
Seperti yang sudah dikatakan waktu itu, jika Virgo memang bukan pembuat ulah sampai membuat guru-guru kewalahan menghadapinya. Dia adalah murid dengan tingkat kesantaian yang sudah mencapai stadium tinggi. Tak akan bisa menebak apa yang akan dia lakukan satu jam lagi meskipun setelah saat ini menjadi anak baik.
Contohnya saat ini, ketika guru BP memberinya skors dari sekolahnya, apa dia memikirkannya dan menyesal? Maka jawabannya adalah tidak.
Bahkan sesuai apa yang dikatakan kepada teman-temannya tadi, setelah dia meminta ampun kepada Tuhan karena membuat kesalahan, dia benar-benar pulang untuk merealisasikan ucapannya.
“Aku mau makan ayam pedas, Bik.” Setelah sampai di dalam rumah, perutnya yang terasa keroncongan minta di isi. “Yang kaya gini.” Tunjuknya kepada bibi ke sebuah makanan di youtube yang sedang di kunyah oleh seorang pemilik konten tersebut.
“Dia kasih tahu cara buatnya, bibi contoh aja.” Dinyalakan internet tv nya dan membuka youtube tersebut. “Kalau udah matang, aku di kamar.” Kemudian berlalu dari dapur untuk naik ke lantai dua dan masuk ke dalam kamarnya. Melemparkan tubuhnya di kasur dan memejamkan matanya. Sembari menunggu bibi selesai masak, dia akan tidur saja. Bahkan tanpa basa-basi, dia langsung hanyut ke alam mimpi.
Virgo tahu bagaimana dia menyenangkan dirinya sendiri. Dia tak selalu bersama kedua orang tuanya. Bahkan bisa dikatakan jarang sekali. Pada awalnya dia protes, tapi protesnya sama sekali tak menghasilkan hal yang baik. Sekeras dia memohon kepada kedua orang tuanya, sekeras itu pula orang tuanya membujuk dirinya agar dia mengerti jika semua yang dilakukan oleh mereka adalah demi keluarga.
Jadi setelahnya dia hidup sesuka hatinya. Belajar masih dilakukan meskipun tak setiap hari. Nilai yang di dapatkan di sekolah tak pernah mengecewakan. Maka ketika pemberontakan yang dilakukannya, tak terlalu membuat orang di sekitarnya memberikan hukuman yang berlebihan pula.
“Mas!” Virgo merasakan goncangan di tubuhnya. “Mas, bangun!” Lagi, dia merasa ada suara yang masuk ke dalam telinganya, menelusup ke dalam alam bawah sadarnya, namun dia mengabaikan.
“Makanan udah siap, Mas.” Matanya sedikit terbuka karena bibi benar-benar bersuara keras.
“Hem.” Gumamnya, namun tubuhnya tak bergerak sama sekali. Tidur kali ini benar-benar nyaman sekali di rasakannya. Memang sepertinya dia sunguh kelelahan.
“Nanti kalau dingin nggak enak lagi, Mas!” Bibi sama sekali tak menyerah dan terusn membangunkan Virgo dalam alam mimpinya.
“Iya, Bik.” Meskipun matanya masih mengantuk, dia bangun dengan wajah bantalnya, duduk dan mengucek matanya sebentar kemudian menatap sekitar.
“Jam berapa, Bik?”
“Mau jam tiga, Mas.”
“Aku ganti baju dulu.” Bibi keluar dari kamar Virgo dan membiarkan majikannya itu merealisakan ucapannya. Bibi, adalah orang yang mengurus Virgo sejak dia masih duduk di bangku sekolah dasar. Ada dua lagi asisten rumah tangga yang bekerja di rumah tersebut, tapi hanya Bibi yang lebih dekat dengannya.
*.*
“Makan, Mas?” Bang Ridho, sopir yang ditugaskan di rumahnya merangkap sebagai seorang tukang kebun masuk ke dalam rumah dengan membawa botol minuman.
“Iya, Bang.” Masih berumur sekitar 30an tahun, karena itu Virgo memanggilnya ‘bang’ kepada lelaki itu.
Sambil mengunyah makanannya, di temani bibi dan asisten yang lain, mereka duduk di bawah sambil ikut menonton televise sedangkan Virgo duduk di sofa dengan kaki bersila tangan kirinya menyangga makanan.
“Gabung sini, Bang!” Ajak Virgo kepada lelaki itu. Di jawab dengan senyuman sopannya.
