
Lagi-lagi aku lupa bawa bekal makan siang. Sudah pasti Rifa mengomel panjang-lebar. Tapi tak urung ia menemaniku ke kantin. Biar bagaimanapun, aku kan pacarnya.
Sementara mulutku sibuk menikmati kuah bakso super lezat buatan Bi Elah, Rifa tampak serius memeriksa ponselku, memastikan tidak ada SMS mencurigakan antara aku dan cowok lain. Terkadang ia bisa sangat posesif. Mestinya Rifa tahu, selain dia, mana ada cowok yang akan tertarik padaku? Aku kan tidak secantik mantan-mantannya.
Tiba-tiba tiga orang cewek melangkah anggun mendekati bangku kami—atau tepatnya bangku Rifa—seraya memasang senyum asimetris. Dilihat dari gelagat angkuhnya, kutaksir mereka anak kelas dua belas juga. Ketiganya baru berhenti melangkah setelah benar-benar berada di samping Rifa.
“Hei, Rifa!” sapa cewek nomor satu. Tubuhnya menjulang tinggi, kira-kira mencapai 170 cm. Dari seragamnya menguar aroma parfum bayi.
Rifa menatapku penuh tanya. Seolah mengatakan 'siapa mereka?', kemudian beralih lagi pada cewek-cewek tadi. “Hai,” balasnya kalem. “Ada apa?”
“Kenalin, gue Giantika, dia Isabell, terus dia Gembel.” Si cewek nomor satu, Giantika, memperkenalkan. Si Gembel menyikut Giantika keras.
“Maksud gue Genida Bellatiska, disingkat jadi Gembel.” Giantika mencoba meralat namun tetap mencemooh.
“Oke, terserah sama gembel lo itu, ada apa?” tanya Rifa to the point.
Mendadak Giantika seperti enggan berbicara. Mulutnya terkatup rapat. Melihat keraguan di wajah temannya, Isabell—yang memiliki kulit paling putih di antara ketiganya—beringsut maju menggantikan posisi temannya tersebut. Ia mengulurkan sebuah amplop pada Rifa.
“Apa ini?”
“Itu amplop,” jawab Isabell polos. “Andre anak IPS nitipin itu ke kami. Katanya dia dapet amplop itu dari Kevin yang juga dapet dari orang lain, terus orang lain itu dapet dari orang lain lagi dan orang lain itu ...,”
“Pengirim tidak diketahui,” potong Rifa cepat, mencegah Isabell semakin melantur.
Ketiga cewek berwajah angkuh itu mengangguk membenarkan. “Katanya lo harus baca. Itu bukan surat cinta,” kata Gembel.
Bengong sejenak, Rifa memasukkan amplop tersebut ke dalam saku kemejanya. “Terima kasih.” Ia tersenyum tulus.
Ketiganya menjerit centil disuguhi senyuman manis Rifa. Setelah saling berhigh-five-ria, mereka pamit kembali ke kelas. “Kami balik dulu, ya? Kalau mau tanya sesuatu, kamu bisa temui kami di kelas XII IPA 3. Dadah!”
Rifa menghela napas sambil mengeluarkan kembali amplop dari dalam sakunya. Ia masih dan tetap menimang-nimang benda tersebut hingga bel masuk berbunyi.
Sekalipun ingin, aku ragu akan siap melihat isinya.
***
“Amplop tadi isinya apa sih, Fa?” tanyaku. Ah sial, aku salah bertanya. “Isinya pasti surat. Cuma, isi suratnya apa?”
Sejak berada di dalam mobil, Rifa terus membisu. Responsnya datar saat aku menceritakan kembali drama Cilla-Jono tempo hari. Ia hanya bergumam sesekali dengan pandangan fokus ke jalan raya.
Tak kusangka selembar surat kaleng bisa mengubah orang sehangat Rifa menjadi begitu dingin.
“Bilang sama aku apa isinya!” pintaku lebih tegas.
Percuma, Rifa hanya memusatkan perhatiannya pada lalu lintas di depan. Atau mungkin ke tempat lain?
“Rifa, kalau kamu ngelamun kita bisa mati!” teriakku.
“Berisik! Aku merhatiin jalan, kok.” Rifa balas berteriak, membuatku terkesiap.
