
Andre memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Kendatipun demikian, aku tetap berteriak-teriak memintanya lebih cepat lagi.
Firasatku benar-benar tak keruan. Nenek bilang Rifa sudah ada di Purwakarta sejak kemarin pagi. Lalu mengapa ia tidak masuk sekolah, dan mengapa rumahnya kosong?
“Sabar, Xa. Gue gak mau kecemasan lo justru bikin kita celaka!” teriak Andre di sela usahanya bermanuver membelah jalanan padat Jakarta dengan kecepatan di atas rata-rata. Tak sedikit kendaraan mengklaksoni kami, lalu bersumpah-serapah kasar. Tapi peduli amat, yang ada di pikiranku saat ini hanya sampai di Purwakarta secepatnya.
“Ya Allah, di mana cucuku? Apa yang terjadi padanya? Apa terjadi sesuatu yang buruk?” seru nenek Rifa kalut.
“Tenang, Nek, tenang.” Andre berusaha menenangkan. “Mungkin Rifa lelah, makanya kemarin gak masuk sekolah. Siapa tahu hari ini dia ada di kelas. Kami gak bisa memastikan karena kami ada di sini.”
“Memangnya kapan terakhir Rifa menghubungi Nenek?” tanyaku serius.
“Begitu sampai di Purwakarta, Rifa langsung telepon Nenek.”
“Nah, setidaknya kita tahu Rifa baik-baik saja di perjalanan.”
Aku memejamkan mata rapat-rapat. Ya Tuhan, sebenarnya di mana Rifa saat ini?
***
“Apa? Rifa gak masuk, Cill?” Akhirnya setelah berkali-kali gagal mendapat respons, Cilla mengangkat teleponku. Aku tahu ini berisiko, tapi rasa cemas mengalahkan rasa takutku bertelepon saat motor melaju kencang.
“Nggak, Xa,” ulang Cilla. “Lo gak eling dari tadi nelepon gue pas jam pelajaran berlangsung! Kalau mau nelepon tuh jam segini pas lagi istirahat.”
“Ya maaf, Cill. Gue kan panik banget.”
“Lo nanyain Rifa ke gue, bukannya lo sama Andre lagi ke Jakarta buat nyari dia?”
Akhirnya, kuceritakan perihal kelenyapan Rifa secara ringkas. Cilla terenyak.
Kalau sudah begini, rasanya bagai tersesat di jalan buntu. Ingin melanjutkan langkah tak bisa, mundur pun tak tahu arah pulang. Sehingga jika tetap memaksakan diri, bukannya sampai ke tempat tujuan, kita justru makin tersesat dan hilang arah.
Kuakhiri panggilan dengan Cilla beberapa menit kemudian. Motor masih melaju kencang di jalan alternatif yang dipilih Andre untuk menghindari kemacetan. Kumasukkan ponsel ke dalam saku, lalu mencengkeram baju Andre lebih erat.
***
Andre menghentikan motornya di depan bangunan megah yang dulu pernah kami lewati. Ya, bekas rumah Andre sebelum ayahnya terlibat kasus kau-tahu-apa.
“Sekarang rumah ini jadi rumah teman gue,” ujar Andre menjawab keherananku. “Gue pengin mampir dulu, kebetulan dia lagi libur kuliah. Lo keberatan gak kalau nemenin gue sebentar? Atau mau gue anterin pulang aja?”
“Lho, kok malah main?! Rifa gimana, Dre?”
“Nanti sore kita cari lagi. Oke?” Ia tersenyum menenangkan.
"Tapi, Dre...."
“Dan inget, seragam lo masih ada di rumah gue,” ujar Andre sambil menghidupkan motornya kembali.
Aku menatap kemeja ungu yang tengah kukenakan. “Iya, tapi tujuan gue minta lo ngebut tadi biar bisa cepet cari petunjuk lalu ke kantor polisi, bukan malah leha-leha di rumah orang!"
Andre tidak menggubris. Ia mengemudikan motornya mendekati pintu gerbang, lalu menekan klakson tiga kali.
Tak lama, gerbang terbuka. Menampakkan sosok satpam tinggi besar berwajah masam. Jujur saja, aku ngeri melihatnya.
“Kak Hendrik ada, Pak?” tanya Andre basa-basi.
Pak Satpam hanya mengangguk singkat, lalu menyuruh kami masuk dan memarkirkan kendaraan di garasi yang terbuka.
Di dalam garasi, tiba-tiba Andre terkekeh. “Lo lihat tadi mukanya? Sumpah asem banget. Dari dulu gue ogah nyapa dia. Tapi anehnya, keluarga Hendrik doyan banget sama dia. Sampai pindah rumah pun tuh satpam-kurang-gula ikut mereka bawa pindah.”
“Ayo kita cari Rifa, Dre!"
Cowok itu maunya apa, sih? Kalau tahu bakal nyantai begini, kenapa tadi dia menurut waktu aku suruh buru-buru?
