
"Gue mau tembak dia aja," Lapangan basket yang biasa digunakan oleh Virgo dan kawan-kawanya nongkrong sedang sepi, dan curahan hati Sam itu di katakan di sana. Malam ini. "Gue nggak mau dia lari tanpa kepastian dari gue." Seperti biasa mereka sedang berbaring sambil menatap langitmalam.
Ada beberapa botol minum di depan mereka dan juga snack yang dibelinya sebelum mereka datang kesana tadi. "Lo udah yakin sama perasaan lo?" Rai bertanya. "Jangan sampai perasaan nggak mau kehilangan dia, lo memaksakan hati lo untuk bisa sama dia."
"Gue yakin gue memang sayang sama dia. Cina itu nggak main-main masuk kedalam hati gue." Ada senyum kecil yang terbit di bibir Sam ketika mengatakan itu. Bisa jadi sekarang ini dia sedang mengingat gadis yang di cintainya itu.
"Kalau lo udah yakin, nggak usah ditunda lagi. Kan bisa aja dia juga sedang menuggu lo bilang cinta sama dia." Itu tanggapan dari Edo. Dan memang yang dikatakan oleh Edo itu benar, untuk apa menunda seusatu yang sudah jelas jawabannya?
"Karena itu gue mau bilang sama dia," Ucap Sam. "Lo gimana, Vir? Gimana sama Libra?" Virgo sejak tadi memang hanya diam saja dan memejamkan matanya menikmati angin yang menyapa kulitnya. Tapi ketika pertanyaan dari Sam itukeluar, maka hal pertama yang dia lakukan adalah membuka matanya namun tak langsung menjawab pertanyaan dari temannya itu.
"Kalau guel ihat, kalian berdua sama-sama saling tertarik. Dan gue yakin kalian juga sudah saling cinta." Baro mendeskripsikan apa yang dia duganya dengan sok tahu. "Dan lo juga harus melakukan hal yang sama seperti Sam kalau lo nggak mau Libra diambil orang." Lanjutan kata Baro itu memang tak masuk ke dalam otak Virgo, Karena dia hanya menaggapi enteng saja.
"Kalau dia cinta sama gue, dia pasti maunya sama gue, bukan orang lain." Yang mendapatkan cibiran dari teman-temannya.
"Cewek itu butuh kepastian lho, Vir." Begitu kata Baro. "Mereka itu cenderung sensitive dengan hal-hal seperti ini. Meskipun merasakan kalau kita sayang sama dia, tapi dia juga butuh sebuah ungkapan 'akusayangkamu' dari kita." Seolah sangat mengerti tentang cinta, Baro mendeskripsikan.
"Ya." Ingin menyelesaikan pembahasan tentang perasaannya, Virgo menyetujui apa yang dikatakan oleh teman-temannya. Dia tak menceritakan apa yang sedang terjadi antara dirinya dengan Libra, karena baginya itu adalah privacy. Biarlah urusan diriny adan Libra menjadi rahasia dirinya dengan gadisitu.
Dia tak tahu saja kalau Libra bahkan sudah mengatakan kepada teman-temannya tentang masalahnya.
'Aku bilang sama dia kalau aku mencintainya, dan reaksi yang ditunjukan betapa menggemaskan dia mataku. Kekagetan itu seolah dia mendapatkan sesuatu berharga yang diharapkan kedatangannya sejak ratusan tahun lalu. Tuhan, aku benar-benar mencintainya.'
Virgo sudah sampai di rumah dan dia kini sedang duduk di balik jendela dengan secangkir coklat dan sebuah novel yang sama yang dimilliki oleh Libra. Entah kenapa pikirannya mengarah kepada Libra dan senyumnya kemudian terbit. Ekspresi yang ditunjukkan oleh gadis itujugasama menggemaskannya buat Virgo. Dia tak tahu seperti apa perempuan yang diceritakan di dalam bukutersebut, tapi bayangan yang ada di dalam benaknya adalah seorang Libra.
Dia kembali membaca. 'Mencintai seseorang itumenyenangkan, aku bisa mencurahkan semua perhatian kepadanya. Cinta itu membawa kebahagiaan bagidiriku. Bahkan aku selalu menunggu momen seperti apa yang akan kami lewatkan bersama dirinya esok hari. Tuhan, aku tak akan bosan mengatakan ini, tapi aku mencintainya.' Memberi tanda terakhir di baca, Virgo menutup buku itu.
Selama dia membaca buku itu, dia disajikan berbaga macam hal situasi dan kondisi dalam hal mencintai dan dicintai. Bukan hanya kisah manis, tapi juga ada kisah sedih, bertengkar, dan hal lainnya sampai terkadang dia larut dalam kisah dari novel tersebut.
Menyenderkan punggungnya di dinding, Virgo menatap daun-daun yang tergerak karena angin. Jika dia ditanya apa yang dirasakan ketika tidak bertemu dengan Libra selama tiga hari ini, maka jawabannya cukup sederhana. Dia takmengalami yang namanya rindu yang berlebihan. Terkadang tersemat rasa ingin bertemu, tapi bisa ditahannya. Apa itu menandakan jika dia hanya sekedar menyukainya tanpa ada embel-embel lainnya? Itu yang masih diselidiki.
*.*
Seharusnya sudah waktunya untuk masuk kelas setelah jam istirahat selesai. Sayangnya bukan untuk seorang Virgo yang masih asyik dengan bola basketnya. Di sekolahnya memang ada gedung serbaguna yang entah untuk di gunakan olahraga atau kegiatan lain. Tapi jika waktunya pelajaran olahraga, mereka menggunakan lapangan outdoor, dan di sanalah Virgo berada sekarang. Mendrible bola basketnya, berlari seolah dia mempunyai lawan main, kemudian memasukkan bola tersebut ke dalam ring.
Ada beberapa siswi yang dengan terang-terangan menonton aksinya di lapangan. 'Magnet' yang ada di dalam dirinya seolah menarik semua orang untuk memperhatikannya. Di mana keberadaan guru-guru sampai dia tidak di tegur ketika seharusnya dia mengikuti pelajaran sekolah? Entahlah. Semua guru tentu ada di sana, namun tak ada dari mereka yang melayangkan protesnya dengan kelakuan Virgo.
Baju seragamnya tergeletak di dudukan yang terbuat dari semen yang atasnya dilapisi keramik tak jauh dari lapangan. Sedangkan kaos dalaman lengan pendek yang dipakainya sudah basah oleh keringat. Rambutnya pun tak kalah basahnya. Namun jika kalian tahu, semua siswa yang kelasnya berada di lantai satu bisa melihatnya tanpa terhalang dengan apapun dan merasa terhipnotis dengan penampilannya yang seperti itu.
Mereka semua melihat ke arah lapangan dengan wajah antusias. Padahal di dalam sana ada seorang guru yang menerangkan tentang tema yang diajarkan hari ini. Hal itu pasti benar-benar menyebalkan bagi guru tersebut. Entah peringatan seperti apa yang di katakana kepada guru, karena setelanya kepala mereka serentak menatap ke depan meskipun masih ada yang melirik ke arah lapangan.
Virgo lelah. Membiarkan begitu saja bolanya menggelinding, dia duduk di pinggir lapangan dan meminum minumannya sampai tinggal sepertiga botol. Sepoi angin membuatnya merasakan rasa sejuk di kulitnya.
"Virgo!" Pangilan dari seseorang membuat lelaki itu menoleh. Di dapatinya seorang guru dengan wajah tak santai.
Berdiri, Virgo menatap guru tersebut. "Iya, Pak." Jawabnya dengan nada rendah nan sopan.
"Kamu sadar kalau sekarang sudah jam masuk kelas kan?" Guru tersebut tak ingin berbasa-basi sama sekali. "Apa yang kamu lakukan di sini dengan bola itu?"
"Saya hanya perlu waktu sebentar untuk bermain, Pak." Jawabnya santai seolah dirinya sedang tak mendapatkan masalah sekarang.
Guru tersebut melihat jam yang ada di pergelangan tangan kanannya. "Setengah jam lagi pelajaran ketiga akan berakhir, artinya kamu menggunakan waktu kamu selama satu jam untuk bermain. Di lihat dari mana itu waktu yang sebentar?" Guru tersebut sudah berkacak pinggang siap 'berperang' dengan anak didiknya yang berbuat ulah tersebut.
"Dari waktu enam jam setengah saya habiskan di sekolah, saya hanya mengambil satu jam untuk bermain basket, Pak. Bukankah itu sangat sebentar. Dari tadi pagi saya sudah menjadi anak baik dengan mendengarkan penjelasan guru. Kemudian di jam kedua pelajaran, kelas kami kuis dan saya mendapatkan nilai 80 dan adalah nilai tertinggi di kelas. Sekarang saya hanya menggunakan waktu sebentar saja untuk basket dan saya di complain? Itu sangat tidak adil bagi saya, Pak." Bukan lagi bibir guru tersebut yang terbuka karena merasa kaget dengan jawaban Virgo, tapi lebih dari itu.
Ekspresi guru tersebut benar-benar melongo sambil menatap Virgo tak menyangka. Lelaki itu memang tak seperti siswa dengan julukan badboy seperti di novel-novel, bahkan jarang sekali berbuat ulah. Namun sekali dia berbuat ulah, maka bukan hanya kutu yang mati, guru pun seolah hanya bisa menganga tak jelas.
"Ikut saya!" Perintah guru tersebut.
"Kemana, Pak?" Mungkin kalau tidak ingin di laporkan ke pihak berwajib karena memukul anak didiknya, mungkin guru tersebut akan meleparkan pot bunga besar yang berdiri tak jauh dari matanya. Sayangnya, semua itu tak benar dia lakukan.
*.*
"Bukan hanya kamu nanti yang akan menyesal karena tak belajar, tapi kasihan juga orang tua kamu yang sudah membayar mahal sekolah tapi kamu malah asyik-asyikan dengan tingkah kamu sendiri." Virgo sudah duduk di depan seorang guru BP dan mendapatkan wejangan yang mungkin endingnya nanti adalah sebuah hukuman yang entah apa.
Kalau orang melihat gerak-gerik Virgo sekarang, mereka akan beranggapan jika lelaki itu benar-benar menyesal dengan apa yang dilakukannya. Terlihat dengan kidmat dia menunduk dan mendengarkan betul-betul apa yang disampaikan oleh gurunya kepadanya.
"Bapak tahu kamu suka basket, kamu juga kapten basket dan banggaan sekolah, tapi jangan sampai hal itu membuat kamu ketinggalan pelajaran yang lebih berharga dari kesukaan kamu itu. kamu sebentar lagi juga akan ujian nasional, masih ada banyak mata pelajaran yang harus kamu pelajari." Nasehat itu masih terus berlanjut dan membuat Virgo mengantuk.
"Bukan hanya itu, tapi kalau melakukan itu, murid-murid lain lebih suka menonton kamu dibandingkan mendengarkan penjelasan guru." Lanjut guru tersebut.
"Kalau mereka mau lihat saya kan bukan salah saya, Pak. Saya tidak sedang menarik perhatian mereka juga kok." Jawaban Virgo itu membuat guru tersebut memijam pelipisnya. Frustasi mungkin dengan Virgo sekarang.
"Kamu ini membantah saj, ya!" Virgo kemudian menundukkan kepalanya lagi sebagai tanda hormatnya kepada guru tersebut.
Tapi sayangnya, di dalam kekhidmatan menundukknya, dia memejamkan matanya dan ketidak sadaran menariknya ke dalam sebuah 'dunia lain'. Entah sudah berapa lama guru BP itu mengatakan pidato di depan Virgo sampai lelaki itu memanggil Virgo.
"Virgo." Kesadarannya kembali tapi dia bisa mengendalikan dirinya. Masih dengan menunduk, matanya di buka dan mendongak untuk menatap gurunya.
"Ya, Pak?"
"Kamu tidur kan!" Itu adalah sebuah 'tuduhan' yang berdasar. Mata Virgo memerah dan itu menandakan jika dia memang tidur beberapa saat lalu.