Hanya sebuah informasi saja, meskipun Virgo masih sangat muda, tapi semua orang yang bekerja di rumahnya tak ada yang tak sungkan kepadanya. Dia benar-benar berwibawa sekali pembawaan dirinya dengan pegawainya. Karena itu meskipun mereka sering bercanda bersama, tapi rasa sopan itu melekat di dalam hati mereka.
“Saya sebenernya masih ada kerjaan, Mas, di luar.” Jawab Bang Ridho. Namun Virgo yang terlalu peka dapat menangkap perubahan wajah lelaki itu ketika menatap ke gerombolan asisten rumah tangganya. Bahkan Virgo mengernyitkan dahinya ketika melihat itu.
Pasti ada sesuatu yang belum dia tahu. Apakah ada yang suka-sukaan di sini? Begitulah pemikirannya. Jadi untuk mengetahui dan menuntaskan rasa penasarannya, dia sedikit memaksa Bang Ridho untuk tetap di sana bersama mereka.
“Bang! Duduk sini!” Perintahnya. Bang Ridho memang sedang mengisi botol minumnya untuk di bawanya ke depan.
“Saya keringetan, Mas.” Dalihnya. Jika Virgo bisa melihat, memang lelaki itu berkeringat, tapi sudah agak kering.
“Jadi nggak mau?” Suara rendah Virgo tentu membuat lelaki sedikit takut. Bang Ridho melangkah dan mendekati Virgo.
“Saya keringetan, Mas. Kalau baunya kemana-mana, saya nggak enak sama yang lain.”
“Halah, Ndo, alasanmu aja itu.” Dan celetukan itu keluar dari Mbak Sih. Semakin yakinlah Virgo jika memang ada sesuatu yang terjadi.
“Duduk, Bang.!” Perintahnya. Di turutinya perintah Virgo. Bang Ridho duduk di karpet di bawah sofa dekat dengan Virgo.
“Udah makan, Bang?” Mulutnya masih mengunyah makanannya keenakan.
“Udah, Mas.”
“Jangan sampai kalian telat makan. Kalau beras habis bilang aja.” Sok tua sekali dia mengatakan itu. Tapi memang semua hal yang berkaitan dengan rumah tersebut Virgolah yang bertanggung jawab. Tak sepenuhnya sebetulnya, karena ibu Virgo pun masih memantau. Hanya saja Virgo yang lebih banyak di rumah dibandingkan sang ibu. Maka dia mengambil alih tanggung jawab itu.
Tontonan mereka masih berlanjut dan Virgo sudah menyelesaikan makanannya. “Pijitin, Bang.” Perintah lagi. Sepertinya memang Virgo ini suka sekali memerintah. Tapi bagaimanapun dia adalah majikan, Bang Ridho pasti menuruti saja apa yang di perintah oleh lelaki itu.
“Bibi ambilakan kasur lantai dulu, Mas.” Menunggu, Virgo memainkan ponselnya yang ada beberapa pesan dari ke empat sahabatnya di grup.
Rai – Ngantuk
Baro – Virgo pasti udah enak-enakan di rumah.
Edo – Dia enak nggak mau ajak-ajak. Kampret
Sam – Monyet, dengerin penjelasan guru, kalau entar ada tugas dan kalian nggak ngerti, gue nggak mau ajari.
Baro – Gundulmu beruban, pasti nanti endingnya juga kita belajar bersama sama Virgo
Sam – Mana bisa Virgo ngerjain, dia kan ngantuk aja kerjaannya di kelas.
Virgo menyeringai tanpa mau masuk dalam obrolan. Karena kasur lantai sudah terbentang, maka dia langsung tengkurap di sana. “Aku capek banget, Bang. Yang enak mijitnya ya.”
“Oke, Mas.” Di turuti saja ucapan Virgo ini. Di mulai dar memijit kaki kirinya, Virgo terpejam karena merasa keenakan. Namun otaknya mengingatkan jika dia akan mengorek informasi.
“Belum, Mas.”
“Lha, kok nggak punya?” Sok kaget padahal sama sekali tidak begitu sebetulnya. Hanya mendramatisir, begitulah kira-kira. “Ada yang di suka?” kelanjutan ucapan Virgo itu membuat ketenangan di rumah besar itu semakin terasa aneh.
“Begitulah, Mas.” Jawaban tak pasti dari Bang Ridho. Jawaban itu seakan mengambang.
