Blind Love

Blind Love
Lanjutan 30



Pulang dari acara pesta yang dihadirinya tak membuat Love langsung berkemas dan membersihkan badannya. Dia duduk di pinggiran kasur dan menatap ke arah depan dengan ekspresi yang tak bisa terbaca. Otaknya merencanakan banyak hal untuk Virgo dan entah kenapa dia melakukan itu.


“Kamu mau sampai kapan bengong di situ?” Aksa sudah mengganti baju dan siap untuk berselancar di dunia mimpi. Dia akan segera tidur karena tubuhnya terasa sangat lelah.


“Aku masih nggak habis pikir sama Virgo, Mas. Masa dia nggak bilang apa-apa sama kita tentang semua ini?”


“Buat apa? Dia kan emang orangnya nggak suka pamer.”


“Jadi, Mas tahu tentang semua ini?” Aksa terlentang dan menatap langit-langit kamarnya. “Nggak tahu.” Ditatapnya sang istri dengan lembut. “Aku hanya tahu dia bukan anak bradal, tidak narkoba, tidak merokok, udah. Masalah nama belakang yang dia sandang itu aku nggak terlalu peduli. Yang penting dia nggak berpengaruh buruk bagi Avez.” Love menarik napas panjang dan berdiri. Berlalu dari sana tanpa menanggapi ucapan sang suami.


Aksa pun tak terlalu memperdulikan apa yang dilakukan sang istri. Matanya sudah berat dan dia langsung tertidur tanpa ada basa-basi sama sekali.


Ketika keesokan harinya Virgo datang ke rumah Aksa, Love dengan terang-terangan menantang pria itu. Kedua tangannya berkacak pinggang, dan matanya menatap sinis. Tak ada kata yang keluar dari bibirnya.


“Aku tahu, Kakak pasti akan begitu.” Virgo sudah kebal dengan apapun yang dilakukan Love kepada dirinya, jadi melihat hal seperti itu sudah sangat biasa dan bisa dikatakan makanan sehari-hari.


Duduk di sofa, Virgo melambaikan tangan kepada Love untuk memenggilnya. “Sini, Kak. Aku punya cerita buat Kakak.” Bukannya mendekat, sandal rumah yang dipakai Love melayang ke kepala Virgo.


“Aduh.” Hanya seperti itu saja tanggapan Virgo. Kemudian meletakkan sandal itu di atas meja. “Kamu baik-baik ya, Nak bobok di sana, ibumu sedang kumat.” Dan lebih gila lagi dia berbicara dengan sandal kanan


Love.


“Kakak kalau marah-marah terus, keriput Kakak yang itu akan semakin bertambah.” Sandal kiri melayang dan mengenai kepala Virgo. Dan hal sama dilakukan oleh Virgo seperti sebelumnya. “Sekarang, kalian sudah bersatu


kembali. Kanan sudah ketemu dengan Kiri, terima kasih sama ibu ya, Nak.” Sungguh memalukan sekali tingkah Virgo ini.


Love melangkah lebar dan melayangkan tangannya ke kepala Virgo. “Dasar kampret, ngapain kamu semalam di sana? Sombong sekali kamu nggak nyapa kami?” Virgo hanya menyengir bloon.


“Karena aku harus meladeni Libra yang kampret banget itu, Kak.” Sibuk ingin menggoreng Virgo, dia sampai melupakan seorang gadis yang akan bertunangan dengan pria disampingnya itu.


“Aaaaaaa, Jadi gimana bisa itu terjadi? Kamu dijodohkan dengan cewek itu?” Antusias Love bertambah karena Virgo membahas tentang ‘calon’ tunangannya itu.


“Kakak kan masih marah sama aku. Apa pula sekarang minta cerita.” Mencoba bersabar menghadapi cecunguk satu itu, Love tersenyum.


“Udah, kakak udah nggak marah lagi. Jadi bisa kita sharing sekarang?” Meskipun jejak kemarahan itu masih ada, tapi Virgo menurut saja.


“Oke. Tapi aku laper loh, Kak.” Ekspresi Virgo bahkan memelas sekali. Seragam sekolah masih menempel di tubuh pria itu, tanda jika dia baru saja pulang sekolah. Pulang sekolah tak pulang ke rumahnya malah langsung datang ke rumah Aksa, mungkin lama-lama dia akan mendapatkan kamar di rumah Aksa kalau seperti itu.


“Ayo, ayo, makanlah.” Love bahkan dengan baik hatinya membimbing Virgo ke ruang makan karena dia memang juga menginginkan sesuatu dari Virgo yaitu sebuah cerita.