"Enggak, Pak." Mana ada maling yang mau mengaku kan, kalau sampai itu terjadi, pasti penjara penuh. Begitulah istilahnya. Virgo mengelak bukan benar-benar mengelak. Dia santai saja seandainya guru itu tak percaya. Hanya saja biar lebih greget. Begitulah.
Terlihat jika guru tersebut mulai naik darah. "Kamu di skors." Putus guru tersebut. "Harunya bapak bisa bertoleransi dengan kelakuan kamu, tapi kamu sama sekali tak menghargai bapak." Kemudian entah sedang melakukan apa, setelahnya ada kertas yang keluar dari mesin print, menadatanganinya, dan memberikan itu kepadanya.
"Kamu di skors selama tiga hari." Kertas itu di letakkan di depannya dengan agak kasar. "Keluarlah." Usirnya dengan wajah tak bersahabat.
Virgo berdiri dari kursi. "Boleh saya bertanya, Pak?" bukan sebuah jawaban yang keluar dari bibir sang guru, tapi hanya tatapan datar.
Dan Virgo melanjutkan. "Saya setelah keluar dari ruangan ini bisa langsung pulang, menunggu sampai sekolah hari ini selesai, atau bagaimana?" Pertanyaan itu sungguh konyol dan seperti dia itu tak pernah masuk ke ruang BP dengan membawa masalah saja.
Agar semuanya cepat berakhir, maka guru tersebut menjawab. "Terserah kamu mau melakukan apa, terhitung saya kasih surat itu ke kamu, kamu bebas melakukan apapun." Sinis guru tersebut.
Berlagak berpikir sebentar, kemudian dia menjawab lagi. "Kalau begitu, saya langsung pulang aja, Pak. Terima kasih." Katanya sambil tersenyum seolah surat yang dibawanya itu bukanlah hal yang serius menimpanya. Kampret memang bocah satu itu.
"Permisi, Pak." Sopan sekali dia mengatakan itu. Tak seperti pemberontak, tapi begitu menyebalkan dengan tindakannya.
Keluar ruang BP dengan wajah biasa seolah tanpa beban, dia berjalan untuk ke kelasnya di lantai tiga. Masuk ke sana dengan semua mata memandang kea rah dirinya.
"Kenapa? Ada apa?" Begitu tanyanya kepada teman-teman sekelasnya dan langsung duduk di kursi miliknya.
Keempat temannya memang tidak ikut serta dalam 'pemberontakan' kali ini bukan karena mereka sudah insyaf sepenuhnya, tapi karena Virgo tak ajak-ajak dalam beraksi.
"Lo dari mana aja? Kemana seragam lo?" Rai yang lebih dulu bertanya kepada Virgo.
"Kampret, gue lupa lagi seragam gue masih di lapangan." Dengan santai mengatakan itu. surat yang di bawanya di kibas-kibaskan di depan wajah keempat temannya. "Gue libur dulu ya guys tiga hari, sesayang itu lho Pak Mansyur sama gue." Tanpa beban dia mengatakan itu dan seolah tak berdosa.
Kemudian digebugnya tubuh lelaki itu dengan keempat temannya. "Sialan, nggak ajak-ajak kita lagi." Edo yang bersuara. Yang dihadiahi tawa oleh Virgo.
Tak sengaja matanya menatap jam yang ada di atas papan tulis. Suara adzan juga terdengar di telinganya dari masjid sekolah. Nakal sekali-kali tak masalah, tapi pantang untuk meninggalkan kewajiban, luar biasa sekali prinsip hidup Virgo ini.
"Ayo! Sholat-sholat." Ajaknya kepada teman-temannya. Dia lebih dulu berdiri dan menyambar tas miliknya. "Kata Pak Mansyur, sejak surat ini diberikan ke gue, gue bebas melakukan apa saja. Jadi setelah gue meminta ampun kepada Allah karena sudah nakal tadi, gue akan pulang." Ucapannya itu mengundang reaksi dari teman-temannya.
"Lo beneran minta di tenggelamkan, Vir." Kata Baro dengan jengkel.
*.*