Blind Love

Blind Love
Kisah 54



“Kenapa lo?” pulang sekolah, Rigel meminta Al untuk datang di kafe tak jauh dari sekolah mereka. Ada yang ingin dikatakan, katanya. Al menyetujui dan disinilah mereka sekarang. Duduk berdua saling berhadapan.


Bagi Rigel, orang yang paling bisa dipercaya adalah Al. Bukannya Rigel tak memiliki teman lelaki yang lain, tapi Al lebih dekat dengannya dibandingkan siapapun.


“Gue suka sama El.” Katanya to the point. Rigel menatap ekspresi Al yang sama sekali tak menunjukkan keterkejutan. “Tapi semuanya menjadi rumit ketika gue harus mengambil keputusan berlari dari perasaan gue.” Al sama sekali tak mengatakan apapun. Membiarkan Rigel berbicara sampai selesai.


“Gue takut hubungan baik kami akan hancur karena suatu saat nanti kami hanya menjadi mantan pacar dan hubungan itu akan canggung. Gue berusaha untuk mencari pelarian ke cewek lain, nyatanya itu sama sekali nggak berhasil.” Rigel menyesap minumannya, sebelum melanjutkan.


“El tahu tentang perasaan gue begitupun dengan pacar gue. Gue sekarang baru sadar apa yang gue lakukan ini benar-benar brengsek. Gue sekarang nggak tahu apa yang harus gue lakukan. Di satu sisi, gue mau memutuskan hubungan gue sama pacar gue, tapi gue nggak bisa karena akan ngebuat El yang disalahkan. Tapi di sisi lain, gue nggak mau El sama orang lain.”


“Lo tahu kata egois?” Al bertanya dan Rigel tentu paham apa maksudnya.


“Gue tahu gue egois.” Katanya dengan nada rendah.


“Kali ini gue benar-benar lemah, Al.” Wajah Rigel memang terlihat kuyu mungkin karena efek dari memikirkan masalah itu terus-menerus.


“Lo tahu? Kalau gue mau, gue akan marah sama lo dengan apa yang sedang lo lakuin sekarang?”


“Lo berhak marah sama gue.”


“Tapi gue marah pun nggak akan membuat masalah lo lantas selesai begitu saja.” Al menatap fokus pada Rigel dan tak lepas sama sekali. Rigel memijat pelipisnya mencoba untuk merilekskan kepalanya.


“Gue butuh saran dari lo.” Rigel serius. Membuat Al menghela nafas panjang.


“Benar apa yang dikatakan sama El, lo memang harus berusaha bertahan dengan pacar lo. Lo singkirkan dulu perasaan lo sama El, lo__”


“Mana bisa, Al?” Rigel menyela, “Gue setiap hari ketemu sama dia. Bicara sama dia, ngobrol sama dia, tatap muka sama dia, gimana cara gue nyingkiran perasaan gue?”


“Itu adalah tugas lo mencari tahu.” Kata Al, “Lo udah mengambil keputusan dan lo harus mau bertanggung jawab dengan keputusan yang lo ambil.” Ucapan itu sama persis dengan apa yang dikatakan El waktu itu. Dan Rigel membatu mendengarnya.


“Gue nggak bisa kasih saran apapun sama lo Gel. Gue serius. Kalau gue boleh bicara, lo terlalu gegabah mengambil keputusan dan itu hanya dilakukan sama orang yang *****.” Dan itu juga yang El katakan tempo hari. Dan Rigel benar-benar paham, jika kembar ini betul-betul sehati dan sepemikiran. Mengerikan.


Dan setelah curhatan itu, Rigel akhirnya mencoba dan mencoba untuk tetap bersama Liondra. Dia mencoba untuk menjadi kekasih kebanyakan, namun dia sama sekali tak mencoba untuk mencintai gadis itu. Entah hal itu memang susah dilakukan, atau memang benar-benar tak ingin dilakukan.


El pun tak menghiraukan itu. Dia mengatakan jika dia menyukai Rigel, tapi entah sudah sampai tahap mana rasa suka itu berkembang. Dan situasinya sudah mulai kembali normal sekarang. El dan Rigel sudah seperti biasanya. Mereka sudah saling berkata sinis ketika ada hal yang perlu dikomentari.


