Blind Love

Blind Love
Seri 8



Libra tak pernah menyangka jika hari ini dia akan bertemu kembali dengan seorang Virgo setelah pertemuan kemarin hanya menyisakan hal yang biasa saja. Meskipun ketika di dalam mobil dia bersama teman-temannya membicarakan masalah hubungannya dengan Virgo yang memang tidak pernah mengalami kemajuan apapun.


“Gue nggak paham kenapa teman-teman Virgo nggak tahu masalah hubungan Virgo sama Libra.” Riska yang sudah mengambil kesimpulan jika Virgo tak menceritakan masalah ‘pertunangan’ itu kepada teman-temannya bersuara. “Gue sangat yakin kalau mereka memang betul-betul nggak tahu menahu masalah ini.” Begitu lanjutnya dengan kepercayaan yang dimiliki di dalam pikirannya.


“Tapi gue nggak paham masalah Yana. Gila juga ya tuh cewek, nggak ada malu-malunya sama sekali.” Ersya yang berbicara memuntahkan apapun yang mungkin dipendam sejak tadi.


“Dan gue lebih penasaran lagi.” Kini Ule yang masuk kedalam obrolan. “Lo sinis kepada Yana memang karena lo benar-benar nggak suka karena lo merasa harga diri lo tergores atau lo udah mulai menaruh hati kepada Virgo?” Bukan suara Libra yang keluar untuk menjawab, karena sebuah buku yang melayang ke kepala Ule. Libra melototi Ule namun hanya menimbulkan reaksi tawa bagi gadis itu.


“Gue kan cuma tanya aja, Li, lo hanya perlu jawab aja kok. Ya kan barang kali lo itu sudah mulai suka sama Virgo gitu kan?” Bahkan bukannya berhenti berbicara, Ule semakin menjadi saja rupanya. Dan jelas saja pertanyaan yang Ule berikan kepada Libra itu juga menimbulkan rasa penasaran yang luar biasa bagi Riska dan Ersya.


“Jatuh cinta sama calon tunangan sendiri itu nggak papa kok, Li. Toh endingnya nanti lo bener-bener akan sama dia, bukan yang lain.” Ersya menambahi dengan suka cita. Memojokkan teman yang terpojok sepertinya memang menyenangkan bagi mereka.


Libra sama sekali tak berusaha memberi penjelasan kepada teman-temannya akan reaksi yang dia berikan kepada Yana sore tadi. Membiarkan mereka berspekulasi sendiri tentang apapun itu.


Kembali ke hari ini. Virgo entah kenapa tiba-tiba datang ke sekolah Libra dan menarik perhatian semua orang. Ketika ada orang asing di suatu tempat, maka dia akan menjadi pusat perhatian itu adalah hukum alaminya. Virgo tak mempedulikan tentang perhatian orang-orang itu kepadanya, dia ke tempat itu untuk bertemu seseorang, maka dia hanya perlu menunggu orang tersebut. Dan masa bodoh dengan orang-orang yang sibuk bisik-bisik sambil memandang ke arahnya.


“Go?” Ule yang keluar lebih dulu dan melihat ada Virgo di sana, menyapa. “Cari Libra?” Begitu tanyanya.


“Ya. Dia di mana?”


“Tadi gue sama dia, tapi Edzard ajak ngobrol Libra.” Virgo mengangguk paham.


“Biar gue tunggu aja.” Begitu putusnya yang membuat Ersya juga mengangguk.


“Kalau gitu lo tunggu deh, gue balik dulu, ada urusan.” Sambil melambaikan tangannya, Ersya berlalu dari sana.


Virgo sebetulnya juga tak paham akan dirinya sendiri kenapa tiba-tiba dia datang ke sekolah Libra dan menunggu gadis itu. Apa yang akan dia lakukan setelah ini pun dia tak memiliki rencana apapun.


“Virgo?” Mendengar namanya dipanggil, Virgo mendongak dan mendapati Edzard dan juga Libra di depannya. “Ngapain lo?” Virgo tahu itu adalah rasa ketidak sukaan Edzard akan keberadaan dirinya di sekolah lelak itu, tapi dia tak akan pernah terpancing.


Maka dengan tersenyum, Virgo menjawab. “Gue ada urusan sama Libra.” Pandangannya mengarah ke gadis di samping Edzard. Dan Libra pun berekspresi kaget karena ucapan Virgo namun tak ada sanggahan darinya.


