
Seperti biasanya, Libra akan menyetok makanan ringan untuk paling tidak dua hari ke depan. Temannya belajar, dan ketika tak memiliki kerjaan, maka dia selalu melampiaskannya dengan mengisi perutnya dengan makanan ringan.
Dia yang sekarang suka sekali menggunakan hoodie ketika keluar karena terik panas matahari siang yang terkadang tak ada ampun ketika menyorot bumi. Langkah kakinya lebar-lebar agar segera sampai di dalam minimarket dan segera memborong apapun yang ingin dibelinya.
Ketika sampai di sana, tudung jaketnya itu dibuka agar lehernya bisa mendapatkan angin, karena keringatnya sudah keluar dari pori-pori kulitnya. Sayangnya setelah tudung itu di buka, matanya tak sengaja bertemu pandang dengan seseorang yang sedang mengangkat cup mie di tangan kirinya sedangkan tangan kanannya menyendokkan mie tersebut.
Waktu seolah berhenti, wajahnya pias, degup jantungnya sama sekali tak bisa santai, cengkraman tangannya mengepal kuat. Ini diluar dugaannya, setelah entah berapa bulan dia tak pernah bertemu dengan lelaki itu, kini semesta mempertemukan mereka.
Masih berdiri di depan minimarket, kaki Libra seolah terpaku dengan kuat. Tak bisa maju tak bisa juga mundur. Bahkan entah sudah berapa kali seorang pengunjung menegurnya karena dia berdiri di tengah jalan.
Virgo berdiri entah dorongan dari mana. Kedua benda yang dipegangnya di letakkan di atas meja. Meskipun dia tak tahu apa yang akan dia lakukan, tapi ini seperti kejutan yang sama sekali tak pernah muncul dalam pikirannya.
Hampir Virgo mendekati gadis itu, tapi Libra lebih dulu mundur dan berlari dengan kencang seolah dia baru saja bertemu dengan musuh besarnya.
Entah kekuatan dari mana, Libra sama sekali tak berhenti untuk sekedar beristirahat karena kelelahan. Bahkan ketika dia sampai di kosnya, panggilan Tere sama sekali tak diindahkannya.
“Kenapa sih?” Tere sepertinya khawatir dengan temannya itu, “Aku cek dia dulu ya, Yang.” Bahkan tanpa menunggu Edo menjawab, dia lebih dulu melesat pergi untuk memastikan kondisi Libra baik-baik saja.
Tere berlari naik ke lantai atas untuk menanyakan keadaan Libra. Gadis itu mengetuk pintu kamar Libra dan memanggilnya, “Li!” panggilnya dengan ketukan yang terus terdengar agar Libra segera membuka pintunya.
“Li!” panggilnya lagi, “Buka dong.” Sama sekali tak ada jawaban dari gadis itu, Tere benar-benar tak tenang kali ini, dan entah panggilan yang keberapa, tapi Libra sama sekali tak mempedulikan panggilan itu terbukti pintu kamarnya masih tertutup rapat.
“Li! Lo nggak papa kan?” Kembali memastikan, Tere mencoba peruntungannya, “Please, buka dong.” Katanya lagi dengan suara agak kencang agar gadis di dalam kamar itu terganggu dan membukakan pintu kamar untuk dirinya. Sayangnya Libra terlalu keras kepala. Jadi panggilan sekeras apapun sama sekali tak membuat dirinya terpengaruh.
Tere mundur dengan pelan dari depan kamar Libra untuk Kembali ke lantai satu. Sesekali menatap ke belakang siapa tahu Libra akan membuka kamarnya dan mempersilahkan dia masuk barang sebentar saja. Lagi-lagi gadis itu hanya mampu menelan kekecewaan karena pintu itu masih tertutup rapat.
“Kenapa?” melihat wajah murung kekasihnya tentu saja membuat Edo bertanya karena penasaran.
“Dia nggak mau buka pintu, Yang,” adunya dengan nada sedih, “aku yakin ada sesuatu lho tapi dari wajahnya tadi.” Analisanya dengan sok tahu.
