
Aksa mengelus tangan Ixy dengan lembut. Bocah itu sudah dipindahkan di kamar inap dan sekarang masih menutup matanya dengan damai. Bukan, Ixy tentu sudah siuman, dia hanya tidur saja kali ini. Diciumnya tangan
kecil itu dengan sayang. Aksa bahkan tidak pergi ke kantor karena ingin menemani putriya sampai bocah itu benar-benar sembuh dan di bawa pulang ke rumah.
“Mas makan dulu.” Love datang dengan rantang di tangannya dan menyiapkan di atas meja. Bahkan tanpa banyak kata, Aksa langsung berdiri dan mendekati meja di mana makanan itu berada.
Mereka masih belum saling berbicara satu sama lain. Hanya Love saja yang selalu mengajak lelaki itu berbicara, tapi Aksa hanya menanggapi dengan tak acuh, bahkan kadang hanya diam saja.
Makan dalam diam dengan kecanggungan yang luar biasa seperti ini, membuat Love sangat tak nyaman. Tapi berkali-kalipun dia mengatakan sesuatu, Aksa memilih bungkam dan sama sekali tak mempedulikan ucapannya.
Jengah sebenarnya, tapi dia memilih tak mengeluarkan kedongkolannya karena dia memang menyadari jika dirinya memang salah.
Para orang tua kini sudah berkumpul di ruangan rawat Ixy. Daka dan Marvel akan berangkat ke kantor tapi mereka menyempatkan untuk menjenguk cucunya terlebih dahulu. Dan kebetulan mereka bertemu di rumah sakit.
“Sempat nangis nggak?” Sha yang bertanya.
“Nggak, Bun.” Love yang menjawab. Mata perempuan itu masih terlihat bengkak meskipun tak separah kemarin.
“Bagus deh.” Itu Kenya yang menyambung. Perempuan itu mencium cucunya berkali-kali dengan sayang. “Cepet sembuh ya, Sayang.” Imbuhnya.
“Kalian baik-baik saja kan?” Daka mencium keganjalan dalam hubungan anak dan menantunya, dan jelas saja dia tak akan repot-repot memendam pertanyaan itu.
“Kami bak-baik aja kok, Yah.” Senyum Love memang tak seperti biasanya dan itu bisa terlihat jelas juga di mata Sha. Ibu Love itu sangat memahami dan mengenal anaknya, jadi perubahan itu jelas tak bisa disembunyikan darinya.
“Syukurlah.” Sha yang berbicara. “Kalau ada sesuatu yang mengganjal di hati kalian, maka selesaikan segera. Masalah itu bukan untuk di biarkan tapi di selesaikan.” Petuah itu membuat Aksa dan Love mengangguk. Namun
tetap terlihat biasa saja di depan para orang tua.
Tak lama setelahnya kamar inap Ixy terihat sepi hanya tinggal Aksa dan Love. Tak ada dari mereka yang berbicara. Aksa duduk di kursi sebelah kiri ranjang, dan Love duduk di sisi kanan ranjang. Mereka berdua menatap putri mereka dalam diam. Dan Love berusaha mati-matian menahan air matanya agar tak keluar dari netranya.
Jauh di dalam hatinya, penyesalan itu terus meraung. Bagaimana kalau waktu itu Ixy benar-benar tenggelam dan tak bisa diselatkan? Itu adalah pertanyaan yang selalu muncul di dalam pikiran Love sampai dia tak bisa memejamkan matanya untuk tidur.
“Bunda.” Mata kecil Ixy terbuka dan menatap sekitar. Bibirnya mencebik dan sepertinya sebentar lagi akan menangis.
“Stttt. Bunda di sini, Nak.” Setiap menatap bola mata Ixy, selalu saja tak bisa membendung perasaanya. Dan air matanya kembali jatuh. “Ixy mau sesuatu? *****?” tawarnya. Meskipun bocah itu sudah tak lagi meminta asi,
dia kembali menawari. Biarkan saja putrinya itu diberinya asi sampai bocah itu sendiri yang menolaknya, dia tak akan masalah.
