
“Lo mau keluar?” Libra keluar dan mengunci pintu kamarnya ketika Tere datang dan bertanya.
“Iya, mau titip sesuatu?”
Tere menggeleng dan tersenyum, “Enggak, gue udah makan tadi sama Edo.”
“Kalau gitu gue pergi dulu ya, Virgo udah ada di bawah.”
”Li!” Tere mencekal tangan Libra ketika gadis itu akan berlalu dari sana. “Lo nggak mikirin sama apa yang anak-anak bilang tadi kan?”
“Gue mikirin, Re,” Jawabnya dengan miris, “Gue jadi takut kalau kejadian masa lalu itu akan terulang lagi.” Libra menyandarkan tubuhnya di sekat besi depan kamarnya.
“Lo nggak perlu memikirkan hal itu, Li. Lo nikmati aja semua yang sekarang sedang terjadi. Lo dan Virgo udah balik lagi itu bener-bener hal yang bagus.”
“Tapi apa yang Sam bilang itu emang bener lho, Re.”
“Bener atau enggak, biar waktu yang jawab.” Tere menatap Libra dengan keyakinan yang luar biasa. Libra masih tercenung di tempatnya tanpa menjawab sampai sebuah panggilan, masuk ke dalam ponselnya.
“Virgo.” Ucapnya kepada Tere sebelum mengangkatnya.
“Ya, aku turun sekarang.” Hanya begitu saja ucapnya kemudian pamit kepada Tere untuk segera pergi dan bertemu dengan kekasihnya.
Sikap Libra kembali kekanakan dan manja ketika melihat Virgo. Helm yang ada di tangannya dikenakan, kemudian masih berdiri, dia mengambil lengan Virgo yang memegangi stir dan memeluknya. Menyandarkan kepalanya ke punggung lelaki itu sambil memejamkan matanya.
“Kenapa?” Virgo mengelus tangan Libra yang berada di lengannya sembari bertanya, “Mereka ngomong yang enggak-enggak?” perubahan sikap Libra yang seperti ini memang bisa langsung ditebak oleh Virgo. Apalagi kalau bukan karena teman-temannya. Begitulah pikir Virgo.
“Enggak ada.” Libra menegakkan tubuhnya dan menatap Virgo, “Kita berangkat aja, aku udah lapar.” Katanya kemudian naik begitu saja di motor Virgo, tangannya memeluk pinggang lelaki itu dan Virgo langsung menjalankan motornya.
Malam-malam seperti ini, berkencan dengan menggunakan motor, ikut andil dalam kemacetan kota Jakarta, adalah sesuatu yang menyenangkan bagi Libra. Beban di dalam pikirannya memang belum terangkat, tapi sudah suasana hatinya sedikit membaik karena sekarang dia sedang bersama dengan lelaki yang dicintainya.
Senyumnya sesekali mengembang ketika tangan kiri Virgo menyempatkan mengelus tangannya yang melingkar di perut lelaki itu. Gedung-gedung tinggi, lampu-lampu malam yang menerangi pekatnya malam menambah kesan yang tak bisa dia deskripsikan betapa hatinya terasa hangat.
“Aku cinta kamu,” bisiknya di dekat telinga Virgo yang dia sama sekali tak mempedulikan jika seandainya Virgo tak mendengarnya. Karena lelaki itu sama sekali tak menjawab ucapan cinta dari gadisnya.
Motor Virgo berbelok ke kiri sampai di sebuah rumah makan. ‘Salero Basamo’ begitulah tulisan yang ada di depan rumah makan itu.
“Nasi Padang.” Senyum Libra mengembang ketika Virgo mengajaknya makan di sana. Dia sangat menyukai masakan Padang pun dengan Virgo.
Virgo tak menjawabnya, namun mengatakan hal lain. “Aku juga cinta kamu, nggak perlu ragu akan itu.” Tatapan lelaki itu serius dan seketika Libra menatap Virgo yang tadinya sedang menatap masakan yang berada di etalase rumah makan tersebut dengan wajah laparnya.
“Kamu bilang cinta sama aku tadi. Jadi aku membalas ucapan kalimat itu.” Mereka masih setia berdiri di parkiran.
“Kamu denger?”