“Kamu bisa tanyain nanti kalau dia mulai tenang, beri dia waktu untuk sendiri dulu. Karena biasanya, orang yang memiliki masalah itu lebih dulu menenangkan dirinya sebelum mau membuka ceritanya kepada orang lain.” Petuah Edo
“Ya, mungkin lebih baik begitu,” Tere masih terlihat sedih namun berusaha ditutupi. Sedangkan Edo hanya bisa menggenggam tangan gadis itu dengan lembut. Tere memang sering menceritakan tentang temannya yang katanya teman baiknya dengan segala kebaikan yang dimiliki oleh gadis tersebut. Sayangnya dia tak mengatakan dengan jelas siapa nama gadis tersebut.
*.*
Virgo terdiam di tempat yang sama dengan pandangan kosong. Dalam benaknya bertanya kenapa dia bertemu dengan gadis itu, apakah dia juga kuliah di tempat yang sama dengannya, atau pertanyaan-pertanyaan lain yang sama sekali belum diketahui jawabannya.
“Kenapa dia lari?” tanyanya kepada keheningan yang dibuatnya sendiri. Tempat itu jelas ramai, tapi hatinya yang sepi seolah keramaian itu pun juga terasa sepi. Ketika menyadari kebodohannya, dia menggelengkan kepalanya.
“Kenapa nggak gue kejar tadi?” masih berbicara sendiri, dia mengungkapkan apa yang muncul di otaknya. Menghembuskan napas Panjang, Virgo berdiri dari duduknya dan segera pergi dari sana.
Kepalanya terasa berdenyut setelahnya karena pertemuan tersebut. Ketika sampai di rumah pun dia tak bisa lagi memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang mungkin terjadi. Dan semalaman bahkan dia gunakan untuk memikirkan Libra yang sekian lama sudah dia abaikan keberadaannya di dalam hati yang masih erat melekat di sana.
Pun dengan Libra sekarang. Sejak tadi bahkan dia tak keluar dari kamarnya meskipun Tere sudah berkali-kali mengetuk kamarnya agar dia bisa membukanya. Libra belum siap mendapatkan banyaknya pertanyaan yang mungkin akan dilontarkan oleh Tere, maka memilih mendekam di dalam kamar dengan pintu terkunci adalah pilihan yang terbaik.
Libra mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri dengan menghembuskan napas panjang berkali-kali. Tapi detakan di dalam dadanya sama sekali tak mereda, bahkan ketika perubahan Virgo yang terlihat lebih tampan dan berwibawa, menambah getaran dadanya terus bertalu cepat.
Virgo yang tampan terlihat lebih tampan berkali-kali lipat dari terakhir kali dia melihatnya. Sayangnya dia bukan lagi memiliki lelaki itu, begitu pikirnya. Matanya memejam dan Kembali berbaring dengan wajah menengadah ke atas. Dia tak bisa melihat apapun karena memang dia mematikan lampu untuk mendukung suasana hati yang buruk.
Bahkan sampai pagi ini ketika dia diharuskan kuliah, Libra berjalan malas-malasan. Virgo, masih berefek luar biasa buat hatinya.
“Li! Lo nggak papa?” pertanyaan itu terlontar begitu saja ketika Libra baru saja keluar kamar dan mengunci pintunya. Tere langsung membuka pintu kamar miliknya sendiri dengan kasar dan memindai tatapannya ke arah Libra.
“Gue nggak papa, sorry lo harus khawatir seperti itu,” rasanya seperti tak menghargai sama sekali jika tak meminta maaf atas tindakannya kepada Tere yang sudah mengkhawatirkannya.
‘It’s oke!” jawab Tere dengan cepat, “yang penting lo nggak papa.” Libra menatap Tere dengan lurus ketika mengatakan itu. Mendekati gadis itu dan memeluknya.
“Gue akan cerita nanti, lo nggak perlu khawatir.” Tere mengelus punggung Libra dengan lembut dan menyetujui saja.
“Kalau lo belum siap buat cerita sama gue, nggak perlu dipaksakan.” Begitu katanya tak ingin temannya itu memaksakan diri.
“Gue nggak papa.” Pelukan mereka terurai dengan Libra yang melakukan lebih dulu. “Gue berangkat dulu.” Pamitnya kepada Tere.