Dia merasa beruntung karena keadaan Ixy benar-benar sudah membaik. “Ndak.” Tolak bocah itu dan kini pandangannya beralih untuk menatap sang ayah. Setelah siuman, dia belum melihat ayahnya sama sekali. Aksa memang berada di sana, tapi memang ada hal yang harus di urus, jadilah belum terjadi pertemuan antara ayah dan anak itu.
“Ayah.” Katanya dengan bibir mencebik dan dalam satu detik air matanya mengalir. Kedua tangannya terangkat untuk meminta gendong. Aksa dengan sigap duduk di atas kasur dan menggendong putrinya. Mungkin maksud Ixy,
dia sedang ingin mengadu tentang apa yang dialaminya.
“Sttttt. Adek oke kan?” ditepuknya punggung bocah itu dengan pelan. “Ayah di sini.” Aksa menciumi bocah itu dengan sayang. Ada perasaan lega yang dirasakan di dalam hati Aksa.
Sedangkan Love yang melihat itu hanya mengusap lelehan air mata yang tak mau berhenti keluar dari netranya. Ingin rasanya dia memeluk dua orang itu, tapi tentu saja dia tak akan melakukannya. Dia tak memiliki nyali sebesar itu.
Jika ada yang bertanya dimana Avez, maka jawabannya adalah jika putra pertama Aksa itu sedang bersama neneknya. Dia hanya diizinkan oleh Aksa untuk menjenguk adiknya kemarin saja, karena Aksa tak ingin putranya itu berada di tempat yang tak seharusnya.
*.*
“Mas.” Awalnya, meskipun dengan ragu. “Aku salah. Itu adalah mutlak, aku minta maaf.” Mereka duduk di sofa ruang rawat putri mereka. Tubuh Love sudah menyorong ke arah Aksa dengan mata fokus menatap Aksa. “Aku
benar-benar menyesal.” Setetes air mata keluar dari netranya.
Love butuh dukungan. Itu yang seharusnya dia dapatkan sekarang, bukan sebaliknya. Tapi sepertinya, Aksa masih tak ingin membuat semua ini menjadi mudah.
“Jadi sekarang kamu menyesal?” masih dengan tak menatap Love, Aksa menatap ke depan dengan dingin.
“Sangat.” Jawab Love dengan lemah. “Kalau bisa, aku akan memilih hilang ingatan agar kejadian itu nggak ngebayang di mataku. Hatiku selalu mengatakan kesalahanku berulang kali dan aku nggak kuat.” Entah berapa
banyak air mata yang sudah Love keluarkan selama dua hari ini, tapi rasanya dia tak akan puas dengan semua itu.
“Kamu tahu?” kini Aksa menatap lurus ke mata Love. “Rasanya aku nggak bisa terima dengan semua kejadian yang terjadi dengan Ixy.” Sontak saja Love membekap bibirnya untuk meredam tangisnya yang hampir pecah karena ucapan suaminya.
“Aku benci bilang ini, tapi aku, benar-benar kecewa.”
“Aku tahu aku salah, apa hukuman harus seberat ini?”
“Kalau aku belum memberi peringatan ke kamu waktu itu, aku nggak akan merasa seperti ini sekarang. Sayangnya, aku udah bilang jangan diteruskan, dan kamu ngotot melakukannya.” Tatapan tajam itu seolah Aksa akan membunuh ribuan musuh.
“Hanya karena satu orang, kamu hampir membuat anakku….” Aksa tak sanggup melanjutkan ucapannya dan membuang muka dari sang istri.
“Berhenti mengatakan anakku, anakku. Ixy juga putriku, aku yang mengandung dan melahirkan dia.”
“Jadi apa karena dia juga putrimu kemudian kamu bertindak seenaknya?” Love tak habis pikir dengan ucapan Aksa. Bisa sekali dia mengatakan itu.
“Itu kecelakaan, Mas. Dan aku pun nggak mau itu terjadi.” Love ingin meneriaki lelaki di depannya itu seandainya dia tak mengendalikan dirinya. “Aku udah mengatakan penyesalanku dan aku mengakuinya.” Tangis Love tak lagi ditahannya.
