Blind Love

Blind Love
Lanjutan 16



Ini adalah alasan kenapa Aksa membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memberikan izin kepada Love untuk datang ke reuni perempuan itu bersama teman-temannya. Love pasti bertemu dengan orang-orang yang dulu menyukainya, atau bahkan masih sampai sekarang.


“Mau makan sesuatu?” Love sudah berpindah duduk di dekat Aksa, dan menawari lelaki itu sesuatu. Lamunan Aksa buyar dan sontak menolehkan kepalanya di mana Love berada. Beralih menatap di tangan kanan Love ada segelas minuman. Lelaki itu mengambilnya. “Punyamu kan?” memastikan.


“Iya.” Love sambil mengangguk. Dan tak perlu menunggu lama, lelaki itu meneguk minuman Love sampai tandas. “Pulang?” Tanyanya seolah pertanyaan itu tak perlu mendapatkan jawaban, sedangkan dia ingin sekali pergi dari sana.


“Boleh.” Setuju Love. “Gue balik ya.” Pamit Love kepada teman-temannya. Sudah lama juga dia berada di sana.


“Kalau gitu kita udahin aja acaranya lah ya, udah hampir malam kan?” ketua kelas memberi usul. Dan tentu mendapatkan persetujuan dari semua orang. Kemudian mereka bersiap-siap untuk pergi dari tempat tersebut.


“Gue nggak punya nomor lo loh, Love.” Teman-teman Love sudah pergi dari tempat itu dan menyisakan Love dan Aksa serta Jo. Entah apa yang ditunggu oleh Jo, karena sedari tadi dia tak kunjung pergi dari sana.


“Kita kan udah buat grup, Nomor gue dimasukin juga kok sama anak-anak. Cari aja di sana.” Begitu kata Love. Meskipun dulu memang berteman baik, Love tak akan asal memberikan nomor ponselnya kepada orang lain.


“Oke.” Dari ekspresinya, Jo memang ingin sekali mendapatkan nomor ponsel itu langsung dari pemiliknya.


“Gue pulang dulu ya, Jo.” Meskipun sudah pamit, tapi Love masih berdiri  di sana menunggu lelaki itu, barangkali ada yang akan dibicarakan lagi. Aksa berada di samping Love dan menatap Jo dalam diam.


“Oke. Pulanglah.” Jawaban yang diberikan Jo kepada Love itu membuat perempuan itu mengangguk dan mengajak Aksa untuk pergi dari sana. Sedangkan Aksa hanya menuruti saja apa yang dikatakan oleh sang istri.


“Sepertinya kamu senang bertemu dengan mereka.” Dua orang suami istri sudah berada di dalam mobil dan sudah bergabung dengan pengguna jalan lainnya.


“Aku udah lama nggak ketemu sama mereka, jadi aku beneran seneng. Terima kasih suamiku, udah izinin aku buat ikut reuni ini.” Senyum Love memang menunjukkan jika apa yang ada di dalam hatinya benar-benar sebuah kesenangan.


Aksa tak lagi menjawab dan membiarkan saja Love merayakan rasa sukanya seorang diri. Yang terpenting semua akan baik-baik saja setelah ini. Begitulah pikirnya.


Kendaraan beroda empat itu berhenti di depan sebuah lesehan yang berada di tengah kota Jakarta. Tempat itu begitu nyaman dan Aksa sering pergi ke sana. “Ayang laper?” masih berada di dalam mobil, Love menoleh ke arah


Aksa dan bertanya.


“Ya. Ayo turun.” Begitu katanya sambil membuka sabuk pengaman dan kemudian turun dari mobil. Mereka berjalan dengan Aksa menggandeng tangan Love. Mencari tempat kosong, kemudian memesan makanan.


“Jadi apa yang kalian obrolkan tadi?” sepertinya rasa penasaran Aksa sudah mulai keluar. Love menatap Aksa dan mengangguk semangat.


“Kami mengobrol banyak tadi. Tapi ada nggak nyaman juga sebentar.” Kening Aksa berkerut dan bertanya kepada Love melalui tatapannya. “Wina. Ayang tahu kan?”


“Nggak.”


“Yang wajahnya asem tadi itu loh.” Keluar sudah kekanakan Love kalau sudah begini. “Dia ungkit masalah viral itu.” Perempuan itu bahkan harus menutup mulut Aksa dengan telapak tangan suaminya itu agar lelaki itu tak berbicara sebelum dia menyelesaikan ceritanya.