“Siapa, Bang?” Ada tujuan lain dari pertanyaan yang diajukan olehnya. Pertama dia ingin mengetahui kecanggungan Bang Ridho dengan Mbak Gendis – satu asisten rumah tangganya, dan kedua dia ingin mengetahui deskripsi mencitai dari seorang Bang Ridho.
“Kenapa nggak sama Mbak Gendis aja, Bang? Ngapain cari jauh-jauh kalau di dekat kita ada.” Begitu pancingnya yang dihadiahi batuk tersedak oleh Mbak Gendis. Seringaian Virgo muncul karena dia tahu jika pancingannya itu berhasil.
“Aaaa, apa jangan-jangan Mbak gendis udah punya pacar ya di kampung sana?” Teruskan saja Virgo sampai orang di sana kaku karena merasa kikuk.
“Enggak kok, Mas.” Tak sopan rasanya kalau tak menanggapi orang yang berbicara kepada kita. Virgo memberikan jeda dengan tak mengajukan pertanyaan kembali. Suara televise masih terdengar sedangkan tak ada dari orang-orang itu yang berbicara kembali.
“Bang!” Aksinya kembali dimulai lagi. “Apa yang Abang rasain kalau sedang jatuh cinta?” Akhirnya Virgo bertanya juga karena tak ingin bertele-tele.
“Mas lagi jatuh cinta ya?” Tanya balik Bang Ridho.
“Biar kalau aku nanti jatuh cinta aku tahu tanda-tandanya.” Pintar sekali berdalihnya laki-laki satu itu. Tapi sepertinya berbeda dengan Bang Ridho yang tak mau kalah.
“Lalu yang kemarin ke sini itu siapa, Mas? Saya baru lihat ada cewek datang ke sini sendirian mau ketemu, Mas.”
“Temen. Dia emang baik, makanya belain ke sini pas aku sakit.”
“Tapi biasanya kalau udah kaya gitu nantinya bisa jadi pacar lho, Mas.”
“Ya syukur kalau begitu.” Santai seperti inilah yang kadang membuat orang malas meladeni Virgo. “Aku anggap itu doa baik.” Lanjutnya lagi seolah tak memiliki beban.
“Tadi kan aku yang tanya sama Bang Ridho, kenapa jadi bahas aku?” Masih dengan posisi yang sama, Virgo protes. Kemudian melanjutkan. “Jadi gimana, Bang, jawaban dari pertanyaanku tadi?” Tak ingin diabaikan begitu saja tentu saja Virgo ini.
“Awalnya mata saya pengen lihatin dia terus, Mas.” Ketika mengatakan itu pandangan Bang Ridho mengarah kepada Mbak Gendis. “Hati saya deg-degan terus kalau deket sama dia. Ah, salah,” koreksinya lagi. “Lihatin dia aja udah deg-degan. Padahal dari jarak jauh.” Virgo mencerna baik-baik apa yang dikatakan ole Bang Ridho kepadanya. “Ngelihat tindak taduknya itu rasanya suka sekali. Pengennya ketemu terus sama dia.”
“Kalau nggak ketemu pasi kangen. Begitu kan?”
“Iya. Mas.” Jawabnya sambil terkekeh. “Tapi saya nggak tahu kalau kira-kira dia sayang sama saya apa enggak.” Ada nada sedih yang dikeluarkan oleh Bang Ridho ketika mengatakan itu.
“Kenapa Abang nggak tanya dan minta kepastian?” Obrolan ini sepertinya memang menyenangkan sekali bagi dua orang lelaki itu. Berbeda dengan Mbak Gendis yang manyun-manyun saja mendengar ucapan Bang Ridho.
“Paling enggak kalau Abang kasih tahu dia, istilahnya di tembak, kan jadinya tahu perasaan cewek itu ke Abang.” Bukannya Virgo sekarang ini ahli dalam hal cinta, ya. Tapi dia memang masih mengingat oboralnya bersama teman-temannya tempo hari.
“Saya udah kasih tahu dia kok, Mas, tapi dia diam aja. Niatnya kan kalau dia mau langsung mau saya ajak nikah aja.”
“Mantep, Bang.” Virgo mengacungkan jempolnya masih dengan keadaan di pijit. “Terus?” Virgo sepertinya memang sangat penasaran dengan kelanjutan kisah sopirnya itu.
