Blind Love

Blind Love
Episode 39



Kakinya dipaksa untuk berjalan, matanya masih mengembun, suara bising kendaraan dan sesekali tatapan orang-orang mengarah kepadanya tak dipedulikan. Yang dirasakan hatinya lebih penting dari apapun. Perpisahan yang terjadi antara dirinya dan juga Virgo sama sekali tak diselipi adegan pertengkaran dari keduanya.


Mereka berpisah secara baik-baik meskipun deraian air matanya menganak sungai. Tapi sebaik-baiknya sebuah perpisahan tak akan baik juga dirasakan, faktanya sekarang Libra justru seperti memusuhi Virgo atas perpisahan yang terjadi.


Libra ingin bisa segera sampai di rumah kosnya dan mendekam di sama tanpa ada yang mengganggu. Dia butuh melampiaskan segala sesak yang sejak tadi terus menggelayut di hatinya. Maka dengan itu, dia melangkahkan kakinya lebar-lebar agar bisa merealisasikan keinginannya.


Kalau mau, dia bisa memanggil ojek online, atau naik angkutan umum yang berlalu lalang sejak tadi. Tapi dia tak mau karena dia pasti akan menjadi perhatian orang-orang karena matanya terus mengeluarkan air kesedihan.


Tenggorokannya terasa kering, keringat sudah keluar dengan deras, dan kakinya juga lelah. Tapi semua itu kalah dengan tekad untuk sampai tujuan. Libra sama sekali tak menyadari jika sejak tadi ada Virgo yang berada di belakangnya untuk memastikan jika dirinya pulang dengan selamat.


Sampai di depan kosnya, dia tak memperdulikan suara –suara yang memanggilnya. Masa bodoh dengan hal itu. Maka dengan berlari, dia langsung naik ke lantai dua untuk ke kamarnya dan mengurung diri di sana.


Menyumpal telinganya menggunakan headseat, menyalakan kipas, dan menutup tubuhnya dengan selimut tebal. Maka dia bersiap untuk meresapi rasa sakit yang kembali timbul.


Sedangkan di luar sana, ketika Virgo mengetahui jika tempat itu sama sekali tak asing bagi dirinya, maka helaan napas itu keluar dengan kasar. Dia pernah datang ke tempat itu, beberapa kali bahkan dengan waktu yang lama bersama dengan Edo. Tapi kenapa tak sekalipun dia bertemu dengan Libra sebelumnya?


‘Karena memang takdir belum ingin melakukan hal itu’ itu adalah jawaban dari satu sudut hatinya.


Hampir dia melajukan motornya, ketika sebuah suara memanggilnya. “Sam?” katanya ketika melihat lelaki itu keluar dari dalam ruang tamu yang memang sudah disediakan oleh pihak kos untuk menerima tamu.


Sam tak sendirian. Karena dibelakangnya diikuti oleh teman-temannya dan juga Tere. Melihat gadis itu, Virgo langsung turun dari motornya dan mendekati Tere. “Dia nangis, tolong jangan dulu lo ganggu dia. Jangan sekalipun lo ketuk pintunya atau yang sekiranya membuat dia terganggu. Biarkan dia melampiaskan apapun di dalam hatinya. Baru kalau dia sudah lebih baik, lo bisa menemui dia. Lo ngerti kan?” Tere tak langsung menjawab karena dia sama sekali tak menduga jika orang yang akan di jodohkan dengan Libra sebelumnya adalah sebenarnya memiliki hubungan.


“Ter?” Virgo ingin jawaban, dan Tere menundanya.


“Iya.”


“Thanks.” Katanya dengan wajah yang terlihat lega. Kemudian matanya menatap teman-temannya bergantian, “Gue butuh penjelasan, dan gue tunggu di rumah gue. Jam berapapun kalian bisa.” Virgo kali ini tak bersikap santai seperti sebelumnya.


Tanpa menunggu jawaban dari teman-temannya, dia langsung menunggangi motornya kembali dan melajukannya dengan kencang. Asapnya bahkan langsung menyerang orang yang ada di belakangnya.


“Gue nggak yakin ini akan menjadi hal yang baik,” Baro berkomentar lebih dahulu, “kalau dia udah marah, ngeri.” Lanjutnya dan duduk di bawah pohon mangga di depan kos Tere. Hal itu pun diikuti oleh yang lain. Mereka memikirkan apa yang kira-kira terjadi setelah ini.


