
Aku berusaha fokus pada PR Matematika di depan mata. Namun gagal. Selalu gagal. Lagi-lagi Unknown yang ada dalam pikiranku, juga Nadine.
Tadi siang saat istirahat kedua berlangsung, cewek itu menghampiri Rifa ke kelas. Senyum manis namun menusuknya berhasil membubarkan barisan manusia yang tadinya berada di dekat Rifa, bubar seketika. Mereka membiarkan cewek cantik tersebut duduk di samping Rifa, tepat tiga bangku di depanku.
"Jangan lihat-lihat!" tegur Nadine pada seorang cewek yang menatapnya ingin tahu.
Nada tak suka Nadine menyimpulkan bahwa ia butuh bicara hanya empat mata dengan Rifa. Maka semua orang bergegas meninggalkan kelas tanpa protes.
Ya, semua orang kecuali aku, Nadine, dan Rifa. Sepertinya ia sengaja tak mengusirku sekalian karena ada yang ingin ia tunjukkan.
Tak lama, cewek cantik tersebut berbalik menghadapku, kemudian tersenyum miring.
Nah, benar kan. Dia memang ingin pamer padaku.
Kau lihat, Alexa. Aku bisa duduk sedekat ini dengan Rifaldi sementara kamu tidak.
Kurang-lebih, begitu arti tatapan meremehkan Nadien padaku.
Fokus Nadien kembali pada Rifa. Dan hening. Sangat hening. Dua orang di depanku tampak terlibat pembicaraan yang cukup serius.
Sebenarnya aku penasaran apa yang tengah mereka diskusikan. Atau lebih tepatnya, apa yang Nadine bisikkan. Karena sejak tadi hanya ia yang berbicara---tanpa bisa kudengar---sementara Rifa memperhatikan tanpa menanggapi apa pun, bahkan sekadar bergumam pun tidak.
Mungkin aku melamun cukup lama, karena saat dering ponsel mengagetkanku, jarum jam sudah berada di angka sembilan dan dua belas. Cepat-cepat kuraih benda berisik tersebut lalu menggeser tombol answer.
“Halo?” sapa suara di seberang sana. Sepertinya aku tidak asing dengan suara ini.
“Lo Andre?” tembakku tepat sasaran. Cowok itu mengiyakan tebakanku. “Lo ….”
“Jangan tanya dari mana gue tahu nomor HP lo,” ancamnya.
Aku tertawa sendiri. “Hahaha … gue tahu jawabannya, kok. Gue cuma mau nanya, ada apa nelepon gue?”
“Gak boleh?” Pertanyaan retoris. Tentu saja ia boleh meneleponku kapanpun ia mau selama tidak mengganggu.
“Bukan gitu, cuma …,” ujarku kebingungan. “Tumben aja seorang Andre nelepon gue gitu. Ini perdana, lho!”
“Dulu gue gak berani hubungin lo, abisnya gue takut sama cowok lo. Dia kan senior karate gue. Berani macem-macem, bisa-bisa entar gue ditendang. Hahaha …”
“Bisa jadi!” Cowok agak aneh tersebut kembali tertawa. Tak lama, ia berdeham. Suaranya mendadak berat. “Eh Xa, gue mau nanya serius, nih.”
“Apa itu?”
“Gosipnya lo ribut sama si Nadine di toilet cewek, ya?”
“Lo tahu dari mana?” Pertanyaan bodoh. Mungkin aku tak menonjol di sekolah, tapi Nadine cewek populer. Otomatis berita apa pun mengenai dirinya pasti menyebar cepat bagai virus. Lagipula saat kejadian berlangsung bukan hanya aku dan Nadine yang ada di TKP.
Sesuai dugaan, Andre menjawab ringan. “Tahu dari cewek-cewek sekelas. Si Nadinenya juga udah ngonfirmasi.”
“Bukan ribut juga sih, Dre. Soalnya gue gak ngelawan ….”
“Kayaknya gue tahu kenapa dia segitunya sama lo.”
Aku melonjak mendengar pernyataan Andre. “Emangnya kenapa, Dre?”
“Lo inget peristiwa tahun lalu?”
Peristiwa tahun lalu?
“Gue bakal ngasih tahu lo sebuah rahasia,” kata Andre perlahan. “Ini baru praduga, sih. Makanya gue harap ini cukup antara lo, gue, Nadine, dan para penggemar pacar lo itu.”
Aku menjulingkan mata. Kalau banyak yang tahu namanya bukan rahasia, keleees …
“Siap!” seruku tak mau ambil pusing. “Cepet, cerita sama gue!”
“Besok deh, gue ceritain langsung. Daaah …”
“Lho, kok?”
Tut, tut, tut …
Terlambat. Andre telanjur menutup sambungan sepihak. Mengapa bertelepon dengannya tidak pernah tuntas?