“Kalian masih ada urusan berdua?” Dengan mengatas namakan kesopanan Virgo harus menanyakan hal tersebut. Dia tak ingin dianggap semaunya sendiri dengan mengajak Libra langsung pergi dari sana dan membuat Libra tak nyaman. Lagi pula dia tak mengabari gadis itu jika dia akan bertemu Libra, kalau sampai Virgo mendapatkan penolakan, maka dia pasti akan malu.


“Aku udah selesai.” Libra yang menjawab. Dengan berani menatap Virgo di depannya.


Tersenyum, “Kalau gitu ayo!” Virgo menjawab. Ditatapnya Edzard. “Gue balik dulu ya. Main-main tempat gue kalau ada waktu.” Meskipun tahu jika Edzard tak menyukainya, tapi Virgo tak mau membalas hal yang sama terhadap saudaranya jauhnya itu.


“Ya. Hati-hati.” Entah ikhlas atau tidak, tapi Virgo tetap tersenyum dan mengangguk.


Libra sudah berada di boncengan Virgo, menyalakan klakson untuk pamit, motor Virgo melaju pelan keluar halaman sekolah. Menyisakan Edzard yang menatap lurus ke arah dua orang yang baru saja keluar dari halaman sekolahnya.


*.*


“Aku nggak tahu kenapa kamu tiba-tiba muncul di sekolah aku.” Alih-alih ke kafe, mereka duduk manis di warung kopi di dekat sekolah Libra dengan dua gelas minuman dihadapan mereka. Libra memang tak mendebat dan protes dengan dia dibawa ke tempat itu, tapi dia sempat kaget melihat betapa ‘bodohnya’ Virgo yang mengajak ke sana dengan tak sedikit banyak lelaki juga di sana.


“Aku juga nggak tahu kenapa bisa aku tiba-tiba melakukan itu.” Jawaban itu spontan di katakan seolah tanpa beban sama sekali. “Aku cuma tiba-tiba keinget kamu dan satu-satunya yang masuk di akal adalah dengan bertemu kamu di sekolah.”


“Jadi nggak ada alasan lain?” Keheranan itu diungkapkan Libra kepada Virgo. “Gila.” Bahkan ketika mengatakan itu dengan terang-terangan Libra menatap Virgo seolah mengatakan jika satu kata itu memang buat lelaki itu. Virgo bahkan sama sekali tak peduli jika dia dikatai gila oleh Libra.


Karena tak memiliki bahan pembicaraan yang lain, Libra menanyakan sesuatu yang sedikit mengganjal di dalam hatinya. “Bagaimana hubungan kamu dengan Yana?”


“Bagus.” Kernyitan itu muncul di dahi Libra.


“Kalian saling suka?” Itu pertanyaan untuk memastikan saja sebenarnya, dia ingin tahu tapi juga tak terlalu peduli.


“Aku suka sama dia.” Libra melotot. “Dia baik dan peduli banget sama aku. Jadi kenapa aku harus nggak suka sama orang yang seperti itu kan?”


“Jadi kalian udah jadian?”


“Kenapa harus jadian?”


“Bukannya kalau kalian saling suka seharusnya kalian udah berpacaran?”


“Jadi kalau begitu aku harus berpacaran sama semua orang yang aku sukai?” Libra tak lagi bisa berkata-kata dengan kejaran pertanyaan yang diberikan Virgo kepada dirinya. Maka dengan menata hatinya jangan sampai kejengkelan itu keluar dari bibirnya, dia berusaha menjelaskan.


“Maksud aku bukan suka seperti itu, Virgo.” Ditatapnya lelaki itu dengan yakin agar dia bisa memberikan pengertian kepada lelaki di depannya. “Perasaan kamu ke dia. Sayang. Cinta. Ya sejenis itu lah. Biasanya kalau ada orang yang saling mencintai, mereka akan jadian kan?”


“Perasaan sayang dan cinta. Aku bilang aku suka, bukan bilang sayang dan cinta.” Santainya ucapan Virgo membuat Libra mati kutu. Apakah dia salah berbicara atau apa? Tapi sungguh, artian suka bagi semua orang adalah perasaan cinta.


Keterdiaman Libra membuat Virgo mau tak mau terkekeh. Kembali menyesap minumannya, dia terus menatap gadis di depannya yang salah tingkah.