*.*


Malam tiba ketika keempat temannya datang ke rumahnya. Tak ada senyum yang Virgo keluarkan untuk menyambut mereka. Tatapannya datar seolah hanya itu satu-satunya ekspresi yang dia miliki. Tak sampai di sana, karena Virgo juga menatap teman-temannya bergantian.


“Jadi, ada yang mau kalian jelasin?” tanyanya tanpa ingin lagi menundanya.


“Lo mau penjelasan seperti apa?” itu Sam yang bersuara. Lelaki itu jelas saja berani dengan Virgo, selama Virgo masih seperti ini. Tapi jangan tanyakan jika lelaki itu sudah murka, maka tak peduli siapapun akan babak belur karenanya.


“Semuanya,” jawabnya dengan lugas. “dari awal sampai akhir tanpa ada yang ditutupi.” Lanjutnya lagi.


“Kalau gitu gue juga perlu tahu sesuatu,” Sam tak mau kalah, “apa yang lo lakuin sampai Libra pulang dengan tangis yang seperti itu?”


“Gue nggak apa-apain dia.” Virgo tegas mengatakan jawabannya, karena dia merasa tak ada hal buruk yang dilakukan olehnya sampai Libra menangis seperti tadi.


“Dia sedang dalam tahap penyembuhan, lo harusnya tahu itu.” Hanya Sam yang mendebat Virgo dari tadi. Sedangkan yang lain hanya menjadi pihak mendengarkan.


“Gue nggak tahu karena selama ini gue nggak tahu apapun tentang dia.”


“Karena lo terlalu egois,” Sam menatap Virgo dengan tegas, “Lo membiarkan saja Libra mencari cara sendirian untuk menyembuhkan hatinya akibat pisah sama lo.”


“Gue dan dia udah sepakat untuk mengakhiri hubungan kami karena memang restu itu tak kami dapatkan dari ayahnya. Lo juga harusnya tahu itu. Gue nggak akan berbuat nekat dengan terus berada di sampingnya dan mengakibatkan dia yang kena imbas dari keegoisan gue.” Virgo jelas tak mau kalah.


Bukan masalah kalau memang dia disalahkan akan hal ini. Akan semua yang terjadi kepada Libra, tapi setiap orang memiliki pembelaan atas semua hal yang terjadi pada dirinya kan.


Sam tak lagi mendebat. Lelaki itu memijat pelipisnya karena merasa kalah dengan Virgo.


“Jadi bisa dijelaskan ke gue kenapa kalian tahu Libra satu kampus dengan kita, tapi tak ada yang bilang sama gue?”


“Karena bagi kita, itu udah bukan lagi urusan lo.” Edo kini yang berbicara.


“Kenapa jadi bukan urusan gue?” Virgo tak terima dengan ucapan Edo.


“Karena kalian tak memiliki hubungan lagi. Kalian udah berpisah, dan artinya Libra sudah bebas tanpa syarat dari lo.” Edo tak kalah menantang sekarang.


“Jadi gue nggak akan dapat penjelasan apapun dari kalian?” karena tak ada dari mereka yang menjawab, maka Virgo melanjutkan. “Oke!” katanya sambil berdiri. “Kalian boleh pergi sekarang. Maaf sudah merepotkan kalian.” kemudian berlalu begitu saja, dan meninggalkan teman-temannya yang kaget karena tindakan Virgo kali ini.


Entah kenapa kali ini Virgo merasa jika dia seperti dikhianati oleh teman-temannya. Apa yang dilakukan oleh mereka tadi siang itu adalah hal yang paling menyebalkan. Dalam hatinya memang merasakan jika rasa penasaran itu tak bisa dibendung. Tapi apa boleh buat. Dia tak akan mendesak kepada mereka untuk sebuah penjelasan.


*.*


Libra bangun dengan mata sebesar kentang. Dia sendiri saja harus menggelengkan kepalanya melihat dirinya sendiri di kaca. Dia seperti raja rimba. Rambutnya mengembang seperti rambut singa.


