
Virgo mendorong kursi roda yang diduduki oleh Libra. Di belakangnya ada kedua ibunya untuk menemani. Firman akan ikut serta jika seandainya tidak ada meeting penting di kantor. Lelaki itu begitu menyayangi menantunya, jadi sebisa mungkin dia bisa memastikan jika semua akan berjalan dengan lancar. Beliau sudah mewanti-wanti istri dan putranya untuk menghubunginya jika mungkin terjadi sesuatu.
“Sudah siap?” dokter yang menangani Libra bertanya ketika mereka sudah ada di dalam ruangan.
“Iya, Dok.” Libra sejujurnya merasa jantungnya berdetak tak karuan, tapi dia tetap harus meyakinkan dirinya jika ini bukan apa-apa.
“Kalau begitu, Mas Virgo bisa keluar dulu, agar kami bisa segera menjalankan operasi ini.” Virgo menatap Libra yang juga sedang menatapnya. Mata perempuan itu memerah seakan dia tak akan bisa melihat suaminya lagi setelah ini. Namun Virgo tentu tak akan diam saja, dihiburnya Libra dengan senyum di bibirnya.
“Kita akan bertemu lagi setelah kamu selesai di operasi. Kamu nggak perlu takut. Semua akan baik-baik saja.” Bujuknya dengan berbisik di telinganya.
Dengan lemah Libra tersenyum, “Iya.” Hanya satu kata itu sebagai jawaban. Dan Virgo tahu jika istrinya berjuang melawan ketakutannya.
Dikecupnya kening perempuan itu sebelum keluar dari ruangan, dan mengangguk kepada dokter sebagai kode agar segera melakukan apa yang harus dokter lakukan. Dokter tersebut juga mengangguk sebagai jawaban.
Virgo menutup pintu ruangan dengan pelan dan tak terasa tangannya bergetar. Tubuhnya seperti ingin tumbang namun dia sanggup berpegangan pada dinding. Jihan dan Sintya memegangi dua tangan Virgo dan mendudukkan lelaki itu di kursi depan ruangan. Mereka sama-sama berdoa agar operasi yang sedang terjadi di dalam mengalami kelancaran. Jihan menggenggam tangan kiri Virgo sedangkan Sintya menggenggam tangan kanannya.
Mereka sama-sama mencari kekuatan atas apa yang sedang terjadi sekarang ini. Tiap detik yang mereka lewati begitu terasa lambat sekali. Mereka tahu jika operasi ini bukanlah operasi besar, tapi bagaimanapun bentuknya, operasi tetaplah operasi. Ketakutan itu pasti dirasakan. Baik yang sekarang sedang menjalani maupun yang menunggu.
Dan ketika dokter sudah keluar dari ruangan, Virgo langsung bergegas berdiri dan menanyakan kepada beliau bagaimana kondisi Libra saat ini.
“Semua berjalan dengan lancar,” jawab dokter tersebut sambil tersenyum, “Libra sadar, tapi masih dalam pengaruh obat bius. Kami akan membawanya ke ruang inap.”
“Terima kasih, Dok.” Virgo lega mendengar berita yang disampaikan oleh dokter kepadanya. Senyum itu bahkan lebar sekali terlihat. Kedua ibunya juga melakukan hal yang sama. Ucapan syukur itu terus dilantukan saking bahagianya.
“Saya permisi dulu. Sebentar lagi kalian bisa melihat Libra.”
“Terima kasih, Dok.” Lagi, Virgo mengatakan itu, dan mendapat anggukan dari dokter tersebut. Saking senangnya, lelaki itu langsung meraup kedua ibunya dalam pelukannya. Dan mendapatkan balasan dari kedua ibunya.
“Kalau kita yakin, semua masalah akan selalu mendapatkan jalan.” Begitu kata Sintya. Virgo hanya mengangguk saja mendengar itu, dia paham akan hal itu.
Singkat cerita, ketika Libra sudah ada di dalam kamar inap, perempuan itu tersenyum ketika melihat Virgo. Efek obat bius masih ada, jadi dia tak focus melihat Virgo. Namun senyumnya yang diberikan kepada Virgo, membuat lelaki itu lega.