“Hati-hati.” Libra berjalan agak cepat agar dia tak telat masuk ke kelas nanti. Libra sudah menutup rapat masalah itu dan menguncinya di dalam hatinya tanpa pernah menceritakan kepada siapapun. Tapi melihat betapa Tere begitu mempedulikannya, rasanya dia tak masalah berbagi kisahnya bersama temannya itu.
Di dalam kelas, Libra berusaha untuk fokus dengan apa yang sedang dilakukannya. Mendengarkan dosen menerangkan matematika bisnis dengan angka berkeliaran di papan tulis dan rumus yang membuatnya sakit kepala.
“Li! Kantin yuk,” ajak teman-temannya ketika mata kuliah matematika bisnis sudah diselesaikannya.
Ketiga teman Libra kuliah di tempat yang berbeda. Hanya Riska dan Ersya yang berada di kampus yang sama. Sedangkan Ule kuliah di luar kota karena memang sekalian menemani neneknya yang tinggal sendirian di kota tersebut.
Libra yang menginginkan kuliah di luar kota, tapi Ule yang mendapatkannya. Bahkan waktu itu mereka merasa heran dengan jalan takdir yang dilaluinya. Persahabatan mereka masih terjalin erat. Mereka masih meluangkan waktunya untuk saling meramaikan chat grup agar kesibukan kuliah di tempat berbeda sama sekali tak membuat mereka menjadi renggang persahabatannya.
Dan yang mengajak Libra itu tadi bernama Shila. Ada dua lagi temannya bernama Zidan dan Rion. Mereka memang sejak awal kuliah sudah saling mengenal namun hanya sebatas kenal saja, setelah dengan kebetulan mereka satu kelas, maka pertemanan mereka akhirnya terjalin.
“Gue lama nggak pernah mampir ke kos lo sekarang, Li.” Biasanya memang Shila akan menyempatkan mampir ke kos Libra jika mengantarkan gadis itu pulang. Karena akhir-akhir ini Shila diantar jemput sedangkan Libra selalu menolak jika Shila akan mengantarkan dirinya terlebih dahulu, maka acara nongkrong di kos Libra juga lama tak lagi menjadi aktivitas rutin mereka.
“Mampir lah.” Libra sudah memotong omelete yang dipesannya dan memasukkan ke dalam mulutnya.
“Nanti lah ya, lama kita nggak nongkrong di kos lo sama anak-anak,”
“Ngomong-ngomong kemana dua orang itu?” biasanya mereka selalu berempat dan kini malah kedua teman lelakinya tak nongol sama sekali.
“Mau urusin masalah cowok katanya, belagu bener tu bocah,” Shila menggelengkan kepalanya merasa aneh.
“Libra?” seketika mendengar namanya dipanggil, Libra mendongak dan mendapati Sam,Rai, dan Baro menatapnya dengan wajah kagetnya. “Lo kuliah di sini?” merasa tak perlu untuk menutupi kekagetannya, Sam menatap Libra seolah dia baru saja menemukan benda bersejarah.
Tentu saja kaget melihat Libra di kantin yang sama dengannya, dia mungkin tak menyangka jika jawabannya akan ditemukan sendiri oleh dirinya tentang pertanyaan ‘kemana Libra kuliah’ selama ini. Riska sama sekali tak pernah memberi tahu akan keberadaan Libra kepada kekasihnya itu. Libra sendiri yang meminta sahabat-sahabatnya untuk tak pernah menceritakan hal tersebut.
Membiarkan saja Sam mengetahui jika Libra melanjutkan di luar kota seperti yang pernah dikatakan dan tak lagi merevisi informasi tersebut. Pun dengan Libra yang sama sekali tak pernah bertanya kepada Riska kemana kekasihnya dan teman-temannya itu akan kuliah. Karena baginya itu tak penting.
Libra meneguk ludahnya susah payah melihat keberadaan ketiga lelaki yang dikenalnya itu. Dengan cepat menggeser gelas berisi minuman itu di depannya dan menenggaknya.
“Hai!” barulah dia tersenyum dan menyapa teman-teman Virgo tersebut. Virgo, mungkin saja lelaki itu juga kuliah di kampus ini jika ketiga teman lelaki itu saja berada di sana. Merapalkan doa di dalam hati agar Virgo tak muncul tiba-tiba dan membuatnya seolah akan mati saja.
