
Love menceritakan semua masalah yang dihadapinya sekarang kepada ibunya. Tak ada hal yang tersisa. Bahkan selama dia bercerita, air matanya terus saja mengalir dan terus mengalir tanpa bisa dicegah.
“Apa yang harus aku lakukan sekarang, Bunda?” ketika selesai bercerita, Love bertanya dan dengan penuh harapan dia mendapatkan solusi atas semua masalahnya.
“Bunda pun kecewa dengan kamu, Love.” Dari sisi mana sekarang hari Love tak pecah berkeping-keping. Bahkan ibunya juga menyalahkannya. “Kamu tahu? Dulu bunda juga pernah bertemu dengan teman kuliah
bunda dan meminta nomor bunda tepat di depan papamu. Tapi bunda menolak untuk memberi.”
“Aku juga nggak kasih ke dia, Bunda.”
“Tapi kamu memberi izin dia untuk menyimpan nomor kamu.” Sha mematahkan argumen yang diberikan oleh Love kepadanya. “Bukan begitu cara mainnya, Nak.” Lanjut Sha lagi. “Bunda dulu langsung menolak dengan tegas namun dengan cara halus.” Ditatapnya Love lekat.
“Kamu tahu, kamu memberi harapan secara tidak langsung. Kalau kamu nggak mau rumah kamu dimasuki orang lain selain orang pilihanmu, maka jangan bukakan pintunya meskipun gedoran itu akan merusak pendengaranmu.” Sha dengan segala kemantapan pemikirannya, membuat Love kembali menangis.
“Aku harus gimana sekarang, Bunda?” disekanya air mata di pipinya. “Aksa benar-benar marah. Aku nggak mau ini semakin larut dan masalahnya melebar kemana-mana.”
“Kalau begitu selesaikan.” Tegas Sha. “Memang apalagi yang harus kamu lakukan selain menyelesaikan masalah rumah tangga kalian?”
“Aku bahkan nggak tahu cara apa lagi yang harus aku pakai untuk menyelesaikannya.” Sepertinya Love memang sudah putus asa sekali kali ini.
“Dengar, Nak. Bagi bunda, Aksa itu bukan orang yang susah untuk diluluhkan. Karena itu dekati dia, bicara dengan baik-baik ke dia. Kalau dia masih belum memaafkan kamu, itu adalah tugasmu untuk mencari tahu apa yang
harus kamu lakukan setelah cara sebelumnya tak mempan. Kekecewaan orang itu memang sulit, tapi bukan berarti nggak bisa untuk diperbaiki.”
Pikiran Love kini sedikit terbuka karena ucapan ibunya itu. Memang itulah yang harus dia lakukan kepada Aksa. “Satu lagi,” tambah Sha. “Kalau hubungan kalian sudah membaik, jangan sampai kamu mengulangi hal yang sama. Karena tidak ada orang yang akan diam saja ketika miliknya diincar oleh orang lain. Kamu harus paham akan itu.”
Love memeluk ibunya dengan erat setelah beliau membuka pikirannya akan masalah yang dihadapi. Masalah bagaimana cara dia mendapatkan maaf dari Aksa itu adalah urusannya. Dan dia akan melakukannya dengan baik.
“Terima kasih, Bunda.” Dan ini adalah saatnya Love mendekati Aksa kembali seperti dulu dia mengejar lelaki itu.
Pulang dari rumah orang tuanya, Love langsung datang ke kantor GN grup. Dia akan menemui Aksa dan menyelesaikan semua permasalahan mereka. Love juga tak akan datang di waktu yang tidak tepat, karena bisa-bisa Aksa akan mengabaikannya.
Jam dua belas tepat, dia sampai ke kantor Aksa. Langkahnya lebar-lebar agar segera sampai di ruangan sang suami. Sapaan yang diterimanya hanya di jawab dengan anggukan tanpa senyum. Jantungnya berdentum dengan sangat kencang seolah dia akan menemui pacar pertamanya dan mereka baru saja menjadi sepasang kekasih.
“Dia ada?” jika biasanya Love akan main masuk saja ke dalam ruangan Aksa, kini dia lebih dulu bertanya kepada Damar. Bahkan lelaki itu saja menatap aneh kepada Love.
