Blind Love

Blind Love
Seri 26



Virgo melihat ponselnya dengan kening mengernyit. "Shit." Katanya kemudian terburu-buru memakai jaket dan mengambil kuncinya. Keluar dari kmar, dia berlari untuk keluar rumah. Langkahnya terburu-buru seperti akan terjadi perang dunia ketiga saja.


Ketika mengendarai motornya saja dia benar-benar tak sabaran.


Sampai ke tempat tujuan, dia langsung menghubungi pemilik rumah untuk diajaknya keluar. "Aku di bawah. Kamu cepatan pakai baju yang agak rapi. Aku tunggu." Katanya to the poin setelah mendapatkan jawaban dari orang yang dihubunginya.


Lima belas menit kemudian Libra turun dan menemui Virgo. "Kenapa?" bahkan tanpa menjawab kebingungan Libra, Virgo menarik tangan gadis itu untuk segera naik ke motornya.


"Cepetan." Virgo sepertinya tak sabaran ingin segera pergi dari sana. Libra hanya menurut tanpa banyak bicara. Di jalanan saja aksi Virgo bar-bar sekali tak memikirkan jika di belakangnya ada orang yang sedang memeluknya dan merasa was-was karena kecepatan motor yang di bawanya.


Sampai di sebuah butik, Virgo berhenti. "Ayo!" Masih dengan tak sabaran, Virgo menarik tangan Libra untuk masuk ke dalam butik tersebut.


"Kakak ulang tahun kemarin," Virgo menatap Libra di depannya, "Kamu pasti tahu apa yang disukai para perempuan. Tolong aku, okey!" Tatapan Virgo penuh harap. Dan mana mungkin Libra menolak hal itu. Maka gadis itu mengangguk.


"Oke, tapi takutnya pilihanku nggak sesuai dengan apa yang di sukai oleh kakak."


"Bukan masalah. Dia pasti akan tetap menerima." Persetujuan itu kemudian membawa sepasang kekasih itu untuk masuk lebih dalam ke butik tersebut. Melihat-lihat apa yang sekiranya cocok untuk perempuan yang sudah memiliki segalanya itu.


"Baju ini bagus loh, Vir." Tunjuk Libra ke arah sebuah baju yang di pajang di patung.


"Kita ambil ini?" Virgo buta sama sekali dengan hal-hal seperti itu.


"Jangan dulu," Cegah Libra. "Kita cari yang lain aja. Mungkin ada yang lebih bagus dari ini." Libra kembali berjalan dan melayangkan tatapannya dengan jeli melihat sekelilingnya.


Ada barang-barang mahal berjejer di sana. "Vir!" Virgo yang berada di sampingnya begumam menjawab panggilan Libra.


"Harganya mahal-mahal loh, Vir." Libra mengeluarkan kekhawatirannya..


"Terus?" Virgo mengernyit. Menyadari arti tatapan yang di layangkan oleh Libra. "Kamu tahu? Aku ada duit." Tatapannya penuh dengan keyakinan. "Kamu jangan khawatir." Lega dengan jawaban Virgo, Libra kemudian memilih dengan santai dan tak merasa khawatir lagi.


"Mbak tolong tas itu," Tunjuknya pada tas berwarna hijau pudar. Tak terlalu besar sepertinya pas jika digunakan untuk ke tempat-tempat yang memang tak formal. Sederhana tapi memang menawan.


Diambilkan tas tersebut dan diberikannya kepada Libra. "Silahkan, Kak." Libra menerima dan mengecek tas tesebut. Benar dugaannya, jika ta situ memang bagus.


"Vir, gimana kalau ini aja?" Libra memberi saran. "Menurutku bagus sih. Dia bukan merk luar negeri, tapi bukan barang murahan."


"Benar, Kak. Ini dari Indonesia tapi kwaitasnya bisa bersaing dengan merk luar negeri." Karyawan butik ikut berprosmosi.


"Kakak itu kan orangnya kayanya simple, jadi mungkin dia akan suka dengan ini." Virgo meneliti barang yang ada di tangannya itu dengan sunggu-sungguh, jangan sampai kalau dia menyetujui membelinya akan ada yang cacat di sana, bisa mati dia di cemooh oleh perempuan itu.