“Waktu saya mau bilang, dianya hindarin saya, Mas. Saya tanya apa saya punya salah sama dia, dia jawab ‘enggak’ tapi wajahnya nggak bersahabat sama sekali. Saya kan__,
“Kamu yang nggak jelas. Kasih kode ke aku tapi haha hihi sama orang sebelah.” Tentu saja seketika mereka terdiam dengan ucapan tiba-tiba dari Mbak Gendis. Merasa telah tahu apa yang terjadi dengan kedua pegawainya, Virgo bangkit dan duduk di atas kasur lantai sambil menatap Mbak Gendis yang wajahnya sudah pucat pasi entah karena efek apa.
Mungkin saja campuran dari malu dan sebal yang masuk ke dalam hatinya.
“Jadi cewek itu Mbak Gendis, Bang?” Seperti biasa, raut wajah Virgo santai sekali. Bahkan dia memeluk bantal sofa.
Sedangkan Bang Ridho belum menjawab dan bibirnya masih tertutup rapat. Mungkin saja karena akhirnya dia tahu penyebab pujaan hatinya itu menghindarinya.
Merasa perlu mengakurkan kedua orang itu, Virgo bertanya. “Apa yang dibilang sama Mbak Gendis itu benar, Bang?” Wajah Bang Ridho memang seperti orang yang sedang berpikir keras. Bisa saja dia merasa tak pernah melakukan apa yang dituduhkan oleh Mbak Gendis.
“Aku haha hihi sama siapa sih, Dek? Aku kan hari-hari kalau kerjaan selesai selalu sama kamu.” Virgo menyeringai melihat adegan di depannya. Melihat ini lebih seru dibandingkan menonton film romance yang waktu itu di tonton bersama Libra.
Libra? Terpekur sebentar ketika ingatannya tiba-tiba mengingatkan akan gadis itu. Namun dibiarkan dulu saja. Dia ingin membuat kedua orang yang katanya salah satu dari orang tersebut sedang mencintai satu yang lainnya bersatu.
“Ingat-ingat aja.” Jawaban yang diberikan Mbak Gendis membuat Virgo protes.
“Bisa nggak perempuan itu bilang aja apa yang ada di dalam hatinya tanpa bertel-tele?” Begitu katanya dengan menatap MbaK Gendis. “Mbak harusnya meluruskan kesalah-pahaman yang terjadi dong. Siapa tahu Bang Ridho memang nggak sengaja ketawa-tawa sama cewek sebelah yang Mbak bilang tadi.”
Virgo seperti hakim saja sekarang.
“Jadi, Mbak, siapa yang dimaksud sama Mbak tadi bisa di kasih tahu saja?” Bahkan Bang Ridho saja masih memikirkan perempuan yang dimaksud oleh Mbak Gendis.
“Saminten.” Satu nama itu keluar dari bibir Mbak Gendis dan mendapatkan reaksi dari Bang Ridho.
“Kamu cemburu sama Saminten, Dek? Nggak ada yang lain?” Ekspresinya bahkan sangat menggelikan sekali Bang Ridho sekarang. “Di lihat dari manapun kamu itu lebih dari semuanya dibandingkan dengan Saminten, Dek. Kalau aku berniat nggak serius sama kamu, aku pasti akan cari yang lebih dari kamu, Dek. Bukan Saminten.”
Entah karena apa, Virgo kali ini tertawa. “Kenapa, Mas?” Bibi yang bertanya. Karena di saat serius seperti ini kenapa malah tertawa lelaki itu.
“Nggak ada nama yang lebih keren lagi ya?” Begitu tanyanya dengan blak-blakan. “Aku ngebayangin yang namanya Saminten itu orangnya agak hitam, wajahnya pakai bedak agak tebal sampai terlihat abu-abu, pakai lipstick wana agak ungu dan rambutnya di rebonding.” Tawa itu kini bukan hanya dari Virgo, tapi juga dari empat orang di sana.
“Kalian pasti ikut ngebayangin kan?” Sisa tawa itu masih ada dan Virgo bertanya untuk mengetahui apa yang menyebabkan mereka ikut tertawa.
Tawa mereka mereda, dan Mbak Sih bilang. “Karena bayangan Mas itu benar sekali.” Perempuan itu mengusap ujung bibirnya dengan ujung baju yang dipakainya. Kemudian melanjutkan lagi, “Kalau Mas penasaran, nanti Mbak Sih tunjukkan orangnya.” Dan mendapatkan anggukan dari Virgo.
*.*