Blind Love

Blind Love
Episode 44



Inilah yang dinamakan sebuah takdir. Jika waktu itu sebuah pertemuan akan terbilang langka antar Virgo dan Libra, namun kini sebaliknya. Bahkan ketika mereka berada di kantin saja, mereka dipertemukan oleh si takdir ini. Awalnya di meja itu adalah meja Libra dan teman-temannya, kemudian Tere datang bersama Edo, dan barulah Virgo menyusul.


Lelaki itu berjalan dengan santai dengan wajahnya yang datar, sapaan itu bahkan dia terima dari banyak orang. Duduk di kursi tepat di depan Libra kemudian menghela napas. Tatapannya memicing untuk Libra dan juga lelaki yang berada di dekat Libra, Rion.


“Lama lo, gue udah pesenenin lo soto biar nggak kelamaan nunggu.” Itu adalah suara Edo.


“Hem,” katanya masih tak mengalihkan tatapannya kepada Libra. semua orang yang berada di meja yang sama jelas tahu dengan apa yang Virgo lakukan kali ini.


Edo mendorong soto yang sudah tersedia di sana ke depan Virgo, “Makan dulu lo, nggak usah yang enggak-enggak.” Sayangnya Virgo tak peduli sama sekali dengan hal itu.


Bahkan ketika dia meracik sotonya dengan hanya mengalihkan matanya sebentar dari Libra, kemudian tatapan itu kembali lagi ke wajah gadis itu. Diperlakukan seperti itu, jelas saja membuat Libra jengah. Maka gadis itu balik menatap Virgo dengan lurus.


“Aku nggak nyaman kamu melakukan itu,” nada rendah itu ditujukan kepada Virgo. Dan tetap bisa didengar oleh yang lain.


“Tapi aku suka melakukannya,” jawab enteng Virgo. “Kalau kamu nggak suka itu urusanmu.” Katanya kurang asam. Yang tidak mengetahui masalah mereka, pastilah ada tanda tanya besar di kepalanya.


Namun Edo bersuara untuk memutus pertanyaan-pertanyaan yang ada pada mereka, “Nggak usah bertengkar di sini. Ku buang kalian nanti di kutub sana, biar terjebak berdua di salju.” Katanya dengan nada tak biasa.


Virgo tak menjawab dan hanya menyeringai saja, namun tatapannya sama sekali tak beralih dari Libra.


“Shit!” Edo mengumpat karena seorang gadis yang sangat dikenalnya tengah berjalan ke meja mereka yang pasti akan menemui Virgo. Bahkan Tere pun menghela napas panjang melihat hal itu.


“Vir!” panggil gadis itu, bahkan tanpa meminta izin terlebih dahulu, gadis itu duduk di ujung meja tepat di samping Virgo.


“Alea?” kernyitan di dahi Virgo terlihat, “Kenapa?”


“Alea!” hampir gadis asing itu mengeluarkan kata-katanya, Edo sudah lebih dulu memanggil untuk menghadang kalimat yang akan diucapkan oleh gadis itu, “Kita lagi meeting, bisa lo menyingkir dulu? Ada hal rahasia.” Alea, adalah gadis yang akhir-akhir ini sedang berusaha mendekati Virgo. Mereka memang berada di kelas yang berbeda, tapi mereka sudah saling mengenal sejak ospek berlangsung.


Tatapan Alea jelas terlihat kaget ketika Edo mengatakan tegurannya, “Eh, sorry-sorry, gue nggak tahu.” Katanya dengan wajah sungkan. Sedangkan Virgo sama sekali tak peduli dengan itu. Urusannya hanya dengan Libra, dan dia masih dengan aksinya menatap Libra.


“Kalau gitu gue pergi dulu,” itu ditujukan kepada Edo, dan kemudian beralih kepada Virgo, “Vir, ada yang mau aku bahas ke kamu, nanti kalau udah selesai boleh WA aku ya?” Virgo menatap Alea dan mengangguk tipis.


Alea pergi dengan diikuti oleh Libra yang juga berdiri untuk meninggalkan kantin, “Gue pergi dulu,” pamitnya kepada orang-orang di sana. Sayangnya itu bukan hal yang bisa diterima oleh Virgo. Lelaki itu mencekal tangan Libra yang menimbulkan pelototan dari Libra.