Menghela napas, dia memilih untuk membersihkan badannya. Perutnya terasa lapar tapi ditahannya. Dalam situasi seperti ini, dia malas kalau harus pergi keluar rumah. Maka setelah badannya segar nanti, dia akan memesan makanan melalui online.


Guyuran air di tubuhnya terasa segar sekali rasanya. Bahkan sudah berapa menit dia berada di dalam kamar mandi, masih malas untuk keluar. Kalau tidak merasa dingin, mungkin dia tak akan keluar dari sana.


Setelah memakai baju tidur, dia tak merasa perlu menyisir rambutnya. Dibiarkan begitu saja rambutnya kusut. Kemudian duduk di kursi meja belajar, dan mengotak-atik ponselnya untuk memesan sesuatu sebagai isi perut laparnya.


Sembari menunggu, pikirannya melayang kembali kepada lelaki bernama Virgo. Sungguh, dilihat dari dekat, lelaki itu terlihat berubah. Menjadi lebih tampan dan dewasa. Hei, bahkan dia baru masuk kuliah di semester pertama, tapi kenapa perubahan itu sudah nyata sekali terlihat?


Apakah karena memang dia lama tak bertemu dengan lelaki itu, karenanya dia merasa Virgo benar-benar berubah? Entahlah, Libra juga tak paham.


Ketukan pintu terdengar. Bisa dipastikan jika itu adalah makanan pesanannya telah datang. Libra mengambil uangnya dan membuka pintu kamarnya. “Pesanannya, Kak.” Alih-alih seorang ojek online yang datang ke sana, Tere lah yang muncul.


Libra menghela napas dan menerima makanan tersebut. mengangsurkan uangnya, namun mendapatkan dengusan dari Tere. “Nggak usah, udah gue bayar.” Katanya dengan santai. Tere tak ada keinginan untuk menyerobot ke kamar Libra seperti biasanya. Gadis itu hanya berdiri di luar kamar. Kalau memang Libra mengijinkan masuk, maka dia akan masuk. Kalau tidak, berarti gadis itu masih merasa perlu untuk sendiri.


Libra membiarkan pintunya terbuka, dan dia sendiri masuk ke dalam kamarnya untuk segera menyantap makanan tersebut.


Itu adalah tanda untuk Tere jika dia diizinkan masuk oleh Libra. Maka dia masuk ke dalam sana dan menutup pintu kamar itu.


Tak ada kata yang keluar dari mulut Tere sejak dia sudah sepenuhnya tertelan oleh kamar Libra. Membiarkan temannya itu untuk makan, dan dia memilih memainkan ponselnya. Butuh waktu beberapa menit ketika keheningan itu akhirnya berakhir.


“Gue nggak tahu masalah lo sama Virgo. Sorry.” Tere lebih dulu meminta maaf atas kekhilafan yang memang tak pernah disengaja oleh dirinya. Libra sudah duduk di atas kasur bersebelahan dengan Tere. Karena tak puas tak melihat ekspresi Libra, maka Tere memilih untuk menghadap temannya itu.


“Edo pernah cerita tentang hubungan Virgo dengan pacarnya di masa lalu, tapi nggak tahu kalau cewek itu lo, Li. Karena itu gue juga pernah punya keinginan buat comblangin dia sama lo waktu itu.” Libra menatap Tere seketika saat kalimat terakhir itu disampaikan oleh Tere.


“Comblangin?”


“Ya. Tapi memang sepertinya susah mempertemukan kalian berdua.”


“Dan bodohnya gue adalah gue nggak tahu kalau pacar lo itu Edo, Re.” Senyum Libra kecut, “Gue ngerasa siapapun pacar lo bukan hal yang penting gue tahu selama itu buat lo bahagia. Dan selama lo jadian sama dia memang lo terlihat sekali bahagia, jadi gue semakin nggak ingin tahu tentang orang itu. Gue juga salah.” Mengobrol dengan sesama perempuan sepertinya memang lebih mudah dibandingkan Virgo dan teman-temannya.


Virgo yang dengan egoisnya tak ingin melanjutkan untuk menanyakan kejelasan situasi sulit yang dialaminya, Libra lebih dulu tahu akan hal itu.


“Jadi selama ini gue, Edo, dan Virgo adalah teman sekelas.” Awal cerita dari Tere. “Dan lo juga sepertinya perlu tahu, kalau Virgo dan Edo sering sekali ke sini.”


