Blind Love

Blind Love
Kisah 17



Kandungan lemah, begitulah yang dikatakan oleh dokter terkait dengan kondisi Libra saat ini. Di awal kehamilan memang belum terlihat dan kondisinya masih baik-baik saja. Hanya sering lelah saja. Dan masa trisemester kedua inilah semuanya terlihat dengan jelas. Bukan hanya Libra yang bersedih, tapi semua keluarganya juga sama sedihnya.


Bagaimana tidak, jika tidak segera ditangani, Libra bisa mengalami keguguran. Dan beruntungnya, anak-anak mereka kuat di dalam sana. Libra menangis sambil memeluk suaminya dengan erat tanpa mau dilepaskan. Virgo pun mencoba untuk terus menenangakan sang istri. Memang ini sulit, dan kondisi ini sangat mengerikan bagi keduanya. Tapi dokter akan memberi penanganan dengan baik setelah ini.


“Dokter akan membantu kita, Yang. Kamu nggak perlu khawatir.” Bujuk Virgo dengan lembut. Mencoba melepaskan Libra dari pelukannya, Virgo menatap sang istri dengan lembut, “Aku tahu ini berat sekali, tapi kamu nggak boleh stress, karena stress bisa berdampak buruk bagi mereka.” Virgo megecup kening sang istri dan mengelus pipi perempuan itu, “Hari ini kamu boleh bersedih, tapi besok, kamu tidak boleh terlarut dalam kesedihan. Bisa?”


Libra sama sekali tak menjawab dan hanya sedu sedan yang keluar dari mulutnya, “Jangan bersedih, karena kalau kamu sedih, anak-anak pasti akan sedih.” Virgo meyakinkan istrinya agar lebih tenang.


Meskipun tak mengatakan apapun tapi anggukan Libra membuat semua orang lega. Ini adalah masalah terberat bagi mereka. Tapi mau bagaimanapun mereka harus menghadapinya.


Tak lama setelah itu, dokter datang untuk mengecek kondisi Libra. Memang sudah stabil, tapi mereka semua tahu kesedihan yang dialami oleh Libra.


“Untuk sementara waktu, Libra harus bed rest,” awal dokter tersebut menjelaskan, “Karena sedikit saja Libra lelah, semua kemungkinan akan terjadi. Mulai dari pendarahan dan mengalami keguguran. Sampai kehamilan ini dirasa kuat. Karena bisa saja, mereka akan lahir secara premature.” Libra mencoba untuk tak mengeluarkan air matanya dan mencengkram erat genggaman sang suami.


“Sebentar lagi saya harus ujian, Dok, apa bisa saya kuliah?”


“Harus menggunakan kursi roda. Karena Libra tidak boleh lelah, ingat, berjalan pun akan membuat Libra kelelahan. Dan mungkin setelah ujian, bisa cuti sampai lahiran.” Virgo menatap Libra dengan hati yang terasa tertusuk ribuan belati. Sakit tapi tak berdarah.


“Saya mengerti, Dok.” Virgo menjawab.


“Dan kita akan melakukan cerclage atau kita sebut sebagai mengikat leher Rahim, tujuannya adalah agar serviks lebih tertutup dan kokoh. Kita akan melakukan ini ketika di usia kehamilan 16 minggu, sekarangpun bisa karena prosedur bisa dilakukan ketika kehamilan berjalan 14 sampai 16 minggu. Tapi kita akan melakukannya saat Libra sudah merasa kuat.”


Libra hanya bisa mengangguk saja dan tersenyum, meskipun senyum itu terlihat sekali dipaksakan. “Terima kasih, Dok. Kita akan melakukan dua minggu lagi kan?”


“Benar, Libra. Jadi sebelum kita menjalankan cerclage, kamu harus bed rest dan jangan terlalu memikirkan ini terlalu berat. Ajak anak-anak ‘berkomunikasi’ dan mereka pasti akan mengerti.” Dokter tersebut tersenyum dan mengelus pundak Libra seolah memberi kekuatan.


“Kamu bukan satu-satunya yang mengalami ini kok. Dan banyak yang melahirkan dengan lancar. Intinya, kamu harus terus berfikir positif dan yakinlah bahwa ini akan cepat berlalu.”


“Terima kasih, Dok.” Jawabnya. Tak ada yang bisa banyak dia katakan selain mengatakan dua kata itu. Sekarang semua tergantung kepadanya. Jika dia ingin anak-anaknya keluar dengan selamat dan kandungannya tak mengalami masalah, maka dia harus melakukan saran dari dokter. Kalau tidak, bersiap-siaplah dia kehilangan janin yang ada di dalam kandungannya.


“Nggak,” bisiknya, “Anak-anak bunda pasti akan selamat.” Lanjutnya dengan keyakinan yang luar biasa, “Kalian adalah anak-anak yang hebat.” Dan gumaman itu didengar oleh Virgo dan orang-orang yang ada di sana. Bahkan Sintya dan Jihan pun tak kuasa menahan tangis mereka.


Virgo duduk di kasur dan kembali memeluk Libra. Menumpukan kepala perempuan itu di dadanya dan mengelus dengan lembut. Meskipun tak ada kata yang keluar dari bibir Virgo kali ini, tapi Libra bisa merasakan perasaan yang diberikan Virgo kepada dirinya. Maka Libra semakin memeluk pinggang Virgo dengan erat.


*.*


Libra benar-benar harus bed rest di rumah. Ditemani dengan ibunya, paling tidak untuk hari ini, karena dia harus bergantian menjaga Libra selagi Virgo kuliah dan bekerja. Perempuan itu hanya bisa melakukan aktifitasnya di atas ranjang. Supir Wondo standby di rumah Libra untuk berjaga-jaga. Memang tidak ada yang menginginkan terjadi hal buruk dengan cucu menantunya itu, tapi lebih baik ada satu orang lelaki untuk menemani mereka di rumah.


“Vir!” Tere datang bersama Edo ketika mendengar apa yang terjadi kepada Libra, “Gimana sekarang keadaan Libra?”


“Dia udah lebih baik,” jawabnya, “Kalau lo ada waktu, bisa minta tolong datang ke rumah? Dia butuh teman.” Tak pernah Edo melihat Virgo yang lesu seperti ini sebelumnya. Bahkan ketika lelaki itu kehilangan Libra waktu itu. Tapi sekarang sangat berbeda sekali. Terlihat sekali wajah Virgo seperti tak memiliki semangat hidup dalam dirinya.


“Gue akan ke rumah lo. Lo nggak perlu khawatir.”


“Tapi jangan membahas masalah yang ini, obrolkan apapun yang membuat dia lebih rileks.”


“Gue paham.” Edo hanya sanggup menepuk punggung Virgo dengan pelan tanda menunjukkan dukungannya.


Virgo banyak diam ketika terjadi masalah ini. Bahkan ketika bekerja pun dia hanya terus bekerja tanpa bercanda kepada seniornya seperti biasanya.


“Lo baik-baik aja?” Nino mendekati Virgo yang masih duduk di kursinya sambil memainkan ponselnya. Semua orang yang ada di ruangan tersebut sudah keluar karena sudah waktunya makan siang. Beginilah mereka, jika ingin makan di luar, maka semuanya keluar, tapi jika hanya mengandalkan aplikasi, maka mereka hanya makan di dalam ruangan saja.


“Gue baik-baik aja.” Kata Virgo sambil tersenyum kecil.


“Tapi gue nggak percaya.” Nino menarik kusi di depan meja Virgo dan duduk di sana, “Lo sering nggak masuk, dan endingnya ketika lo sekarang bekerja, muka lo terlihat sekali penuh beban. Kalau bukan lo, pasti ada hal yang terjadi.” Tebakan Nino yang penuh keyakinan itu benar-benar membuat Virgo menghela nafas panjang.


Diletakkannya ponsel itu di atas meja dan balas menatap Nino. “Gue emang ada masalah yang bagi gue berat banget, Bang.” Berterus terang, “Libra hamil, tapi kandungannya lemah.” Nino benar-benar mendengarkan apa yang diceritakan oleh Virgo dengan seksama. Virgo menceritakan masalah yang sekarang ini sedang dihadapi dengan perasaan sedihnya.


“Gue yakin Libra perempuan yang kuat.” Nino menjawab, “Lo harus lebih kuat dari istri lo karena sekarang ini yang dibutuhkan Libra adalah lo, suaminya. Dia butuh ketenangan dari lo, dia butuh lo yang menujukkan sayang lo ke dia, hal-hal kecil yang manis juga harus lo berikan ke dia. Itu sangat membantu.”