“Tidur aja. Semua sudah terlewati. Aku akan menunggu kamu di sini sampai nanti kamu membuka mata.” Janji Virgo. Tangan lelaki itu mengelus perut sang istri lembut dan tersenyum melihat perut itu. Di dalam sana ada anak-anaknya, dan dia sangat menanti kedatangan bocah-bocah kecil itu lahir ke dunia.
“Ayah sayang sama kalian. Baik-baiklah di sana.” Jihan dan Sintya saling pandang kemudian tersenyum melihat itu. Memberi waktu berdua, keduanya keluar dari ruangan Libra. Virgo benar-benar menunjukkan sifat dewasanya. Bahkan tak pernah mengeluh kepada orang tuanya ketika dia mengalami semua kejadian ini.
Sambil menunggui istrinya sadar sepenuhnya nanti, dia memberikan kabar kepada teman-temannya yang sejak tadi sudah menunggunya memberinya kabar.
Virgo – operasinya berjalan dengan lancar.
Senyum Virgo sama sekali tak lepas dari bibirnya. Kelegaan itu benar-benar terlihat di wajahnya. Tangannya menggenggam tangan Libra yang bebas. Mengelusnya dengan sayang. “Terima kasih. Kamu sudah menjadi perempuan hebat.” Katanya. Dikecupnya tangan itu dan menempelkan di pipinya.
“Tetaplah menjadi Libra yang kuat. Aku akan tetap ada disamping kamu untuk menemani kamu. Kita akan berjalan beriringan untuk menjalani kehidupan ini. Bersama anak-anak kita.” Melihat Libra yang damai seperti entah kenapa dia mengingat masa lalu mereka.
Masa dimana mereka masih saling tak mempedulikan sama sekali. Masa dimana dia yang tak tahu arti di dalam hatinya yang suka sekali berdetak karena melihat Libra. Lucu sekali memang kisah mereka. Tapi Tuhan dengan berbaik hati mempersatukan mereka dalam ikatan pernikahan. Keputusan yang dibuat karena sebuah kejadian, namun mereka sama-sama bisa saling menjalani dengan bahagia.
Entah berapa lama dia melamun ketika Libra sudah membuka matanya. Mata itu masih terlihat sayu, tapi sudah terlihat fokus ketika menatapnya.
“Hai!” Virgo mendekatkan kursinya agar dia juga bisa mendekat ke arah Libra, “Bagaimana rasanya?”
“Nyeri banget, Yang.” Adunya, “Tapi aku merasa lebih baik mengingat ini akan membuat anak-anak kita baik-baik saja di salam sini.” Bukankah Libra adalah perempuan yang luar biasa? Bangganya Virgo memiliki istri yang seperti itu.
“Lama-lama akan membaik pasti. Kita akan menunggu dokter untuk menjelaskan lagi keadaanmu setelah ini.” Dan Virgo berusaha untuk mengobrolkan hal lain agar Libra sedikit melupakan rasa sakit pasca operasi.
*.*
“Dalam beberapa hari, kemungkinan akan mengalami bercak, kram, dan rasa sakit saat buang air kecil,” awal dokter menjelaskan, dan kalian tidak boleh melakukan hubungan **** setidaknya selama satu minggu untuk memastikan ****** dan serviks telah pulih dari trauma.” Ketika dokter mengatakan itu ada muncul kemerahan di wajah Libra dan Virgo mencoba untuk bersikap biasa namun masih terlihat canggung.
Bahkan Jihan dan Sintya mengulum senyum ketika melihat kedua anak mereka terlihat salah tingkah.
“Tidak perlu malu,” ketika dokter mengatakan itu untuk menggoda mereka, hanya ada senyum kaku dari Virgo dan juga Libra. “Kalian juga harus memeriksakan kandungan selama satu minggu sekali, agar bisa memeriksa serviks sampai pada kehamilan nanti.” Lanjut dokter tersebut.
“Apa Libra masih harus bed rest, Dok?” tanya Virgo untuk lebih jelas.
“Dua minggu lagi saya harus ujian, Dok. Bisa kan saya ke kampus?” tanya Libra untuk memastikan.
“Seperti yang saya bilang waktu itu, kamu boleh ke kampus, tapi jangan sampai kelelahan.” Libra mengangguk dan memastikan ujian itu tak akan membuat dia kelelahan.