"Kalau lo gak mau bantuin cari Rifa, gue bisa sendiri!" putusku akhirnya.
"Alexa." Andre menatapku lekat. "Gue sebenernya gak mau spoiler, tapi temen gue yang mau kita semperin sekarang ini adalah seorang detektif lokal. Kita bisa minta bantuan dia."
Aku meragu.
Tanpa menunggu lama, Andre mengajakku masuk ke dalam rumah. Awalnya aku takut. Tapi begitu Andre meyakinkan tak ada yang perlu kukhawatirkan, akhirnya aku bersedia mengikutinya.
Kemegahan rumah ini mampu menandingi rumah Raka yang bagiku sudah bak istana. Di bagian paling depan bangunan, terpampang tujuh buah undakan berkeramik biru langit. Tanaman sulur tumbuh subur mengelilingi pilar-pilar penyangga. Pintu utama yang berukuran tinggi dua kali orang dewasa dengan engsel berwarna emas—aku tidak tahu apa itu emas asli atau bukan—terbuka dari dalam.
Seorang cowok yang tampak lebih tua dari kami menyambut di pintu utama. Kutebak ia cowok bernama Hendrik itu. Entah mengapa, garis wajahnya serasa tidak asing bagiku. Familiar.
Hendrik mempersilakan kami masuk dan duduk. Tampaknya ia mengetahui rencana kedatangan kami kemari. Terbukti dengan beraneka macam camilan yang telah tersaji di atas meja ruang tamu. Hanya makanan, tanpa minuman.
Awalnya kami mengobrol dengan canggung—maksudku, aku yang canggung—sambil diselingi mengunyah makanan. Tapi makin lama obrolan kami makin mengalir. Dan berakhir ngalor-ngidul tak tentu topik utama.
“Drik, apa sekarang udah waktunya?” tanya Andre tiba-tiba. Keningku mengernyit gagal paham.
Namun Hendrik mengerti apa yang Andre maksud. Ia mengangguk seraya tersenyum misterius, membuat perasaanku mendadak tidak enak.
“Waktu apa?” tanyaku dengan suara tercekat.
Menyadari perubahan ekspresiku, Andre tersenyum minta maaf. “Waktu buat minum, Xa. Dari tadi kita ngobrol belum minum apa pun, kan?”
Oh, ternyata hanya minum. Kupikir apa.
Hendrik lalu pamit ke belakang untuk membuatkan minuman. Sebenarnya aku heran mengapa ia tidak meminta asisten rumah tangga untuk mengerjakannya. Tapi sudahlah, itu tidak penting. Dan ngomong-ngomong, rasanya dari tadi aku tidak melihat orang lain di dalam sini selain kami bertiga. Masa sih, di rumah semegah ini tidak ada pembantu sama sekali?
Tak lama Hendrik kembali dengan tiga gelas jus jeruk di atas nampan. Satu diletakkan di hadapanku, sedangkan dua gelas lain di depan Andre dan dirinya sendiri.
Kami meminumnya bersamaan tanpa bersulang. Aku meneguk bagianku sampai tandas. Manisnya benar-benar pas, sangat jauh dengan minuman buatan Andre dulu.
“Kaset yang dulu pernah lo ceritain itu masih ada gak, Bro?” tanya Andre sambil meletakkan kembali gelasnya ke atas meja.
“Oh iya, gue sampai lupa!” Hendrik menepuk jidatnya pelan. “Ayo ikut gue, Bro. Kalau gak salah tuh kaset ada di kamar gue. Bantu nyari, yok!”
Andre dan Hendrik bangkit dari kursinya. Sebelum benar-benar meninggalkan ruang tamu, Andre berbalik menghadapku. “Lo mau di sini aja atau …?”
“Gue di sini aja,” jawabku.
Andre kembali berbalik lalu lari menyusul Hendrik yang sudah pergi lebih dulu.
Sambil menunggu keduanya, aku memutuskan untuk menghubungi Cilla kembali. Sekalian mengupdate bagaimana situasi terkini di sekolah. Memang sih, Cilla sudah membuatkan surat izin untukku dan Andre, tapi tetap saja rasa cemas itu ada. Apalagi menjelang ujian akhir semester di kelas dua belas begini.
Ketika mencari gawai di dalam tas, aku seperti teringat sesuatu.
Andre bilang, Hendrik itu detektif, kan? Tapi kok tadi kita sama sekali tidak membahas kasus Rifa? Dan herannya, mengapa aku baru sadar sekarang?
Belum sempat berpikir lebih jauh, tiba-tiba kepalaku berdenyut nyeri. Sangat nyeri sampai perutku mual dibuatnya. Rasanya bagai dihunjam se-ton paku tepat di tulang tengkorak.
Dengan kedua tangan mencengkeram kepala, kurasakan tubuhku ambruk dari atas kursi. Lalu gelap. Aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya.