
Suara pintu terbuka membuat Virgo menoleh karena mengira jika itu Sam, nyatanya bukan. Orang sama yang menghajarnya sampai dia harus dirawat berdiri di depan pintu dengan menatap tajam ke arah Virgo. Libra ketakutan melihat ayahnya. Tangannya tak terasa menggenggam tangan Virgo.
Apalagi ketika Ardi melangkah mendekati mereka. Wajah panik Libra terlihat jelas sampai wajahnya pucat pasi.
“Jangan sakiti, Virgo.” Entah dari kekuatan dari mana, Libra turun dari ranjang dan berdiri di depan Virgo untuk menghalangi ayahnya agar tidak melakukan hal yang buruk kepada kekasihnya itu.
“Kamu mencintai dia sampai berani melakukan itu ke ayah?” tajam sekali tatapan Ardi kepada putrinya.
Libra diam tanpa menjawab. Virgo hanya diam tanpa berkutik sama sekali.
“Aku selalu mendengarkan apa yang Ayah katakan tanpa ada perlawanan sama sekali. Ketika aku membuat pilihan dalam hidupku kali ini, ayah sama sekali nggak mendukung sama sekali.”
“Karena kamu menentukan pilihan yang salah.” Virgo memejamkan matanya ketika mendengar jawaban dari Ardi.
“Kalau anda memiliki masalah dengan orang tua saya di masa lalu, maka itu adalah urusan anda dengan mereka. Harusnya masalah itu tak menimbulkan masalah baru buat saya.” Sontak saja ucapan Virgo menimbulkan reaksi cepat dari Ardi. Mata lelaki itu menajam menatap Virgo dengan rahang mengetat.
“Apa kamu bilang?” Virgo mencoba meminta Libra menyingkir dari depannya agar dia bisa menghadapi Ardi dengan cara lelaki.
“Saya sudah tahu semuanya, Om. Saya selama ini berusaha untuk diam saja. Tanpa memberikan perlawanan sama sekali atas perlakukan yang Om berikan kepada saya. Tapi saya rasa saya tidak bisa diam saja ketika begitu rendahnya saya di mata, Om.”
Melupakan keberadaan Sam yang entah kemana sampai Ardi bisa masuk ke dalam kamar Libra tanpa ada pemberitahuan sama sekali dari lelaki itu. Virgo berpikiran mungkin saja ini adalah hari-hari naasnya karena selalu berhadapan dengan Ardi.
“Saya sudah tahu bagaimana Om di masa lalu, bagaimana Om dengan berani mengumpankan mama saya kepada lelaki hanya karena demi harga diri Om.”
“Diam kamu!” perintah itu sama sekali tak diindahkannya oleh Virgo karena dia berniat untuk menuntaskan semuanya.
“Saya bukan lelaki seperti Om yang suka sekali menggunakan cara kotor untuk membalas perlakuan orang lain kepada saya.” Virgo berani mengatakan hal yang buruk itu kepada ayah kekasihnya itu. “Seandainya saya sebrengsek yang Om kira, dan saya mengabaikan dosa, saya dengan senang hati akan membawa Libra ke hotel dan mengambil satu-satu hal yang sangat berarti itu dari dia. Tapi saya tidak melakukannya karena memang saya serius dengan Libra. Saya tidak ingin merusak sesuatu yang bukan milik saya. Apalagi kalau suatu saat nanti dia sudah menjadi milik saya, saya akan semakin menjaganya.”
Virgo belum selesai mengatakan apapun hal yang selama ini memenuhi otaknya akan Ardi. “Jangan sekalipun Om memukul rata lelaki yang terlihat berandalan lantas dia benar-benar berandalan. Saya masih memiliki etika dan Tuhan. Saya memang bersalah waktu itu, saya akui dan saya tidak akan mengelak dosa yang saya lakukan bersama Libra.” Virgo menghela napas panjang dan bersiap untuk mengakhiri obrolan ini.
“Saya akan melakukan tebusan kesalahan yang saya buat apapun itu kecuali menjauhi ataupun mengakhiri hubungan kami. Karena itu bukan jalan yang terbaik yang bisa diambil.”
