Blind Love

Blind Love
BAB 16



“Untuk selanjutnya, jangan sampai ada yang pura-pura lupa membawa buku tugas lagi.”


Akhirnya, Pak-Eno-si-guru-killer memutuskan untuk mengakhiri pelajaran Matematika hari ini setelah berceramah panjang lebar. Nyaris seisi kelas mendesah lega telah terbebas dari tekanan guru galak satu itu.


Semua tahu kepada siapa peringatan tersebut ditujukan: Rifa.


Cowok cerdas itu tidak biasanya lupa membawa tugas, apalagi Matematika. Untung hari ini Pak Eno sedang sedikit bermurah hati—atau mungkin tidak, beliau bersikap agak lunak karena tersangka hari ini anak kesayangannya—jadi Rifa tidak diberi hukuman berat.


Aku tidak dapat berpura-pura tidak melihatnya. Aku justru terang-terangan memperhatikannya. Siapa pun tahu aku masih peduli padanya!


Sayangnya tidak ada yang bisa kuperbuat selain menyaksikan Rifa tergesa meninggalkan kelas begitu saja.


“Dia kenapa lagi, ya?” bisik Cilla di samping telingaku.


“Entahlah ….”


Tiba-tiba poselku bergetar. Begitu kucek, ternyata Andre mengirim chat. Ia bilang sudah menungguku di parkiran. Hampir saja aku melupakan janji bertemu dengannya.


Aku segera bangkit. “Cilla, gue pulang duluan, ya?”


“Lho? Raka belum ke sini, tuh.”


“Hari ini gue gak bareng Raka. Ada janji sama orang lain.”


“Nanti kalau Raka ke sini gimana?” tanya Cilla panik.


“Nggak akan. Tadi gue udah bilang gak bisa pulang bareng dia. Gue duluan ya, Cill!” ujarku cepat-cepat sambil terus melangkah meninggalkan kelas. Tidak ada niat untuk berbalik meski Cilla tak henti memanggil namaku.


Aku tahu, ia pasti penasaran dengan siapa aku akan bertemu.


***


Cowok itu sudah bertampang bete saja saat aku menghampirinya di tempat yang ia sebutkan tadi. Ronanya seperti telah menungguku sampai lumutan. Padahal seingatku aku tidak telat-telat amat, kok. Jangan kan sejam, lima belas menit pun kurang.


“Ya Tuhan, serem amat tampang lo,” tegurku.


Andre tampak baru menyadari kehadiranku. “Eh elo, udah di sini?”


“Gue gak bikin lo nunggu terlalu lama, kan?” tanyaku hati-hati. “Kalau iya, maafin gue, deh. Gue kira perjalanan dari kelas menuju tempat ini gak akan makan waktu lama.”


“Bukan, bukan,” potong Andre sambil mengenakan helm full face berwarna hijau kemudian menyerahkan helm lain yang lebih simple untukku, dan tentu saja langsung kukenakan. “Lo gak terlalu lama, kok.”


Begitu motor Andre terbebas dari kumpulan motor lain di tempat parkir, dengan sigap aku duduk di boncengannya. Tentu setelah dipersilakan cowok tersebut.


“Gue kira kita bakal ngobrol di sini.”


“Nggaklah. Cari tempat yang enakan dikit, Xa.”


Motor pun melaju meninggalkan sekolah.


***


Tiba-tiba motor menepi di depan sebuah bangunan megah bak istana. Kukatakan demikian sebab pagar tembok yang mengelilinya menjulang tinggi dengan hiasan obor berwarna emas di gerbang utama.


Tampak beraneka macam tanaman hias dan bunga-bungaan mengisi hamparan rumput hijau di sekeliling halaman. Taman tersebut terbagi menjadi dua sisi: kanan dan kiri. Terpisahkan oleh jalan setapak menuju rumah. Sepasang air mancur setinggi dua meter yang diletakan di masing-masing sisi taman, berhasil menghidupkan suasana di sekitar tempat tersebut.


“Jalan lagi, yuk!” ajak Andre.


“Apa?!”


Tahu-tahu motor Andre yang tadi sudah berhenti di luar pagar-rumah-megah-impian-sepanjang-masa kembali melesat memasuki padatnya lalu lintas. Tidak ada lagi Andre yang kalem, kali ini ia mengendarai motornya gila-gilaan. Terpaksa kupeluk pinggang cowok tersebut erat-erat. Ini bahkan lebih mengerikan dibanding dibawa ngebut oleh Jono.


Untunglah beberapa menit kemudian—yang rasanya bagai seabad—kecepatan motor mulai berkurang begitu memasuki sebuah gang sempit.