Tangan Virgo masih memegangi tangan Libra, dan tangan lainnya mengangkat gelas untuk menandaskan isinya. Dan setelahnya, ditarik Libra untuk pergi dari sana dan menyisakan teman-temannya yang terkaget karena Tindakan bar-bar Virgo.


“Yang!” Tere bersuara, namun langsung di jawab oleh Edo dengan penjelasan.


“Mereka akan baik-baik aja. Virgo nggak akan berbuat nekat dengan melakukan hal-hal yang akan lebih menyakiti Libra.” katanya untuk menenangkan kekasihnya yang mengkhawatirkan temannya.


Sedangkan Virgo dan Libra yang kini sudah berada di belakang kampus, hanya terdiam diri dengan tangan Virgo yang masih setia memegangi tangan Libra. Tempat itu sepi dan bisa dipastikan jika apapun yang akan mereka obrolkan tak akan didengar oleh orang lain.


Libra melepaskan pegangan tangan Virgo dengan lembut. “Sebenarnya, apa yang membuat kamu dengan nekat membawa aku ke sini? Bukannya kamu bilang waktu itu kalau aku akan membuat kepala kamu jadi pening?” keduanya sedang menatap ke depan dimana rumput-rumput liar itu menari-nari di terpa angin.


“Aku hanya ingin memastikan sesuatu.” Jawabnya dengan tenang. Dimasukkannya kedua tangganya di dalam saku celananya, tubuhnya berdiri tepat di depan Libra dan matanya menatap tepat ke wajah gadis itu seperti yang dilakukan beberapa saat lalu.


“Jadi dia orangnya?” dibandingkan tatapan yang diberikan waktu di kantin tadi, kini tatapan Virgo melembut, “kamu udah menemukan orang yang kamu cintai.” Libra yang tadinya menunduk karena tak sanggup dengan tatapan lelaki di depannya itu kini mendongak dengan cepat.


“Siapa maksud kamu?”


“Lelaki yang selalu sama kamu.” Jawaban itu tak perlu lagi dipikirkan karena memang begitulah yang ada di dalam otak Virgo.


Libra tak langsung menjawab. Otaknya memikirkan lelaki yang dimaksud oleh Virgo. “Tapi,” begitu katanya dengan membalas tatapan Virgo, “Kenapa aku harus menjelaskan hal ini? kita sudah nggak mempunyai hubungan apapun kan?” Libra bisa melihat Virgo mengetatkan rahangnya.


Kemudian tersenyum sinis. “Benar!” katanya dengan ekspresi yang dibuat sebiasa mungkin. “Karena memang aku nggak pantas lagi mendapatkan penjelasan apapun dari kamu. Hubungan kita sudah berakhir,” Virgo kembali tersenyum, “Gila juga ya aku masih mencintai orang yang bahkan udah nggak nganggap aku.”


Libra lagi-lagi sakit mendengar hal tersebut. “Kalau begitu selamat, apa yang dikatakan oleh ayahmu memang benar, kamu pantas mendapatkan lelaki yang lebih baik dari brandalan seperti aku.” Sebelum pergi, Virgo mengusap kepala Libra dengan lembut.


“Selamat tinggal!” katanya dan berlalu dari sana meninggalkan Libra seorang diri. Ini adalah kali pertama Libra berbicara empat mata bersama Virgo dan hasilnya sangat menyedihkan sama sekali. Keduanya sakit, dan itu memang harus dilalui oleh keduanya. Entah itu orang lain atau nantinya mereka akan bersatu kembali, biarlah waktu yang menjawab.


*.*


Mereka sudah tak lagi membahas hubungan antara Virgo dan Libra. Ayah Virgo justru merancang sebuah perusahaan baru untuk putranya ketika Virgo sudah lulus nanti.


“Rencananya, papa mau membuat perusahaan dibidang yang kamu sukai.” Virgo dan ayahnya sedang mengobrol di samping rumah sambil menikmati semilir angin.


“Jangan dulu, Pa,” cegah Virgo, “Aku masih memiliki keinginan yang berubah-ubah.” Katanya lagi.


“Keinginan seperti apa?”