Aku menggeleng tak percaya. Dia bukan Rifa. Rifa mana mungkin berani membentakku?
Oke, aku tidak akan memaksa lagi. Tunggu saja kapan ia sadar untuk segera memberitahuku.
***
“Tika anak IPA 3?” tanya Cilla.
Aku menggangguk. “Iya, lo punya nomornya gak?”
“Gak punya, Xa. Kenal aja nggak,” jawab Cilla sedih.
“Atau Isabella? Genida? Lo punya nomor mereka?” Cilla terus menggeleng, membuatku semakin tertunduk kecewa. Tiba-tiba sebuah nama menyusul terbit di otakku. “Andre!”
“Apa?” Cilla menatap heran. “Siapa yang lo sebut tadi?”
“Apa lo kenal seseorang bernama Andre?”
Cilla berpikir sejenak. “Gue cuma kenal satu nama Andre di sekolah, dia teman SMA kita. Anak IPS”
“Yang mana?”
“Andre yang tinggi dan pecicilan itu, lho. Teman sekelas gue pas MOS. Yang pernah gue ceritain ke lo. Masa lupa?”
“Gue gak inget. Tapi serius lo punya nomor dia? Sini, sini! Gue minta!” Aku menyodorkan gawaiku pada Cilla. “Tulis nomornya di sini. Siapa tahu emang Andre itu yang mereka maksud.”
Ragu-ragu Cilla menerima gawai di tanganku. Angka demi angka ia ketikkan di situ. “Lo bukan mau selingkuh dari Rifa, kan?”
“Ya, nggaklah!” tukasku cepat.
“Lo pasti bohong, kan?”
Banyak hal penting lain yang mesti kulakukan selain meladeni kecurigaan Cilla. Salah satunya untuk segera menghubungi Andre agar semuanya jelas. Itu pun jika benar Andre inilah yang Isabella maksud.
“Halo?” suara di seberang sana menyahut.
“Lo Andre?” Sekadar memastikan.
“Bukan, gue Theo James.” Jayus sekali anak ini. “Siapa lo?”
“Gue Alexa, anak IPA 5,” ucapku lambat-lambat.
“Oh, lo ceweknya Yohanes bukan?”
“Apa?!”
“Ah, nggak. Ngapain lo nelepon gue? Mau nembak?”
Mengabaikan pertanyaan ngaconya, aku balik bertanya, “Bener lo dititipin surat sama seseorang?”
Hening.
“Dre? Halo!” seruku. Cilla memperhatikanku tanpa berkedip. Mestinya jutaan prasangka telah bersarang di benaknya saat ini. “Andre? Dre?”
Tuuut ... tuuut ... tuuut ...
Sambungan terputus. Andre mematikan telepon sepihak.
Aku menarik napas panjang. Cukup satu lirikan tajam untuk membuat Cilla bungkam. “Jangan tanya ada apa!”
***
Kakiku melangkah cepat menyusuri koridor kelas IPS. Beberapa pasang mata menatap sinis. Siapa lagi yang selalu menghujaniku dengan tatapan macam itu kalau bukan Rifa Maniac? Aku melengos cuek berusaha tak acuh. Dari dulu dan sampai kapan pun aku tidak ingin peduli bagaimana cara orang-orang iri tersebut menatapku.
Aku melongokkan kepala di pintu kelas XII IPS 3. “Andre ada?”
Seorang cowok jangkung berkulit kecokelatan berdiri di antara kerumunan manusia di pojok kelas. “Gue. Lo siapa?” tanyanya sambil berjalan menghampiriku.
“Alexa.”
“Lo,” ia menunjukku, “yang kemarin nelepon gue?”
Aku mengangguk. “Iya. Pertanyaan gue masih belum terjawab karena tiba-tiba lo matiin teleponnya.”
Andre mengerutkan kening. “Matiin telepon? Kagak, ah! Pulsa lo udah abis kali.”
Terpengaruh, cepat-cepat kucek pulsa di bintang satu-satu-satu pagar. Benar, pulsaku tinggal tersisa beberapa rupiah lagi. “Lo bener.”
“Wah, ada cewek gak setia, nih!” Seorang cewek yang kukenal bernama Nadine berjalan melewati aku dan Andre dengan senyum mengejek.