“Lalu jalan seperti apa yang terbaik menurutmu? Menikah seperti usul ibumu? Sangat tidak masuk akal.”
“Kalau memang itu harus di lakukan kenapa tidak?”
Kekehan sinis itu keluar dari bibir Ardi, “Punya apa kamu sampai berani mengajukan proposal pernikahan kepada saya?”
“Memang saya belum memiliki pekerjaan, dan saya juga tidak mungkin memenuhi kebutuhan rumah tangga kami hanya dengan cinta, karena itu sama sekali tidak mengenyangkan. Tapi saya bukan orang yang akan lepas tangan begitu saja begitu saya sudah mendapatkan gadis yang saya cintai.”
Ardi benar-benar merasa geram ketika mendengar kalimat demi kalimat yang diucapkan Virgo kepadanya begitu tertata dan memiliki arah yang jelas. ‘Kurang ajar si Firman dan Sintya. Kenapa hasil didikan mereka terlalu memusingkannya seperti ini’ mungkin begitulah kira-kira isi dalam fikiran Ardi kali ini.
“Saya berani menikahi Libra bukan tanpa pertimbangan. Tolong pertimbangkan lagi apa yang saya katakana, Om. Saya harus kembali ke kamar saya untuk beristirahat. Kamar saya di 305, barangkali Om mau menjenguk saya dan memberikan kabar baik buat saya.” Virgo menatap Libra yang tak mengatakan apapun sejak tadi karena merasa bingung di pikirannya.
“Aku pergi dulu,” di kecupnya dahi Libra di depan Ardi tanpa lagi merasa takut. Jiwa kurang ajar Virgo telah kembali, dan kalau sudah begitu, maka siapa orang yang sanggup menghentikannya?
Libra mengangguk dan masih diam di tempatnya sampai Virgo hilang di balik dinding ruangannya. Hanya satu jam, tapi rasanya semua hal telah terangkum seperti di dalam novel. Kebahagiaan ketika bertemu Virgo, ketegangan ketika ayahnya datang dan memergoki Viirgo ada di sana, dan ketika Virgo mengatakan hal-hal yang seketika membuatnya pusing. Semua benar-benar di luar dugaan.
*.*
Virgo masuk ke dalam kamar inapnya dengan wajah tanpa ekspresi miliknya. Sam langsung mendekati lelaki itu dengan wajah paniknya.
“Lo nggak papa?” lelaki itu bahkan harus meneliti tubuh Virgo barangkali akan ada luka yang didapatkan dari Ardi akibat dari keteledorannya.
Virgo menepuk pundak Sam dengan pelan, “Gue nggak papa. Lo tenang aja.” Kemudian berlalu dari hadapan Sam untuk kembali ke ranjangnya.
“Ardi nggak macam-macam kan?” seperti yang dilakukan Sam kepadanya, Sintya pun melakukan hal yang sama. Belum juga Virgo menjawabnya, perempuan itu sudah mengomel karena putranya itu begitu sembrono pergi ke ruangan Libra. “Kamu kan bisa menahannya untuk sementara waktu, Sayang!” begitu katanya dengan mata melototi putranya. “Kamu buat mama benar-benar akan kena serangan jantung rasanya.” Sintya terduduk di kursi dekat dengan ranjang putranya dengan wajah lega.
“Mama nggak perlu terlalu khawatir seperti ini, aku kembali dengan selamat kan?” Virgo mengatakan itu dengan nada bercanda namun tidak dengan ibunya.
“Terakhir kali kamu bertatap muka dengan Ardi kamu harus dirawat di sini, kamu lupa? Bahkan kamu belum keluar dari rumah sakit dan kamu akan membuat masalah baru?”
“Tapi, Mama yang belum menginginkan aku keluar dari sini karena menurut, Mama aku harus mendapatkan perawatan yang lebih dari ini.” Hembusan napas Sintya terlalu keras dan pergi begitu saja dari sana. Membiarkan putranya bersama Sam saja di sana.
“Beliau memang hampir masuk ke dalam kamar Libra tadi, tapi gue larang.” Sam membuka suaranya karena merasa tak enak Virgo mendapatkan kemarahan dari ibunya.