“Gue tahu,” jawab Libra, “lo sering sekali dapat tamu kan?” Tere menghela napas panjang melihat mata bengkak Libra. “Hanya saja gue nggak tahu kalau tamu lo itu mereka.”


“Lo nangis sampai kaya gitu, Li. Pasti hati lo sakit banget ya?” jelas saja Tere merasa khawatir dengan temannya. Keinginannya untuk mempersatukan Virgo dan Libra sudah lenyap entah kemana.


“Begitulah, Re. Perasaan gue, pikiran gue, sama-sama mengatakan hal yang sama, jika gue___” tangis Libra kembali keluar yang berusaha ditahannya, “Gue masih sangat mencintai dia,” air mata itu mengalir lagi tapi bibirnya menampilkan senyum untuk Tere.


Dan itu benar-benar terlihat sangat menyedihkan baginya. Tere memeluk Libra dan berusaha untuk menenangkannya. Hanya tepukan lembut di punggung gadis itu yang diberikan oleh Tere, tanpa kata yang bisa dia keluarkan.


Libra juga sama sekali tidak merasa malu mengatakan perasaannya kepada Tere tentang Virgo. “Dan dia juga masih sayang sama gue, Re. Dia bilang sendiri sama gue.” Tangis Libra benar-benar tak bisa lagi ditahan. Gadis itu bahkan harus mencengkram lengan Tere untuk melampiaskan rasa sakitnya.


“Dia memang masih peduli sama lo, Li.” Mungkin bagi Tere, tak perlu menutupi apa yang dilakukan Virgo terhadap Libra ketika siang tadi lelaki itu mengikuti Libra dari belakang ketika pulang.


“Lo tahu?” Libra sudah tak lagi dipeluk oleh Tere, mereka sekarang duduk berhadapan dan Tere menatap Libra lurus-lurus, “dia bahkan memastikan kepada gue kalau gue nggak boleh ganggu lo selagi lo masih sedih. Gue nggak boleh ketuk kamar lo, dan menghindar dulu sebentar dan memberikan lo waktu untuk sendiri dulu.”


Libra menutup mulutnya rapat-rapat ketika mendengar itu secara langsung dari Tere. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Mereka masih saling mencintai dan itu adalah mutlak, sayangnya takdir belum mau berpihak untuk mereka.


“Lo nggak perlu sedih, Li,” Tere menepuk lengan Libra dengan lembut, “Sekarang memang kalian belum bisa Bersatu, tapi mungkin setelah ini semua akan berubah.”


“Dia nggak mau usaha keras untuk meyakinkah ayah, Re.” cairan bening itu keluar tanpa lagi bisa dihalau, “dia terima saja dengan keputusan yang ayah kasih ke kami. Padahal dia paham sekali kalau sebenarnya dia juga masih cinta sama aku.” Semoga saja tak ada yang mendengar jeritan hati Libra kecuali Tere, karena suara gadis itu terdengar menyedihkan sekali.


“lo pernah nggak berpikir di posisi Virgo?” Tere memang sosok yang sabar, karena itu dia berusaha untuk terus menyadarkan Libra tentang pikirannya. Libra tak menjawab.


“Gue bukan mau berpihak dengan dia, tapi siapa yang tahu kalau mungkin saja dia tak bertahan karena dia merasa belum pantas untuk berjuang?”


“Belum pantas di bagian mana, Re?” Libra menatap Tere dengan serius, “Nggak ada yang menganggapnya nggak pantas.”


“Apa yang Virgo punya?” mata Libra melebar ketika mendengar pertanyaan itu. Lancang menurutnya, “Seandainya dia nekat untuk tetap bersama lo dan melawan bokap lo, kemudian bokap lo menginginkan keseriusan, tapi syaratnya lo dan dia harus keluar dari rumah tanpa membawa apapun yang itu adalah pembelian orang tua kalian. Apa yang bisa Virgo kasih ke lo? Dia belum bekerja, seandainya dia punya uang, uang itu adalah dikasih orang tuanya. Yang benar-benar dari Virgo itu apa? Bisa nggak dia hidupin lo?” kalimat panjang pengandaian itu hanya mendapatkan tatapan kosong dari Libra.


*.*