“Baik banget sih.” Virgo bahkan tersenyum melihat kelakuan yang Love tunjukkan kepadanya. Meskipun kebaikan itu memang ada bayarannya, tapi bagi Virgo itu adalah hal yang luar biasa.


Pria itu kemudian menyantap makanan sambil menceritakan apapun yang terjadi kepada dirinya dan juga rencana pertunangan itu kepada Love. “Aku nggak berniat untu menolak dan aku juga nggak langsung terima. Aku


memang kenal sama dia meskipun hanya kenal gitu aja.” Dengan lahap Virgo memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


“Kalau kamu memang nggak mau kenapa nggak bilang sama beliau? Ini bukan masalah sepele loh, Vir.” Kedikan bahu Virgo menjawab ucapan Love. Masih dengan santainya dia menggigiti daging paha ayam goreng tanpa mau


bersusah payah ‘melawan’ ucapan perempuan di depannya.


“Jadi kamu mau diem aja diatur oleh mereka?” Love melihat hal seperti itu memang menjadi tak sabaran.


“Sekarang gini ya, Kak.” Ucapannya tak langsung berlanjut dan malah terus menguyah apapun makanan yang ada di depannya.


“Kamu mau beneran ku goreng ya, Vir.” Love melototi pria itu karena merasa sebal. Dan itu menimbulkan kekehan dari Virgo.


“Aku nggak punya pacar, mataku juga bisa ngelihat kalau dia cantik, kelihatannya tegas dan dewasa tapi dia kekanakan. Jadi nikmat mati lagi yang ku dustakan kalau memang bisa cinta dan dicintai oleh Libra nantinya.”


Enteng sekali ucapannya seolah dia tak memiliki beban sama sekali.


“Hidup itu dibawa santai aja lah, Kak. Kalau semua di pusingin, makanan yang aku makan ini nggak bakalan jadi daging, sia-sia aku ngunyahnya nanti.” Love mengurut pelipisnya mendengar jawaban Virgo yang sangat


super sekali.


Daripada kepalanya semakin pusing, Love meninggalakan Virgo seorang diri di ruang makan tanpa mengatakan apapun. Menonton TV sepertinya lebih seru dibandingkan harus mendengarkan Virgo mengatakan hal-hal yang


membuatnya sakit kepala.


“Adik-adik ku belum pulang pada kemana, Kak?” Love melihat jam di dinding dan memutar bola matanya.


“Kamu yang patut dipertanyakan. Kenapa jam sebelas kamu udah sampai rumah?”


Meletakkan bantal sofa di atas karpet, mengambil satu lagi bantal sofa, Virgo berbaring dengan santai sambil ikut menikmati tontonan Love. “Aku pulang cepet. Gurunya rapat, nggak tahu rapat apa, suka sekali mereka itu rapat-rapat begitu. Aku kalau di suruh rapat basket aja malas.” Bocah itu benar-benar sengklek sepertinya otaknya.


“Terserahmu lah,Vir.” Tak ada lagi percakapan diantara mereka setelah itu. Seperti biasa, Virgo sudah tidur dan Love hanya berusaha diam tanpa menganggu pria muda yang sedang memeluk bantal sofa.


Tapi ide di dalam kepalanya muncul. Diambilnya ponsel miliknya, dan memotret Virgo kemudian mengirimkan kepada Aksa. “Coba lihat anak pertamamu ini, macem orang mabuk duit.” Bagitu katanya.


Love tak mengharapkan apapun dengan balasan yang mungkin tak akan diberikan oleh Aksa kepadanya. Jadi dia memutuskan untuk bergabung bersama Virgo memasuki alam mimpi. Lagi pula apa yang akan dikerjakan oleh seorang pengangguran seperti Love ini kalau bukan hanya nonton, tidur, atau belanja.


*.*


Note : Ges, ada yang mau masuk grup chat di MT? kalian bisa tanya-tanya atau berkeluh kesah tentang apapun mengenai cerita-ceritaku.


caranya? Aku pun tak tahu, hehehehehe..... tapi kalau kalian buka profil kalian itu kan ada gambar lonceng, nah itu coba di klik, mungkin bisa masuk dari sana.


Thankyu karena sudah menyempatkan membaca Blind Love. Semoga masih ada lanjutan-lanjutan yang lain dan aku bisa buat yang lebih bagus dari sebelumnya.


Yoelfu\, yang mencintai Kyuhyun sehidup semati *-*