Setelah berbelok kanan-kiri beberapa kali, akhirnya kami menepi di depan sebuah rumah sederhana bercat kuning-cokelat. Rumah yang sangat kontras dengan bangunan megah di pinggir jalan tadi. Dilihat dari caranya menepikan motor di halaman rumah tersebut, kutebak ini pasti tempat tinggal Andre. Kalau benar, untuk apa ia membawaku mampir ke tempat tadi?


“Jadi, masih betah meluk-meluk gue, nih?”


Ledekan Andre mengembalikanku ke realita. Saking sibuknya memikirkan rumah, aku sampai tidak sadar masih duduk manis di boncengan motor dengan kedua tangan memeluknya erat! Kalau Rifa sampai tahu—oh tidak, kukira aku sudah mulai berhenti memikirkan cowok itu.


“Jadi, ini tempat tujuan kita?” Telunjukku menuding bangunan bercat kuning-cokelat tersebut, yang ditanggapi Andre dengan gelengan kencang. Sekali lagi aku melongo seperti orang bodoh.


“Bukan. Tujuan kita ada di belakang rumah ini,” ujar Andre. Ia lalu mengomandoku melewati celah sempit di samping kiri rumah tersebut.


Ternyata di belakang si cat kuning-cokelat berderet bangunan lain yang jelas-jelas sebuah kontrakan. Suasana di belakang lebih ramai daripada di depan tadi. Lima di antara enam daun pintu kontrakan dalam keadaan terbuka.


Tiga orang ibu-ibu tampak asyik bergosip di bangku panjang dekat pohon mangga yang terletak di tengah lapangan kecil. Tak jauh dari pohon, dua orang remaja tanggung tengah bersenandung-ria seraya memetik gitar.


Kehadiranku dan Andre rupanya berhasil menyita perhatian mereka. Salah seorang ibu tersenyum dan kubalas dengan anggukan sopan.


Andre memutar kunci di pintu nomor tiga.


"Lo kenapa bengong?" tegur Andre begitu sadar aku malah mematung di tempat. Berdiri sejauh satu meter dari teras kontrakannya.


"Ng... gue... " Aku menggaruk kepala yang tidak gatal.


Ayolah, aku bahkan belum begitu mengenal Andre. Lalu tiba-tiba cowok itu membawaku ke rumahnya tanpa pemberitahuan. Memangnya, apa lagi yang ada di dalam pikiran laki-laki saat hanya berduaan bersama lawan jenisnya? Walaupun tidak cantik, aku tetap perempuan, kan?


Seolah mengerti kerisauan hatiku, Andre berujar, “Gue gak akan nyuruh lo masuk, kok. Lo duduk-duduk aja di sini. Gue mau ganti baju dulu.”


"Eh, i.. iya..." Aku berusaha menahan malu. Bagaimana mungkin ia bisa membaca pikiran burukku?


Melihatku masih tetap bergeming, Andre terpaksa menarik tanganku agar segera duduk di atas teras.


"Lo jangan takut. Gue gak ada niatan buat macem-macem, kok." Ia menyeringai. "Soalnya di sini rame. Gak cocok buat nyulik anak orang. Kalau di tempat yang lebih sepi boleh lah. Hahaha... "


Setelah sekali lagi berhasil membuatku malu setengah mati, ia berlalu dari hadapanku.


Aku menghela napas. Sejenak, kubiarkan pikiranku kosong melompong tanpa niatan mencari tahu alasan sebenarnya Andre membawaku kemari. Maksudku, jika hanya ingin mengungkapkan praduganya tentang Nadine dan kawan-kawan, mengapa tidak di sekolah saja?


“Betah?” Tahu-tahu Andre sudah berada di sampingku lagi. Kini seragam putih-abunya digantikan polo shirt berwarna merah dan celana kolor sepanjang lutut. Ia tampak lucu dengan kostum seperti itu. Pasti aneh jika Rifa yang terbiasa berpakaian rapi mengenakan—ah, apa-apaan aku ini, kenapa malah membayangkan Rifa lagi?


“Di sini enak, ya? Banyak angin,” ujarku seraya meraih jus jeruk yang disodorkan Andre. Jus-jeruk-kurang-manis tepatnya.


“Emangnya di rumah lo gak ada angin?” tanya Andre.


Aku melengos. Bukan pertanyaan penting.


"Jadi, kenapa kita harus ngobrol di sini?" Rupanya aku masih penasaran.


Sebelum menjawab, Andre merapatkan posisi duduknya denganku. Walau agak risih, tapi aku diam saja. Mungkin dia mau membisikiku hal yang penting dan rahasia.


"Lo lihat orang-orang itu?" tunjuknya pada penghuni kontrakan lain yang masih asyik dengan kegiatannya masing-masing. "Gue sengaja bawa lo ke sini biar mereka nyangka gue hebat punya cewek secantik lo."