“Gue tahu kalau mama pasti akan khawatir, karena itu gue langsung keluar dari kamar Libra setelah mengatakan sesuatu yang membuat ayah Libra bungkam.” Sam tak bertanya tentang apa yang dikatakan oleh Virgo kepada Ardi karena mereka tahu itu adalah privacy.
“Sorry dengan apa yang terjadi, gue tadi memang tadi ke toilet sebentar karena gue kira karena ini jam kerja makan Ardi pasti sedang bekerja. Sayangnya pemikiran gue meleset.” Sam menjelaskan keberadaannya ketika Ardi tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Libra.
“Syukurlah kalau gitu,” kemudian mereka mengobrol entah tentang apa saja karena ibu Virgo tak kunjung datang, sedangkan Sam sama sekali tak tega jika harus meninggalkan temannya itu sendirian di kamar rawat inap.
Dan kondisi itu berbeda dengan keadaan di kamar rawat Libra. Gadis itu sedang menginginkan mendapatkan penjelasan dari ayahnya, tapi Ardi justru diam saja tak menjawab pertanyaan dari putrinya.
“Kenapa Ayah diam saja?” Libra kini merasa tak takut dengan ayahnya ketika mendapatkan bocoran dari Virgo tadi tentang masa lalu ayahnya.
“Masa lalu seperti apa yang Virgo tahu sedangkan aku nggak tahu, Yah? Tolong bilang sama aku, Yah.” Desak Libra kepada ayahnya namun seketika mendapatkan tatapan tajam dari lelaki itu.
“Itu bukan lah yang harus kamu tahu. Itu bukanlah masalah besar.”
“Tapi masalahnya masa lalu yang Ayah miliki berkaitan dengan masa depan aku.”
“Berkaitan katamu?” Ardi benar-benar menampilkan wajah menyebalkan, “kamu pikir karena masa lalu itu alasan kenapa ayah tak merestui Virgo? Kamu terlalu naif, Li.”
“Lalu karena apa?’
“Karena dia bukan lelaki baik dan tak akan menjadi baik di mata ayah.” Hati Libra belum tertata lagi dengan baik, namun sudah kembali dihancurkan.
“Ayah menyakitiku lagi,” guman Libra dengan nada sedihnya, “Kalau seperti ini terus, kapan hatiku akan kembali utuh dengan sempurna? Sedangkan belum sembuh betul saja udah dikancurkan lagi tanpa pertimbangan.” Libra naik ke atas ranjangnya dengan lemas dan tak lagi mengatakan apapun lagi kepada ayahnya.
Menarik selimut dan memunggungi lelaki itu. Air matanya kembali menetes namun tanpa ada isakan. Punggung Libra bergetar dan itu sama sekali tak luput dari Ardi. Dan entah terbuat dari apa hati Ardi, karena melihat itu sama sekali tak membuat hatinya bergetar sama sekali.
*.*
Masalah antara Virgo dan Ardi bukan lagi menjadi masalah dua lelaki berbeda generasi itu saja sekarang. Karena sudah menjadi masalah dua keluarga.
Bahkan Firman saja kini membuat jadwal untuk menemui Ardi secara pribadi untuk membicarakan masalah anak-anak mereka.
Di sebuah restoran dengan ruangan VIP, mereka bertemu dengan Firman yang mengajukan permintaan temu terlebih dulu. Entah apa yang akan dikatakan oleh Firman nanti kepada lelaki itu, tapi ayah Virgo itu berharap semua masalah ini akan segera diakhiri saja dibandingkan harus membuat banyak pihak tersakiti.
“Jadi hanya karena masalah anak-anak kamu meminta ketemu saya di sini? Lucu sekali.” Tanggapan Ardi sinis sekali ketika mengatakan hal itu.
“Masalah anak-anak bukan lagi masalah ‘hanya’ tapi merembet ke hal yang lebih serius.” Jawab Firman dengan ketenangan yang luar biasa. Tak akan terpengaruh dengan apa yang dikatakan oleh Ardi.
“Baiklah,” Jawab Ardi, “jadi apa yang akan kamu bahas sekarang?” masih dengan kesombongan yang luar biasa Ardi bertanya.