“Kesambet setan apa lo datang ke sini main tanya suami lo ada apa enggak. Biasanya juga main neyelong aja kayak nggak ada orang di sini.” Mengulur rasa sabarnya, Love memelototi Damar.
“Jawab aja kenampa.” Begitu katanya.
“Ada. Kaya nggak dapet asupan gizi dari istrinya, uring-uringan tersu akhir-akhir ini.” Begitu celoteh Damar kurang ajar.
Tak ingin meladeni Damar lebih lama, dia memilih masuk ke dalam. Membuka pintu kokoh itu dengan pelan. Mengintip lebih dulu di mana keberadaan Aksa. Dan matanya menangkap jika suaminya itu sedang berbaring di
sofa dengan.
Penuh dengan pertimbangan, Love masuk ke dalam denga langkah pelan dan mengunci pintu itu dari dalam. Sepertinya memang Aksa tak menyadari jika ada orang yang masuk ke dalam ruangannya. Karena tak ada pergerakan sama sekali dari lelaki itu.
Love mendekat ke arah sofa dan melihat wajah suaminya. Terlihat sekali lelahnya. Duduk berjongkok di bawah sofa, perempuan itu menatap lekat ke wajah tampan suaminya. Tangannya ditahannya mati-matian agar tak kurang ajar dengan membelai wajah tersebut.
“Maafkan aku.” Bisiknya dengan pelan. Bahkan hanya dirinya sendiri yang mungkin akan mendengarkannya. “Aku benar-benar minta maaf.” Menangis lagi, tapi lelehan air mata langsung di sekanya agar nanti tak akan terlihat oleh suaminya.
Ternyata hanya sebatas itu saja keberanian yang dimiliki oleh Love. Dia tak berani membangunkan lelaki itu dan memilih memandangi wajah itu yang beberapa hari ini selalu berpaling darinya. Dulu dia juga sering memandangi Aksa secara diam-diam dari kejauhan, dan sekarang pun terulang kembali. Meskipun sekarang dia bisa lebih dekat menatap lelaki itu.
Love tak kuasa menahan rasa rindunya akan lelaki di depannya. Takut dia berbuat nekat dengan memeluk atau bahkan naik ke atas tubuh suaminya mungkin, jadi dia memutuskan untuk berdiri. Menatap kembali sebentar dan setelahnya dia memilih meninggalkan ruangan tersebut. Entah kemana perginya tekat yang kuat tadi.
Seperginya Love, Aksa membuka matanya. Dia tahu tentu saja siapa yang baru saja datang ke kantornya. Aksa sengaja berpura-pura tidur karena hatinya masih terganjal oleh sesuatu yang membuatnya masih ingin menghidari sang istri.
*.*
Love benar-benar merasa tak tenang dalam hatinya. Dia ingin tetap diam di rumah, tapi hatinya sangat sepi. Dia ingin melapiaskan dengan berbelanja, tapi dia malas melakukannya. Jadi yang dia lakukan kali ini adalah dengan pergi ke rumah mertuanya dan akan kembali mengadu dan membuat pengakuan jika dia sudah menghianati putra mereka.
Melangkah dengan lebar, perempuan itu langsung masuk ke dalam rumah mertuanya setelah mobilnya terparkir di carport rumah besar Ganendra. Matanya nyalang menatap ke sekitar untuk mencari ibu mertuanya. Dia tahu jika ayah mertuanya pastilah ke kantor sekarang.
Tapi sayangnya rumah tersebut terlihat sepi. Dia memang memiliki kunci cadangan yang diberikan Kenya kepadanya. “Bunda!” panggilnya agar perempuan yang dicarinya itu bisa segera ditemuinya. Namun tak ada sahutan.
Kakinya semakin melangkah ke dalam untuk terus mencari dan mendapati asisten rumah tangga yang sedang membersihkan ruangan. “Bunda mana, Bik?” perempuan yang dipanggil ‘Bik’ itu menoleh kemudian tersenyum.
“Ada di halaman belakang, Non.” Tak perlu lagi menunggu, Love langsung berlari ke sana untuk menemui Kenya.
