
Pencarian ini tak sesulit yang kubayangkan. Kami berhasil menemukan rumah sakit beserta orang yang kami cari dalam waktu kurang dari lima jam. Pengetahuan Andre tentang kota Jakarta membuat semuanya jadi lebih mudah.
“Untung lo hafal, Dre. Kalau nggak, mungkin kita bakal nyasar kemana-mana. Orang yang mau kita jadiin panduan nomornya gak aktif terus.” Maksudku nenek Rifa.
“Ada teknologi bernama google maps yang bisa lo pakai, Xa,” kata Andre saat kami mengikuti seorang perawat menuju kamar inap orangtua Rifa. "Jadi anak rumahan, boleh. Norak, jangan."
Aku cengengesan malu. "Ya, maaf. Tapi tadi gue lihat pas di jalan lo jarang lihat HP. Kayak udah hafal banget daerah sini."
Andre mengangkat bahu. “Dulu saudara gue pernah dirawat di sini.”
Mulutku membulat tanda paham. Pantas saja dia hafal.
Menurut keterangan seorang suster, orangtua Rifa dirawat di ruang VIP. Suster lain yang memiliki wajah lebih ramah dari temannya, memandu kami masuk ke dalam lift menuju ruangan yang dimaksud di lantai tujuh. Berbeda dengan suasana di lantai dasar yang cukup ramai, di atas sini situasi tampak lengang cenderung sepi. Hanya terlihat beberapa perawat berlalu-lalang dan keluar masuk kamar inap.
Aku dan Andre terus mengikuti langkah gesit perawat muda di depan kami. Di samping salah satu pintu, perawat tersebut berhenti. Ia menoleh sambil memiringkan kepalanya ke arah pintu tersebut. “Pasien yang kalian cari ada di kamar ini.”
Andre mengangguk seraya bergumam terima kasih. Sang perawat tersenyum simpul dan memohon maaf tidak bisa menemani kami terlalu lama.
“Gue salut sama dia,” ujarku, menunjuk ujung koridor di mana perawat tadi menghilang. Alis yang terangkat tinggi menjadi respons dari Andre. “Kelihatan sekali dia orangnya gesit dan pekerja keras.”
“Oh ya?” Andre tampak kurang tertarik. “Gue rasa kita harus segera masuk.”
Ucapan Andre membuatku melupakan suster tadi. Ia benar, tidak seharusnya kami hanya berdiam diri di koridor.
Tangan Andre terangkat ke udara, kemudian bergerak mengetuk pintu di depan kami tiga kali. Lama tak ada respons, Andre pun memutar knop ke arah kanan, hingga pintu terkuak sedikit demi sedikit.
Lewat celah pintu yang terbuka, tampak seorang wanita berambut kelabu dengan setelan batik hitam tengah terlelap di kursi samping ranjang. Tangan dan kepalanya bertumpu ke atas tempat tidur. Posisi wajahnya menghadap ke arah pintu. Maka dari itu aku langsung mengenalinya sebagai nenek Rifa.
Tepat di samping nenek Rifa, di atas ranjang terbaring sesosok manusia dengan berbagai alat bantu terpasang di tubuh. Meskipun kepalanya dibalut perban dan matanya terpejam rapat, aku tahu pasti ia adalah Tante Diana.
Hatiku terenyuh melihat kondisi mengenaskan Tante Diana. Rasanya tak ingin percaya dua orang wanita di dalam ruangan ini adalah ibu dan nenek dari cowok yang sangat kucintai. Aku saja tak kuat melihatnya, apalagi Rifa?
Ngomong-ngomong, di ruangan ini hanya ada satu ranjang. Di mana ayah Rifa dirawat?
Seolah menyadari kehadiran kami, nenek Rifa menggeliat pelan. Matanya bergerak perlahan hingga terbuka sepenuhnya. Semula ia tampak tak acuh melihat keberadaan sepasang remaja di ambang pintu kamar rawat anaknya. Akan tetapi begitu kesadarannya kembali seratus persen, barulah ia terlonjak lantas bangkit dari posisi duduknya. Setelah mengambil sebuah kaca mata dari atas meja, ia berjalan menghampiri kami.
