
“Kamu yakin akan kuliah hari ini?” berkat vitamin yang diberikan oleh dokter waktu itu, kondisi Libra sekarang sudah lebih baik dibandingkan dua hari yang lalu. Meskipun rasa cepat lelah itu masih saja ada, tapi dia merasa tenaganya tak terkuras sepenuhnya.
Selama dua hari ini Virgo juga tak masuk kuliah maupun kerja karena harus menunggui istrinya. Kekhawatiran Virgo memang beralasan karena wajah Libra masih saja terlihat pucat.
“Aku yakin, Yang. Aku udah minum vitaminnya, dan anak-anak bunda pasti mau diajak belajar. Benarkan?” Libra sudah bisa mengendalikan fikirannya dari ketakutan yang dia rasakan akhir-akhir ini. Semua berkat Virgo yang dengan sabar terus mengatakan hal-hal yang baik dan membuat perempuan itu berfikir panjang.
Dan rencana hari ini pun, Virgo akan mengantarkan Libra ke rumah orang tuanya, atau meminta ibunya untuk menemani istrinya itu di rumahnya, tapi sayangnya Libra nekat tetap ingin pergi kuliah.
“Janji buat nggak kecapekan?” tatapan Virgo sama sekali tak biasa ketika mengatakan itu. Bukan apa-apa, hanya saja lelaki itu masih merasa khawatir. Bahkan dia meminta agar istrinya mau diajak kembali ke rumah sakit karena Libra yang masih terlihat pucat seperti tak memiliki darah.
“Janji.” Libra mengatakan dengan pasti dan itu adalah bentuk dari keyakinan yang dimilikinya. Maka Virgo menyetujuinya untuk mengizinkan Libra masuk kuliah. Bahkan ketika di mobil, banyak sekali wanti-wanti yang diberikan Virgo untuk sang istri dan langsung disetujui oleh Libra tanpa banyak bantahan karena dia juga merasa jika suaminya memang sangat menyayanginya, jadi dia merasa suaminya sama sekali tak berlebihan.
“Shil, gue minta tolong banget agar lo awasi dia. Kalau ada hal yang terjadi pada dia lo langsung hubungi gue.” Ketika mereka sudah sampai di kampus, Virgo tak meninggalkan Libra sendirian sampai dia bertemu dengan salah satu teman istrinya.
“Lo tengan aja, gue pasti akan dengan senang hati jagain dia. Lo udah boleh ke kelas lo sekarang.” Shila dengan kampretnya mengusir Virgo agar segera meninggalkan mereka berdua. Virgo menurut dan berlalu dari sana karna hatinya merasa lega kerena Libra sudah ada yang menemani.
Dan ketika dua orang perempuan itu hanya berdua saja, maka Shila memulai mengintograsi Libra. “Lo sakit apa, Li?” mereka berjalan untuk naik ke lantai dua karena pagi ini kelas mereka ada disana.
“Nanti dua cowok itu pasti juga akan bertanya gue sebenernya sakit apa, jadi nanti aja jawabannya. Biar sekalian aja ngomongnya.” Libra malas kalau harus mengulang jawaban dengan pertanyaan yang sama.
“Tapi gue penasaran lho, Li.” Shila mencoba untuk membujuk temannya itu agar mau bercerita. Sayangnya Libra tak langsung menyetujuinya.
Sudah ada berada di dalam kelas ketika satu chat masuk.
Tere – Kita ketemu ya nanti pulang kuliah.
Libra yakin jika gadis itu sudah mengetahui jika dia sekarang sedang mengandung. Virgo tak akan sibuk menyembunyikan kabar bahagia ini. Dia pun tak akan menyembunyikan kabar tersebut dari teman-temannya. Toh itu adalah kabar yang menggembirakan.
Zidan dan Rion datang, langsung duduk di deretan kursi dengan Libra dan Shila, tanpa menunggu lagi, mereka langsung bertanya dengan pertanyaan yang sama seperti yang Shila tanyakan tadi.
Namun sebelumnya Rion bersuara, “Kok lo masih pucat, Li? Belum sembuh betul ya?” Zidan juga menatap Libra dan memindai wajah Libra dengan sungguh-sungguh.