“Bunda!” teriaknya ketika netranya menangkap keberadaan perempuan paruh baya itu. Mendekat, kemudian memeluk perempuan itu. Keinginan untuk menangis ditahannya.
“Loh, sendirian? Mana anak-anak?” Ketika pelukannya terlepas, dan terlihat keanehan di mata Love, dan Kenya bisa melihat hal itu.
“Duduk sini.” Kenya menggandeng menantu kesayangannya itu ke Gazebo dan duduk di sana. “Ada apa?” Digenggamnya kedua tangan Love dengan kedua tangannya.
“Bilang sama bunda apa yang terjadi. Biar bunda tahu dan bisa kasih solusi.” Genggaman itu menguat seolah dengan melakukan itu akan memberikan kekuatan lebih untuk si pemilik masalah.
“Aku menyakiti hati putra, Bunda. Aku melakukan itu dan dia marah ke aku.” Love meracu, seharusnya dia segera mengatakan apa yang terjadi agar solusi yang diinginkan bisa segera di dapatkan. Tapi sayangnya Love terlalu kalut dan tak bisa berpikir jernih. Apalagi ketika dia mengingat Aksa yang tertidur di ruangannya tadi dengan wajah kusut, perasaannya terasa diperas.
“Aku mencintai dia, Bunda. Tapi aku juga menyakitinya. Kenapa aku nggak bisa menjadi istri yang baik bagi dia?” Kenya menarik Love ke dalam pelukannya. Bibirnya masih tertutup rapat dan menunda untuk menanyakan masalah seperti yang dimaksud oleh menantunya itu.
Love benar-benar menumpahkan rasa sedihnya dan merasa tak perlu repot-repot untuk menutupinya lagi. Butuh waktu yang lumayan lama untuk mengendalikan emosinya, dan Kenya bersabar untuk itu.
Love sendiri yang melepaskan pelukannya, dan menatap ibu mertuanya dengan mata yang sudah bengkak. Ada dari bagian wajah Kenya yang mirip dengan Aksa dan itu membuat Love sangat merindukan suaminya.
“Jadi apa yang terjadi?” setelah mereka terdiam dan Love dirasa sudah cukup tenang, Kenya bertanya. “Nggak ada masalah yang tak bisa diselesaikan. Jadi, nggak perlu khawatir.”
Ada keraguan yang dirasakan oleh Love tapi langsung ditepiskan keraguan itu. “Aku, selingkuh, Bunda.” Katanya terbata. Dan Love bisa melihat jelas perubahan wajah ibu mertuanya.
“Aku menyakiti hati suamiku. Aku…” Tangisnya kembali dan Love langsung menyeka air mata tersebut.
“Aku benar-benar berdosa dan aku sangat menyesal sekali sekarang.” Tak ada yang keluar dari bibir Kenya setelah pengakuan luar biasa yang dikatakan oleh Love.
“Ada hal yang bunda percayai dan ada hal yang nggak bunda percayai dari kata-kata kamu.” Senyum itu diberikan Kenya untuk Love tapi jenis senyum yang dipaksakan. “Bunda masih nggak mempercayai kalau kamu melakukan
itu. Bunda kenal kamu dan bunda rasa itu nggak akan pernah terjadi.”
Kali ini Kenya memberikan senyuman yang tulus. “Jadi, apa yang sebenarnya terjadi. Katakan saja sama bunda.” Dan selanjutnya, Love menceritakan semuanya. Mulai dari awal mula pertengkaran itu terjadi dan bagaimana sampai bisa Ixy mengalami kecelakaan itu.
Tak ada dari kejadian itu yang ditutupinya. Kalaupun nanti ibu mertuanya itu akan memarahinya, dia akan menerima dengan hati yang lapang.
“Itu bukan perselingkuhan, Nak.” Cerita Love berakhir dan Kenya bersuara setelah dia mendengarkan dengan seksama semua kata yang keluar dari mulut menantunya.
“Kesalahan kamu hanya satu, kamu nggak melakukan apa yang dikatakan oleh suami kamu.” Di tepuknya genggaman tangan mereka dengan pelan. “Di dunia ini nggak akan ada orang yang nggak marah ketika pasangannya ‘meladeni’ orang lain meskipun itu hanya sebatas teman.
“Kamu menyukai, Jo?”