“Ya.” Tangan Virgo dilarikan ke juntaian rambut yang mengganggu wajah Libra. Menyelipkan rambut itu di belakang telinga si gadis, kemudian beralih mengelus wajahnya. “Kita makan sekarang.” Katanya dengan menarik tangan Libra dan menggenggamnya erat.
Masuk ke dalam rumah makan, duduk di salah satu kursi di sana dan memesan makanan. “Aku mau kepala kakap. Boleh?” Libra memang sudah tak sabar menyantap makanan tersebut ketika melihat kepala ikan itu seolah tadi sedang memanggilnya.
“Apapun yang kamu mau, kamu pesan aja.” Tentu saja hal itu membuat senyum Libra mengembang dan langsung menuliskan di sebuah kertas menu.
Setelah pesanannya sudah ditulis di sana, dia memanggil pelayan dan memberikannya kepada lelaki itu. Senyum Libra tak pudar, hatinya adem sepertinya. Tapi sebuah kalimat yang dikatakan Sam siang tadi terlintas kembali ke dalam kepalanya. Maka untuk mengurai beban itu, Libra memberanikan diri untuk bertanya.
“Vir!” panggilnya dengan ragu. Virgo balik menatap gadis di depannya.
“Ya?” keraguan itu semakin besar di dalam hati Libra. Dia takut akan kenyataan dan jawaban yang akan diberikan oleh Virgo kepadanya. Akan sehancur apa nanti perasaannya jika apa yang diharapkan tak sesuai dengan keinginannya.
Suasana hati yang tadinya sangat baik kini mendung seketika. Kabut kelabu yang menyerangkan terasa mengerikan. Ketakutan itu semakin terlihat jelas di mata Virgo.
“Yang!” panggil Virgo sambil menyelimuti tangan Libra dengan genggamannya.
Libra tersadar. Pandangannya tak lagi sekosong tadi, kemudian Virgo barulah bersuara, “Kenapa? Ada yang ingin kamu kasih tahu ke aku, atau ada sesuatu yang mengganjal di pikiran kamu?” dengan penuh hati-hati Virgo melontarkan pertanyaan itu.
“Apapun yang ingin kamu kasih tahu ke aku, atau apapun yang sekarang sedang mengganggu pikiran kamu, katakan saja semuanya. Kalau pertanyaan kamu itu kamu tujukan ke aku dan aku bisa menjawabnya, aku akan menjawabnya. Setidaknya, beban di dalam pikiran kamu akan lebih ringan.” Libra memang belum sepenuhnya sembuh dari kesakitan di dalam hatinya. Dia masih merasa ketakutan jika semua hal yang sedang dia lalui sekarang ini hanyalah mimpi indahnya saja.
Pelayan datang dan meletakkan pesanan mereka di atas meja. Genggaman tangan keduanya terurai. Virgo mengatakan terima kasih kepada pelayan tersebut setelah mengantarkan pesanannya karena Libra masih terlihat tercenung.
“Makan dulu.” Virgo mendorong piring ke depan Libra dan meminta gadis itu segera makan. Tanpa banyak kata Libra melakukannya, namun tanpa semangat sama sekali.
“Nikmati dulu makanannya. Jangan pikirkan hal yang lain dulu. Jangan beban yang ada di dalam kepala kamu menjadikan itu sebagai alasan diri kamu bersedih. Aku udah ada di sini bersama kamu, beban yang kamu rasakan sekarang bisa kamu bagi denganku.” Virgo berusaha untuk menghibur kekasihnya.
Libra mencoba untuk tersenyum mendengarkan apa yang dikatakan oleh Virgo, berusaha mencerna dengan kepala yang masih semrawut. Namun di sisi hatinya mengatakan jika lelaki itu mungkin mengatakan semua hal itu dengan tulus.
Selesai makan, Virgo kembali bertanya. “Jadi, apa yang ingin kamu katakan?” lelaki itu tak mungkin mengabaikan begitu saja sesuatu yang ingin dikatakan oleh Libra beberapa saat lalu.
“Yang!” panggilnya agar Libra segera mengatakan apa yang ingin dikatakan oleh Libra kepadanya.
Libra memejamkan matanya, menghembuskan nafasnya panjang sebelum mengatakan semua hal yang menjadikan beban di dalam pikirannya.
“Aku akan tanya sesuatu hal yang sedang mengganggu fikiranku, tapi tolong kamu jangan tersinggung.” Katanya membuat sebuah perjanjian kepada lelaki di depannya itu.
