
Libra memandangi cincin yang melingkar di jari manisnya. Mengangkat tangannya di atas wajahnya dan kilauan berlian kecil itu bersinar di terpa cahaya lampu. Cincin itu memang dibeli dari hasil jerih payah Virgo. Lelaki itu meminta ayahnya untuk mengajaknya bekerja bersama untuk membantu apapun pekerjaan beliau. Memang hanya beberapa hari saja dan uang hasil kerjanya itu sebagai tambahan dari tabungan untuk membeli cincin pertunangan. Meskipun tidak banyak, setidaknya ada jerih payahnya di dalam cincin itu, karena nanti cincin tersebut akan menjadi cincin pernikahan juga.
Senyum Libra terbit ketika mendengar cerita itu dari ayah Virgo ketika acara kemarin, hatinya menghangat karena perjuangan yang dilakukan oleh kekasihnya. Merasa beruntung karena diperjuangkan oleh lelaki bernama Virgo.
“Ngapain?” Virgo menghubungi Libra ketika gadis itu masih memeriahkan kebahagiaannya karena keterikatan dengan lelaki itu.
“Lagi mandangin cincin yang kamu pakaikan di jari aku.” Libra tersenyum masih dengan setia terus menatap cincin tersebut.
“Kamu suka?”
“Aku bahagia.” Jawab Libra.
“Maksud aku, kamu suka sama cincinnya?” karena Libra menolak untuk memilih model cincin yang akan mereka pakai dalam pertunangan, maka Virgo dibuat pusing karena harus memilih sendiri perhiasan tersebut.
Perdebatan terjadi ketika dia dan ibunya memiliki selera yang berbeda. Virgo yang lebih suka Libra memakai cincin dengan berlian kecil namun elegan, sedangkan ibunya lebih menyukai berlian yang menonjol dan terlihat mewah. Karena perdebatan itu, Virgo meminta pendapat Libra untuk hasil akhir. Dan pilihan Virgo lah yang disetujui oleh gadis itu.
“Suka banget. Kamu kan udah pernah tanya ini waktu itu?” benar, entah sudah berapa kali Virgo memastikan jika Libra menyukai benda yang melingkar di jari Libra tersebut disukai oleh gadisnya.
“Aku cuma memastikan kalau keputusan kamu nggak berubah.” Nada suara Virgo menyebalkan dan membuat Libra mendengus, “Aku video call aja.” Dan beberapa saat kemudian, wajah Virgo sudah terpampang di layar ponsel milik Libra.
“Mau kemana?” Virgo terlihat sudah rapi dengan jas berwarna abu dengan dalam kaos putih dan tentu saja terlihat tampan. Duduk di kursi dengan bersedekap menatap Libra yang masih di atas kasur dengan wajah berantakan.
“Mau meeting sama kakek. Sama ayah juga.”
“Emangnya kamu sering ikut meeting gitu sekarang?”
“Meeting tentang masa depan kita.” Ada kerlingan mata yang diberikan kepada Libra untuk menggoda gadis itu.
Libra berdecak dan memanyunkan bibirnya. Dan membuat Virgo terkekeh gemas. “Belum mandi ya?”
“Udah. Tapi malas dandan.” Libra kembali berbaring dan mengarahkan layar ponselnya di depan wajahnya. Karena Virgo akan mengomel jika sedikit saja wajahnya tertutup jika mereka sedang melakukan panggilan video.
“Pulang dari meeting nanti, aku jemput.” Waktu memang sudah mengharuskan Virgo untuk segera berangkat, “Kita kencan ala cabe-cabean.” Katanya. Dan tak menunggu salam perpisahan terlebih dulu, lelaki itu mematikan panggilan itu.
“Dasar kampret. Kebiasaan.” Kata Libra bergumam sendiri. Memang seperti itu lah kebiasaan buruk Virgo yang membuat Libra kesal. Namun selalu berakhir dengan tawa ketika Virgo melakukan hal yang disukai oleh gadisnya.
*.*
“Kalau kata mama, kamu dan Libra nggak perlu tinggal berdua saja setelah menikah. Kamu bisa tinggal di rumah kita.” Suara Firman terdengar ketika mereka membicarakan masalah keinginannya untuk tinggal berdua dengan Libra setelah mereka menikah.
Mereka semua sedang berada di rumah Wondo ketika membicarakan masalah ini. Di dalam ruang kerja lelaki tua itu agar lebih bisa focus.