“Gue mau, Gel.” Rigel sedang memakan soto sedangkan El hanya mengunyah snack sejak tadi tanpa memesan apapun.


Tanpa banyak kata, Rigel menyuapkan makanan berkuah tersebut ke dalam mulut El. Itu bukan pemandangan asing bagi yang melihatnya. Tapi dua orang yang berperan itu mana peduli dengan komentar jahat netizen? Santai saja mereka.


“Enak juga ternyata.” Komentarnya. Dan membuka kembali mulutnya untuk meminta disuapi lagi.


“Kalian benar-benar tak tertolong.” Ares tanpa permisi duduk di satu meja dengan El dan teman-temannya. Bersidekap di depan dada, menatap dua orang tersebut dengan wajah geli.


“Kami nggak minta pertolongan siapapun.” Sinis El, “Dan lo juga nggak harusnya nimbrung sama kami.” Katanya dengan lancar tanpa hambatan.


“Mau lagi nggak?” Rigel menawari.


“Nggak ah. Gue sebenernya lagi proses diet.”


“Diet macam apa yang ngemil snack-snack kayak gini?” Odel melototi El, “Ini lemaknya jauh lebih tinggi, Kampret.”


“Hei, kakak ipar.” Suara El cukup keras ketika mengatakan itu, “Jaga ucapanmu. Kalau gue kampret, Al juga kampret. Jadi lo macarin kampret.” Ada yang mendengar dan mereka terkekeh geli. Hanya dengan teman-temannya lah, El bisa berbicara tanpa nada sinis dan kaku.


Odel yang hampir membuka mulutnya untuk membalas ucapan El sama sekali tak bisa. Dan akhirnya dia hanya mendumel saja. Sambil memanyun-manyunkan bibirnya. Bukan hanya El yang menyeringai, tapi Rigel pun bahkan menjitak kepala Odel dengan pelan.


“Lo mau tubuh lo kayak papan penggilesan?” Rigel yang menanggapi apa yang dikatakan oleh El.


“Dan harus banget lo percaya sama bocah ini?” Odel masih tak terima, “Nggak ada dalam sejarah kalau El itu mau diet?”


“Ish… Ish… Ish…” santai El, “Penting banget ya buat dibahas apa yang gue bilang? Kalian ini benar-benar nggak ada kerjaan.” Katanya sambil berdiri. Odel tak melepaskan pandangan dari sahabatnya itu, dan dia memahami kalau El pasti akan memesan sesuatu.


Meneliti setiap menu, yang ada di stand kantin. Berhenti di penjual bakso. “Pak, saya mau bakso, nggak pakai mie, kuah cuma dikit banget.” Katanya memesan.


“Minunnya, Mbak El?”


“Jus sirsak, susunya agak banyak ya, Bu.” Karena yang bertanya adalah istri dari penjual bakso, karenanya dia menjawab perempuan paruh baya tersebut.


“Segini cukup, Mbak?” penjual itu menunjukkan banyaknya kuah yang akan dimasukkan ke dalam mangkuk.


“Cukup, Pak.” Katanya mengangguk-angguk.


“Awas, Mbak. Takutnya ada yang nyenggol lagi.” Ibu itu berucap pelan, tapi El menjawab dengan suara agak keras agar semua orang yang ada di sana mendengar.


“Kalau ada yang berani lagi, saya nggak bakalan diem, Bu. Saya akan balas sampai ke akar-akaranya.” Katanya sambil menyeringai.


“Makasih, Pak, Bu.” Katanya sambil berlalu dari sana dan membawa nampan yang diatasnya ada makanan pesanannya.


Dan Odel melihat apa yang dibawa El itu sambil menggelengkan kepalanya. Satu mangkok bakso dengan porsi yang lumayan banyak, terhidang di depan El.


“Ini beneran, jinja enak.” Katanya. ‘Jinja’ adalah Bahasa Korea yang berarti ‘benarkah’ memang selalu menjadi kata yang akhir-akhir ini disukai oleh El. Karena dia memang suka menonton hal apapun tentang Korea, karenanya dia sering sekali mencampur bahasanya.


“Lo mau?” dia menawarkan kepada Rigel dan Odel, minus Ares yang masih di sana.