“Pertama, saya akan membahas tentang kenapa kamu begitu membenci Virgo sampai kamu tega membuatnya babak belur seperti itu? Apa karena dia putraku, atau karena dia lahir dari rahim seorang perempuan yang kamu cintai di masa lalu, atau memang kepribadian dia yang sama sekali tak ada sedikit kebaikan di mata kamu?”
Panjang sekali pertanyaan Firman di poin pertama ini. Sampai membuat Ardi terdiam. Namun tak lama, ayah Libra itu menjawab. “Ketiganya.” Tanpa perlu merasa menutupi apa yang ada di dalam pikirannya, Ardi menjawab.
“Saya benci karena dia adalah putramu yang terlahir dari perempuan bernama Sintya dan memiliki kepribadian yang benar-benar saya benci. Berandalan, tak suka sekali berbuat ulah.” Tak akan orang tua yang akan menerima begitu saja jika anak mereka di hina di depannya. Namun Firman mengangguk mendengar penjelasan dari lelaki itu.
“Sintya tidak pernah mencintai kamu. Kamu lupa akan hal itu?” pancing Firman agar mereka menyelesaikan masalah mereka di masa lalu. “Ketika kamu membenci Virgo karena alasan yang ketiga, apa kamu tak mengingat kelakuan kamu ketika masa muda dulu? Bukannya kamu lebih brengsek daripada putra saya?” senyum mengejek Firman tercetak jelas di bibir lelaki itu.
“Memaksa perempuan untuk menjadi kekasihmu, kemudian membuatnya menjadi bahan taruhan karena harga dirimu merasa direndahkan, dan masih berusaha untuk membuat hubungan perempuan itu dengan orang yang dicintainya berantakan. Saya rasa itu adalah hal yang sangat buruk.” Ardi mengetatkan rahangnya karena sifat di masa lalunya itu benar-benar seperti diputar kembali. Dan dia tak menyukai itu.
“Karena saya brengsek di masa lalu, makanya saya tak mau Libra juga mendapatkan lelaki yang brengsek pula.” Sepertinya memang keduanya tak mau mengalah satu sama lain.
Hanya bedanya Firman yang bersikap santai sedangkan Ardi bersikap sebaliknya.
“Jadi menurutmu, Virgo itu lelaki brengsek?” tanya Firman
“Tak ada pria baik-baik yang akan mencium perempuan sembarangan.”
Firman mengangguk, “Tapi tak ada pria brengsek yang bersedia menikahi seorang perempuan hanya karena sebuah ciuman.”
Ardi lagi-lagi terdiam karena itu. Dan Firman menyeringai melihat keterdiaman lelaki itu.
“Kita lewati dulu saja pertanyaan yang pertama. Karena saya ingin menanyakan hal yang kedua,” katanya. Dan tanpa ada persetujuan dari Ardi, Firman melanjutkan, “Kedua, bagaimana kalau karena kamu yang seperti ini, dan pak Wondo mendengarnya akan menjadi masalah besar?” mendengar nama lelaki yang sudah dianggap menjadi ayahnya sendiri itu, Ardi meneguk ludahnya berkali-kali terlihat dari jakun lelaki itu yang turun naik.
Wajahnya terlihat gugup. “Ralat.” Katanya merevisi kata-katanya, “Pak Wondo memang sudah mendengarnya meskipun kami berusaha untuk menutupinya karena kami merasa kalau kita mungkin bisa memperbaiki hubungan ini, sayangnya beliau terlalu cerdik dan mencari tahu sendiri kenapa wajah cucu kesayangannya itu babak belur seperti itu. Dan, voila, saya dipanggil ke kantornya dan menanyakan kejadian ini.” Firman meneguk minumannya terlebih dahulu ketika dia ingin melanjutkan ucapannya.
“Karena hal itulah, saya membuat janji temu dengan kamu di sini untuk membicarakannya. Karena jika sudah menyangkut beliau, maka sebuah urusan yang kecil tak akan dibiarkan tetap kecil.”
Dan Ardi terdiam tanpa lagi bisa mengatakan apapun mengingat jika lelaki tua itu bisa menjadi monster kalau memang dia menginginkannya.
*.*