“Menurut kakek itu akan lebih baik. Libra bisa belajar dari ibumu untuk menjadi istri yang baik.” Jawab Wondo menyetujui ucapan putranya. Jujur saja bukan hanya ibu Virgo yang menginginkan itu, tapi Firman pun belum ingin terpisah dengan Virgo. Beliau memang sangat menyetujui pernikahan itu, tapi jika untuk benar-benar melepaskan putra satu-satunya itu untuk tinggal jauh dari rumah, masih sangat berat sekali.
“Tapi aku ingin tinggal berdua dengan Libra setelah kami resmi, Kek, Pa. Tinggal di dekat kampus kalau bisa. Aku benar-benar ingin mandiri. Ya, meskipun masih dapat sokongan dana dari Papa sama Kakek.” Kalimat terakhir itu diucapkan dengan lirih karena merasa malu dengan dirinya sendiri.
“Jujur aku malu dengan kalian. Ulahku membuat semuanya menjadi berantakan.”
“Siapa yang beranggapan seperti itu?” Firman memasang wajah serius, karena tidak suka dengan apa yang dikatakan oleh putranya.
“Kamu nggak pernah membuat semuanya menjadi berantakan. Jangan bilang seperti itu atau papa akan marah.” Bagi Firman, putranya memang tak pernah membuat dirinya kecewa meskipun terkadang ulah Virgo benar-benar menyebelkan.
“Semua biaya kehidupan kamu akan papa tanggung, kamu hanya perlu kuliah dan belajar yang benar. Pun dengan Libra.”
“Aku mau kerja.” Virgo memang sudah pernah mengatakan ini kepada ayahnya, namun dia kembali mengatakan kembali untuk menegaskan kepada ayahnya jika dia benar-benar serius. Apalagi ayahnya seolah melupakan keputusan itu.
“Vir!”
“Pa!” suara Firman tertelan kembali ketika Virgo memutuskan untuk berbicara, “Bagaimanapun, aku sudah akan menjadi kepala keluarga. Kemana harga diriku ketika aku nggak kerja dan selalu mengandalkan sokongan dari Papa dan Kakek?”
“Memangnya kenapa? Kamu adalah cucu Kakek. Semua hal yang sekarang ini kakek miliki adalah milik kamu. Semua yang ayah kamu punya adalah punyamu, itu bukan masalah besar.” Wondo ikut memasang wajah serius ketika mengatakan itu.
“Tapi ini udah menjadi keputusan aku, Pa, Kek.” Katanya bersi kukuh, “Kalau Papa dan Kakek nggak mau kasih aku pekerjaan, aku akan mencarinya sendiri.”
“Anak ini.” Firman sambil mengetatkan giginya ketika mengatakan itu. Hanya sebagai catatan saja, Virgo bukan lelaki yang hanya suka menikmati saja kenikmatan materi dan semua fasilitas yang diberikan kepada ayah dan kakeknya. Dia memiliki pemikiran yang panjang akan masa depannya sendiri.
“Kalau begitu, biar kakek yang mengatur.” Jelas saja kedua lelaki yang berada di depan Virgo itu tahu bagaimana kerasnya Virgo jika sudah memutuskan sesuatu. Mereka tak akan membiarkan Virgo membuat ulah yang akan membuat mereka sakit kepala nantinya.
“Urusan pekerjaan. Sudah terselesaikan. Sekarang masalah tempat tinggal.” Begitu kata Firman, “Apa rencanamu?”
“Aku akan mengontrak rumah di dekat kampus.”
“Tidak!” sedetik kalimat itu keluar dari bibir Virgo, Firman langsung menolaknya mentah-mentah, “Bocah ini benar-benar.” Dan kembali lagi Firman mengetatkan giginya ketika mengatakan itu. Bahkan Virgo saja hampir tertawa melihat ayahnya yang seperti itu.
“Papa akan belikan rumah di sana. Atau apartemen. Di dekat kampus kamu kan ada Gedung apartemen, kamu bisa tinggal di sana.”
“Aku nggak mau apartemen.” Begitu kata Virgo, “tinggal di apartemen itu nggak bisa leluasa, Pa. Lebih baik aku kontrak rumah.”
“Kalau begitu biar papa yang atur.”
“Enggak.” Penolakan itu membuat Firman melototkan matanya dengan sebal kepada putranya.
