
“AKU CINTA LIBRA!” Di depan hamparan laut yang luas, Virgo berteriak mengatakan kepada dunia, isi di dalam hatinya. Disampingnya berdiri Libra dan akan melakukan hal yang sama.
“AKU JUGA CINTA VIRGO. BANYAK-BANYAK!” teriakan itu langsung terbawa angin seolah akan memberikannya kepada peri-peri cinta betapa mereka memang saling mencintai.
“Yang.” Panggil Virgo kepada Libra. “Kenapa kita kayak orang gila ya?” dan lenyaplah sudah kesan romantis itu ketika Virgo dengan tenangnya mengatakan hal itu. Bocah satu itu memang benar-benar suka sekali merusak suasana.
Karena merasa jengah dengan Virgo yang sudah menghancurkan suasana romantisnya, Libra menyipratkan air ke kaki Virgo menggunakan kakinya. “Romantis dikit lah, Yang. Gila gimana sih.” Kata Libra berapi-api. Kemudian pergi begitu saja dari samping Virgo dan mengabaikan lelaki itu.
Virgo yang tahu jika kekasihnya merajuk, terkekeh dan mengejar gadis itu. Namun tak langsung membujuknya. Semakin menggoda, “Cewek!” katanya yang mengikuti Libra dari belakang, “Jalan sendirian aja. Pasti jomblo. Ya kan? Masa, zaman sekarang kok nggak punya pacar.” Libra tak memeperlihatkan jika bibirnya komat-kamit membelakangi Virgo. Dia terus saja berjalan.
Sayangnya, ketika Virgo sedang sibuk untuk menggoda kekasihnya, ada lelaki lain yang tiba-tiba mendekati Libra. “Hai!” katanya. Virgo menghentikan langkahnya sedangkan Libra meneruskan jalannya tanpa mempedulikan lelaki yang menyapanya.
“Sendirian aja?” tak menyerah dengan aksi diamnya Libra, lelaki asing itu masih berusaha. Melihat langkah Libra yang sudah agak jauh, Virgo kembali melanjutkan langkahnya agak cepat agar bisa meneruskan langkahnya.
Tepat di belakang Libra, dia bisa mendengarkan lelaki itu mengatakan sesuatu. “Putus cinta itu hal yang biasa di usia seperti kita ini, kamu nggak perlu memikirkannya. Karena kata pepatah, gugur satu tumbuh seribu. Dan kamu juga seperti itu, putus dengan satu cowok, pasti akan banyak cowok yang deketin kamu.” Virgo bedecak mendengarkan itu, namun dia masih terdiam tanpa mau menginterupsi apapun yang dikatakan oleh lelaki itu.
“Memang sih, kalau kita udah cinta sama seseorang, akan susah untuk melupakan. Karena itu, kamu butuh orang baru dalam hidup kamu untuk menghapus bayangan masa lalu kamu.” Ocehan lelaki itu membuat Libra jengah.
“Lo itu ngomong apa sih sebenarnya?” Libra menatap lelaki itu dengan malas. Bukannya menyingkir, lelaki itu justru menatap Libra dengan senyuman.
“Kamu cantik.” Pujian itu mana mempan buat Libra sekarang.
“Terima kasih. Tapi aku nggak butuh pujian dari kamu.” Sinisnya, “Bisa kamu pergi?” masih dengan nada rendah Libra mengatakan itu.
Virgo bersedekap dan menatap dua orang di depannya itu dengan santai. Ketika lelaki asing itu melihat Virgo berdiri di sana, keningnya itu mengernyit. “Ngapain lo?” begitu tanyanya kepada Virgo sambil memicing. “Pergi sana, mengganggu saja.” Katanya dengan wajah menyebalkan sekali.
“Kenapa nggak lo aja yang pergi dari sini?” Virgo masih santai mengatakan itu.
“Kenapa harus gue? Gue mau bujuk pacar gue yang lagi ngambek.” Libra yang mendengar ucapan lelaki itu mundur beberapa langkah karena merasa jijik. Lelaki itu memang tampan, tapi tentu bagi Libra diakui pacar oleh lelaki asing yang tingkahnya menyebalkan seperti itu adalah hal yang sangat melukai harga dirinya.
“Sejak kapan gue jadi pacar lo?” tatapan memicing itu diberikan kepada Libra untuk lelaki itu. Merinding dibuat nya oleh lelaki itu. Virgo menatap Libra dengan wajah yang mengejek.
