Blind Love

Blind Love
Episode 50



Liburan panjang. Artinya Libra harus kembali ke rumahnya. Itu adalah perjanjiannya. Maka mau tak mau, rela tak rela, dia harus melakukan apa yang sudah disepakati oleh dirinya dan juga ayahnya. Untungnya itu masih esok hari karena hari ini di kampus masih ada kegiatan meskipun Libra pun tak datang ke kampus.


“Kamu nanti kangen aku nggak sih?” Libra sedang bersama Virgo hari ini seperti biasa. Setelah mereka kembali berpacaran, mereka selalu menyempatkan untuk bertemu meskipun itu hanya sebentar. Dan ketika Libra harus kembali pulang ke rumahnya, artinya itu adalah petaka.


Mungkin saja mereka bertemu dengan diam-diam seperti yang dilakukan sekarang ini yaitu dengan menjalin hubungan secara diam-diam. Tapi itu tak akan mudah karena posisinya Libra berada di dalam pengawasan kedua orang tuanya.


“Bisa saja, karena kita akan susah untuk bertemu.” Jawab Virgo ketika ditanya seperti itu. “Nanti aku akan cari cara untuk bisa kita ketemuan.” Liburan semester adalah liburan panjang yang kadang membuat sebagian mahasiswa menjadi bosan. Dan sepertinya Libra juga akan mengalami hal yang sama.


“Kamu punya rencana apa selama liburan panjang itu?” Libra tak memiliki ide untuk melakukan apapun setelah dia pulang ke rumahnya. Bahkan dia bisa membayangkan betapa dia akan merasa bosan sekali nanti.


“Mungkin akan merecoki kakek di kantor.” Katanya dengan santai.


“Ngerecoki apa nih?”


“Datang ke kantor kakek, pegang laptop, kalau udah bosan nge-game, buat berisik sampai kakek kadang merasa aku harus dilemparkan dari gedungnya.” Virgo membayangkan ekspresi kakeknya ketika dia mengganggunya.


Meskipun dia adalah cucu tercintanya, tapi juga tak jarang terjadi perdebatan antar keduanya. Virgo si pembuat onar, ketika sang kakek yang membutuh konsentrasi penuh dalam pekerjaannya. Maka hal itu sangat tak baik bagi Virgo karena dia memang pernah ingin dilemparkan dari ruangan pak Wondo karena terlalu berisik.


“Terus aku harus ngapain?” Libra kebingungan seorang diri.


“Banyak hal yang bisa dilakukan lho, Yang.” Kata Virgo. “Kamu bisa belajar masak, berkebun, apa aja bisa dilakukan.”


Libra tak menjawab dengan ide yang diberikan oleh kekasihnya. Dia hanya memainkan kakinya yang digoyangkan ke depan dan belakang.


Ketika hari ini tiba, Libra dengan malas-malasan berjalan ke luar kos. Seorang supir sudah menunggunya di sana. Libra hanya membawa barang satu tas ransel tanpa ada tentengan apapun di tangannya.


“Pagi, Non. Betah kayanya di tempat kos ya.” Begitu kata sopirnya ketika dia sudah masuk ke dalam mobil.


“Lumayan, Pak.” Katanya dengan senyum ketika menjawab, “Bapak kelihatannya juga sehat sekali, kelihatan muda malah.” Goda Libra kepada sopirnya yang memang sudah berumur sekitar empat puluh lima tahun.


“Non Libra mah bisa aja,” memang seharusnya di umur itu, banyak orang yang masih terlihat muda. Hanya saja sopir Libra ini memang boros sekali wajahnya.


“Bapak sama ibu udah nungguin Non Libra di rumah. Udah dimasakin banyak makanan tadi sepertinya. Denger dari bibi.” Libra tersenyum mendengar itu. Ibunya pastilah sibuk karena menunggu kedatangannya.


“Ibu aja semalam sibuk belanja sendiri ke supermarket, Non.” Tak ada orang tua yang tak menyayangi anak mereka termasuk orang tua Libra. Hanya saja cara mereka menunjukkan rasa sayang mereka itulah yang terkadang membuat anak-anak mereka merasa jika orang tuanya terlalu mengekang atau bahkan tak sayang. padahal, tidak ada yang seperti itu kecuali adalah mereka memutuskan menjadi orang tua yang tidak baik.