Tepat saat aku akan menoyor kepala cowok sableng satu itu, Andre menjauh sambil tertawa puas.


"Hahaha... sori-sori." Ia masih tertawa puas. “Oh ya, lo apa kabar sama Rifaldi?”


“Maksud lo?” Rupanya nama Rifa masih sensitif bagi telingaku.


“Maksud gue, ya … apa kalian masih saling menyapa, ngobrol, atau gimana-gimana, gitu?”


“Kayaknya itu masalah pribadi gue, deh,” jawabku keberatan. “Gue harap kita hanya membahas apa yang layak dibahas aja. Dan sesuai janji lo di telepon, katanya lo mau mengungkapkan sebuah rahasia sama gue?”


“Haha, oke maaf atas kelancangan gue.” Andre terdiam sesaat, lalu berkata lirih, “Alexa, coba lo inget-inget lagi peristiwa tahun lalu saat lo dilabrak Nadine.”


“Gue masih inget. Emang kenapa?”


“Inget-inget lagi aja.”


Walau masih sedikit bingung, kubiarkan ingatanku berkelana menjelajahi ruang dan waktu sesuai permintaan Andre. Otakku berusaha menghadirkan kembali potret-potret peristiwa tahun lalu. Nadine, aku, Rifa, Jonathan, Pak Andres.


Dan ketika lamunanku tiba di suatu titik, aku terpaku di tempat selama beberapa saat. Lalu sebuah henyakan keras yang tak tertahankan meluncur dari mulutku. “Jonathan didrop out, Dre. Dan ….”


Begitu aku mendongak, cowok di depanku tengah memamerkan senyum misteriusnya.


***


Flashback on


Senin, 08 Januari 2019


Gudang sekolah selalu nampak sepi walau bukan di hari libur. Tak ada seorang pun yang melintas di dekat sini. Bukan hanya karena lokasinya kurang strategis. Menurut isu yang beredar, ada beberapa siswa yang pernah melihat penampakan di dekat sini. Kalau saja aku tidak dengan bodohnya melempar bola basket ke tempat ini—bukannya ke dalam ring seperti seharusnya—tentu aku takkan sudi menginjakkan kaki di sini sendirian.


“Bola, kamu di mana, sih?” Sial, benda itu malah bersembunyi entah di mana. Semakin menyusahkan saja.


“Elo!”


Aku mematung di tempat. Katakan ini tidak benar. Sepertinya telingaku baru saja menangkap sesuatu. Suara cewek tepatnya. Oh tolong, jangan sampai ada makhluk halus yang tertarik padaku! Kuperingatkan kalian wahai para hantu, aku sedang keringatan, lho. Aku bau!


“Heh, lo denger gue gak, sih?!” seru suara itu lagi. Kali ini terdengar lebih nyata. Sekarang aku sadar ia bukanlah hantu. Lagipula, hantu sekolah mana yang suka ber-elo-elo begitu? Terlalu gaul.


Akhirnya kuberanikan diri menoleh. Benar, tidak ada hantu atau makhluk halus apa pun di sana. Yang ada justru seorang cewek bertubuh tinggi, putih, dan langsing yang kutahu bernama Nadine. Cewek itu menjabat sebagai wakil ketua OSIS tahun ajaran 2018-2019, mustahil ada yang tidak mengenalnya. Apalagi ia termasuk kalangan populer di sekolah. Karena itulah aku langsung bertanya-tanya, mengapa ia bisa berada di tempat seperti ini? Mencariku? Memangnya aku siapa?


“Lo siapa, sih?” tanyanya sambil terus mendekatiku. Ia memain-mainkan ujung rambutnya yang ikal dengan jari.


“Gue?” Kutunjuk wajahku sendiri. “Gue Alexa. Maryam Alexandria maksudnya. Lo Nadine, kan?”


“Plis deh, gue gak lagi ngajak kenalan!” tukasnya sinis. Dilihat dari dekat, kulit putih mulusnya tampak kenyal seperti kulit bayi. “Lagian gue udah tahu siapa nama lo, kok.”


“Ya, terus ngapain lo tadi nanya siapa gue?” Aku mulai jengkel. “Dikira gue gak punya kerjaan lain!”


Mata belo Nadine melebar. “Berani-beraninya lo ngelawan gue!”


“Ayolah Nadine, gue lagi nyari bola basket. Kalau gue kelamaan, bisa-bisa Pak Dean marahin gue. Nanti dikiranya gue nyangkut ke kantin dulu lagi.”


Tiba-tiba wajah dingin Nadine melunak, dan ia tersenyum maniiis sekali. “Mau gue bantu?” tawarnya terdengar tulus. Aneh sekali. Bukannya semenit yang lalu ia justru membentakku?