Gelengan yang diberikan oleh Love untuk pertanyaan itu benar-benar keras. “Sedikitpun nggak ada, Bunda. Dia bisa di bilang teman yang sangat baik buat aku.”
“Tapi dia sudah jelas-jelas mengatakan jika dia menyukaikamu. Bukan, lebih tepatnya dia mencintai kamu.” Kepala Love menunduk dalam.
“Maaf, Bunda.” Katanya lagi.
“Kalau kamu nggak mau orang lain mendekati kamu, maka jangan kasih kesempatan orang itu untuk mendekat. Itu adalah kuncinya. Banyak terjadi perselingkuhan adalah karena hal-hal sepele. Contohnya dengan terus menanggapi chat dari orang lain, kemudian lama-lama curhat, lama-lama suka, dan nggak pasti perselingkuhan itu terjadi.” Love merasa tertampar dengan apa yang dikatakan oleh Kenya kepadanya.
“Jadi, Love. Berteman itu boleh, tapi membatasi diri juga harus di lakukan. Kamu sudah memiliki keluarga, dan prioritasmu sekarang adalah dengan mereka. Ngerti kan?”
“Iya, Bunda.” Katanya dengan patuh.
“Aksa memang keras. Kamu hanya perlu lebih intens lagi mendekati dan meluluhkan hatinya kembali. Dia mencintai kamu, dan dia pasti akan memaafkan kamu. Dia hanya membutuhkan waktu untuk hal itu. Bersabarlah.” Di elusnya kepala menantunya itu dengan sayang.
“Bunda selalu mendoakan kalian agar selalu baik-baik saja.” Itu adalah akhir dari curhatan ibu mertua dan menantu yang sedang terjadi siang ini.
*.*
Aksa memilih menenggelamkan dirinya pada kesibukan yang tak ada habisnya di kantor. Bahkan dia harus pulang ke rumah ketika waktu sudah sangat malam. Dia sengaja melakukan itu untuk menghindari sang istri. Dia memang sudah agak luluh karena kedatangan Love siang tadi, hanya saja ganjalan dalam hatinya masih ada.
Masuk ke dalam kamar, dia tak menemukan Love berada di sana. Tentu saja dia merasa aneh karena jelas-jelas Love pulang siang tadi dari kantornya. Dicarinya di kamar mandi, sampai ruangan-ruangan yang mungkin ada Love di sana tapi nyatanya juga tak ada.
“Love kemana, Bik?”
“Belum pulang, Pak.” Kernyitan di dahinya terlihat. “Sejak siang?”
“Iya, Pak. Ibu juga nggak bilang apa-apa.” Begitu jujur asisten rumah tangganya.
Kembali naik ke lantai atas, Aksa mencari ponselnya. Menghubungi nomor ponsel milik istrinya sayangnya tak aktif. Duduk di ranjang miliknya, otaknya berpikir dan mencari ide dimana kira-kira perginya sang istri.
Otaknya terus berpikir ketika ada panggilan masuk. “Ya, Bunda?”
Setelahnya, napas lega itu dikeluarkan. “Oke, Bunda, aku pulang. Mandi dulu tapi. Baru pulang.” Katanya yang mendapatkan omelan dari Kenya karena pulang larut malam.
Hanya membutuhkan waktu yang sebentar untuk menyelesaikan mandinya dan berangkat ke rumah orang tuanya. Dia tak lagi panic seperti tadi karena tahu yang di cari ada di sana. Mobil yang dikendarainya melaju cepat. Dia ingin segera sampai ke sana. Kalau memang dia malas pulang, mungkin menginap di rumah orang tuanya juga bukan ide yang buruk.
Sampai di sana, langkahnya lebar untuk segera masuk ke dalam rumah tersebut. Namun urung ketika Love berjalan cepat. Keduanya bertemu dengan kepanikan istrinya ketika menatapnya.
Namun seolah tak ingin menunda, perempuan itu mendekati Aksa. “Maaf, aku ketiduran.” Jelasnya. Love tak berani menatap mata suaminya. Bahkan ketika Aksa tak menjawab ucapannya pun dia hanya bisa terdiam saja. Bukankah dia sudah terbiasa dengan itu beberapa hari ini?
*.*