Libra menikmati waktu di jalan. Jarak tempuh memang tak sebentar. Dan ketika melihat rumahnya yang sudah satu semester ini sama sekali tak dikunjungi, Libra merasa tiba-tiba sesak. Namun ada kebahagiaan yang muncul juga di hatinya.


Turun dari mobil, menyandang tasnya, kemudian berjalan masuk ke dalam rumah. “Assalamualaikum.” Katanya yang dengan otomatis ibu dan ayahnya yang sedang duduk berdua di ruang keluarga menoleh dengan senyum yang mengembang.


“Waalaikum salam.” Ibu Libra berdiri dan menyambut putrinya dengan pelukan. Ibunya tentu saja sering datang ke tempat kos Libra alih-alih Libra yang pulang ke rumah. Karena memang dia sudah bertekad untuk tidak pulang selama itu bukan liburan panjang.


“Dua bulan mama nggak datang, kamu udah berubah aja sepertinya.” Begitu kata Jihan melihat putrinya yang terlihat lebih segar.


“Mama sibuk, makanya nggak datang.”


“Kamu harusnya juga pulang setiap minggu sekali dong, Li, kan nggak terlalu jauh. Masa nunggu satu semester baru pulang. Nggak kangen sama rumah?”


Libra melihat ke sekeliling ruangan, kemudian tersenyum, “Kangen sih, Ma. Namanya juga rumah sendiri.” Libra berjalan mendekati sang ayah dan bersalaman.


Duduk di kursi single dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi empuk itu. Memejamkan matanya, dan menghirup aroma di dalam rumahnya. Tak ada yang lebih nyaman dari rumah sendiri. Dan Libra sangat paham akan hal itu. Bahkan dia merasa jika matanya seakan ingin terpejam dan kembali tertidur. Sayangnya itu tak mungkin, karena ibunya sudah memberi peringatan kepadanya.


“Jangan tidur,” katanya, “masih pagi. Makan dulu, nanti baru tidur lagi. Mama udah masakin kamu banyak makanan kesukaan kamu. Dan mama sendiri yang masak. Bukan hasil ketering ataupun gojek.” Mata Libra terbuka.


Menegakkan punggungnya, dan berdiri. “ Kalau gitu ayo makan.” Tanpa menunggu jawaban dari orang tuanya, dia sudah lebih dulu berjalan ke ruang makan. Melihat banyak makanan di atas meja makan dan kemudian duduk di sana. Menyendokkan kepiting yang diolah begitu menggoda oleh Jihan dan tentu menimbulkan selera makan Libra mencuat tak tanggung-tanggung.


Kedua orang tuanya datang dan bergabung dengan Libra ke meja makan untuk ikut mengisi perut mereka.


Melihat Libra yang begitu lahap memakan masakannya membuat Jihan begitu bahagia. “Makan yang banyak, kalau kurang, nanti kita beli kepiting yang lebih besar lagi.” Begitu ibunya memberi dukungan kepada dirinya.


Libra mengangguk-angguk tanpa berkata apapun dan menikmati saja makanannya.


“Kalau di kos, kamu makan pakai lauk apa biasanya?”


“Tergantung aku pengen makan apa,” Libra menyesap cangkang kepiting untuk mendapatkan dagingnya. “Kalau pengen ayam penyet ya beli ayam penyet, kalau pengen makan sama ayam Kentucky ya beli itu. Sesuai yang aku pengen aja, Ma.” Sejak tadi ayahnya sama sekali tak berbicara dan hanya menatap putrinya saja. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh lelaki itu.


Bahkan setelah mereka selesai makan pun, Ardi tak banyak bicara. Libra merasa kantuknya tak lagi bisa ditahan. Berbaring di kasurnya, memeluk guling, dan mulai memejamkan matanya ketika ponselnya berbunyi.


Virgoku – Udah sampai dengan selamat kan?


Begitu bunyi chatnya. Senyum Libra mengembang dan membalas pesan tersebut dengan suka cita.


Libra – Aku udah sampai rumah. Udah makan, dan akhirnya aku udah ngantuk sekarang


Virgoku – Ini kode biar aku nggak chat kamu lagi atau apa ini?