Tapi aku tak ingin ambil pusing. “Terima kasih, Nadine. Gue bisa nyari sendiri, kok. Gue gak mau ngerepotin elo."


“Sama sekali gak ngerepotin, kok.” Ia masih mempertahankan senyum manisnya. “Kebetulan tadi gue lihat arah bola itu.”


“Oh, ya? Ke mana?” tanyaku penuh harap. Tak kusangka nona cantik ini bisa sangat membantu.


“Ke dalam gudang,” jawabnya. Melihatku menatapnya dengan wajah elo-kok-bego-banget-sih-Nadine-mana-ada-bola-masuk-ke-dalam-gudang-yang-pintunya-tertutup-rapat-begitu, ia cepat-cepat menambahkan, “Lo lihat jendelanya terbuka lebar, kan? Nah, tadi bolanya masuk lewat sana.”


“Ah, masa?” tanyaku sangsi. “Terus gue harus masuk lewat jendela juga, supaya bisa ngambil bola itu?”


“Gak perlu. Pintunya gak dikunci, kok.”


Lagi-lagi aku meragu. “Gue kira gudang ini selalu digembok kecuali ada anak yang minta kuncinya ke penjaga sekolah buat mengambil sesuatu di dalam.”


“Udah, coba aja!” hasut Nadine sambil mendorong-dorong bahuku.


Ia benar. Pintu ini memang tidak digembok seperti biasa. Kusimpan tanganku di atas engsel kemudian memutarnya perlahan. “Eh tapi, Nad, jendelanya kan …”


“Kenapa jendelanya?” potong Nadine tak sabar.


“Jendelanya kan …” Seketika pintu di depan mataku menjeblak lebar. Bersamaan dengan itu sepasang tangan mendorong punggungku sekuat tenaga. Aku terlalu terkejut hingga yang keluar dari mulutku hanya, “berjeruji!”


Tepat saat otakku kembali berfungsi sebagaimana mestinya, pintu gudang telah tertutup. Bau lembap ruangan tak terpakai segera menyerbu indera penciumanku. Demi Tuhan, oksigen di tempat ini tipis sekali!


“Nadine, buka pintunya!” teriakku seraya menggedor-gedor pintu dengan membabi-buta. “Lo kalau mau bercanda jangan keterlaluan, dong!”


“Siapa bilang gue lagi bercanda!?” balas Nadine dari luar tak kalah nyaring.


“Kenapa? Apa dosa gue?”


“Apa dosa lo? Lo masih nanya apa dosa lo?!” Nada Nadine mencapai histeris. “Lo udah ngerebut Rifaldi dari semua cewek di sekolah ini. Sadar dong!”


Ya, ampun! Gara-gara hal sesepele itu dia sampai tega berbuat seperti ini padaku?


“Nadine, Nadine, lo tenang, ya. Kita bisa bicarain masalah ini baik-baik. Tapi please, buka pintunya. Kita ngobrol di luar.”


“Enak aja! Gue udah nunggu-nunggu kesempatan ini dari dulu. Sejak gue menduplikat kunci gudang, tuh pintu gak pernah digembok lagi. Gue sengaja sebarin cerita mistis supaya gak ada seorang pun yang berani lewat sini. Gue selalu cari waktu yang pas buat mengunci lo di dalam sana. Dan akhirnya kesempatan itu datang.


“Saat mata-mata utusan gue melaporkan bahwa lo dengan bodohnya melempar bola basket ke arah gudang, gue langsung ngibrit dari kelas dan menyusul lo kemari. Nah, sekarang gue balik ke kelas ya, sambil balikin bola ke deket lapangan. Silakan lo berteriak sesuka hati. Karena percuma, gak akan ada yang nolongin lo. Untung jendelanya berjeruji, jadi lo gak bisa kabur lewat situ. Hahaha!”


“Nadine!” Sepi.


“Nadine!” Masih belum ada respons.


“Nadineee!!!”


“Lo apa-apaan, hah!?”


Itu bukan suara Nadine. Nada baritone yang terdengar sudah kukenal dengan baik. Dia Rifa. Rifa datang menolongku!


"Alhamdulillah,” bisikku lirih.


“Sayang!” Rifa mengetuk-ngetuk pintu gudang tempatku dikunci. Aku menyahut panggilannya sekencang mungkin, berharap ia tahu betapa tak nyamannya berada di dalam sini. “Wait a minutes, Baby. Aku bakal bebasin kamu secepatnya.”


“Iya, Fa!” sahutku lega.


“Nadine, gue minta lo serahin kuncinya sekarang juga. Kita gak tahu di dalam sana ada hewan apa aja. Jadi tolong jangan ambil risiko. Toh kalau Alexa kenapa-kenapa lo sendiri yang bakal kena hukuman,” bujuk Rifa panjang lebar.