“Bekerja di perusahaan Papa juga bukan masalah. Aku akan membuat perusahaanku sendiri suatu saat nanti. Aku akan belajar tentang manajemen perusahaan dengan papa, dan mengembangkan perusahaan yang aku buat dengan caraku sendiri.” Ditatapnya ayahnya untuk melihat ekspresi lelaki itu.


“Aku ingin sukses tanpa sokongan dari siapapun, Pa. Aku mau usaha dengan caraku. Kalau memang aku nggak bisa, opsi terakhirku adalah dengan bantuan Papa.” Firman terkekeh dan mengangguk-anggukkan kepalanya.


Firman memang bukan orang yang kaku, terlihat jelas hidupnya santai tapi serius. Dan itu menurun kepada Virgo. Karenanya, Firman tak pernah merasa kesulitan untuk sharing bersama putranya.


“Ya, Kek?” mendapatkan panggilan dari kakeknya memang bukan hal yang asing lagi bagi Virgo, tapi ketika siang ini nada suara kakeknya terdengar agak panik, dia pun merasa ikut panik, “Oke! aku ke sana. Sekarang.” Lelaki itu berlari untuk mengambil motor yang berada di parkiran untuk bisa segera sampai ke kantor kakeknya.


Beruntungnya jalanan kali ini tak terlalu macet, maka dia bisa datang lebih cepat. Sampai di depan gedung perusahaan, dia segera memarkirkan motornya sembarangan dan melemparkan kuncinya kepada satpam yang sedang piket.


Kemudian lari dan masuk ke dalam dengan terburu-buru. Naik ke lantai lima belas, Virgo langsung membuka pintu ruangan kakeknya dan mendapati beberapa orang tak asing baginya. Sayangnya dia tak merasa perlu untuk menatap lama-lama orang-orang itu dan segera mendekati kakeknya.


“Kenapa, Kek?” tanyanya dengan wajah yang menunjukkan kekhawatiran.


“Maaf sudah membuat kamu panik,” jawab lelaki tua itu. “Tapi kakek butuh bantuan kamu untuk melihat ini,” tunjuknya pada laptop.


Virgo melihat laptop itu dengan serius. “Hacker,” katanya dalam sekali lihat. “Udah ditunjukkan sama Bang Nino?” lelaki yang disebutkan oleh Virgo adalah seseorang yang menangani masalah seperti ini di perusahaan.


“Sudah dan dia sekarang sedang mencoba mencari tahu siapa pelakunya,” kakek Virgo menjawab.


“Ada virus juga di dalamnya. Jenis virus baru yang diciptakan dan sepertinya memang ingin merusak system kita.”


“Benar.” Lelaki bernama Nino itu masuk dengan membawa laptop di tangannya kemudian duduk di samping Virgo.


“Lo tahu? System kita ini sudah aman dari retasan, tapi virus yang disebar sekarang ini memang lebih kuat.”


“Ada kemungkinan kita bisa menghancurkan virus itu? Kalau enggak, semua data yang tersimpan akan berpindah ke orang tersebut.”


“Virus ini nggak langsung membuat system kita langsung hancur, tapi dia butuh waktu untuk virus itu masuk ke dalam system dan menghancurkan semuanya. Setelahnya, nggak bisa diperbarui lagi.” Jelas itu akan menimbulkan kerugian yang tak sedikit, karena semua karyawan tak bisa bekerja karena pusat dari system yang digunakan oleh mereka bekerja tak lagi bisa dioperasikan dan otomatis semua system juga mengalami hal yang sama.


Karena itulah di kantor benar-benar heboh sekarang.


“Kita punya waktu berapa menit, Bang?” tanya Virgo berharap waktu yang sedikit itu bisa digunakan dengan baik dan maksimal.


“satu jam,” kata Nino yang memang sudah mengetahui sifat virus baru tersebut, dan lelaki itu memang tak bisa diragukan lagi kemampuannya dalam hal seperti ini. Nino menatap Virgo dengan serius. “Gue tahu lo paham akan hal ini, karena itu gue nyuruh Pak Wondo untuk manggil lo ke sini. Kita coba meretas kembali alamat si pengirim, setelah gue bisa meretasnya, lo cungkil virusnya.”


“Ilmu gue masih cetek dan lo nyuruh gue melakukan hal yang nggak gue bisa, Bang?”