“Iya, Li. Kalau memang masih sakit kenapa masuk?” Zidan menimpali perkataan Rion.
“Gue hamil.” Jawaban itu akhirnya keluar juga dari mulut Libra agar teman-temannya tahu kenapa dia sekarang seperti ini. Ditatapnya ketiga teman-temannya satu per satu yang terlihat shock, “Baru dua minggu. Karna itu gue merasa jika badan gue benar-benar nggak bisa diajak kompromi, dan itu sebabnya Virgo terlalu berlebihan waktu pagi tadi nganterin gue.” Kalimat terakhir itu Libra menatap Shila yang tak mengatakan apapun saking kagetnya.
“Li!” Rion menjadi seperti orang bodoh saat tahu apa yang terjadi dengan temannya itu, “Lo nggak ngeprank kita kan?” padahal dia tahu betul bagaimana wajah Libra yang tak bisa berbohong jika perempuan itu terlihat pucat. Bahkan Libra sudah menggunakan pemerah bibir, agar wajahnya bisa terlihat lebih segar. Tapi nyatanya tak memiliki efek apapun.
“Emang gue terlihat bercanda?” Libra memutar bola matanya ketika mengatakan hal itu kepada Rion. “Gue serius lah. Di sini, ada anak gue sama Virgo. Gue satu, Virgo satu.”
“Maksudnya apa ini? Lo satu, Virgo satu?” Zidan langsung beraksi.
“Lo tahu istilah beli satu dapat dua kan?” Libra tak mengatakan dengan gamblang dan malah memberikan istilah dalam belanja, “Nah, begitulah.” Katanya dengan santai.
Sayangnya kehebohan itu tak berlangsung lama karena dosen yang akan mengajar mereka telah masuk ke dalam kelas dan memulai memberikan materi.
*.*
Rumah Libra dan Virgo lagi-lagi kedatangan teman-temannya karena merayakan kehamilan Libra. Mereka ikut bahagia dengan kehamilan perempuan itu. Meskipun mereka tahu jika kehamilan pertama ini terlihat sedikit ‘menyusahkan’ bagi Libra, tapi tak bisa menutupi jika ini adalah anugerah besar.
“Ini adalah keponakan pertama kita, Guys, jadi kita harus menyambutnya dengan suka cita.” Sam berdiri dengan mengangkat satu gelas minuman untuk mengajak yang lainnya bersulang tanda sebagai penyambutan.
Dan riuh tepuk tangan serta teriakan ‘chears’ memenuhi ruangan. Libra tersenyum dan merasa bersyukur karena memiliki teman-teman yang kompak dan menyayanginya. Ibunya benar, kenapa dia harus tidak merasa bersyukur dengan semua yang dia miliki sekarang. Semua orang yang disekelilingnya menyayanignya. Bukankah itu adalah kebahagiaan yang luar biasa.
Apalagi suaminya yang begitu peduli dan sabar terhadapanya. Itu lebih dari apapun. Toh masalahnya sekarang adalah masih pada ayahnya. Jika Virgo mengatakan mungkin saja ayahnya akan luluh karena anak-anaknya nanti, berarti sebentar lagi anugerah Tuhan yang sekarang masih di dalam perutnya itulah yang akan menyatukan keluarga kecilnya dengan sang ayah.
Libra menatap Virgo yang juga terkekeh karena keramaian di rumahnya karena teman-temannya itu, dengan tatapan yang penuh kelegaan. Tuhan memang akan selalu memberikan cara dan jalan terbaik atas semua masalah yang dihadapi oleh umatnya.
Virgo menyadari jika istrinya tengah menatapnya sejak tadi, maka membalas tatapan sang istri, “Kenapa?” tanyanya.
Libra mengecup pipi Virgo dan menatap lelaki itu penuh cinta, “Terima kasih. Aku menyadari banyak hal, dan aku bersyukur akan semua ini.” Katanya dengan senyum tulusnya.
Keriuhan itu tak menghalangi pasangan tersebut bermesraan. Meskipun semua orang yang ada di sana mengetahui apa yang Virgo dan Libra lakukan, tapi mereka berpura-pura untuk tak melihat. Memberikan ‘ruang’ kepada mereka berdua untuk mengatakan perasaan hati masing-masing.