“Perasa.” Gumam Libra mencibir kekasihnya.


Libra – Menurut kamu gimana?” kantuk Libra menggelayut di matanya tapi tak seberat beberapa saat tadi.


Virgoku – Menurut aku, KAMU NGANGENIN


“Kampret!” Libra mengumpat karena tiba-tiba saja detakan jantungnya terlalu menggila.


Jari-jarinya mengetikkan balasan kepada lelaki itu dengan wajah yang merona.


Tulisnya. Kemudian mengirimkan kepada lelaki itu. Sayangnya balasan itu tak segera dikirim oleh Virgo karenanya Libra menunggu. Bahkan sampai ketiduran. Entah berapa lama gadis itu tertidur sampai dia terbangun karena ibunya membangunkannya.


“Jam berapa, Ma?” tanyanya sambil masih bergelung di atas kasur dan sambil memeluk guling miliknya.


“Udah sore. Mandi sana, mau jalan-jalan nggak?” Libra semakin menenggelamkan wajahnya di guling yang dipeluknya.


“Di rumah dulu, Ma. Aku malas keluar.” katanya dengan suara yang masih serak.


“Ya udah kalau nggak mau, mandi dulu. Sholat. Udah jam empat.” Kemudian ibu Libra keluar dari kamar putrinya dan meninggalkan Libra yang berusaha untuk segera sadar dan bangun dari baringnya.


mengingat ponselnya, gadis itu mengecek apakah ada chat balasan dari Virgo atau tidak. Dan pop up di layar ponselnya menunjukkan nama Virgo di sana.


Segera membuka agar tahu isi balasan dari kekasihnya, Libra membaca chat tersebut.


Virgoku -- Tega gimana sih, Yang? Orang aku aja sayang banget sama kamu lho.


Libra kembali berbaring terlentang sambil terus saling berbalas pesan dengan Virgo. Menunda mandinya dan lebih menikmati kegiatan yang baginya menyenangkan.


*.*


“Kamu sepertinya menikmati sekali tinggal di kos.” Libra sedang mengobrol di ruang keluarga. Gadis itu menaikkan kakinya ke atas sofa sambil memainkan ponsel miliknya.


“Aku senang,” jawab Libra langsung, “Aku di sana punya teman dan bisa saling sharing tentang apapun. Itu sangat menyenangkan.” Lanjutnya santai.


“Yang penting kamu bisa jaga diri, Li.” Ibunya yang dari awal memang mendukung dengan keputusan yang diambil oleh putrinya bersuara.


“Kalau itu pasti, Ma.” Meskipun seandainya tak ada yang memberinya nasehat seperti itu pun dia akan tetap selalu menjaga dirinya. Karena itu adalah hal yang sangat penting.


“Jangan sampai kamu menahan apapun kalau menginginkannya. Mama nggak mau kamu jadi kurus karena tinggal di kos.” Obrolan malam ini berlanjut sampai malam. Sampai Libra merasa kantuk itu kembali menyerangnya dan dia pamit ke kamarnya.


“Yang!” Panggilan telepon diterima dari Virgo dan sebagai antisipasi, Libra mengunci pintu kamarnya agar tak ada siapapun yang masuk sembarangan di sana. “Habis ngobrol sama Ayah dan Mama.” Katanya sambil duduk di balkon kamarnya.


“Nggak ada pertanyaan yang aneh-aneh kan?” tanya Virgo di seberang sana.


“Nggak ada. Masih aman.” Yang dimaksud oleh Virgo adalah tentang hubungan mereka yang tersembunyi dari Ardi. Mereka memang sekarang masih santai saja dengan hubungan tersembunyi yang mereka jalani. Tapi lambat laun semua itu pasti akan terbongkar.


Virgo memang paham jika hubungan mereka tak akan disembunyikan selamanya. Tapi jika dia sekarang ini diserang balik oleh Ardi karena berani membantah ucapannya, dia akan berjuang. Mungkin butuh waktu yang lama, tapi dia sudah memiliki senjata untuk balik menyerang lelaki itu.


keesokan harinya, karena tak memiliki kegiatan, dia pergi ke kantor kakeknya. Membawa laptop miliknya dan dia akan mendekam di sana untuk melakukan apapun yang ingin dia lakukan.