“Karena gue percaya sama lo. Karena kalau virus ini masuk dengan sempurna, bukan hanya data-data penting yang hilang, semua aset perusahaan juga musnah. Kalau bukan demi orang lain, lo harus lakuin ini demi karyawan. Mereka menggantungkan hidupnya dengan bekerja di sini demi keluarga mereka.” Virgo mendengarkan itu dengan seksama dan memasukkan ke dalam otaknya. Kali ini dia tak memiliki waktu lama untuk berpikir.


Maka dia mengangguk. “Aku nggak yakin akan bisa melakukannya, Bang. Tapi aku akan mencoba.” Katanya dengan yakin. Selama ini, dia sudah banyak belajar dari Nino tentang coding, pemograman, atau apapun itu yang berkaitan dengan IT.


Tiga orang di depannya menatap Nino dan Virgo tanpa mengatakan apapun. Menunggu dua orang itu bekerja dan menunggu hasilnya.


Virgo tahu ini tak akan mudah. Ac ruangan dinyalakan dingin tapi keringat Virgo keluar dan mengalir dari pelipisnya. Kode-kode yang ada di layar komputer itu akan memusingkan orang lain jika tak mengerti. Tapi bagi Virgo maupun Nino itu adalah tantangan yang harus ditaklukkan.


“Dua puluh menit lagi, Vir.” Nino mengingatkan. Virgo semakin pening dibuatnya karena peringatan itu.


“Gue belum nemuin apapun, Bang.” Begitu katanya dengan nada yang frustasi.


“Berhenti!” perintah Nino. Virgo menurut.


“Apa yang bisa buat otak lo jalan?” pertanyaan itu membuat kening Virgo mengernyit. “Itu yang sering gue lakukan waktu otak gue nggak bisa diajak kompromi.


“Coklat,” katanya tanpa perlu lagi berpikir. Pandangan Virgo beralih ke kakeknya dan bilang, “Tolong, Kakek suruh buatkan aku coklat hangat banyak-banyak, Kek. Mungkin itu akan membantu kerja otakku.” Yang dihadiahi anggukan dari lelaki tua itu.


Waktu semakin menipis sedangkan virus semakin menyebar. Sebentar lagi system akan benar-benar rusak dan kebangkrutan sudah di pelupuk mata. Tak hanya dua orang yang sedang berjuang untuk ‘mematikan’ virus dikejar waktu, tiga orang yang berada di depannya sudah was-was tak karuan.


“I got it,” lima menit lagi waktu tersisa, dan Nino baru mampu memasuki alamat pengirim virus. Entah apa sedang mereka ketikkan di dalam laptop yang sedang memunculkan kode-kode angka di sana dengan huruf yang tergabung menjadi satu.


“Dua menit lagi,” sepertinya virus ini benar-benar memusingkan karena tidak sesuai dengan dugaan Nino. Virgo tak mengatakan apapun karena konsentrasi penuh dengan apa yang dikerjakan.


Tiga puluh detik berakhir ketika Virgo mampu menghentikan virus tersebut, ‘succsess’ begitulah tulisan yang diterima di komputernya.


“Lo berhasil, Vir!” Nino dengan senyum lebarnya menepuk punggung Virgo dengan bangga, “otak lo emang nggak bisa diragukan lagi.” Ucap Nino dengan kelegaan yang luar biasa. Bukan hanya Nino, kakek dan ayahnya pun tak kalah bangganya dengan itu. Kecuali satu orang yang memang hanya menganggukkan kepalanya saja.


Kemudian laporan itu didapatkan dari salah satu karyawan yang mengatakan jika system mereka sudah dapat kembali digunakan.


“Mereka sudah bisa bekerja,” ayah Virgo mengatakan hal itu. Pak Wondo mengangguk dan tersenyum bangga kepada cucunya.


“Hebat,” acungan jempol itu diberikan oleh lelaki tua itu, “Kakek sepertinya harus mengirimkan kamu ke tempat dimana kamu bisa lebih belajar banyak tentang ini,” yang mendapatkan dengusan dari Firman.


“Papa nggak usah mulai,” katanya dengan malas. Karena lelaki itu jelas tidak ingin putranya itu jauh-jauh dari keluarga. Yang mendapatkan jawaban ‘cemen’ dari pak Wondo.


*.*