“Bentar dulu lah, Yang, ngomongnya, aku kan belum selesai ceritanya.” Begitu katanya dengan manyun.


“Terus?”


“Ya aku kan nggak akan diam aja. Tenang aja, aku bisa menyelesaikan dengan sangat rapi.” Bangganya namun tak urung, Love juga menceritakan detail kejadiannya.


Aksa sudah mulai menyuapkan makanan yang di pesan ke dalam mulutnya. Karena Love memilih memesan minuman saja, Aksa hanya makan seorang diri. “Rame banget.” Love mengatakan itu sambil melihat layar ponselnya.


Dengan penasaran, Aksa ikut mendekatkan tubuhnya untuk melihat apa yang dimaksud sang istri. Ada beberapa foto yang mereka share di grup yang baru mereka buat beberapa jam lalu. Love bahkan tersenyum ketika melihat


gambar-gambar mereka.


‘Kok Jo lihatnya ke sana aja ya?’ Gita yang mengomentari salah satu gambar. Dan setelahnya muncul beberapa balasan dari teman-teman mereka.


‘Masih memendam perasaan’


‘Udah punya orang, Jo, cari yang lain aja’


Love hanya menyimak tanpa ikut bergabung pada obrolan tersebut. Dia pun tak tahu siapa yang teman-temannya bicarakan, karena sejak dulu pun, dia tak pernah mendengar berita tentang kisah percintaan dari Jo.


“Kenapa dia belum menikah?” Aksa tiba-tiba bertanya di dekat telinga Love.


“Siapa? Ada beberapa dari mereka yang belum menikah.” Love tak pernah keberatan ketika Aksa ikut membaca chat yang sedang Love lihat sekarang.


“Jo.” Jawabnya santai. “Aku lihat, dia sudah mapan dari segi apapun sekarang.”


Menggeleng. “Aku nggak tahu. Aku nggak mau tanya karena aku nggak mau dia tersinggung.” Love memang tak akan menanyakan hal pribadi kepada lawan bicaranya, siapapun itu. Meskipun itu adalah teman sekolahnya dulu.


“Menurutmu?”


Mengedikkan bahu. “Aku juga nggak mau menebak apalagi menduga. Karena apa? Itu bukan urusanku.” Love menatap Aksa dengan lekat. Dibelainya rahang suaminya itu. “Aku Cuma mau urusin orang yang sudah menjadi


urusanku.” Kerlingan mata itu diberikan kepada Aksa.


Mengikuti istrinya, Aksa juga mengedikkan bahunya. “Oke.” Katanya dengan santai. ‘Sebenernya aku


juga nggak mau menanyakan hal yang bukan urusanku, tapi aku tahu sesuatu yang kamu nggak tahu’ lanjutnya dalam hati.


*.*


Reuni yang dihadiri oleh Love waktu itu sudah berlalu satu minggu. Tapi komunikasi yang terjalin diantara mereka benar-benar intens sekali. Bahkan Love juga melakukannya. Entah apa yang mereka obrolkan dalam chat itu, tapi Love bahkan sering tertawa sendiri ketika membaca chat tersebut.


“Kamu tahu? Kamu berubah setelah reuni itu.” Protesan itu datang dari Aksa. “Sewajarnya saja kalau kamu nggak mau tenggelam.” Love beralih menatap sang suami.


“Maksudnya gimana?”


“Kamu sekarang senang sekali dengan benda itu.” Tunjuk Aksa pada ponsel yang dipegang oleh sang istri. “Tertawa sendiri, dan lebih intens dengan benda itu.”


“Tapi kalau kamu terus-terusan asyik dengan hp kamu, akan terjadi apa-apa.” Tegas Aksa. Tatapan lelaki itu juga sangat tegas menyorot sang istri. Love merasakan jika apa yang Aksa katakan memang sungguh-sungguh, karena itu dia berusaha memahami.


Ada yang pernah bilang, kalau sebuah acara reuni itu biasanya akan mengakibatkan hal yang tidak menyenangkan setelahnya. Karena terkadang ada sebuah urusan di masa lalu yang mungkin belum terselesaikan dan ketika pemilik urusan itu bertemu setelah sekian lama terpisah, akan memunculkan sesuatu hal yang tumbuh.