“Kamu ….” Telunjuknya menudingku. Ia memicing tanda berpikir keras. “Yang dulu sering cucu saya ajak ke rumah, kan?”
“Kalau ini?” Ia menghadap Andre. “Kok rasanya Nenek belum pernah lihat?”
“Saya Andre, Bu,” ujar Andre seraya menyalami nenek Rifa. “Teman satu sekolah Rifa.”
“Oh .…” Nenek Rifa tersenyum ramah. “Kalian sengaja datang kemari atau …?”
“Kami sengaja ingin menjenguk Tante Diana dan Om Farish, Nek,” jawabku cepat. “Kami dengar mereka baru saja mengalami musibah. Kami turut berduka cita.”
“Ya ampun, kalian jauh-jauh datang kemari untuk menjenguk orangtua Rifaldi? Terima kasih sekali. Mari masuk! Oh ya, panggil saja ‘nenek’ agar lebih akrab, jangan ‘ibu’.”
Andre tahu kalimat terakhir itu ditujukan untuknya, maka ia mengangguk paham.
Setelah menutup pintu, kami berjalan mengekori nenek Rifa ke arah ranjang di mana Tante Diana terbaring lemah. Walau pertemuanku dengan beliau masih terhitung jari, entah mengapa aku merasa sangat menyayanginya.
“Belum lama ini mereka mengalami kecelakaan lalu lintas,” ujar nenek Rifa menerawang. Suaranya begitu lirih. “Nenek gak tahu apa yang membuat mereka berada di dalam satu mobil di jam pulang kerja anak Nenek, Diana. Padahal biasanya mereka mengendarai mobil masing-masing. Entahlah, mungkin sudah takdir mereka harus ….”
“Nenek …,” kataku seraya mengusap-usap punggungnya menenangkan.
“Kecelakaan tersebut membuat anak dan menantu Nenek kritis selama berhari-hari di ruang ICU.” Suaranya kembali tenang. “Rifa dan Nenek sangat terpukul dengan peristiwa ini. Bermalam-malam kami tidak bisa tidur. Menanti perkembangan kondisi Farish dan Diana setiap waktu. Kami gak henti berdoa dan berharap semoga nasib baik berpihak pada mereka. Sanak keluarga terus berdatangan walau hanya bisa memandang keduanya lewat kaca pintu.
“Suatu malam, Dokter mengatakan Diana telah berhasil melewati masa kritis dan bisa dipindahkan ke kamar rawat reguler. Kami sekeluarga benar-benar bersyukur untuk itu. Tapi kemudian muncul kabar lain yang mengatakan bahwa mereka menyerah akan kondisi Farish. Katanya menantu Nenek itu harus segera dipindahkan ke rumah sakit lain dengan peralatan medis yang lebih lengkap.
“Kami bergerak cepat. Kedua besan Nenek segera membawanya ke rumah sakit di Singapura malam itu juga. Rifa ikut ke sana. Sementara Nenek dan sebagian anggota keluarga lain menetap di Jakarta, bergantian menemani Diana di rumah sakit.”
“Bagaimana kondisi Om Farish sekarang?” tanyaku di tengah ketercengangan.
“Alhamdulillah, Nenek dengar keadaannya sudah membaik.”
“Syukurlah,” kata Andre.
“Jadi, sekarang Rifa ada di Singapura, Nek?” tanyaku. Diam-diam menghela napas lega. Ternyata Rifa baik-baik saja saat ini.
“Lho?” Nada keterkejutan nenek Rifa seperti alarm yang membuat jantungku bergemuruh siaga. “Bukannya dia sudah kembali ke Purwakarta sejak kemarin? Dia pamit sama Nenek, katanya gak mau bolos lama-lama. Soalnya sebentar lagi ujian praktek.”
Aku tercengang. Demi Tuhan, bukan kabar ini yang ingin kudengar.