Aksa menatap Love dengan wajah datar seolah dia tak ingin menghibur perempuan itu. “Udahlah.” Akhirnya lelaki itu kembali bersuara. Tapi hanya satu kata itu saja tanpa ada lanjutannya. Kemudian dia berdiri dan mendekat ke ranjang Ixy, lebih memilih menatap anaknya yang sedang tidur. Besok pagi bocah itu sudah diijinkan pulang ke rumah karena kondisi badannya sudah
stabil dan dinyatakan sehat.
*.*
Tapi sayangnya, berbeda dengan Love yang menjauhinya, Jo justru terus mendekat dengan mengirimi pesan, melakukan panggilan telpon, meskipun memang tak mendapatkan respon dari Love. Ketika perempuan itu merasa
jengah dengan apa yang dilakukan oleh Jo, Love ingin mengakhiri semuanya. Dia akan mengatakan kepada lelaki itu jika Jo tak bisa melakukan itu dan mengganggu kehidupannya.
“Kita memang dulu berteman baik, Jo. Bahkan aku selalu bilang kalau kamu adalah Jo nya aku. Tapi itu dulu. Dan sekarang keadaanya sudah berbeda. Aku memiliki suami dan anak. Aku udah memiliki keluarga kecilku dan
mereka adalah kebahagiaanku.” Begitu jelas Love berusaha memberi pengertian kepada lelaki itu.
“Sampai sekarang pun kita masih berteman, tapi dengan kamu melakukan itu ke aku, akan merusak semua.” Love menghela napas sebelum melanjutkan. “Carilah orang lain yang bisa mencintai kamu.” Love menungu jawaban dari Jo namun tak ada suara dari sebrang sana.
“Jo!”
“Kalau aku bisa, aku pasti melakukan itu dari dulu, Love. Sayangnya sulit.”
“Itu adalah jawaban orang malas. Cobalah membuka diri.” Bagi Love, memang sulit mengabaikan Jo, sebetulnya. Karena dulu, lelaki itu lah yang menghiburnya ketika Aksa sudah lulus sekolah dan hilang dari radarnya.
“Udah dulu ya, udah malam.” Kali ini tanpa menunggu jawaban dari temannya itu, Love lebih dulu mematikan panggilan itu. Dia menatap ke arah luar kamarnya, dari dulu dia tak pernah membayangkan jika temannya itu memiliki perasaan cinta kepadanya.
Menghela napas, perempuan itu berbalik dan mendapati Aksa berdiri tak jauh darinya dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya. Pucat pasi wajah Love. Meneguk ludahnya berulang kali, hatinya seperti dijepit oleh ribuan batu besar. Dia tak berani melangkah untuk mendekati Aksa. Napasnya bahkan terasa terengal.
Aksa mendekat dan berhenti tepat di depan Love. Pandangan lelaki itu benar-benar tak bersahabat. Memejamkan matanya beberapa saat sebelum dia mengatakan sesuatu. “Selagi kesabaranku masih tersisa, selesaikan masalah
kamu dengan dia. Karena kalau kamu terus-terusan seperti ini, aku bisa melakukan hal yang bahkan akan menghacurkan semuanya. Jadi tolong,” Aksa berhenti dan menatap mata Love dengan dingin. “Berhenti.” Itu adalah sebuah perintah yang harus Love lakukan kalau dia tak ingin mendapatkan masalah lagi.
“Aku sedang memberikan pengertian ke dia.” Suara Love berupa cicitan karena tak berani bersuara normal.
“Pengertian nggak akan buat dia mengerti.” Gigi Aksa bergemelatuk. “Ketegasan yang selama ini kamu miliki hilang kemana?” Sorot mata Aksa penuh kemarahan dan bola mata itu memerah karena marah.
“Lalu aku harus melakukan apa?” Tubuh Love terasa lemas sekali. “Bagaimanapun dia adalah temanku, dia yang menemani aku ketika aku harus kehilangan separuh jiwaku ketika Ayang lulus sekolah. Dia yang menghiburku, dia yang membuat aku tersenyum.”