Virgo menyanggupi, “Ya, aku akan melakukannya.” Katanya dengan yakin padahal dia belum tahu apa yang akan dikatakan oleh Libra kepadanya.
“Kamu memutuskan untuk kembali ke aku,” awal Libra. Lanjutan itu akan dikeluarkan namun mencari kata yang tepat. “Apa kamu akan berjuang sampai akhir, atau akan kembali menyerah ketika suatu hari nanti ayah tahu hubungan kita? Kalau memang kamu akhirnya akan menyerah dan kembali mengulangi untuk meninggalkan aku suatu saat nanti, lebih baik kita akhiri saja sekarang sebelum aku kembali terluka dan luka itu pasti akan lebih dalam.” Mata Libra mengembun ketika mengatakan itu.
“Mumpung kita baru jalan satu hari, dan mungkin aku bisa menyembuhkan lukaku seorang diri ketika kita kembali berpisah. Aku bisa menganggap satu hari ini adalah mimpi indah yang Tuhan berikan ke aku.” Air mata Libra jatuh dengan tenggorokan yang meneguk ludahnya berkali-kali.
Virgo menggenggam tangan Libra dengan erat, lagi. “Aku akan bertahan sampai akhir.” Katanya tanpa keraguan, “Tapi yang nggak aku tahu adalah sampai akhir itu sampai apa? Sampai mana batasannya?” obrolan mereka sekarang ini sepertinya memang tak main-main.
“Sebuah akhir juga memiliki batasan, Yang. Bahkan seandainya aku ingin mengakhiri semua ini, maka ini adalah akhir dari kisah kita.” Libra tak memiliki kata untuk dikatakan.
“Sampai kamu berpikir jika perjuanganmu tak memiliki arti sama sekali,” setelah mendapatkan kata-katanya kembali, Libra bersuara. “Ketika kita sudah sama-sama lelah untuk berjuang. Jika salah satu dari kita masih memiliki tenaga untuk berjuang, maka itu belum berakhir.”
“Aku nggak akan berani menjanjikan apapun ke kamu, Yang.”
“Kenapa nggak dari dulu aja kita bersama-sama kalau akhirnya kita juga berpacaran secara diam-diam?”
“Karena aku sudah nggak punya kemampuan lagi untuk menyakiti kamu.” Jawaban Virgo membuat wajah Libra berubah seketika ekspresinya.
“Aku pernah menantang ayahmu untuk terus menyakitimu waktu itu, karena dia saja mampu menyakiti kamu,” kenyataan itu sama sekali tak pernah diketahui oleh Libra. Gadis itu akan menarik tangannya yang digenggam oleh Virgo ketika mendengar hal yang mengejutkan dirinya. Sayangnya lelaki itu tak mengizinkan.
“Tapi sayangnya hatiku tak sekuat itu melihat kamu bersedih,” Virgo mengungkapkan kenyataannya, “Ketika aku melihat wajah sedihmu, aku nggak bisa tidur. Hatiku ikut sakit sekali. Dan memang mentalku secetek itu. Aku gagal balas dendam kepada ayah kamu karena sudah membuat aku tak punya pilihan lain selain mengakhiri hubungan kita. Dan akhirnya aku nyerah dan memutuskan untuk kembali bersamamu.”
“Kamu pernah ancam ayah?” Libra mengulangi ucapan Virgo dengan pertanyaan. Mata Libra menatap ke arah manapun dengan linglung mendengar hal itu. Sangat mengejutkan sekali.
Senyum kecut Libra terlihat, “Nggak masuk akal,” katanya. “Kapan kamu melakukannya?” tanyanya kepada Virgo.
“Beberapa waktu lalu. Aku lupa tepatnya kapan.”
Libra menyandarkan punggungnya kasar ke sandaran kursi. Otaknya kemudian mengingatkan akan tingkah aneh ayahnya waktu itu. Lelaki itu yang ngotot mengajaknya kembali ke rumah, mengkhawatirkan dirinya yang berlebihan, dan kini dia bisa mengerti mungkin karena ancaman yang diberikan oleh Virgo.
“Aku nggak bisa mikir lagi sekarang.” Begitu kata Libra kepada Virgo. Bisa kita pulang saja sekarang?” Virgo mengangguk untuk menyetujui apa yang dikatakan oleh Libra tanpa membantah sama sekali.