"Bagus sih," setuju Virgo, "Aku yakin tas kakak itu pastilah entah berapa lemari, tapi nggak ada salahnya memberinya satu lagi, lumayan lah kalau di bawa ke pasar." Entengnya Virgo mengatakan itu. Tas itu jika bagi orang biasa, akan di gunakan untuk kondangan.


"Kasihan lah kalau di pakai buat ke pasar. Ini kan bagus." Libra memutar bola matanya dan melanjutkan pencariannya.


"Udah lah, ini aja. Kita langusng ke rumahnya." Virgo sepertinya memang sudah tak tahan lagi di tempat seperti ini, terbukti dia sudah ingin keluar saja sedari tadi.


"Yakin pilih ini aja? Bukan baju tadi?"


"Iya, Yang. Ini aja udah." Putusnya dengan keseriusan seratus persen.


Selesai dengan pembayaran, Virgo langsung mengajak Libra untuk segera pergi ke rumah Aksa untuk memberikan kado tersebut kepada Love.


"Aku haus. Beliin dulu jeruk peras itu." Libra mencegah Virgo yang akan naik ke atas motornya dan menunjuk penjual minuman di pinggir jalan.


Meskipun itu terasa meneyebalkan bagi Virgo, tapi dia tetap melakukan apa yang diinginkan kekasihnya. Dia juga tak tega melihat Libra kehausan kan.


*.*


"Selamat ulang tahu kakakku sayang." Virgo menyerahkan kado yang tadi di belinya kepada Love ketika perempuan itu sedang duduk manis sambil membaca sebuah majalah di ruang makan. Di depannya ada kue untuk melengkapi aktivitas membaca perempuan itu.


Love memang tak tahu jika Virgo datang karena memang lelaki itu masuk secara diam-diam lewat pintu samping. Bahkan dia juga tak tahu jika Virgo membawa Libra ikut serta ke sana.


"Heh! Kok tahu kalau aku ulang tahun?" Tanyanya. Di terimanya kado tersebut dan membukanya.


"Waw!" Reaksi pertama ketika melihat hadiah itu pertama kali, "Bagus," Komentarnya. "Thank's, Boy." Senyuman tulus di berikan kepada Virgo.


"Kak, aku ajak temen ke sini." Love mengalihkan tatapannya dari tersebut ke arah Virgo.


"Siapa? Di mana dia?" Virgo menunjukkan Love ke arah Libra yang berdiri di samping pintu samping rumah Love.


"Tuh." Katanya dengan santai. Virgo berdiri untuk mengajak Libra masuk dan mendekat kembali ke arah Love.


"Kenalkan, Kak, dia Libra, pacar aku." Love tak bereaksi berlebiihan dengan itu. Di sodorkan tangannya untuk berkenalan kepada gadis tersebut.


"Love." Wajah Love datar sekali ketika melihat Libra seperti waktu pertama kali kenal dengan Virgo.


"Duduk." Mempersilahkan duduk di meja makan sepertinya bukan hal yang buruk. Love berdiri dan mengambilkan minuman beserta kue yang sama dengan yang dimakannya.


"Dimakan, nggak usah sungkan." Meskipun ucapan itu seperti seseorang yang menandakan jika dirinya menerima Libra di rumahnya, berbanding dengan wajah datarnya yang terpasang sempurna.


Libra sepertinya juga merasakan hal itu dengan tidak nyaman, namun sayangnya tak ada yang bisa dia lakukan selain menahan perasaan tak nyaman itu sendiri.


"Kakak suka tasnya?" Pancing Virgo.


"Suka," jawabnya lugas tanpa perlu merasa berbasa-basi. "Selera Libra boleh juga." Lanjutnya sambil menatap gadis tersebut.


"Kok, Kakak tahu?"


"Karena nggak mungkin kamu bisa memilihkan kado seperti ini buat aku. "Hal semacam ini memang hanya perempuan yang ahli." Seringaian itu seolah benar-benar mengejek Virgo.


"Terima kasih, Li." Bahkan mengatakan terima kasih saja masih dengan wajah datarnya.


"Sama-sama, Kak." Jawabnya kalem karena memang dia tak tahu harus beraksi seperti apa.