Waktu menujukkan pukul sepuluh malam ketika semua tamu Virgo memutuskan untuk pulang. Ruangan yang tadinya kotor kini sudah bersih kembali karena tamu-tamu itu tahu diri untuk membersihkan sampah atau bekas makanan akibat mereka.
Libra mengangguk dan bangun dari baringnya. “Biar aku gendong.” Bahkan tanpa menunggu persetujuan dari sang istri, dia sudah mengangkat Libra dalam gendongannya. Libra hanya bisa tesenyum dan mengalungkan lengannya di leher sang suami, kepalanya disandarkan di dada Virgo dan mendengarkan detakan jantung sang suami adalah hal yang menyenangkan.
“Aku menyadari banyak hal, Yang.” Keduanya sudah ada di atas ranjang dan dengan posisi saling berbaring miring sehingga bisa saling menatap satu sama lain. Libra mengelus wajah Virgo yang bisa dijangkaunya, “Dan aku bersyukur denga semuanya.” Lanjutnya tanpa mengatakan banyak penjelasan kepada suaminya apa yang sedang dia fikirkan.
“Tuhan sudah mengatur semua dengan sangat sempurna, jadi kita sebagai manusia tak perlu banyak mengeluh. Karena semua hal yang kita dapatkan adalah pasti terbaik buat kita.”
“Aku ngerti.” Selepas itu baik Virgo maupun Libra tak ada yang berbicara. Libra yang sudah mulai menutup matanya karena kantuk, dan Virgo yang masih bangun terus menatap Libra dalam diam sampai kesadarannya menipis akibat dunia mimpi yang menyeretnya untuk menyelaminya.
*.*
Waktu cepat sekali berlalu. Tak terasa, kandugan Libra sudah memasuki trisemester kedua. Perutnya masih belum terlihat tonjolan disana. Mereka juga tak lupa untuk terus memeriksakan kandungan setiap bulan.
Namun ketika pagi ini Libra merasa tak nyaman, dan pergi ke kamar mandi, jantungnya hampir saja keluar dari sarangnya ketika dia melihat flek di celana dalammya. Bahkan hanya untuk memanggil Virgo saja dia merasa tak mampu. Beruntung dia masih bisa berpegangan pada dinding ketika kakinya hampir tak bisa menahan tubuhnya.
“Yang!” Virgo masih setengah tidur ketika ingin ke kamar mandi, dan tak mendapati istrinya di sampingnya, maka dia memastikan terlebih dulu mengetuk pintu kamar mandi, “Kamu di dalam nggak?” mcoba membuka hendle pintu dan ternyata pintu kamar mandi tak terkunci, karenanya dia masuk begitu saja merasa jika Libra tak ada disana.
Namun matanya harus terbelalak karena melihat wajah pucat istrinya. Dibandingkan beberapa bulan yang lalu, wajah Libra lebih pucat. “Yang, kamu kenapa?” tanyanya dengan panic. Belum sempat Libra menjawab, perempuan itu sudah pingsan.
Virgo berusaha untuk membangunkannya, tapi tak ada reaksi sama sekali. Mengangkat Libra dan membaringkan ke atas ranjang, dan barulah dia melihat apa yang mengakibatkan istrinya pingsan.
Dengan gerakan cepat, dia langsung mengangkat kembali dan memasukkan ke dalam mobil. Virgo mengetatkan rahangnya karena ini. Dia tak ingin mengeluh tapi dia merasa jika ‘tanjakan’ dalam rumah tangganya benar-benar banyak sekali sampai dia merasa lelah.
Libra sudah mulai ceria kembali selama beberapa bulan ini, dan harus menghadapi hal yang lebih sulit lagi sekarang. Tak terasa, air mata Virgo mengalir. Dia kuat dengan semua cobaan ini, tapi jika melihat istrinya yang seeperti ini, dan anak-anaknya terancam__,
Tidak! Virgo mengelengkan kepalanya tak ingin memikirkan hal yang tidak-tidak. Sampai ke rumah sakit dia berteriak untuk memanggil petugas rumah sakit agar sang istri bisa segera ditangani. Dan menunggu di depan kamar karena dirinya tak diizinkan untuk masuk ke dalam untuk menemani sang istri itu adalah seperti kutukan baginya.