“Nggak!” seru Nadine tegas. “Nggak, kecuali lo putusin cewek itu!”


“Nadine!” Lagi-lagi Rifa membentak. “Tolong jangan paksa gue ngelawan cewek!”


Nadine pantang menyerah. Ia bersikeras membantah apa pun yang Rifa perintahkan. Perdebatan terus berlanjut hingga kakiku tak kuat menopang berat badanku lagi. Bukan hanya terhalang jeruji, rupanya jendela gudang ini pun tertutup lemari dari dalam, membuat ruangan yang gelap gulita ini semakin pengap saja. Jika kau pernah menyelam ke dalam air tanpa alat bantu apa pun selama beberapa menit, seperti itulah rasanya.


“Mama … tolong aku,” isakku lirih.


Aku … ah, mengapa semakin pengap saja di sini? Sepertinya bukan lagi oksigen yang kuhirup, melainkan karbondioksida.


Perlahan, tubuhku mulai terkulai lemas. Dalam lirih aku berdoa pada Yang Maha Kuasa demi menjaga sedikit kewarasanku. Tak lagi kupedulikan drama melankolis yang tengah berlangsung di luar. Malah rasanya aku sudah tidak mendengar obrolan apa pun lagi. Atau jangan-jangan, telingaku ikut tuli juga?


Buk!


Buk, buk, buk!


Brak!!


“Huh, jadi segitu doang kemampuan lo?!” suara lain berkata. Suara cowok! “Katanya lo senior karate? Katanya lo pernah memenangkan kejuaraan karate tingkat provinsi? Tapi mana? Segini yang dibilang juara karate, hah!?”


“Gue ogah menyalahgunakan kemampuan bela diri gue buat ngelawan orang kayak lo!” suara Rifa terdengar tenang.


“Cih! Udah babak belur pun lo masih sombong juga! Cewek-cewek di sini bener-bener gak normal! Termasuk lo!” Aku tahu pasti Nadinelah yang ia maksud.


“Ngapain lo ngejar cowok lemah ini, hah!? Bego!”


“Akh!” jerit Nadine diiringi suara tamparan yang sangat kencang.


Rifa tertawa. “Seenggaknya gue gak pernah nampar cewek.”


“Sialan lo!”


Dan suara gedebukan lainnya menyusul tanpa jeda. Suara-suara mengerikan itu terdengar silih berganti.


Aku menutup telinga, berusaha menulikan pendengaran. Mataku semakin memanas dan perih.


“Rifa, hentikan!” teriakku di sisa penghabisan tenaga.


Tapi tak ada yang mendengar. Suara-suara tersebut justru bertambah kerap. Ketika kesadaranku berangsur lenyap, suara lain datang menyusul. Suara langkah-langkah tergesa.


Mungkinkah malaikat datang menjemput?


***


Aku mengerjap beberapa kali. Efek dari minyak kayu putih yang dioleskan di kening membuat mataku sulit terbuka.


Rifa duduk di samping kiriku dengan wajah babak belur maksimal, di sebelahnya ada cowok dengan sedikit luka yang kuduga menjadi lawan Rifa tadi, dan di sisi paling kiri ada Nadine. Tidak seperti saat berduaan denganku, kini ia tidak berani mengangkat wajah sama sekali. Ia menunduk dalam-dalam.


“Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Pak Andres—wakasek kesiswaan yang terkenal tegas—pada kami. Pandangannya menyapu empat orang murid di depannya satu-persatu. Tidak ada yang membuka mulut. Semua membisu.


“Nadine, bisa kamu jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Pak Andres lagi. “Sebagai wakil ketua OSIS, mengapa kamu membiarkan mereka berdua berkelahi? Padahal kamu ada di sana saat kejadian berlangsung."


Nadine tetap menunduk.


“Rifaldi, kamu kan ketua MPK, apa pantas seorang pemimpin berkelahi di sekolah? Merasa jagoan, kah? Jangan mentang-mentang punya keahlian bela diri, kamu bisa menghajar orang seenaknya. Saya atlet bela diri, tapi saya tidak pernah berkelahi seperti yang baru saja kamu lakukan. Saya hanya berkelahi di arena pertandingan.”


Rifa tidak menjawab. Ia menegakkan posisi duduknya seraya memokuskan pandangan ke arah Pak Andres.


“Kamu,” Pak Andres membuka-buka arsipnya sejenak. “Jonathan yang sering membuat ulah itu, kan? Ini kasus ke berapa kamu?”


"Seratus, mungkin.” Lawan Rifa yang ternyata bernama Jonathan itu menjawab enteng cenderung mencemooh.


“Benar-benar tak beretika,” komentar Pak Andres pedas.