Memang dalam hal ini, Love tidak melakukan hal itu. Dia tidak bermain api, dia tidak berselingkuh, dia juga tidak melakukan kekejaman lain terhadap keluarga kecilnya. Tapi karena keasyikan yang sedang memenuhi hatinya itu dipandang berbeda oleh Aksa.


Aksa memang bukan tipe lelaki yang akan terus mengingatkan berulang kali. Jika sekali dia berbicara dan orang itu tak mengindahkannya, maka dia hanya akan menatapnya dan membiarkannya.


Seperti akhir-akhir ini misalnya, Love yang seolah melupakan jika Aksa, suaminya sudah berada di rumah, karena dia memilih asyik dengan obrolan grup. Dan Aksa berlaku seperti biasanya seolah tak terjadi apapun, padahal dia benar-benar memendam perasaan dongkol luar biasa.


“Aku berangkat dulu.” Aksa berpamitan seperti biasanya sebelum berangkat bekerja.


“Ayah hati-hati, nggak usah ngebut.” Katanya dengan tulus. Tapi ada sesuatu yang sedang dipikirkan oleh Love. Aksa tahu itu karena mata Love terlihat sayu dan seolah tak berani menatap suaminya lama.


“Ya.” Aksa tak langsung pergi dari sana dan menatap Love sebentar untuk meyakinkan dirinya sendiri. Mengangguk setelah yakin jika perkiraannya benar. Kemudian berbalik untuk segera pergi ke kantor.


*.*


‘Aku tahu kalau kamu nggak nyaman. Tapi memang begitulah faktanya.’ Satu chat kembali muncul di layar ponsel Love dan membuat perempuan itu menghela napas lelah. Dia tak bisa menerima apa yang dikatakan oleh Jo semalam.


Berusaha menganggapi itu, dia membalas ‘Terima kasih, aku sangat tersanjung rasanya’ dengan ditambah emoticon menutup bibir seolah semua itu hanyalah bualan saja.


‘Kamu anggap ini hanya main-main saja kan, Love?’ kening Love mengernyit dengan balasan Jo. ‘Aku, Jo mu. Jo yang akan menghibur kamu ketika kamu merasa resah, itu lah Jo yang mencintai kamu’


Bukan hanya gedoran biasa yang berdetak di jantung Love sekarang, tapi seperti dia dijatuhi hukuman mati sedangkan dia tidak melakukan kesalahan.


‘Cinta kamu nggak perlu tiimbal balik kan, Jo? Karena akunudah pasti nggak akan bisa membalasnya’ Love memang tak akan pernah berbelit dengan ucapannya. Memangnya apa yang akan diharapkan oleh Jo? Toh dia adalah orang yang sangat tahu jika Love begitu sangat mencintai Aksa sejak dulu.


‘Jujur, aku belum menikah karena aku sangat mengharapkan kamu adalah istriku. Tapi semua itu hancur karena kamu akan terus memilih Aksa sampai kapan pun’


Love mengetikkan sesuatu sebagai balasan ketika sebuah teriakan membuatnya kehilangan fokusnya.


“Non Ixy!” Tukang kebun rumahnya berteriak sambil masuk ke dalam kolam renang. Mata Love seketika melotot dan berlari mendekati kolam renang dengan wajah pucat dan tentu saja panik.


“Ixy!” bocah kecil itu bernapas tersengal karena beberapa detik yang lalu tercebur ke dalam kolam dan tanpa pelampung. Bocah itu seperti biasa belari-lari dan terpeleset ke dalam kolam. Beruntung, karena tukang kebun


mengetahui hal itu dan langsung menolongnya.


“Ixy.” Tangis Love sudah tak bisa lagi dibendung, dipeluknya bocah itu yang pucat dan terus terbatuk. “Maafin bunda, Nak. Maafin bunda.” Begitu racaunya. Dan semakin panik ketika Ixy memejamkan matanya.


Love berterika meminta semua orang untuk segera mengantarkannya ke rumah sakit. Hatinya sudah tak lagi berada di dalam rasanya. Ketika mobil sudah membelah jalanan kota Jakarta pun, dia tak sanggup untuk berhenti menangis.


“Bangun, Sayang. Bangun. Pak cepat.” Teriak Love dengan keras. Dia ingin segera sampai ke rumah sakit karena Ixy tak kunjung membuka matanya.