“Aku tahu kamu marah, tapi jangan kaya gini dong.” Untungnya dia tak dipanggil ‘sayang’ oleh lelaki itu. Kalau sampai itu terjadi, dia tak akan segan untuk menceburkan dirinya di lautan luas itu.
“Lo bakalan habis dihajar sama suami gue kalau berani bilang begitu lagi.” Lelaki asing itu merubah ekspresi wajahnya agak kaget namun dengan cepat menguasai keadaan.
“Suami?”
“Ya. Suami.” Virgo berbicara dan menarik tangan kiri Libra yang melingkar cicin pertunangan mereka, “Gue suaminya.” Dan menunjukkan cincin yang dia pakai. Membuat lelaki itu malu sekali dibuatnya.
Bahkan tanpa pamit, lelaki itu meninggalkan Virgo dan Libra lalu berjalan cepat. Membuat Virgo menggelengkan kepalanya dengan heran.
Matanya beralih menatap Libra, “Nah, lihatkan kalau sukanya ambek-ambekan, diakuin pacar orang kan kamu. Bentukannya kaya begitu lagi. Merinding aku, Yang.” Dan dengan menyebalkannya ditinggalkan Libra.
“Yang!” rengeknya. Virgo yang sudah melangkah lebar-lebar. Mencekal lengan leklaki itu menggoyang-goyangkan lengan Virgo.
Virgo tersenyum kecil berhasil mengerjai gadisnya. “Gue lagi bujuk pacar gue yang lagi ngambek.” Virgo menirukan apa yang dikatakan oleh lelaki asing tadi.
“Yang!” Libra memperingatkan Virgo agar tak mengingatkan hal itu lagi. Dia merasa benar-benar geli mendengar hal itu. “Aku nggak mau.” Kata Libra.
“Ih, pacarku punya pacar cabe-cabean.” Ejekan itu membuat Libra melepaskan pelukan di lengan Virgo dan matanya Mengembun. Ya, sikap kekanakan itu keluar dan gadis itu benar-benar menangis gara-gara godaan yang tak berfaedah sama sekali.
Bukannya membujuk Libra, Virgo justru terkekeh melihat kekasihnya yang menangis. Lelaki itu benar-benar kampret memang.
Virgo berkacak pinggang di depan Libra dan melihat saja gadis itu mengeluarkan air matanya. Namun tak lama setelah itu, Virgo menarik Libra ke dalam pelukannya. Bukannya menolak, Libra justru mengeratkan pelukannya di pinggang Virgo. Dan melanjutkan tangisnya sampai sesenggukan.
“Udah ah. Nanti kalau kamu pulang terus matanya bengkak, bisa dikuliti aku sama tante.” Katanya. Dagunya di letakkan di atas kepala Libra dan sesekali mengecupi rambut kekasihnya itu. Tangis Libra reda dan barulah mereka pulang dari pantai tersebut.
*.*
“Ini adalah usahaku yang terakhir.” Jihan sedang menemui Ardi di kantornya dan membicarakan masalah pernikahan putri mereka, “Selama ini bukan hanya Libra yang tak pernah membantah apa yang kamu ucapkan, aku juga selalu menjadi istri yang patuh.”
“Lalu kenapa kamu sekarang menjadi istri yang membangkang? Hanya karena putra dari dua orang pengkhianat itu, kamu mampu meninggakan keluargamu.”
“Aku hanya meninggalkan kamu, bukan meninggalkan Libra.” Jihan berucap santai dan mencoba untuk mempertahankan ketenangannya, “Kalau kamu memang mau bekerja sama dengan baik, maka kami akan kembali ke rumah.”
“Kamu sungguh-sungguh dibutakan oleh mereka.”
“Bukan aku yang buta karena mereka, tapi kamulah yang buta sampai tak bisa melihat kebaikan mereka.” Ardi mengetatkan rahangnya ketika istrinya itu dengan berani membantahnya, “Kalau kita sama-sama seperti ini, bukan tidak mungkin rumah tangga kita yang akan berantakan.”
“Itu tidak akan pernah terjadi.”
“Itu akan terjadi.” Kukuh Jihan, “Aku sudah pernah mengatakan kepadamu, kalau aku akan membahagiakan Libra meskipun akan melepaskanmu. Harusnya kamu ingat itu.” Jihan menatap dengan berani suaminya.