“Emang dia udah punya cewek?” Andre menunjukku terang-terangan.
“Cowok, bego, bukan cewek!” ralat Nadine. “Masa sih lo gak tahu, dulu kan cowoknya playboy nomor satu di sekolah kita.”
“Siapa?” Andre tampak kebingungan. “Gue kira gue playboy nomor satu di sini.”
Nadine memutar bola matanya jemu, sementara aku susah payah menahan tawa. Sungguh, baru kali ini aku bertemu orang senarsis Andre. Bisa jadi tingkat kenarsisannya mengalahkan Cilla. “Lo gak punya potensi jadi playboy, woy! Ngaca, dong!”
“Ah, suka munafik gitu lo mah. Bukannya kemarin lo ngasih surat ke gue?” goda Andre membuat wajah Nadine memerah.
“Berisik lo playboy wanna be!” Nadine berteriak histeris. Mungkin sudah jengah dibercandai cowok yang kalau dilihat-lihat lumayan tampan itu. “Yang gue maksud Rifaldi! Lagian surat yang gue kasih ke lo bukan surat cinta!”
“Rifaldi? Wah, senior karate gue, tuh! Tapi kayaknya sebentar lagi gue bakal nyusul dia. Sekarang sabuk gue udah cokelat.”
Sekali lagi Nadine memutar-mutar bola mata lalu pergi meninggalkan cowok aneh di depanku ini. Ia masuk ke dalam kelas dan mendaratkan bokongnya di kursi terdepan.
“Kalau lo mau lihat sabuk karate gue, ambil aja di tas! Kebetulan gue selalu bawa itu ke mana-mana.” Rupanya ia belum puas mengolok-olok Nadine. Cewek itu berusaha menulikan diri. Tak ambil pusing saat kerumunan tempat Andre berasal tadi ribut menertawakannya. Aku sendiri sudah tak kuat lagi menahan tawa. Akhirnya aku mesam-mesem sambil menunduk sesekali.
“Maaf ya, anak-anak sini emang rada gini.” Andre membuat garis miring di keningnya dengan jari.
Sekarang aku benar-benar tidak kuat untuk tidak menyemburkan tawa. “Bukannya justru lo yang gila?”
“Ih, yey tahu aja,” ujar Andre dengan logat banci, lalu kembali ke wajah normal dua detik kemudian. “Oh iya, ada apa lo nyari gue ke sini?”
Aku tertegun sejenak. Nyaris saja melupakan tujuan awalku datang kemari. Belum sempat mulutku terbuka sepenuhnya, bel masuk keburu berbunyi.
“Mau ngomongin masalah surat itu, kan?" tebak Andre. "Nanti aja istirahat kedua kita ketemu di kantin. Sekarang lo masuk dulu ke kelas, sono!”
“Tapi bener lo terlibat dalam penyaluran surat itu?”
Andre mengangguk tegas.
Aku mengacungkan jempol kananku. Saat tengah berbalik, tak sengaja ekor mataku menangkap tatapan dingin Nadine terarah padaku. Aku melengos, pura-pura tidak melihat.
Nadine ... cewek itu ... cewek yang dulu pernah melabrakku.
***
“Buat apa kamu ketemu cowok itu? Jangan!” Rifa berkata tegas. Jemarinya mencengkeram pergelangan tanganku kuat.
“Tapi aku udah janji mau ketemu sama dia.” Ini sudah masuk jam istirahat kedua. Sesuai janji, aku harus ke kantin saat ini juga.
“Aku bilang jangan, ya jangan!”
“Gak bisa. Aku harus nanyain masalah surat yang kamu terima kemarin.”
“Buat apa? Kamu mau tahu isinya? Cowok itu gak bakalan tahu. Cuma aku sama pengirimnya yang tahu! Lagian itu cuma memo, bukan surat!” Seruannya membahana ke seantero kelas. Beberapa pasang mata mulai menatap kami penasaran.
Sadar kami jadi pusat perhatian, kudekatkan bibirku ke telinga Rifa dan mulai berbicara sepelan mungkin. “Kalau gitu aku mau tahu siapa pengirimnya.”