“Jujur, aku sebenarnya ingin benar-benar mengawali semuanya dari bawah, Pa. Karena aku belum punya uang banyak, aku ingin mengontrak terlebih dulu. Setelah uang hasil aku kerja nanti sudah terkumpul, aku ingin menyicil untuk membeli rumah.”
“Kakek gila lama-lama gara-gara kamu, Vir.” Wondo menggeleg-gelengkan kepalanya dengan lelah, “Sekarang kamu pilih saja, kamu mau tetap tinggal dengan orang tua kamu, atau kamu mau menerima rumah yang akan dibelikan ayahmu?” dan kini giliran Virgo yang merasa sakit kepala gara-gara itu.
“Kek!” mohon Virgo kepada lelaki itu, “Hidup Virgo kan nggak harus terus dimudahkan oleh Papa dan Kakek. Aku akan jadi lelaki manja nantinya.”
“Lalu kenapa kalau kamu manja? Toh kamu manja sama papa dan kakekmu sendiri, bukan manja dengan orang lain.” Virgo benar-benar diserang oleh kedua lelaki itu tak tanggung-tanggung.
Namun akhirnya dia memutuskan untuk mengambil keputusan setelah bertanya terlebih dulu kepada Libra. “Kalau gitu biar aku tanya dulu kepada Libra.” katanya dengan lelah.
“Kalau begitu kita akan membicarakan ini dengan Libra besok.” Itu adalah keputusan dari Wondo. Memang seharusnya seperti itu kan? Agar bisa mendengar apa keinginan calon suami istri tersebut.
Dan pembicaraan kali ini memang tidak memiliki keputusan final. Maka Virgo memutuskan untuk menjemput Libra setelah mengirimkan chat kepada gadis itu agar segera bersiap-siap.
*.*
Di apartemen Libra hanya ada Libra seorang diri karena ibunya pergi untuk mengurus sesuatu katanya. Virgo duduk di sofa menungguk Libra menyelesaikan dandannya sambil mengotak-atik ponselnya. Mulutnya mengunyah pastel. Virgo memang sudah mengetahui kata sandi unit tersebut, jadi jika dia tak kunjung di bukakan pintu oleh Libra, dia tak perlu susah untuk masuk ke dalam sana.
“Kok cepet, Yang?” Libra keluar dari kamar sudah rapi. Memakai kaos berlengan pendek berwarna putih dengan jaket sebagai luaran. Ikut duduk di dekat Virgo dan membuka mulutnya untuk meminta Virgo menyuapi bekas gigitan pastel yang lelaki itu makan.
Virgo memasukkan pastel itu ke dalam mulut Libra dan dia kembali dengan ponselnya. “Karena harusnya ada satu orang yang ikut dalam meeting itu.” Kata Virgo dengan santai.
Libra mengangguk mengerti namun dia tak mengerti satu orang itu adalah dirinya. Namun Virgo sama sekali tak memberitahukan terlebih dulu. Biar nanti saja setelah mereka pergi berkencan.
“Main hp nya udah?” karena jengah dengan Virgo yang tak kunjung berdiri untuk segera mengajaknya berangkat maka Libra menyadarkan Virgo dengan sindiran.
Virgo menoleh ke arah Libra kemudian menghentikan aktivitasnya dengan ponselnya. Menarik tangan Libra agar masuk ke dalam pelukannya. “Makanya jangan lama-lama kalau dandan, aku kan jadi nungguin lama.”
“Memang kamu mau aku kelihatan dekil?” Libra mengerucutkan bibirnya karena ucapan kekasihnya.
“Ya udah ayo berangkat.” Waktu sudah siang dan kalau mereka menundanya, maka mereka akan pulang terlambat juga.
Sepanjang mereka berjalan untuk turun ke lantai bawah, mulai keluar dari unit Libra, masuk ke dalam lift, sampai ke parkiran, tangan mereka terus saja berpegangan. Tak ada Virgo melepaskan genggaman tangannya barang sebentar saja.
“Mau kemana?” Libra yang bertanya.
“Kan mau kencan ala cabe-cabean.” Jawab Virgo dengan ringan.
“Kamu aneh-aneh deh,Yang. Emang kencan ala cabe-cabean itu gimana?” Virgo memang sekarang sudah sedikit berubah. Karena tidak sembarangan mengajak Libra pergi ke tempat-tempat yang super biasa seperti waktu dulu.