“Memangnya kamu siapa?”


Aku terkaget-kaget. Ya ampun, berani sekali dia pada guru!


Pak Andres tak menggubris. Kutebak ia sudah terbiasa menghadapi siswa bandel macam Jonathan. “Dan terakhir …, siapa nama kamu?”


“Alexa …” cicitku setengah malu. Masa di antara keempat orang di depannya ini hanya aku yang tidak dikenal Pak Andres? Sebegitu kupernya kah aku? Tapi setidaknya statusku masih jauh lebih baik dibanding Jonathan yang dikenal sebagai siswa super nakal.


“Kelas?”


“XI IPA 5, Pak.”


“Oh, kamu satu kelas dengan Rifaldi?”


Baru saja aku hendak mengiyakan, Jonathan keburu memotong. “Dia ceweknya Rifaldi. Masa, sih gak kenal?”


Pak Andres berusaha menahan emosi yang sepertinya sudah di ubun-ubun. Untuk itu ia memilih fokus padaku. “Jadi, mengapa kamu bisa ada di dalam gudang?”


Aku sempat ragu untuk menceritakan yang sebenarnya atau tidak. Namun mengingat betapa menderitanya aku di dalam sana, akhirnya kuputuskan untuk berkata jujur. Lagipula siapa sih, Nadine? Mengapa aku harus berbohong demi dia? Tidak ada alasan, bukan?


Maka mengalirlah kisah nyata tersebut dari sudut pandangku. Pak Andres berkali-kali terenyak, tak menyangka wakil ketua OSIS yang kadar kecantikannya di atas rata-rata tersebut tega berbuat keji padaku.


“Benar begitu, Nadine?” selidiknya tajam.


Nadine yang sejak mendengar penuturanku tidak lagi menunduk, menjawab cepat, “Gak ada bukti dan saksi mata, Pak!”


“Ada!” sahutku. “Penjaga sekolah pasti tahu, Pak. Dia pernah meminjam kunci gudang dari Mang Sapta sebelum menduplikasinya!”


Pak Andres menggeleng kecewa. “Itu tindak kriminal, Nadine. Gudang itu sudah lama tidak dipakai. Bahkan sebenarnya Mang Sapta sudah saya larang meminjamkan kunci pada siswa mana pun. Saya tidak tahu bagaimana cara kamu membujuk dia sampai bisa mendapatkan kunci tersebut. Nanti akan saya tindak lanjuti pada yang bersangkutan, juga meminta pertanggung jawabannya.


"Dan Nadine, kamu pasti tahu di dalam sana sangat tidak aman. Banyak hewan melata yang berkeliaran. Bahkan mungkin ada ular, kalajengking, kecoa, tikus. Untung Alexa baik-baik saja. Tindakanmu ini bisa membuatmu kehilangan jabatan dan di-skors.”


Kali ini gantian Nadine yang terenyak. “Jangan, Pak! Saya benar-benar tidak sengaja. Saya minta maaf.”


“Tidak bisa. Perbuatan kamu sudah di ambang batas toleransi kami mengingat jabatanmu sebagai wakil ketua OSIS.”


Adegan melankolis antara Pak Andres dan Nadine berlangsung selama kurang lebih lima menit. Mungkin akan lebih lama lagi andai Jonathan tidak segera menengahi. “Itu bukan salah Nadine! Aku yang nyuruh dia ngunci cewek itu di gudang, terus aku hajar pacarnya di depan gudang!”


“Apa motif kamu?” Emosi Pak Andres mulai terpancing.


“Gak ada. Just for fun,” jawab Jonathan—yang sialnya—tetap kalem.


Guru di depanku itu menghela napas berat lalu mengembuskannya sekencang mungkin. “Baik. Mengingat kenakalanmu selama ini, juga kekurangajaranmu terhadap semua guru, pihak sekolah akan melakukan rapat dalam waktu dekat untuk menindaklanjuti segala perbuatan burukmu itu.”


“Diskors lagi?” ejek Jonathan. “Gue bosen diskors melu…,”


“Di dalam dompetnya ada g*nja, Pak,” potong Rifa membuat Jonathan bungkam. "Minggu lalu saat dilakukan razia oleh anggota OSIS dia tertangkap tangan atas kepemilikan barang tersebut. Tapi gak ada yang berani menyita atau melapor. Semua takut karena dia preman. Saya sendiri baru tahu tadi pagi dari Afrizal, ketua OSIS."


Hening. Semua saling menatap satu sama lain selama lima detik yang terasa panjang.


Pak Andres menjadi orang pertama yang membuka suara. “Kemarikan dompetmu!” serunya tegas.


“Aku gak bawa g*nja …”


“Jonathan, kemarikan dompetmu!”