“Kalau kamu merasa aku memberi pilihan, maka aku benar-benar akan memberikan pilihan itu.” Ardi dengan wajah datar ikut menyerang balik sang istri. Namun Jihan hanya diam saja tanpa bertanya pilihan yang akan suaminya itu berikan kepadanya.
“Aku akan datang di acara pernikahah Libra, menjadi wali nikahnya, tapi setelah itu, kamu jangan lagi mengurusi dia. Toh dia sudah memiliki keluarga baru. Libra sudah memiliki suami, artinya bakti dia ada di suaminya. Dan apapun yang terjadi kita tidak boleh ikut campur di dalamnya.”
“Dan kamu fikir aku akan melakukanny?” sinis Jihan.
“Dibandingkan aku harus memilih salah satu dari itu, lebih baik aku tidak memiliki suami di sisa umurku.” Jihan tak santai mengatakan itu. Tatapannya semakin sinis dan otaknya seolah mengepul karena rasa sebal yang tak tertahankan.
“Libra tetap menjadi anakku meskipun aku mencampakkannya, tapi kamu akan menjadi orang lain ketika kita berpisah. Itu bedanya anak dan suami.” Jihan berdiri dan bersiap untuk pergi, namun ucapannya membuat Ardi seperti tertangkap oleh pembunuh berdarah dingin.
“Kalau memang kamu tak ingin hubungan kita hanya sebatas mantan, maka datanglah ke pernikahan Libra, Ardi, dan aku akan kembali ke rumah dan menjadi istri yang baik, tapi kalau kamu masih bersikeras dengan keputusan konyolmu itu, maka sehari setelah pernikahan Libra da Virgo, aku sendiri yang akan mengurus surat cerai ke pengadilan agama. Itu adalah pilihan. Maka keputusan ada di tanganmu. Pikirkanlah.” Setelah mengatakan itu, barulah Jihan keluar dari ruangan Ardi dengan meninggalkan suaminya itu tercenung dengan tangan mengepal erat.
Karena dia paham, jika istrinya itu sama sekali tak pernah main-main dengan ucapannya. Gejolak hatinya seolah ingin meledakkan isi kepalanya saja rasanya. Dia tidak pernah ingin kehilangan istrinya itu. Tapi pilihan yang diberikan oleh Jihan juga sama sekali tak mudah. Maka jika dia tak mau istrinya itu lepas dari kehidupannya, jalan satu-satunya adalah dengan datang ke pernikahan putrinya.
Berbeda dengan ayahnya yang dilanda kegalauan, Libra justru sedang dilanda kebahagiaan. Pernikahan yang tinggal menunggu hari ini akan segera dilaksanakan. Bahkan Tere datang ke apartemennya dengan wajah yang sumringah.
“Gimana perasaan lo, Li?” dia tadi di antar oleh Edo, dan sekarang Edo sedang berada di rumah Virgo.
“Gue seneng meskipun ada yang ngeganjel.” Adu Libra. Mereka berdua sedang berbaring di atas ranjang Libra sambil mengobrol.
“Gue tahu gimana perasaan lo, tapi lo nggak usah terlalu memusingkan hal itu, karena takutnya lo semakin sedih dan aura lo ketika hari H nanti justru tak bersinar.” Tere ini seperti pakar aura saja bicaranya.
“Eh, tapi, Li,” tadinya Tere yang tidur terlentang kini tengkurap sambil menatap Libra, “Lo pernah bicarain masalah ini nggak?” tanyanya dengan wajah penasaran.
“Tentang apa?”
“Tentang anak.” Ujar Tere dengan serius, “Kalian kan masih kuliah, baru naik semester dua pula, masa lo mau langsung punya anak?” Libra bahkan tercenung mendengar pertanyaan yang diberikan oleh Tere kepadanya. Mana pernah dia memikirkan masalah seperti ini sebelumnya. Hanya masalah remeh temeh saja sudah membuat kepalanya terasa penuh.
“Gue nggak pernah memikirkan masalah ini, Re. Lo tahu sendiri kan, kalau masalah gue itu cukup berat agar bisa bersatu dengan Virgo. Dan ada di titik ini adalah hal yang luar biasa bagi gue. Jadi ya…” Libra mengedikkan bahunya tak acuh, “Mungkin akan gue bicarakan kepada Virgo tentang masalah ini.” Tere memahami hal tersebut.