“Nonton, pergi ke timezone, makan, ya gitu-gitu lah, Yang.”
Libra menolak. “Ke tempat-tempat kaya waktu itu aja lah, Yang. Lesehan, makan di depan minimarket, gitu-gitu aja.” Itu adalah usulan Libra karena memang sekarang ini sudah jarang Virgo mengajaknya ke tempat yang seperti itu.
“Kita jalan dulu ke mall. Ada yang mau aku beli juga.” Virgo bukannya menolak, tapi memang ada sesuatu yang ingin dia beli di tempat itu.
Jadi, mereka memutuskan untuk pergi ke mall. Berkencan di sana seperti cabe-cabean. Begitu kan tadi Virgo?
Libra sengaja memakai kaos berwarna putih karena dia tahu Virgo memakai kaos yang seperti itu juga. Maka ketika keduanya melepaskan jaket yang dipakainya, mereka seperti memakai baju couple. Meskipun manis, tapi itu sudah meinstreem sekali.
Tubuh yang super jangkung yang dimiliki oleh Virgo juga selalu menjadi pusat perhatian orang banyak. Apalagi jika melihat wajah lelaki itu yang tampan, maka tak akan ada orang yang mengabaikannya. Bahkan ketika lengannya dipeluk oleh Libra yang menandakan jika Virgo jelas-jelas sudah memiliki kekasih.
“Kamu mau beli apa?” mereka sudah berada di lantai dua.
“Aku butuh sepatu.” Virgo menarik Libra ke toko sepatu dan masuk ke dalam sana. Memilih-milih sepatu yang sekiranya cocok.
“Mau sepatu yang gimana, Yang?” Libra akan memilihkan juga tapi dia belum tahu sepatu seperti apa yang diinginkan oleh kekasihnya itu.
“Sepatu kerja,” kernyitan Libra terlihat karena jawaban itu.
“Bukannya sepatu formal kamu udah ada ya?”
“Udah, tapi terlalu resmi sekali, Yang. Aku maunya yang biasa aja lah.”
“Tapi aku kemarin ada lihat sepatu di lemari kamu beneran ada yang biasa aja lho.” Virgo berhenti memilih dan menatap Libra.
“Jadi nggak usah beli?” hanya untuk meminta pendapat saja sebenarnya. Karena apa yang dikatakan oleh Libra memang benar adanya. Sepatu Virgo memang tak sedikit. Lemari tinggi yang dikhususkan untuk sepatu saja sudah hampir penuh. Maka kalau bisa, Libra mencegah lelak itu untuk tak membeli lagi.
“Memang kamu mau kemana sampai harus membeli sepatu baru?”
“Bekerja.” Jawaban pasti itu diberikan kepada Libra. “Kita keluar dulu.” Virgo kembali keluar dari toko tersebut dan membawa Libra untuk duduk di kursi yang tersedia di mall tersebut untuk menjelaskan sesuatu.
“Aku meminta kakek untuk memberiku pekerjaan.” Awalnya. Harusnya dia menjelaskan itu nanti saja, tapi sudah terlanjur, jadi Virgo melanjutkannya.
“Sebentar lagi kita kan akan menikah, nggak mungkin aku berpangku tangan begitu saja sedangkan statusku sudah menjadi seorang suami.” Meskipun itu terdengar menyedihkan di telinga Libra, namun Virgo terlihat tersenyum dengan tulus.
“Aku akan tetap bekerja sebagai tanggung jawabku sebagai kepala rumah tangga. Dan itu adalah langkah baru dalam kehidupaku. Entah kenapa aku merasa tegang, senang, dan entah perasaan seperti apa yang ada di dalam hatiku sekarang ini karena bercamur menjadi satu.”
“Kamu terbebani dengan ini?”
“Sama sekali enggak.” Jawab Virgo cepat, “Justru aku sangat exited dengan ini.” Libra sama sekali tak melepaskan tatapannya ke wajah Virgo dengan fikiran melayang.
“Kamu sudah menyiapkan semuanya demi aku.” Mata Libra berkaca-kaca merasa terharu, “Tapi aku sama sekali nggak melakukan apapun.”
“Kamu memang nggak perlu melakukan apapun. Karena tugas kamu cuma satu, yaitu berbakti kepada suami.”
*.*