Dengan santai masuk ke dalam gedung kantor milik kakeknya dan mendapatkan sapaan-sapaan dari orang-orang. Mereka memang sekarang ini seolah sedang melihat seorang penyelamat saja karena insiden ‘penyelamatan’ hacker yang terjadi beberapa bulan lalu.


Namun siapa sangka jika dia akan bertemu dengan Libra di sana. Tentu saja itu mengejutkan keduanya. Bahkan mereka berada di dalam lift yang sama. Ardi yang melihat itu terlihat sekali kikuknya. Tapi Virgo bersikap seolah tak peduli sama sekali akan keberadaan Libra.


Lift terbuka dan Virgo lebih dulu keluar. Sampai di lantai dimana ruangan sang kakek berada, Virgo mendapatkan sapaan dari seorang gadis muda.


“Hai, Mas Virgo.” Begitu sapanya.


“Hai.” Virgo tentu saja membalas dengan ramah sapaan tersebut. “Mau kasih berkas?” tanyanya kepada gadis itu.


“Iya, Mas.” Mereka berjalan beriringan dan membuat Libra panas melihat itu, “Mas udah libur ya?” sepertinya salah satu staf kakeknya itu memang sedang melakukan pendekatan, siapa tahu dia beruntung. Mungkin begitulah pikir gadis tersebut.


“Iya. Kayanya saya belum pernah lihat, Kakak di sini?”


“Saya sudah agak lama, Mas, kerja disini, cuma Mas aja belum tahu saya.” Virgo mengangguk-angguk dan semua itu terlihat jelas di mata Libra dan membuat gadis itu ingin sekali marah.


Deheman dikeluarkan dengan keras agar Virgo bisa peka jika ada dirinya di sana. Jangan ganjen. Itu lah yang dikatakan Oleh Libra di dalam otaknya. Sayangnya Virgo sama sekali tak peduli. Bahkan ketika mereka sampai di ruangan pak Wondo Virgo sama sekali tak mempedulikan Libra.


Gondok? pasti. Tapi apa yang bisa Libra lakukan selain diam saja.


Virgo bahkan hanya menyapa kakeknya seadanya dan duduk di kursi di sudut ruangan seperti biasanya.


Pak Wondo yang melihat Libra ikut serta bersama sang ayah, di sapa ramah oleh lelaki tua itu. “Wah-wah! Si cantik ikut ke sini juga.” Libra mengambil tangan lelaki tersebut dan menciumnya.


“Iya, Kek. Di rumah nggak ada kerjaan.” Katanya dengan sopan.


“Udah libur ya?”


“Iya, Kek. Liburan panjang.” Mata Libra tak tahan untuk tak melirik ke arah Virgo yang sedang fokus dengan laptop miliknya. Ekspresinya datar dan menyebalkan.


Dari dua orang tua itu sama sekali tak meminta Libra untuk mendekat ke tempat Virgo meskipun itu hanyalah basa-basi. Tentu saja karena mereka tahu, jika salah satunya ada yang tak menyukai Virgo.


Libra yang tak tahu harus melakukan apa, karena ayah dan kakek Virgo tengah membicarakan pekerjaan. Maka dengan itu dia mengirim chat untuk Virgo.


“Kamu jahat!” kirimnya kepada Virgo. Namun Virgo sama sekali tak beraksi apapun. Lelaki itu masih dengan kegiatannya dengan laptopnya. Telinganya di sumpal menggunakan headset. Bersikap tak acuh dengan sekitar dan lebih memilih tenggelam dalam dunianya sendiri.


Libra kemudian mencoba untuk menghubungi lelaki itu dengan panggilan telepon, namun masih sama saja. Tak ada reaksi apapun dari lelaki itu. Decakan dari bibir Libra bahkan keluar dan didengar oleh kakek Virgo dan juga sang ayah.


“Kenapa, Nak?” tanya kakek Virgo kepada gadis itu. Libra yang tak menyadari dengan apa yang dilakukan tentu saja terkaget.


“Ya?” menegakkan tubuhnya agar tak terlihat malas-malasan. Nyengir garing dan menggaruk tangannya dengan kecanggungan yang luar biasa.


*.*