Karena hanya dia yang tidak ditawari, maka lelaki itu complain, “Lo nggak nawari gue, El?”


“Gue nggak suka basa-basi.” Katanya santai sambil mengaduk bakso yang sudah dibumbui kecap, saos, dan sambal.


“Astaga.” Kata Ares tak habis pikir, “Bisa seblak-blakan itu ya lo?” kata Ares benar-benar heran. Dia sudah mengenal El beberapa bulan ini, tapi masih saja imun dengan keajaiban gadis itu.


“Itulah gue.” Wajah El menyebalkan ketika mengatakan itu. Dia tak ingin membuat orang merasa diperhatikan olehnya hanya karena masalah sepele, itu adalah salah satu alasannya.


*.*


“Udah lama?” tanya Odel.


“Enggak juga, kamu udah lama nunggu?” tanya Hoshi kepada adiknya itu.


“Enggak juga. Lima menit lalu baru nyampai.” Mungkin jika ada yang melihat bagaimana ekspresi orang-orang yang melihatnya akan bertanya-tanya siapa lelaki asing tersebut. karena memang bukan hanya mereka, Rigel pun memiliki tanda tanya besar di kepalanya. Hanya saja tidak diutarakan.


“Hai! El.” Hoshi melambaikan tangannya di depan El dengan senyuman manis.


“Hai!” katanya dengan santai tanpa minat mengatakan apapun.


“Si jutek ini.” Hoshi mengeratkan giginya karena merasa jika dirinya sedang gemas dengan gadis itu, “Udah punya cowok belum?” tanyanya dengan alis dinaik turunkan untuk menggoda, “Haish!” serunya lagi, “Jutek mana ada yang deketin, udah tepar duluan dilirikin.”


“Serah lah.” El sama sekali tak mengelak dengan apa yang dikatakan oleh Hoshi kepadanya. Odel yang sudah terbiasa melihat mereka seperti itu, memang sudah tidak asing lagi.


Al datang, lelaki itu dengan santai melangkah mendekati gerombolan kembarannya, tapi matanya penuh peringatan. Ada lelaki asing di samping kekasihnya dan itu membuat dirinya bertanya siapa gerangan lelaki tersebut.


“Hai!” Odel menyapa duluan. Bibirnya membentuk senyum dan ditanggapi dengan anggukan kepala oleh Al.


“Hai!” balasnya, “Belum pulang?” mereka berdua memang tidak ada kesepakatan jika Al akan mengantarkan kekasihnya itu pulang ketika selesai sekolah. Karena Al bersama El dan Odel selalu diantar jemput sopir.


“Belum. Masih nungguin kamu.” Sejak tadi, baik Al yang baru datang, ataupun Rigel yang sudah berada di sana sejak tadi, tak ada dari mereka yang memasang senyum sama sekali. Entah apa yang dipikirkan oleh kepala mereka.


Al juga tak berminat bertanya, tapi matanya jelas mengatakan hal lain. Kesinisan itu terlihat nyata.


“Kamu nggak kenalan sama dia, Al?” El yang mengatakan itu memberi kode kembarannya dengan menatap Hoshi yang sejak tadi berdiri di sebelah Odel.


Al pun dengan berani menatap lelaki itu. Tanpa kata. “Oh ya! Al, kenalin, dia__”


“Gue orang yang sayang sama Odel.” Hoshi mengangsurkan tangannya, di depan Al. “Hoshi.” Katanya dengan ringan.


“Al.” Itulah cara Al memperkenalkan dirinya. Dia tentu menerima uluran tangan Hoshi, tapi auranya jelas sekali tak bersahabat.


“Pacar Odel?”


“Ya, begitulah.” Jawabnya dengan ringan. Al tidak akan terpancing terlebih dulu karena ucapan sayang yang diberikan oleh Hoshi kepada Odel yang memang adalah kekasihnya.


“Gue mau ajak dia jalan-jalan. Apa gue harus minta ijin dari lo?” tanya Hoshi mencoba memancing.


“Kamu mau?” Al justru bertanya. Odel terlihat kaget sebetulnya, tapi dia hanya mengangguk.


“Boleh?” sepertinya kekagetan itu juga menjalankan ide di dalam kepala Odel untuk mengerjai kekasihnya.