Dokter keluar dari ruangan Libra dan menyisakan empat orang itu di dalam sana. Jihan mengelus kepala Libra dengan sayang dan mencium putrinya itu dan tak terasa lelehan air mata keluar dari netranya. “Anak mama hebat sekali.” Katanya dengan senyum lembut, “Sebentar lagi akan jadi ibu. Mama akan jadi nenek. Sepertinya mama sudah tua saja ya.” Libra tahu jika ibunya merasakan kesedihan di dalam hatinya yang berusaha ditutupi.
“Tapi Mama nggak kelihatan tua kok. Nanti Mama pasti akan menjadi nenek gaul mengalahkan nenek-nenek lain di luar sana.” Canda Libra.
Suasana haru itu benar-benar kental terasa. Melihat Libra berpelukan dengan ibunya membuat Virgo merangkul ibunya yang juga melihat adegan tersebut sama harunya.
Setelahnya, dua ibu keluar dari kamar rawat inap Libra dan membiarkan Virgo dan istrinya di sana. Selama masa kehamilan di trimester pertama tak ada Libra menginginkan sesuatu atau biasanya disebut dengan mengidam. Tapi mereka melupakan hal itu karena Libra yang merasakan ketidak nyamanan selama ini.
“Kamu ingin sesuatu nggak?” Virgo yang masih setia duduk di kursi sebelah ranjang Libra menawari sang istri. Lelaki itu mengingat jika selama ini memang tak pernah mengidam atau menginginkan sesuatu semasa kehamilannya.
“Aku nggak pengen apapun, Yang. Ngak tahu kenapa,” jawab Libra. “Yang penting mereka selamat dan sehat-sehat aja, aku udah seneng.” Libra tak berhenti tersenyum sejak tadi. Inilah perjuangan awal dirinya sebagai calon ibu, dan dia tahu perjuangannya tidak sampai di sana, setelah anak-anaknya lahir nanti, dia juga harus membesarkan dan mendidik mereka, itu juga adalah perjuangan.
Tak lama setelah itu, teman-teman mereka datang. Riska, Ule, dan Ersya datang lebih dulu. Kemudian disusul oleh Tere dan para teman Virgo, barulah Shila dan dua temannya yang datang.
Beruntunglah mereka berada di rawat inap VIP, mereka bisa masuk secara bersama-sama, kalau tidak, mereka pasti akan mendapatkan teguran dari pihak rumah sakit.
“Lo keren banget, Li. Sumpah!” Tere yang sejak tadi hanya duduk di samping Libra sambil menatap wajah temannya itu merasa bangga dengan perjuangan calon ibu muda tersebut.
libra tersenyum, “Lo tahu perasaan gue sekarang? lebih baik dari apapun di dunia ini. Setidaknya setelah gue melakukan ini, mereka insyaallah akan baik-baik saja di dalam sana. Meskipun gue harus bed rest lagi, itu bukan masalah besar.” Libra dikelilingi oleh teman-temannya dan merasa kagum dengan Libra.
“Nggak papa nunda buat lulus kuliah, yang penting penerus kalian aman sentosa.” Ule si cablak ngawur saja mengatakan itu. Gadis itu kebetulan sedang pulang ke Jakarta, jadi bisa menjenguk Libra.
“Iya, Li. Hidup lo udah tertata dengan sangat baik. Lo nggak perlu lagi memikirkan hal itu. Jalani saja dengan santai,” lanjut Shila. Teman-temannya memang selalu mendukung Libra apapun yang perempuan itu putuskan.
Ketika memutuskan menikah contohnya, mereka mendapatkan berita tersebut cukup shock dan tak menyangka jika Libra benar-benar akan mengambil keputusan berat tersebut. Meskipun banyak diantara mereka yang meminta Libra untuk memikirkan ulang keputusannya, tapi setelah Libra menjelaskan tentang banyak hal kepada mereka, mereka akhirnya menyetujui dan mendukungnya.
*.*
Ujian akhir semester akhirnya tiba. Libra sudah bersiap untuk pergi ke kampus bersama sang suami. “Ini untuk kamu makan siang. Jangan sampai kamu makan sembarangan. Ada Pak Wawan yang akan temani kamu. Kalau butuh sesuatu, bilang sama dia.” Sintya terlalu banyak bicara sepertinya. Namun itu adalah hal yang melegakan bagi Libra. Karena beliau terlalu menyayangi menantunya itu.