Virgo tahu jika keterusterangan yang disampaikan oleh Libra sangat mengejutkan. Tapi bagaimanapun dia sudah mengatakan semua.
Berbeda dengan ketika mereka berangkat, ketika pulang ini Libra semakin terbebani dengan apa yang dikatakan oleh Virgo. Entah kejujuran yang Virgo katakan kepadanya ini adalah sesuatu yang menyedihkan atau sebaliknya.
Sampainya di depan kos, Libra tak langsung turun dari motor Virgo. Tangannya masih melingkar di perut Virgo dengan nyaman, “Aku bingung.” Katanya dengan terus terang, “Aku nggak tahu akan menyikapi ini seperti apa.” Lanjutnya.
“Nggak perlu dijadikan beban. Bisa?” Virgo tak tahu ekspresi Libra di belakangnya, karena itu dia hanya mengelus tangan gadis itu. “Kalau kamu lelah dengan pemikiran ini, lepaskan saja.”
“Tapi aku sekarang pengin nangis.” Adu Libra kepada lelaki itu.
“Turun!” perintah Virgo kepada gadis itu setelah dia turun lebih dulu. Wajah Libra sudah sendu sejak tadi dan semakin terlihat berantakan di mata Virgo.
Libra dengan pelan turun dari motor dan memegangi jaket yang dipakai Virgo. Helm masih terpasang sempurna, dan Virgo melepaskannya. Ditariknya Libra ke kursi di bawah pohon depan kos Libra dan mendudukkan gadis itu di sana. Tempat itu agak temaran karena memang tidak terpasang lampu dan mengandalkan penerangan dari sorot lampu besar dari kos gadis itu.
Virgo memeluk Libra dengan erat. Meminta gadis itu untuk mengeluarkan segala hal yang menjadi bebannya. “Kenapa kamu malah menjadi sedih ketika aku mengatakan semuanya?” begitu tanya Virgo. “Aku hanya mengatakan yang memang harus dikatakan agar kamu tahu bahwa hubungan antara aku dan ayah kamu benar-benar kurang bagus. Dia mungkin sekarang ini sangat membenciku. Kalau dia tahu sekarang kita sedang menjalin hubungan di belakang dia, mungkin kamu akan ditarik kembali ke rumah dan membatasi pergerakan kamu.”
“Aku nggak mau,” Libra semakin menenggelamkan wajahnya di dada Virgo dan melanjutkan tangisnya. Mungkin dia sekarang membayangkan betapa mengerikannya jika hal itu benar-benar terjadi.
“Karena itu, sebelum semua ini terbongkar dan ayahmu semakin murka, kita nikmati saja selagi kita bisa menikmatinya. Waktu kita nggak banyak, entah kapan pasti rahasia ini akan terbongkar.” Lingkaran lengan Libra di pinggang Virgo semakin menguat.
“Tapi, Yang?” Virgo menjauhkan tubuh Libra yang menempel di tubuhnya seperti lintah, “Kamu nggak marah aku mengancam ayah kamu?” ditatapnya mata gadis itu yang lembab dengan air mata yang kadang masih sesekali menetes. Mengusap air mata kekasihnya itu menggunakan ibu jarinya.
“Aku nggak tahu,” Jawab Libra dengan cepat, “Aku bahkan nggak tahu apa yang aku rasakan di dalam pikiran dan hatiku sekarang. Semua bercampur menjadi satu sampai aku nggak tahu diantara semua itu mana yang benar-benar menyakiti aku sekarang.” Miris sekali memang.
Virgo melihat jam tangan di pergelangan tangan kirinya. Waktu memang masih menunjukkan pukul sembilan malam, dan itu masih sore bagi Virgo. Tapi dia tetap ingin Libra segera masuk ke kosnya dan menenangkan pikirannya.
“Masuk gih.” Katanya memerintah Libra.
“Mau jalan-jalan.” Libra memang tak akan menyetujui begitu saja dengan apa yang dikatakan oleh Virgo, “Mau muter-muter naik motor. Kemana aja, yang penting nggak berhenti.” Jam malam kos memang berlaku, namun jika meminta izin, akan beda lagi ceritanya. Harusnya pukul 21.30 adalah batasannya, namun Libra mendapatkan tiga puluh menit lagi dari satpam kosnya.
*.*