“Percuma. Dia bahkan gak punya nyali buat sekadar menulis inisialnya di memo tersebut. Sudah pasti pihak-pihak yang terlibat pun disuruh tutup mulut. Banci banget, kan?”
“Kalau aku emang gak boleh nanya ke orang lain, terus kenapa kamu gak mau ngasih tahu aku apa isi memo itu?”
“Sayang,” suara Rifa melunak, “kenapa kamu bersikap seolah memo itu penting banget?”
“Aku gak tahu, tapi ….” Aku menahan napas. “Rasanya sesuatu yang buruk akan terjadi. Gak lama lagi.”
***
Tunggu sampai kebahagiaan lo berakhir
“Cuma itu yang dia tulis?” Aku berguling di atas ranjang. Membetulkan posisi gawai di telinga kananku, lalu kembali berkata, “Ribet-ribet pakai amplop, titip sana-titip sini, sampai sempat bikin kita bertengkar, tahunya isinya cuma segitu doang? Are you kidding me, Babe?”
“Aku jujur,” kata Rifa di seberang sana. “Emang cuma itu yang dia tulis. Is that funny, Honey?”
“Ini gak lucu,” tukasku ketus. “Walaupun singkat, kalimatnya bikin aku merinding. Hiiiyyy ….”
“Hahaha … ada-ada aja kamu.” Rifa tertawa. “Eh, aku mandi dulu, ya? Udah sore ternyata.”
“Oke, bye.”
“See you then.”
Sambungan terputus. Dengan gawai masih dalam genggaman, aku menggeliat pelan lalu menatap langit-langit kamar dan melamun.Pikiranku kosong selama beberapa saat sampai kudengar suara prang-preng-prong dari lantai bawah.
Mataku memicing. Kegaduhan macam apa ini?
Semakin disimak, suara-suara tersebut semakin nyaring saja. Akhirnya—dengan malas-malasan—aku melangkah menuju sumber suara. Saat mendekati dapur, suara prang-preng-prong tadi terdengar makin jelas. Sesekali diselingi desisan-desisan halus manusia.
Aku tersenyum sinis. Sepertinya aku tahu siapa dalang di balik semua ini.
Di depan pintu dapur, kakiku mundur dua langkah untuk mengambil ancang-ancang. Pada hitungan ke tiga aku melompat dan berteriak, “Hayo lo, ketahuan!”
“Aaakkkhhh!!!!” Cilla menjerit kaget, dan Jono melotot lebar. Ekspresi keduanya membuat tawaku menyembur keras.
“Kalian ngapain berduaan di sini?” tanyaku lagi, menuding keduanya.
Cilla berpikir panik. “Masak ... ya, masak!”
“Bohong!”
“Dikasih tahu ngelunjak,” semprot Jono. “Noh, kompor lagi nyala. Masa lo kira gue mau ngaji?”
Aku menggaruk-garuk kepala. Masuk akal juga.
Memasang tampang sok imut, aku mendekati mereka berdua. “Kalian udah jadian, ya? Bagi PJ-nya, dong.” Bahuku mencolek-colek punggung Cilla.
“Siapa bilang kita jadian?” sangkal Jono. “Sana pergi!”
“Jahat lo! Lihatin ya nanti!” ancamku seraya menjauh dari dua makhluk yang tengah kasmaran itu.
“Gak takut dilihatin sama lo!”
Di kejauhan, samar-samar kudengar Cilla bertanya, “Kak Jovan, PJ itu apaan sih?”
***
Hai, semuaaaaa 🤗
***Di sini akhirnya mulai muncul sesuatu yang berhubungan dengan prolog.
Untuk kalian yang sedang membaca cerita ini, aku harap kalian benar-benar memperhatikan setiap detail dalam cerita (walau tampaknya itu gak penting), karena itu semua saling berkesinambungan. Banyak adegan atau dialog yang tampaknya kayak 'apaan, sih?' justru menjadi cikal-bakal klimaks.
Haha, oke cukup sebelum terlalu spoiler.
Kuharap kalian menyukai cerita ini, ya.
Jangan lupa tinggalkan like, komen, dan vote agar aku makin bersemangat menulis cerita lainnya, wkwk.
Untuk kalian yang tetap setia dengan Blind Love, aku ucapkan terima kasih ... Big hug***.