“Mama nggak usah khawatir. Libra akan ingat semua yang mama bilang.” Jawab Libra dengan senyum. Hari ini memang kebetulan ibu Virgolah yang menginap di sana.
“Bagus. Jangan sembarangan pokoknya ya.” Sambil mendorong kursi roda yang diduduki oleh Libra perempuan itu masih berbicara dan terus mengingatkan Libra tentang banyak hal. Kondisi Libra memang sudah membaik, tapi dokter belum mengijinkan Libra untuk banyak bergerak, sedangkan semua orang terlalu over protective kepadanya, maka inilah yang terjadi.
Sampai di kampus, Virgo benar-benar memperlakukan istrinya dengan sangat berlebihan. Toh Libra diijinkan untuk berjalan, tapi Virgo menggendongnya dan mendudukkannya di kursi roda. Hal ini memang biasa jika mereka di rumah, tapi bagi Libra itu memalukan jika ada di tempat umum seperti ini.
“Yang, aku kan bisa sendiri,” keluhnya, “Malu lho diliatin orang.” Katanya dengan suara pelan. Namun Virgo mana peduli dengan itu, dia bahkan tak menangggapi apa yang dikatakan oleh Libra dan justru mendorong kursi roda itu agar mereka bisa masuk ke fakultas.
“Libra, gimana keadaannya?” Salah satu dosen yang mengajar Libra kebetulan baru saja melintas dan melihat Libra yang hari ini masuk karena akan melakukan ujian.
“Alhamdulillah, Bu. Baik.” katanya, “Maaf ya, Bu, saya nggak bisa datang kuliah karena memang harus bed rest.” Lanjunya.
“Bukan masalah. Lagipula kamu aktif dalam mengerjakan materi tugas yang ibu berikan. Ibu memaklumi.” Semua itu adalah berkat Virgo yang mengerjakan tugas-tugas itu. Jangan berfikir jika Virgo mengerjakannya seorang diri, karena dia memiliki bala tentara yang bisa membantunya.
Aksa adalah biangnya. Dia selalu merecoki Aksa bahkan Love jika Libra mendapatkan tugas. Atau orang kantor, bahkan dia sekarang cukup akrab dengan orang keuangan yang ada di perusahaan kakeknya. Itu sungguh luar biasa.
Libra menjadi pusat perhatian karena ini. Bukannya meninggalkan Libra di sana, Virgo justru menunggui perempuan itu sampai pintu kelas di buka. “Lo tinggalin aja Libra sama kami, gue akan jaga dia.” Zidan mengusir Virgo karena merasa risih dengan lelaki itu yang masih saja tak keluar kelas Libra.
“Oke. Tolong jaga Libra.” Ucap Virgo sebelum benar-benar keluar dari kelas Libra. Teman-teman sekelas Libra juga menyempatkan untuk menanyakan kabar perempuan itu. Terlepas itu hanya sebuah basa-basi atau memang tulus dari hati, tapi Libra cukup terhibur dengan hal tersebut. Merasa jika semua orang peduli dengannya.
Berusaha untuk tetap konsentrasi, adalah hal yang dilakukan oleh Libra sekarang. “Bunda akan ujian sekarang, anak-anak bunda baik-baik aja di dalam ya.” Dengan suara kecil, Libra mengatakan itu sebelum mengerjakan soal yang diberikan oleh dosen kepadanya. Meminta bantuan kepada anaknya agar mereka juga tetap tenang di dalam sana.
Selama dia tak kuliah, Virgo lah yang aktif meminta diajarkan oleh teman-temannya dan akhirnya lelaki itu yang menjelaskan tentang materi yang diberikan hari ini. Selalu meminjam catatan dari Shila atau dua teman lainnya, kemudian dia jugalah yang menyalin itu ke dalam buku Libra.
Itulah kenapa Libra merasa sangat terharu dengan apa yang dilakukan Virgo untuknya. Bahkan ketika malam tiba, Libra selalu melihat Virgo yang tertidur dan terlihat sekali kelelahan.
*.*