“…”


“Cepat, kemarikan!”


Tidak bisa dibantah. Ternyata gosip yang mengatakan guru ini sangat tegas benar adanya. Dan aku tengah membuktikannya sekarang.


Jonathan-tukang-bikin-onar yang sejak tadi bersikap tak sopan saja langsung tak berkutik ketika nada Pak Andres naik satu oktaf. Anak itu menyodorkan dompet dari saku celananya setengah hati yang langsung direbut Pak Andres dengan kasar.


Semua bungkam sementara Pak Andres menggeledah isi dompet dalam genggamannya. Tak sampai satu menit, ia berhasil menemukan objek pencariannya.


"Ini apa?" tanya Pak Andres. Jari tengah dan telunjuknya mengapit sebuah kertas putih yang dilipat cukup kecil.


Tangan Jonathan terlihat gemetaran. "I.. itu..."


Aku menahan napas saat Pak Andres membuka bungkusan kertas tersebut di atas meja. Tepat di depan mata kami. Beliau tak dapat menahan desah kecewa begitu ucapan Rifa terbukti benar adanya.


Pak Andres membisu, tampak serius dengan pikirannya.


“Jonathan," ujar beliau akhirnya. "Mengingat semua pelanggaran yang telah Anda buat, termasuk benda haram ini, juga tingkah konyol Anda yang bisa saja membahayakan nyawa orang lain, sepertinya saya tidak ragu untuk mengucapkan selamat tinggal pada Anda saat ini juga.”


“Ma... maksudnya?”


“Ya, tanpa perlu rapat dengan guru lain, Anda akan kami keluarkan dari sekolah ini sekarang juga! Kami tidak ingin satu orang pengacau merusak wibawa sekolah ini!”


Brag!!!


Jonathan menggebrak meja di antara kami dan Pak Andres, membuat semua orang di dalam ruangan menjengit kaget. Ia bangkit, menatap guru di depannya setajam mungkin. “Ini gak adil,” desisnya sinis.


Jujur saja, aku sampai mengerut di tempat mendengar desisan berbahaya tersebut. Rifa yang sepertinya mengerti akan ketakutanku mencoba menenangkan dengan genggaman lembut jemarinya.


Tidak ada tanggapan. Pak Andres balas menatap Jonathan tajam.


“Jonathan tidak bersalah, Pak!” Tiba-tiba si cantik berseru. “Itu semua ide saya. Dia sama sekali tidak ada andil dalam peristiwa pengurungan Alexa di dalam gudang. Dan saya yang menyuruh dia untuk memukul Rifaldi!”


“Bohong, Pak!” sahut Jonathan cepat. “Iya, saya mengaku bersalah! Saya pelaku semua huru-hara di sekolah ini. Saya siswa kurang ajar. Saya tidak berhak sekolah di tempat ini lagi. Saya rela dikeluarkan!”


“Jo, lo jangan ngarang-ngarang cerita!”


“Justru lo yang ngarang cerita!” tandas Jonathan. “Demi apa lo nyuruh gue mukulin cowok idola lo itu, hah?!”


“Tapi Jo …”


“Nggak pernah, kan?!” Jonathan kembali menatap Pak Andres. “Semua udah jelas? Saya yang bersalah, Anda boleh mengeluarkan saya sekarang juga. Tapi ingat, jangan sampai ada sejengkal pun bagian tubuh Nadine yang terluka.”


Pak Andres mendengus. “Baik. Kami akan segera membuat surat pemanggilan untuk kedua orangtua Anda agar proses pengeluaran ini dapat dilakukan secepatnya.”


Nadine menatap nanar. “Tapi, Pak, ini bukan sepenuhnya salah Jo.”


“Sekarang kalian kembali ke kelas.”


“Tapi, Pak …”


“Rifaldi, segera obati lukamu di ruang UKS. Dan kalian bertiga, langsung kembali ke kelas.”


“Tapi, Pak …”


Pak Andres bangkit. “Selamat siang!”


FLASHBACK OFF


***


“Seminggu kemudian, Jo resmi didrop out,” ujar Andre.


“Dan gara-gara itu, ayah Jo kena serangan jantung, lalu meninggal dunia,” sambungku lirih.


“Lo tahu, Xa? Sejak saat itu, Nadine yang asalnya benci banget sama Jo karena selalu ngejar-ngejar cewek itu, akhirnya berbalik peduli lalu menjadi sayang. Gue pastiin sekarang dia udah gak ada rasa lagi sama cowok …,”


“Mantan cowok,” ralatku.


“Ya, dia udah gak ada rasa lagi sama ‘mantan’ cowok lo,” ulang Andre sambil tersenyum geli. “Nah, makanya dia langsung nyebarin gosip gak bener tentang peristiwa hari itu ke komunitas Rifa Maniac—duh, fanatik banget fans co … ya, ya, mantan cowok lo—Gue kira yang kayak begituan cuma ada di sinetron doang.”