Kejutan yang kemarin saja belum bisa dia hilangkan dalam pikirannya, jangan sampai akan ada kejutan yang lainnya lagi.
“Riska pernah bilang lo akan kuliah di luar kota.” Bahkan dengan tanpa permisi lebih dulu, ketiga lelaki itu menarik kursi agar bisa duduk di meja yang sama dengan Libra.
“Memang rencananya dulu seperti itu, tapi rencananya berubah.” Canggung itu tak bisa ditutupi oleh Libra. Ketika gadis itu menatap dua orang lainnya yaitu Baro dan Rai, mereka sama sekali tak mengalihkan tatapannya sama sekali dari dirinya.
“Kalian kenapa lihatinnya kaya gitu banget sih?”
“Suer, Li, gue sama sekali nggak nyangka kalau kita satu kampus dan baru kali ini bertemu? Hebat banget lo sembunyinya?” begitu kata Rai.
“Gimana reaksi Virgo kalau dia lihat lo ada di sini ya?” jantung Libra seolah tak bisa mendengar nama Virgo diucapkan. Karena detakannya sama sekali tak bisa biasa.
“Dia juga kuliah di sini lho, Li.” Bahkan tanpa diminta pun Baro langsung memberinya informasi yang entah masuk ke dalam kategori penting ataukah tidak.
“Ya.” Jawabnya dengan wajah sendu.
“Lo masih sakit hati sama dia?” Sam tiba-tiba menanyakan hal itu. Libra mengerjap untuk beberapa detik dan berdehem canggung.
“Enggak,” jawaban yang bahkan dia sendiri tak yakin kebenarannya.
“Lo mau bertemu sama dia?”
“Jangan!” dengan cepat dia menjawab pertanyaan Rai dengan wajah memohon, “Please, jangan.” Katanya sungguh-sungguh. Pembicaraan ini sama sekali tak dimengerti oleh Shila yang dalam diam mendengarkan.
“Gue nggak nyalahin elo sih kalau menolak ketemu sama dia, Virgo memang brengsek. Dia pantas mendapatkan hukuman dari ketololannya,”
“Dia nggak pantas,” jawaban itu juga cepat diberikan kepada Baro yang menjelekkan Virgo di depannya.
“Nggak pantas apa maksud lo? Nggak pantas buat ketemu lo lagi, atau nggak pantas apa nih?” Baro memancing Libra.
“Dia nggak pantas lo salahin,” Libra sekuat tenaga menahan perasaan asing yang menyelinap masuk ke dalam hatinya. Perasaan gundah, keget, dan entah apapun itu semua bercampur menjadi satu.
“Bisa kita nggak bahas ini dulu?” mintanya dengan mata yang tiba-tiba sayu. Membuat ketiga orang lelaki di depannya itu merasa kasihan sekaligus mengetahui jika Libra masih mencintai sahabat mereka.
“Oke!” tak ingin membuat Libra bersedih, mereka menyanggupi saja. Kemudian obrolan beralih ke hal yang lain.
“Lo ambil jurusan apa, Li?” Rai bertanya.
“Akuntansi,” jawabnya, “Kalian pasti satu jurusan kan?” ujarnya sok tahu. Wajahnya tak sekeruh ketika mereka mengobrolkan tentang hubungannya dengan Virgo.
“Salah!” Baro dengan jari telunjuknya menggeleng-geleng dengan mata menyipit, “Gue calon dokter, Sam calon pengacara, dan Rai tukang gambar,”
“Nggak ada kata lebih oke selain tukang gabar ya, Bar? Gue kepret ganteng lo.” Rai menunjukkan protesnya. Dan membuat Baro terkekeh.
“Emang kerjaan lo apa selain gambar?” remehnya,
“Serah elo lah.” Rai memang kadang merasa jengkel jika ada orang yang mengatai calon profesinya itu.
“Edo?” Libra tentu tak akan melupakan teman mereka yang satu itu.
“Edo sama Virgo ambil IT. Mereka nanti akan membuat aplikasi yang akan merubah dunia ini, katanya.” Sam menjawab dengan menambahi nama Virgo di dalamnya. Bukan untuk apa-apa, tapi hanya sekedar informasi saja buat Libra
*.*