Dengan kalut, Virgo menghubungi orang tuanya. Dan hal itu membuat mereka cemas bukan main. Virgo berjalan kesana kemari untuk menunggu dokter membuka pintu laknat itu dan memberi tahunya jika Libra baik-baik saja. Ya, itu adalah harapan dari seorang suami dan calon ayah.
Nyatanya berita yang dibawanya adalah hal yang sebaliknya. Ketika dia harus mendengarkan berita kurang mengenakkan dan sendirian, maka ingin sekali dia berteriak dan menyalurkan rasa frustasinya.
“Anda bisa masuk ke dalam.” Begitu kata dokter. Dokter tersebut bahkan menepuk pundak Virgo untuk sekedar memberi semangat kepada lelaki itu.
Virgo masuk dengan langkah pelan dan bisa langsung melihat istrinya yang berbaring masih belum sadarkan diri. Duduk di kursi samping ranjang, dan menggenggam tangan istrinya yang terbebas dari infus.
Lelaki itu sama sekali tak mengatakan apapun. Hanya diam dan menatap sang istri. Dan setelahnya menyembunyikan wajahnya di lipatan lengannya. Dia benar-benar merasa lelah dengan semua ini. Dia yakin dia kuat, tapi dia tak tahu apa reaksi Libra ketika medengar berita tersebut.
Dan menenangkan dirinya adalah yang dilakukannya sekarang. Dia tidak ingin terlihat rapuh di depan Libra ketika dia sudah berhadapan dengan perempuan tersebut.
*.*
Libra membuka matanya dan matanya terasa berat sekali seolah dia ingin terus memejamkan matanya. Berkedip beberapa kali agar matanya bisa merasa jelas untuk melihat.
“Yang!” Virgo mengelus rambut sang istri dengan lembut. Sudah ada kedua orang tua Virgo dan ibu Libra di sana. Dan Virgo sudah merasa lebih baik dari sebelumnya.
Libra menatap lelaki itu dalam dan otaknya sedang memproses sesuatu. Dan hal itu pula yang membuat perempuan tersebut teringat akan kejadian sebelumnya. Tangannya mengelus perutnya dengan wajah paniknya. “Mereka baik-baik aja kan?” tanyanya dengan parau. Tak ada air mata yang keluar tapi terlihat sekali jika Libra sedang tegang sekarang.
“Mereka baik-baik saja,” jawab Virgo menenangkan. “ Bagaimana dengan perasaan kamu? Kamu oke kan?”
“Ada flek di celana dalam aku tadi, Yang. Sedangkan aku sekarang sedang mengandung anak-anak kita. Apa kata dokter?” Libra dipenuhi rasa penasaran. Jadi tak ada yang ingin didengarnya kecuali sebuah penjelasan dari sang suami. Bahkan dia mengabaikan orang-orang yang ada disana. Dan hanya fokus menatap Virgo.
“Bisa kita membicarakan ini nanti saja? Kamu perlu sarapan terlebih dulu agar anak-anak kita kuat di dalam sana.” Bujuk Virgo agar Libra tak mendesaknya. Tapi Libra memilih untuk tak mempedulikan apapun yang dikatakan oleh Virgo karena yang terpenting adalah dia mendengar apa yang ingin dia dengar.
“Aku akan sarapan, tapi tolong agar kamu lebih dulu mengatakan apa kata dokter.” Libra keras kepala, “Yang! Please.” Mohonnya dengan sungguh-sungguh agar lelaki itu tak menunda penjelasannya.
“Li!__”
“Ma, please.” Jihan mencoba untuk membujuk, tapi sepertinya roh, keras kepala Ardi sekarang sedang menempel di diri Libra, karenanya perempuan itu memotong pembicaraan ibunya meskipun perempuan itu belum selesai mengatakan apa yang akan dikatakan.
Mencoba untuk bangun, pinggangnya terasa seperti habis dipukuli oleh puluhan orang. Karenanya dia hanya meringis sakit. Virgo bahkan harus mencoba untuk menenangkan istrinya yang terlihat kesakitan. Perempuan itu juga mencengkram tangan Virgo akibat rasa sakit tersebut.
*.*