“Nggak masalah, kamu kan bukan cenayang. Jadi kamu bisa salah mengartikan sesuatu.” Seringaian itu bahkan muncul di bibir Virgo yang membuat Libra merasa sangat jengkel.


“Udahlah.” Kata Libra. “Mau pulang aku.” Kekanakannya seketika muncul dan membuat Virgo semakin ingin tertawa. Libra adalah gadis yang menarik bagi Virgo, dia juga sudah pernah mengatakan itu kepada Love meskipun tidak secara langsung.


“Duduk dulu.” Ditariknya tangan Libra oleh Virgo agar gadis itu kembali duduk. “Aku bercanda. Ambekan banget sih.” Mungkin orang yang melihat akan beranggapan jika mereka memang sepasang kekasih melihat bagaimana Virgo mencoba membujuk seorang Libra.


“Kamu tahu Li, aku sama sekali nggak pengalaman masalah hibur menghibur cewek ngambek. Kalau kamu sekarang ngambek, aku nggak tahu apa yang harus aku lakukan.” Dan lagi-lagi itu membuat Libra tak bisa menanggapi apa yang dikatakan oleh Virgo.


“Kalau gitu antarkan aja aku pulang.” Begitu jawaban Libra setelah keduanya sama-sama diam. “Kayaknya lama-lama sama kamu buat aku pening aja.”


“Sadisnya omonganmu, Li.” Kini Virgo yang agak memanyunkan bibirnya. “Ayo.” Ajaknya setelah dia berdiri. “Kamu tunggu bentar, aku bayar dulu.” Kemudian meninggalkan Libra duduk sendiri di kursinya.


Libra menatap Virgo dengan pandangan yang sedikit geli. Tampan, keren, oke, apalagi yang bisa mendeskripsikan seorang Virgo selain hal-hal bagus itu. Tapi ikut ngambek ketika ‘teman’ gadisnya ngambek itu benar-benar kekanakan. Dan Libra benar-benar tak menyangka jika itu adalah Virgo. Tak sadar, dia bahkan mengulum senyum agar senyum itu tak dilihat oleh orang lain. Bisa-bisa mereka akan mengatakan jika dia gila kalau senyum-senyum sendiri.


Datang dengan mengunyah sate telur, Virgo duduk kembali di depan Libra. “Mau?” tawarnya kepada Libra dengan mendekatkan telur itu di depan wajah gadis itu.


“Nggak!” Penolakan yang dibarengi oleh penghindaran kepalanya itu membuat Virgo menghela napas. Namun tak lagi berusaha untuk memberikan apa yang dimakan itu kepada Libra. Meskipun merasa agak sebal karena menunggu Virgo, Libra hanya diam saja.


“Ayo!” Virgo sudah selesai makan, dan dengan santainya memberi isyarat kepada Libra untuk mengikutinya.


Libra tanpa banyak kata ikut saja dan Virgo langsung membawa Libra melesat bersama motornya. Gadis itu sama sekali tak tahu Virgo akan menjalankan motornya kemana. Waktu sudah sore dan seharusnya dia sudah berada di rumah.


“Vir, kamu mau antar aku kemana sih?” Tak ingin ‘terombang-ambing’ tak jelas akhirnya Libra bertanya.


Tak ada jawaban, mereka sampai di sebuah pertokoan. “Mau lihat-lihat dulu?” Bahkan tadi dia tak menanyakan hal itu dulu kepada Libra dan sekarang ketika sudah sampai baru bertanya, bukankah itu sesuatu yang menyebalkan?


“Suka sekali mengambil keputusan tanpa bertanya sama orang lain.” Entah sengaja atau tidak, setelah melepas helm yang tadi dipakainya, tangan Virgo langsung menarik pelan tangan Libra untuk diajak segera berjalan.


Reaksi Libra biasa saja. Namun tak ada penolakan apalagi bantahan.


“Maaf.” Begitu katanya dengan santai. Masih terus menggenggam tangan Libra dan sepertinya tak ada niatan untuk melepaskannya. “Kamu mau beli sesuatu?” Penawaran itu seharusnya menggiurkan. “Tapi aku nggak bisa belikan barang mahal buat kamu, makhlum lah aku kan belum kerja.” Itu hanyalah dalih dari seorang Virgo. Bahkan dia memiliki tabungan dengan nominal yang cukup banyak dari uang jajan yang selalau diberikan oleh kedua orang tuanya, dan juga kakeknya.