Ada obrolan ringan yang dilakukan oleh mereka, tepatnya Virgo dan Love karena Libra hanya menanggapi sedikit-sedikit karena memang masih terlihat sungkan.


"Kalian udah jadian berapa lama?" Love mulai mengulik kisah Virgo dan Libra.


"Belum ada seminggu, Kak." Libra yang menjawab. Gadis itu berusaha untuk lebih menyusaikan obrolan yang dilakukan oleh Virgo dan Love.


"Kok tiba-tiba jadian?" Kulik Love, "Perasaan nggak pernah ada tanda-tanda pendekatan dari kalian." Kue yang ada di piring Love sudah tandas dan kini dia hanya bersidekap sambil menatap kedua orang itu bergantian.


"Kakak sok nggak tahu emag ngak tahu?" Virgo mendengus dengan sebal mendengar itu, dia sudah pernah curhat kepada Aksa dan dia yakin jika Aksa pastilah akan menceritakan juga kepada istrinya itu.


"Aku nggak tahu." Ngeyel Love, "Kan kamu nggak pernah cerita sama aku,"


"Tapi kan aku cerita sama abang."


"Mana abangnmu cerita sama aku?" Aksa memang benar-benar tak menceritakan apa yang pernah duicurhatkan Virgo kepada istrinya. Entah lupa atau memang sengaja tak mau sharing kepada perempuan itu.


"Jadi, kok kamu jadi mau sama dia, Li?" Obrolan ini tak mungkin sampai di sini. Kalau rasa penasaran Love tak terlampiaskan dengan baik, maka dia tak akan pernah berhenti.


Libra mengawali dengan senyum tipis, "Karena perasaan kami sama, Kak. Aku cinta sama dia, dan dia pun begitu." Virgo mendengar itu mengulum senyum. Menatap Love dan menaikkan alisnya jumaya seolah mengatakan, 'Virgo gitu lho' dengan cara yang sangat menyebalkan.


"Baguslah," kata Love, "Kalau memang kalian bisa menjaga hubungan kalian sampai nanti berumah tangga bersama itu semakin bagus. Toh kalian juga di jodohkan kan?"


"Itu baru rencana, Kak." Libra menjawab lagi. "Belum ada lagi pembahasan ke sana dari para orang tua." Jelasnya.


*.*


Setelah balik dari kediaman Aksa, mereka tak langsung pulang. Kencan terlelebih dulu dan pergi kemanapun mereka mau. Bahkan Virgo baru mengantarkan Libra ketika waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.


"Telat, Yang." Virgo melihat jam di pergelangan tangan kirinya setelah Libra turun dari motornya.


"Nggak papa, lagian siapa juga yang akan peduli." Ada nada sedih yang keluar dari bibir Libra.


"Aku yang peduli," Virgo serius dan menggennggam tangan Libra yang ada di stir motornya, "Aku yang memang harus bertanggung jawab dan tahu waktu agar nggak kebablasan seperti ini." Virgo jadi mengingat tentang apa yang Aksa katakana waktu itu, jika orang yang berpotensi menyakiti orang yang kita cintai adalah diri kita sendiri.


Meskipun dia tak menyakiti hati Libra, tapi dia sudah tak disiplin dengan membawa gadis itu sampai keluar dari waktu yang di tetapkan.


"Nggak papa, kan aku yang mau." Mereka terjebak oleh kemacetan di jalan tadi, sedangkan Libra masih menginginkan pergi ke suatu tempat padahal waktunya pulang sudah tiba.


"Kita nggak mungkin berdebat di sini dan kamu semakin telat masuk ke rumah. Sekarang kamu masuk, dan aku akan pulang," Perintah Virgo dengan lembut. "Ngantuk aku, Yang." Jujur Virgo sambil terkekeh.


Llibra mengangguk, maju lebih dekat dengan Virgo, dia memeluk lelaki itu sebelum mereka berpisah. Virgo yang masih di atas motor membalas pelukan Libra. "Tidur yang nyenyak, besok sekolah." Masih saling memeluk Virgo menasehati.


"Hem." Kepala Libra menyender dengan nyaman di pundak Virgo dan seolah tak mau terlepas.