“Gue yakin, rumah tangga kalian nantinya akan menjadi rumah tangga yang bahagia,”
“Amin,”
“Lo tahu kenapa?”
“Enggak.”
“Karena ujian kalian sudah begitu mengerikan di awal. Dan kalian bisa melaluinya dengan sangat baik dan Tuhan pasti akan melindungi kalian setelah ini.” Semua orang pasti mengaharapkan yang terbaik dalam kehidupan mereka, doa, ikhtiar, pasti akan dilakukan agar terhindar dari segala mara bahaya, tapi jika hal buruk akan tetap terjadi, maka itu diluar kuasa manusia.
Memang begitulah hidup. Tak semua kehidupan manusia selalu dilingkupi dengan kebahagiaan, ataupun dengan kesedihan. Mereka yang pernah mengalami kesedihan, pasti akan mendapatkan kebahagian suatu saat nanti, begitupun sebaliknya.
Libra sama sekali tak memikirkan apa yang tadi dikatakan oleh Tere kepadanya terkait tentang anak. Biarlah waktu yang akan menjawab nantinya. Pun tak ada perbincangan masalah ini sebelumnya bersama keluarganya.
“Papamu kurusan, Li.” Aduan itu Jihan sampaikan kepada putrinya karena bagaimanapun bentukan Ardi, lelaki itu tetap suaminya. Jauh di dalam lubuk hati ibu Libra, dia sama sekali tak ingin hal buruk terjadi dalam rumah tangganya, mungkin seperti itulah yang dipikirkan sekarang.
“Iya, Ma. Aku yakin papa nggak makan dengan teratur.” Terakhir Libra dan Virgo yang datang ke kantor Ardi waktu itu, perubahan lelaki itu juga sudah terlihat.
Jihan ragu, tapi dia tetap mengatakan apa yang dibicarakan bersama suaminya siang tadi, “Mama menggertak ayahmu untuk berpisah kalau dia tak mau datang ke acara pernikahan kamu nanti.” Sontak saja itu membuat Libra shock dan tak menyangka jika ibunya akan mengatakan itu kepada ayahnya.
“Ma!”
“Itu hanyalah gertakan yang mama berikan untuk ayahmu agar dia bisa merubah keputusan yang diambilnya.”
“Kalau papa tetap bersikeras nggak mau datang?”
“Mama akan tetap melakukan apa yang menjadi janji mama. Mama akan berpisah dengan ayahmu.” Tenggorokan Libra seolah tersumpal dengan benda berat dan terasa sakit. Air matanya keluar tanpa bisa dicegah dan Libra benci dengan ini.
“Mama jangan melakukan ini,” Jihan menatap Libra dan melihat air matanya putrinya dengan sedih. Di genggamnya tangan putrinya itu dan mengatakan kalimat penenangan.
“Kamu tidak perlu khawatir dengan ini, Sayang. Ini adalah pilihan mama. Kamu adalah kebahagiaan mama. Selama kamu bahagia, mama tak akan menyesal melakukan ataupun memutuskan hal paling berat sekalipun.”
“Tapi jangan dengan pepisahan, Ma. Papa adalah teman hidup mama selama ini, kebahagianku tak akan ada artinya kalau mama justru mengambil keputusan ini.” Jihan ikut menangis bersama Libra dan kemudian memeluk putrinya dengan erat. Keduanya menangis karena merasa keputusan yang akan diambil memanglah berat, namun Jihan tak akan mundur dan membuat Ardi di atas angin.
Seorang keras kapala seperti Ardi ini kalau tidak diberi pelajaran, maka akan semakin menjadi saja sikap menyebalkannya.
“Sebentar lagi kamu akan menikah. Akan ada orang yang menjaga kamu. Kalau memang keputusan mama terjadi, mama akan menikmati hidup mama. Jalan-jalan, belanja, dan satu hal yang pasti, mama menunggu cucu mama lahir. Dia yang akan menjadi penghibur mama di masa depan. Jadi kamu tak perlu memikirkan hal itu terlalu berat. Mama sudah tua, mama hanya butuh kamu dan untuk kehidupan mama di hari tua.” Jihan, Ardi, adalah orang-orang yang memiliki kadar keras kepala yang tak terbantahkan. Maka jika salah satu dari mereka tak ingin mundur, kehancuran itu akan terjadi.
*.*