Libra sama sekali tak menjawab dan hanya terus berjalan sambil matanya menatap ke manapun untuk melihat barang-barang yang membuat jiwa perempuannya berkobar. Dan tanpa babibu ketika matanya menatap sesuatu yang menarik perhatiannya, tangannya menarik tangan Virgo yang memang masih menggenggam tangannya.


Virgo juga mengikutinya tanpa membantah. Mereka masuk ke dalam toko pernak-pernik. Mata Libra benar-benar dimanjakan oleh barang-barang cantik yang dipajang di sana. Terlihat dari wajahnya jika dia sepertinya benar-benar ingin memborong semuanya.


“Mau yang mana? Jangan hanya dilihatin aja.” Komentar Virgo, mungkin saja lelaki itu memang tak sabar dengan apa yang dilakukan oleh Libra.


“Kamu tahu nggak?” Libra menatap Virgo dalam. “Perempuan kalau di suguhin hal kaya gini itu matanya langsung ijo. Rasanya aku pengen beli dan borong semuanya aja.” Begitu jawabannya.


“Ya udah beli.”


“Tapi aku nggak bawa ATM.”


“Ya ngapain kamu bawa ATM? Emangnya kuat?”


“Ishh.” Geram Libra sambil melotot. “Maksud aku kartu ATM NYA.” Giginya bahkan mengetat di akhir kalimat karena Virgo yang menyebalkan.


Senyum menyebalkan berupa seringaian dari bibir Virgo terlihat bahkan sampai membuat Libra langsung memunggungi Virgo dengan melanjutkan acara melihat-lihatnya.


“Aku yang bayar.” Tak ingin Libra menahan dirinya karena tak membawa kartu ATM, dia bersedia membayar belanjaan apapun yang akan dibeli oleh Libra. Lagi pula memang itulah yang akan dia lakukan sejak tadi kan?


Tak ada jawaban dari Libra membuat Virgo menyimpulkan jika Libra menyetujuinya. Maka masih dengan kesabaran yang luar biasa, Virgo mengikuti saja dari belakang untuk melihat apa kira-kira barang yang ingin dibeli oleh Libra.


Libra mengambil sebuah dompet berwarna coklat, melihatnya, melihat harga bandrolnya, entah merasa mahal atau apa, lalu kemudian mengembalikan lagi ke tempatnya. Bukan hanya dompet saja yang tak jadi dibeli, bahkan entah berapa barang yang bernasip sama dengan dompet tersebut.


“Sebenarnya kamu mau beli yang mana, Libra?” Kini Virgo tak lagi di belakang Libra dan membiarkan gadis di depannya itu tak kunjung membeli. Dia sudah berada di depan Libra dan menghadang langkah gadis itu.


“Aku kalau lihat gini jadinya bingung.” Dengan polosnya dia menjawab seperti itu membuat Virgo menghela napas panjang.


“Kalau memang kamu nggak mau beli, kita keluar. Malu sama Mbaknya.” Virgo hampir menarik tangan Libra tapi gadis itu menghindar.


“Nanti dulu lah.”


“Buat apa lama-lama kalau kamu bingung nggak tahu mau beli apa.” Kini sepertinya Virgo sudah mengeluarkan ketegasannya. Maka dengan menutup rasa malunya, dia mengambil sebuah boneka berukuran sedang dan memberikan kepada pelayan toko.


“Ini, Mbak.” Katanya.


“Tapi aku nggak mau boneka.” Begitu kata Libra. Sayangnya diacuhkan oleh Virgo.


Setelah selesai menyelesaikan transaksi pembayaran, mereka keluar dan Libra menarik jaket bagian belakang Virgo. “Aku nggak mau boneka.” Katanya lagi tanda penolakan.


“Ya udah. Kamu kan nggak ambil boneka tadi, ngapain harus dipermasalahkan?”


“Ini?” Libra memegang telinga boneka tersebut.


“Ini bukan buat kamu. Aku beliin buat adik.” Katanya dengan santai dan seketika wajah Libra memerah karena malu. Dia sudah percaya diri jika Virgo akan membelikannya untuk dirinya, nyatanya tidak. Benar-benar luar biasa sekali memang lelaki itu.


*.*