Dan barulah terlepas ketika ada suara deheman dari seseorang. "Sudah?" Wajah orang tersebut tak bersahabat dan menatap kedua remaja itu dengan sebal.


"Ayah?" Libra canggung melihat dia kepergok sedang melakukan hal yang 'tidak-tidak' bersama kekasihnya dan di depan rumah, "Kapan Ayah pulang?" Di dekatinya lelaki itu dan mencium tangannya. Virgo juga langsung turun dari motornya dan melakukan hal yang sama.


Ayah libra menatap Virgo dan juga putrinya bergantian dengan ekspresi yang masih kaku. "Virgo kan?" begitu tanyanya kepada remaja lelaki di depannya.


"Iya, Om, saya Virgo." Sopan Virgo. Lelaki itu bisa merasakan jika dirinya di pandangi oleh ayah Libra dengan pandangan menilai.


"Kenapa baru pulan?" Alih-alih mengkonfirmasi jika Virgo dan putrinya pacaran, ayah Libra justru menanyakan alasan keterlabatan kedua orang tersebut terlambat pulang.


"Maaf, Om, tadi kami kebablasan keluar pergi ke beberapa tempat." Virgo tenang, dia berusaha mengatakan kejujurannya dan perlu menutupi apa yang terjadi.


"Libra yang mau, Yah. Tadinya Virgo udah ngajak pulang, tapi Libra kekeh masih mau jalan-jalan." Entah kenapa ayah Libra menghakimi kedua remaja itu di depan rumah tanpa mau mengajak kedua orang itu masuk ke dalam rumahnya.


"Kalau begitu Virgo pulang lah, kalian besok sekolah." Ada perasaan tak nyaman yang dirakan oleh Virgo kali ini, mungkin beginilah apa yang dirasakan oleh Libra ketika dengan Love.


"Kalau begitu saya permisi dulu, Om," Pamitnya dan mendapat anggukan dari ayah Libra, "Aku pulang ya." Libra mengangguk dan melambaikan tangannya, "Hati-hati." Yang mendapatkan anggukan dari Virgo. Setelahnya mesin motor Virgo menyala dan membawa Virgo pergi dari sana.


"Kita harus bicara," Begitu kata ayah Libra dan kemudian berjalan lebih dulu untuk masuk ke dalam rumah dan diikuti oleh Libra. Sama seperti yang dirasaka oleh Virgo tadi, Libra merasakan hal yang aneh di dalam hatinya. Rasa ketakutaknnya tiba-tiba muncul di dalam hatinya.


"Kalian pacarana?" Pertanyaan itu langsung terlontar ketika ayah dan anak itu sudah masuk ke dalam rumah dengan sang ayah pelakunya.


"Iya, Yah," Tak perlu menutupi apapun, toh mereka sudah kepergok.


"Sejak kapan?"


"Baru beberapa hari ini." Di dalam pikiran Libra, pastilah ayahnya menyukai hubungannya dengan Virgo berjalan dengan baik, tapi tak tahu kenapa justru itu tak terlihat dari sikap ayahnya.


"Ayah nggak suka?" Pertanyaan itu langsung terlontar ketika sang ayah diam tanpa melanjutkan obrolan mereka untuk beberapa saat.


"Kamu sering pulan larut malam seperti ini?" Alih-alih menjawab, lelaki itu justru balik bertanya.


"Engak. Virgo bahkan memberi aku jam malam. Dia akan mengantarkan aku sampai rumah tepat jam sembilan." Meskipun dia juga pernah pulang hampir jam dua belas, itu tentu dikatakan Oleh Libra di dalam hatinya. Kalau sampai itu bocor, entah apa yang akan dilakukan oleh sang ayah kepadanya.


"Jam sembilan malam kamu harus sudah ada di rumah dan nggak ada alasan untuk terlambat meskipun itu macet. Ayah nggak suka." Kebetulan hari ini kedua orang tuanya berada di rumah setelah entah berapa hari mereka tak pulang. Dan kebetulan langsung memergoki Libra dan Virgo yang sedang berpelukan. Itu sungguh tak bagus.


"Aku ngerti, Yah." Libra tahu peraturan yang diberikan oleh ayahnya kepada dirinya, meskipun dia tak selalu mematuhinya.


*.*