“Bisa memastikan kalau Abang bisa menjaga dia? Antar pulang dengan selamat, dan jangan melakukan hal lain selain jalan-jalan.” Kalau isi pemikiran Hoshi bisa tertulis jelas di atas kepalanya, mungkin di sana akan tertulis dengan jelas betapa lelaki itu kaget dibuatnya.


“Lo nggak penasaran siapa gue?”


“Abang sudah mengatakan tadi. Abang adalah orang yang menyayangi Odel.”


“Lo nggak cemburu?”


“Cinta nggak membuat gue menjadi cemburu buta.” Odel merasakan getaran di dadanya. Haruskah dia merasa bangga sekarang? haruskan dia menyalakan kembang api betapa dia menyukai kata-kata Al yang baru saja dikatakannya?


Astaga! Ini benar-benar konyol. Tahan Del, lo nggak bisa tersenyum kayak orang gila sekarang. Itu adalah ucapan yang dikatakan oleh Odel kepada dirinya sendiri.


Hoshi terkekeh pelan. “Oke!” jawabnya, “Lo bisa, nggak hubungi dia sampai malam?”


“Batas jam malam dia adalah pukul setengah sepuluh. Kalau di waktu itu Odel belum menghubungi gue, gue anggap ini adalah pelanggaran. Dan gue harap Abang nggak keberatan kalau melacak dia dan mendatangi kalian.” Al sama sekali tak main-main.


Dia tak pernah keluar dengan Odel dan melampaui jam malam gadis itu. Dia benar-benar menjaga kekasihnya dengan sangat baik.


“Apa itu nggak terlalu berlebihan?” Hoshi menaikkan satu alisnya, “Lo terlalu nggak mempercayai gue sepertinya.”


“Gue nggak pernah semudah itu mempercayai orang yang baru gue kenal. Termasuk Abang. Karena Odel mengatakan langsung kepada gue untuk pergi sama Abang, karena itu gue merasa Abang bukanlah orang jahat.”


“Oke!” cukup sampai di sini hari ini. Begitu batin Hoshi. Lain kali kalau gue ketemu lagi sama elo, gue mungkin akan berakting lebih bagus lagi. Lanjutnya lagi.


“Kami pergi dulu kalau gitu.” Pamit Hoshi.


“Nggak papa kan?” Odel sepertinya masih tidak yakin dengan keputusannya. Padahal mereka hanya ‘berperan’ tapi hati Odel sepertinya memang tak tega.


“Nggak papa. Kamu hati-hati. Aku nggak akan ganggu kamu, tapi kamu tahu apa yang harus kamu lakukan.” Jawab Al dengan sungguh-sungguh, “Jaga diri.” Tambahnya sebelum gadis itu masuk ke dalam mobil.


“Iya.” Odel tersenyum dan pamit kepada Al dan yang lainnya. Tak lama mobil tersebut melesat pergi meninggalkan sekolah. Tiga orang tersebut masih berdiri di tempatnya dan dengan bibir yang tertutup rapat. El bersedekap di depan dada, dan menatap kedua lelaki yang ada disampingnya.


“Sampai kapan kalian akan berdiri di sini?” tanyanya, “Pulang.” Katanya sambil berjalan lebih dulu.


“Dia siapa?” tanya Rigel setelah lama tak mengatakan apapun.


“Hoshi.”


“Gue bukan tanya namanya. Maksud gue ada hubungan apa dia sama Odel, dan dari mana lo kenal sama dia?”


“Bukannya dia tadi udah bilang kalau dia adalah orang yang sayang sama Odel?” percuma bertanya dengan El. Karena gadis itu sama sekali tak akan membuat semua lantas terjawab dengan gamblang.


“Dia bukan orang yang akan menyakiti Odel seperti orang waktu itu kan?” rasa penasaran Rigel sepertinya memang tak tertolong lagi sekarang. Lelaki itu menjadi lebih cerewet dari biasannya. Dan itu berbanding terbalik dengan Al yang tak menanyakan apapun kepada El. Seolah semua itu tak menjadi masalah bagi dirinya ada yang mengatakan sayang untuk kekasihnya di depan wajahnya.


Tapi pikiran Al siapa yang tahu kan? Bisa saja dia diam namun menyimpan sesuatu yang mengerikan.


*.*