Amira.
Suasana semalam benar-benar kacau, katanya. Rifa yang rupanya berhasil terhindar dari cedera parah segera membawaku keluar dari dalam mobil. Ia berteriak-teriak minta tolong pada warga sekitar. Derasnya hujan cukup menghambat langkah penyelamatan yang dilakukan Rifa untukku.
Tepat ketika cowok itu nyaris pingsan, seorang pria paruh baya berpakaian muslim lengkap—sepertinya ia baru pulang dari masjid—memergoki kami dan menolong saat itu juga. Ia mencampakan payungnya begitu saja, berlari menghampiri kami, lalu ikut berteriak mencari bantuan lain.
Setelah itu kami dibawa warga setempat ke rumah sakit terdekat. Orangtuaku menyusul kemudian.
Kami sama-sama mendapat pertolongan pertama di UGD. Berbeda dengan kondisiku yang lumayan parah, Rifa hanya mengalami cedera ringan di tangan. Baru tadi pagi aku dipindahkan ke kamar rawat inap reguler.
“Aku ingin terus berada di samping kamu. Melindungi kamu,” bisik Rifa parau. “Sayangnya itu semua gak akan pernah bisa terwujud. Kita gak boleh bersatu lagi. Padahal aku udah bayangin kita bakal lulus bareng, kuliah bareng, wisuda bareng, kerja bareng, lalu suatu hari nanti aku bakal nikah sama kamu.” Bibirnya tersenyum namun tidak dengan matanya. Mata itu bersedih.
“Kenapa?” tanyaku tak terima. “Kenapa kamu gak coba mempertahankan?”
Kembali Rifa tersenyum. Ia menggeleng seraya mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Berusaha menghindari tatapanku. “Kamu tahu? Kadang perpisahan memang jalan terbaik yang mesti diambil dalam suatu hubungan. Jika kita terus bersama, entah hal buruk apa lagi yang akan menimpa kamu.
“Aku tahu ini dendam pribadi Unknown kepadaku. Maka dari itu aku gak mau mereka melibatkan kamu terlalu jauh. Melihat kamu terbaring lemah di rumah sakit sementara aku gak bisa berbuat apa-apa sudah cukup menyiksaku. Andai aku tahu siapa Unknown, aku berjanji akan membalas perbuatan kejamnya ini!” Ada yang membara di sinar matanya.
“Rifa ….” Aku speechless.
Bara itu meredup, digantikan sinar lembut khas Rifa. Kini ia menatap tepat di manik mataku. “Mungkin perpisahan ini terasa berat dan menyisakan luka bagi kita. Bagaimanapun, rasa kehilangan itu pasti ada. Tapi cobalah untuk ikhlas.”
Entah bagaimana, ucapannya mulai membuatku sedikit bisa menerima. Hanya sedikit, selebihnya tidak. Kami sama-sama tersakiti, terlebih aku. Aku tidak rela jika harus kehilangannya secepat ini.
“Kita gak terpisah jauh, Fa. Kita masih sekelas,” kataku yakin. Sayangnya Rifa tak menyambut baik ucapanku. Ia justru menggeleng, jelas-jelas membantah.
“Semuanya gak akan sama lagi. Mereka—aku sebut mereka karena aku yakin Unknown punya anak buah—gak akan pernah berhenti mengusik hidup kita.”
Aku bungkam. Rifa benar, orang jahat tidak akan pernah berhenti berbuat jahat sebelum tujuannya tercapai. “Fa, apa bener kamu yang ngasih tahu keluarga aku tentang semua ini?”
“Iya,” angguknya.
“Kenapa? Kenapa kamu ceritain semuanya ke mereka?”
Rifa menggeleng samar, lalu berkata, “Ini demi keselamatan kamu. Kalaupun aku nggak bilang sekarang, cepat atau lambat keluarga kamu pasti tahu. Ingat, kamu punya tetangga seperti Raka.”
Untuk kesekian kalinya seumur hidup, aku menyesal bertetangga dengan Raka.
“Sayang,” Rifa berkata lembut, jemarinya mengusap wajahku inci demi inci. “Aku sayang kamu, bener-bener sayaaang banget.”
Mungkin kalimat Rifa terdengar romantis. Namun yang sesungguhnya terjadi, ia baru saja mengucapkan salam perpisahan. Rasanya bagai mendengar seseorang mengucapkan, “Halo! Selamat tinggal!” dalam satu kalimat.
“Apa ada bukti kalau kejadian semalam itu ulah Unknown?”
Rifa buru-buru merogoh ponselnya di saku celana, lalu memeperlihatkan sebuah SMS padaku.
+62813444555***: sekarang lo tahu kan, gue gak cuma main-main?
Sekali lihat aku langsung mengerti maksud si Unknown. Kejadian semalam memang bukan kecelakaan biasa. Ia telah merencanakannya dengan matang. Sepertinya, sejak mobil Rifa keluar dari gerbang sekolah, antek-antek Unknown sudah bersiaga untuk membuntuti. Ia menunggu ketika kami menghabiskan petang di Situ Buleud.
Untung bagi mereka saat kami pulang hujan mengguyur deras. Mobil yang menyalip dan mobil yang datang dari arah berlawanan pastilah mobil yang sama: sebuah Avanza putih. Mobil itu sengaja bergerak menyerong seolah hendak menabrak kami. Karena kecepatan mobil Rifa sedang berada di atas rata-rata, maka tidak ada jalan lain bagi Rifa selain membanting stir ke arah kanan. Sementara kami terlibat kecelakaan, mobil putih itu berlalu begitu saja.
Coba, pengemudi kejam mana yang tega berbuat seperti itu selain suruhan Unknown?
“Mobil itu mendahului, mencari tempat aman untuk mengeksekusi kita, kemudian berputar balik ke tempat yang telah mereka tentukan. Itu yang mereka lakukan,” kata Rifa. Rahangnya mengeras. “SMS itu masuk begitu kita sampai di RS. Aku langsung menghubungi nomor tersebut detik itu juga. Tapi sial, nomornya udah gak aktif lagi. Dia emang pecundang!”
Aku mendesah, tiba-tiba merasa lelah. Andai semua ini hanya mimpi, aku ingin terjaga saat ini juga. Atau jika mimpiku telah berlangsung jauh sebelum hari ini tiba, dan ternyata cowok tampan bernama Rifa tidak pernah muncul di kehidupan nyataku, kuharap mimpi tersebut bisa terlupakan begitu saja seperti ratusan mimpi lainnya. Agar tiada lagi kenangan indah namun berakhir tragis dalam memoriku.
Kumohon Tuhan, untuk kali ini saja, kabulkanlah keinginanku.
“Aku sayang kamu. Gak ada seorang pun yang bisa memisahkan kita,” bisik Rifa di sela deru napasnya menahan tangis. Kedua tangannya menempel ketat di punggungku, mendekap erat. Terasa hangat sesaat, kemudian berangsur hampa.
Aku tersenyum pedih.
Nyatanya, ada yang bisa memisahkan kami.
***
Novel ini kutulis 8 tahun lalu, jadi maklum kalau sifat Alexa rada alay. Ya aku masih remaja. Sama seperti Alexa di cerita. wkwk