“Contohnya?”


“Simple aja, misalnya saat lo pulang kerja kaya gini, lo bawain dia bunga. Itu hal simple, tapi bisa buat senang.” Virgo menyadari satu hal, dia selama ini tak pernah memberikan kejutan dengan hal-hal romantic seperti ini. Mungkin ini adalah saatnya dia melakukannya.


Maka dia merealisasikan hal itu. Pulang dari kerja, dia mempir ke toko bunga untuk membelikan satu bucket bunga dan akan diberikan kepada sang istri. Dia memang tidak tahu bunga apa yang disukai oleh Libra, tapi bunga ini pastilah akan berguna untuk membuat Libra senang.


“Waalaikum salam.” Jihan mengalihkan tatapannya ke arah menantunya, tersenyum ketika melihat apa yang di bawa oleh Virgo.


“Dia masih bangun, masuk lah, dia pasti suka dengan apa yang kamu bawa.” Jihan benar-benar lebar sekali senyumnya, melihat Virgo yang begitu menyayangi putrinya.


Virgo mengangguk dan berlalu dari sana untuk masuk ke dalam kamarnya. “Selamat sore!” katanya ketika melihat istrinya duduk di atas ranjang sambil membaca novel. “Saya mencari Libra, dapat kiriman bunga dari suaminya.” Katanya berpura-pura, semata-mata hanya untuk menghibur Libra.


Dan perempuan itu tersenyum, membalas ucapan sang suami. “Saya Libra. Titipan apa ya, Mas?” tanyanya masih dengan senyumnya.


Virgo mendekat dan melangkah untuk mendekati Libra. “Ini,” lelaki itu mengangsurkan bunga yang dipegangnya kepada Libra. “Suami anda mengirimkan bunga ini buat anda, special katanya.” Lanjutnya.


“Terima kasih. Tapi bisa wakilkan suami saya untuk sebuah pelukan?” Libra memiringkan kepalanya dan terlihat manis sekali di mata Virgo.


“Tentu.” Virgo langsung memberikan pelukan itu untuk Libra dan mengelus punggung perempuan itu dengan sayang. “Udah sampai mana baca bukunya?” tanyanya ketika pelukan mereka sudah terurai.


“Aku awalnya baca buku kuliah, tapi kepalaku pusing melihat deretan angka, Yang, jadi aku baca novel.” Adunya dengan wajah sendu.


“Nggak masalah. Baca buku yang buat kamu rileks,” hiburnya, “Lagian aku tadi udah nemuin semua dosen kamu kok. Kalau memang ada tugas, aku yang akan mengambilnya dan mengumpulkan langsung ke beliau.”


“Kalau tugasnya di selesaikan di kelas?”


“Besoknya, kamu bisa mengumpulkan.”


“Kan bisa lewat chat?”


“Aku tahu, tapi aku bilang kalau kamu nggak boleh stress, jadi kamu mendapatkan tambahan waktu sampai besoknya.” Luar biasa sekali cara Virgo bernegosiasi. Maka Libra tak mampu lagi berkata-kata, dan hanya kembali memeluk suaminya itu dengan erat. Perasaannya semakin membaik saja.


*.*


Jihan pulang ke rumah dan langsung menuju ke dapur untuk membuatkan sarapan suaminya. Setelah dia membuatkan sarapan anak dan menantuanya, Sintya datang untuk menggantikan dirinya menjaga Libra. Kerjasama yang luar biasa bukan? Karena memang itulah yang harus dilakukan mereka.


Ardi masuk ke ruang dapur dan menatap istrinya dari belakang. Tak banyak yang dimasak, hanya seporsi nasi goreng dan secangkir kopi dihidangkan di depan Ardi. Kemudian ikut duduk untuk menemami lelaki itu memakan sarapannya.


“Jadi sampai kapan kamu akan bergantian tidur di rumah itu dan meninggalkan rumahmu sendiri?” suara itu terdengar sinis di telinga Jihan, namun perempuan itu tak akan terpancing dengan ucapan suaminya.