“Berarti dugaan gue bener, Dre,” kataku tanpa memedulikan komentar sarkasme Andre. “Asalnya komunitas itu cuma sedikit iri karena gue berhasil bikin Rifa tobat dari ke-playboy-annya. Tapi hasutan Nadine akhirnya bikin mereka jadi super benci sama gue. Cewek itu pasti bilang kalau Jo dikeluarin dari sekolah gara-gara gue, maka otomatis kematian bokapnya pun gara-gara gue . Luka ditaburin garam pasti makin parah, kan? Itulah yang terjadi di sini.”


Andre mengangguk-angguk. “Gue gak tahu cerita macam apa yang udah dia karang, yang pasti dia keren banget bisa bikin mereka sebegitu bencinya sama lo, tapi tetap nge-fans sama mantan cowok lo—nah, sekarang gue gak salah lagi, kan?” Ia tertawa puas, membuat tanganku gatal ingin menjitak kepalanya.


“Miris banget ya nasib gue, Dre,” renungku. “Ngetop nggak, tapi yang benci banyak."


“Sabar aja, Xa. Dulu gue juga punya banyak haters, kok.”


Mataku terbelalak. “Oh, ya? Kok bisa orang kayak lo punya haters?”


Andre mendengus geli. “Maksudnya apa ‘orang kayak lo’ itu?”


“Eu … itu …” Aku bergerak salah tingkah. “Lo paham maksud gue, lah!”


“Lo pengin tahu banget?” pancing Andre. Kepalaku kontan mengangguk. “Sayangnya gak akan gue ceritain sekarang. Wleee ....” Ia menjuluran lidahnya jenaka.


“Dih, kenapa gak sekarang aja?” rengekku. “Jangan bikin gue gak bisa tidur karena dihantui penasaran.”


“Serius gue gak bisa cerita sekarang,” katanya sambil mengangkat dua jarinya membentuk huruf V. “Pertama, gue belum siap buka aib. Kedua, ini udah sore banget, Nona. Gue gak mau bikin ortu lo cemas.”


Ya ampun, mengapa aku sampai tidak sadar langit sudah menjingga? Ah, semoga Mama tidak memarahiku karena pulang telat. Semoga.


“Dan gue rasa,” kata Andre tiba-tiba serius. “peristiwa itu pun bisa jadi motif dari teror yang kalian alami belakangan ini.”


Aku mengerutkan kening. Berpikir keras untuk beberapa saat.


“Dre.”


Andre menoleh.


“Dari mana lo tahu gue dan Rifa diteror? Gue kan, belum pernah cerita sama lo."


***


“Ini rumah gue.” Aku sudah sampai di depan rumah dengan selamat.


Andre yang tengah duduk di jok motor membuka kaca helmnya selebar mungkin sambil memperhatikan sekeliling. “Adem banget rumah lo, ada pohon gedenya.”


“Adem apa angker?” tanyaku.


Cowok itu tertawa. “Kalau siang adem, kalau malem kayaknya rada serem. Tapi gak tahu juga, sih …,” ujarnya mengambang. Ia tampak terpaku sesaat. “Eh, itu si Raka, kan? Jadi dia tetangga lo?”


Aku mengikuti arah pandangan Andre. “Iya itu Raka, tetangga gue dari kecil. Emang kenapa?”


“Tuh anak tadi ngebentak gue gak jelas,” kata Andre. “Makanya muka gue asem pas nunggu lo di tempat parkir.”


Mataku melebar. “Serius lo? Dia bilang apa ke elo?”


“Dia bilang gini ‘lo mau jalan sama Alexa? Bawa yang bener, jangan kebut-kebutan! Kalau sampai dia kenapa-kenapa, lo orang pertama yang bakal gue cari. Artinya, abis lo!’,” terang cowok di depanku itu mengikuti gaya nyolot Raka. “Dia cowok baru lo, ya? Kok posesif banget, sih?”


“Cowok baru apaan?” bantahku langsung. “Bukan lah, dia itu cuma tetangga gue. Tetangga dari kecil tepatnya. Makanya dia peduli banget sama gue. Maklumin aja, ya. Dia emang kayak gitu dari lahir.”


“Oh, cuma tetangga? Kalau gitu gue masih ada harapan, dong?” Andre mengedip-ngedipkan matanya genit.


“Ih, lo apaan, sih …?”


Sepertinya wajahku jadi merah maksimal, sehingga Andre makin bersemangat mengolok-olok. “Lo mau gak jadi cewek gue, Xa?”


“Udah ah, pulang sana pulang!”