Setelah sampai di rumah sakit, Ixy langsung mendapatkan pertolongan. Dokter langsung memasangkan oksigen ke hidung bocah itu. Kekhawatiran itu tak perlu lagi dipertanyakan. Love rasanya ingin mati saja sekarang.


Menunggu dokter keluar dari ruangan, seolah dia menunggu hujan di musin kemarau. Setiap detiknya seperti ratusan tahun. Tubuhnya lunglai seperti tulang yang dimilikinya itu di lolosi dari tubuhya. Tak lama, entah siapa yang mengabari, kedua orang tuanya dan kedua mertuanya datang dengan wajah tak kalah paniknya.


Sontak saja Love melemparkan tubuhnya di dalam pelukan sang bunda. “Aku akan mati kalau terjadi apa-apa sama Ixy, Bunda.” Begitu racaunya dengan deraian air mata. “Aku benar-benar akan mati, Bunda.” Tak ada yang sanggup


membuka mulut mereka untuk menghibur perempuan itu sekarang.


Apalagi setelah pelukannya terurai, matanya menangkap Aksa yang berlari dengan panik ke arah dirinya. “Bagaimana keadaan Ixy, Bun?” napas Aksa tersengal karena berlari. Love menatap lelaki itu dengan takut dan berurai air mata.


“Mas!” Love memberanikan diri untuk mendekati Aksa, tapi sayangnya lelaki itu menghidar.


“Aku akan meminta penjelasan nanti setelah Ixy dinyatakan baik-baik saja.” Bahkan lelaki itu tak mau menatapnya. Itu benar-benar menghancurkan hati Love berkeping-keping. Ini memang kesalahannya. Dia mengakui itu, tapi dia


butuh Aksa untuk menguatkan hatinya.


Tak lama, ruangan tersebut terbuka. Dokter muncul dengan wajah yang tak bisa terbaca ekspresinya. “Tolong untuk lebih berhati-hati kalau mengajak anak-anak berenang.” Itu awalnya. “Beruntung, putri anda segera mendapatkan pertolongan. Karena kalau tidak, maka kami tak akan bisa menolongnya.”


“Putri anda baik-baik saja, dia tadi hanya kaget tapi juga tidak bernapas selama beberapa detik, dan itu membuatnya pingsan.” Semua orang bernapas lega mendengarkan itu.


“Boleh saya masuk ke dalam, Dok?”


“Tentu.” Dokter itu tersenyum memberi persetujuannya. Bukan hanya Love yang masuk ke dalam ruangan tersebut, Aksa juga.


Sampai di ruangan, Love tak bisa membendung tangisnya. Bibir Ixy pucat dengan selang oksigen di hidungnya. “Maafkan bunda, Sayang. Maafkan bunda.” Sambil menciumi pipi putrinya. Penyesalan terlihat sekali di wajah


perempuan itu.


Aksa menatap itu dalam diam. Tangannya mengelus rambut bocah itu dan mencium keningnya. Bibirnya tertutup rapat tak mengatakan apapun. Love memang menciut berada di ruangan yang sama dengan suaminya dan memiliki kesalahan yang bisa dikatakan sangat fatal.


“Maafkan aku, Mas. Aku sungguh minta maaf.” Mata perempuan itu terlihat bengkak dan menatap suaminya memelas. “Aku….” Bahkan untuk meneruskan ucapannya saja dia tak memiliki kata yang pas.


Tatapan mata Aksa dingin sekali. Ini kali pertama dia mendapatkan tatapan seperti itu dari suaminya. Tanpa mengatakan apapun, Aksa berbalik dan akan keluar. Love buru-buru mengejar dan mencekal tangan lelaki itu. “Aku mohon,” tangisnya kembali keluar. Wajahnya menunduk dengan kedua tangan memegangi lengan suaminya. “Maafkan aku. Aku sangat menyesal. Aku bersalah.”


Aksa melepaskan kedua tangan Love di lengannya dan mengatakan hal yang membuat Love tergugu. “Peringatanku sepertinya sudah nggak


mempan lagi di kamu. Sampai kesenanganmu membuat anakku menjadi korban.” Dunia Love terasa hancur tanpa tersisa. Tubuhnya bahkan luruh ke lantai dan tangisnya seketika berhenti tapi sakit di dalam hatinya benar-benar parah.


*.*