“Omong kosong dengan itu, Love.” Suara Aksa agak meninggi. “Atas dasar tak enak hati kamu membiarkan dia masuk seenaknya ke dalam rumah tangga kita? Kamu kira ini akan menjadi hal baik? Enggak.” Mata Aksa semakin
tajam. “Dengan balas chat dia, mengangkat telponya, dan menanggapi apapun keluh kesah hatinya, itu sama saja kamu sedang bermain api secara tidak langsung.” Kepalan tangan Aksa semakin membulat karena belum mendapatkan pelampiasan.
“Kemarin Ixy, dan bukan nggak mungkin nanti Avez yang akan mengalami hal yang sama.”
“Cukup, Mas.” Tangis Love mengalir tak tanggung-tanggung. “Kenapa menjadi sepanjang ini masalah kita hah? Aku udah meminta maaf dan Mas mengungkitnya lagi?”
“Karena kamu susah sekali dikasih tahu.” Suara Aksa tak kalah meninggi. “Aku nggak pernah menyalahkan kamu dalam masalah ini, tapi kamu harusnya paham jika hal seperti ini akan membuat hubungan kita menjadi
berantakan.” Kerasnya suara tangis Love tak membuat Aksa mau mengalah.
Justru lelaki itu masuk ke dalam ruang kerjanya dan meninggalkan istrinya seorang diri. Love bahkan bersimpuh di atas lantai dingin sambil terus menangis. Dia tak tahu apa yang harus dilakukannya untuk memperbaiki semuanya.
*.*
Tak tahan dengan keadaan rumah tangganya yang akhir-akhir ini terasa berantakan, Love pergi ke rumah orang tuanya. Dia ingin menceritakan semua kepada ibunya, itupun kalau dia mendapatkan dukungan. Karena, Sha,
mungkin akan berbalik memarahinya. Karena dia tahu ibunya adalah orang yang tidak akan membela orang yang salah meskipun itu adalah anaknya sendiri.
“Love?” keadaan rumah orang tuanya memang sepi seperti biasanya. Ayahnya bekerja, dan ibunya itu sedang menoton televisi ketika dia datang. Wanita paruh baya itu melihat ke belakang tubuh Love dan tak menemukan
cucu-cucunya di sana.
“Avez dan Ixy kemana?”
“Dijemput sama Kla.”
“Dijemput, apa kamu sengaja menitipkan mereka?” Benar kan, kalau Sha adalah perempuan peka, jadi pastilah tahu jika putrinya itu sedang berbohong.
“Aku titipkan.” Love menyenderkan punggungnya di sandaran sofa dan menatap dinding putih di depannya dengan tak semangat.
“Bunda.” Di tolehkannya kepalanya ke kanan untuk menatap ibunya. Ketika ibunya balik menatapnya, air mata itu langsung jatuh dari netranya.
“Ada apa?” Sha panik melihat putrinya yang biasanya baik-baik saja, kini malah terlihat kuyu dan bersedih. Bukannya menjawab, Love malah menangis tergugu dengan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
“Kemari.” Sha memeluk Love dan mengelus punggung putrinya itu dengan lembut. Itu adalah pertolongan pertama dari seorang ibu ketika anak-anak mereka merasakan perasaan sedih. Karena ketenangan itu perlu diberikan terlebih dahulu sebelum cerita itu keluar.
Menunggu Love bercerita memang membutuhkan waktu yang agak lama. Dan Sha berusaha untuk bersabar. Putrinya itu pasti akan bercerita semua apa yang sedang dialami tanpa terkecuali.
Pelukan mereka terurai. Love menyeka air matanya dan menyisakan senggukan habis menangis. “Sekarang coba ceritak ke bunda apa yang terjadi?” Ibunya mencoba untuk mencari tahu. Love menunduk dan takut mengatakan
masalahnya, tapi perasaan sedihnya tak bisa lagi dipendam.
“Rumah tanggaku sedang nggak baik-baik aja, Bunda. Dan semua itu karena aku.” Sha tak bisa menutupi rasa yang entah seperti apa yang dirasakan di dalam hatinya. Karena peremuan itu justru tak lagi mendesak putrinya untuk bercerita.
*.*