“Sampai anakku merasa pulih. Tidak, sampai dia melahirkan dan cucu-cucuku lahir.” Ringan Jihan mengatakan itu. Decihan itu keluar dari Ardi namun tak ada kata yang keluar dari sana. Jihan tak terlalu menanggapi suaminya yang tak mempedulikan Libra, tapi Jihan yakin lelaki itu akan kena batunya suatu saat nanti.


“Kamu mengatakan itu seolah Libra itu ayahnya sudah mati.” Masih dengan mengunyah makanannya, Ardi mengatakannya setelah tadi hanya decihan saja yang keluar dari bibirnya.


“Untuk apa mengakui kamu sebagai ayah kalau kamu saja nggak ngakuin dia sebagai anak.” Sinis sekali Jihan mengatakan itu sampai Ardi harus mengetatkan rahangnya.


“Ini masih pagi, Jihan. Jangan memancing emosiku.” Ardi menjawab dengan kaku sambil menatap istrinya tajam.


“Kamu juga nggak perlu mengatakan hal yang tidak perlu. Kamu sendiri yang memilih untuk membuang anakmu, jadi tidak perlu berakting seolah kamulah disini yang tersakiti. Anakku sedang menghadapi hal yang sulit sekarang, jadi peranku sebagai istrimu juga akan terbagi. Mau nggak mau, kamu harus menerima.”


“Kenapa kamu harus terlibat sedangkan masih ada keluarga Virgo yang mengurus Libra. Mereka lah yang harusnya bertanggung jawab dengan keadaan ini.”


Sinis Jihan menyeringai, ditatapnya lelaki itu dengan tajam. “Aku ibunya. Aku yang mengandung dia, aku yang merawatnya. Sejak kecil aku menjaganya bahkan seekor nyamuk pun jangan sampai menggigitnya. Kamu tidak akan tahu bagaimana rasanya menjadi seorang ibu, karena kamu saja tidak tahu bagaimana rasanya menjadi ayah yang baik. Jadi simpan saja pemikiran bodohmu itu di kepalamu. Aku sama sekali tidak butuh.” Jihan berdiri dari kursinya yang didudukinya dan akan berlalu dari sana. Namun Ardi menghalanginya dengan ucapannya.


“Sebelum dia menjadi pembangkang, aku tidak berfikir dengan berbuat keji seperti ini kepadanya. Tapi dia benar-benar tidak bisa diatur.”


“Orang itu Virgo, anak dari Firman dan Sintya. Karena itulah kamu mempertahankan kepala batumu itu dan terus menumbuhkan rasa kebencian di hatimu. Bagaimana kalau orang itu Edzard, atau lelaki lain yang orang tuanya tak memiliki masalah di masa lalunya dengan kamu. Apa kamu akan tetap seperti ini? Tidak. Aku yakin kamu tidak akan seperti ini. Sebelum terlambat, pikirkan ini baik-baik, Mas. Dan ingatlah kalau aku adalah orang yang dikirim Firman untuk membuat kamu jatuh cinta sama aku agar kamu tidak terlarut dalam kesedihan kamu memedam cinta kepada Sintya.”


Mata Jihan menatap Ardi dengan keberanian yang luar biasa. “Aku, Sintya, dan Firman adalah penghianat. Bukan begitu? Kalau kamu membeci dua orang itu harusnya kamu juga membenciku. Aku sudah cukup bersabar dengan apa yang kamu lakukan dengan Libra dan Virgo. Aku diam saja karena aku tidak mau kita terus bertengkar seperti ini.” Jihan kemudian memutar tumitnya untuk meninggalkan Ardi yang tengah menahan geram.


Kalau memang Ardi ingin marah, biarlah dia marah. Dia sama sekali tak peduli. Yang terpenting sekarang adalah Libra segera pulih.


Sedangkan Ardi yang duduk di kursi makan itu mengepalkan tangannya dengan erat karena merasa marah. Otaknya hanya bisa mencerna kemarahannya tanpa mau mengubah keputusannya. Matanya memejam ketika mengingat istrinya yang serampangan setelah mendengar kabar dari Sintya jika Libra masuk ke rumah sakit pagi itu.


Ada perasaan tak nyaman di dalam hatinya, tapi dia tak tahu perasaan tak nyaman itu karena apa. sedangkan Jihan sama sekali tak mengajaknya untuk melhat keadaan Libra meskipun itu hanya basa-basi.


*.*