
Virgo berjalan cepat diikuti oleh Edo dan juga Tere di belakangnya menuju tempat dimana anak-anaknya berada bersama Sam dan juga Rai. Dia baru saja keluar dari kelasnya dan menanyakan keberadaan teman-temannya. Memang tidak terjadi apapun, tapi Virgo tetap mengkhawatirkan anak-anaknya.
Sudah dekat dengan tempat Sam dan Rai berada dia bisa melihat jika kedua anaknya sepertinya nyaman-nyaman saja dengan para Om nya.
“Tidur?” Mata Al sudah tertutup dengan nafas yang teratur. Virgo mencium anak-anaknya itu dengan sayang.
“Habis gue kasih susu, mereka langsung terlelap.” Kata Sam mengadu, “Tapi El masih nggak mau tidur.” Menunjuk Rai yang berusaha menidurkan El dengan membawanya kesana kemari. Sam terkekeh, “Rai frustasi banget kayaknya.” Virgo bisa melihat Tere meminta El dari gendongan Rai namun tak dihiraukan oleh lelaki itu. Tere mendekati tempat Virgo dan memberengut sebal.
“Nggak boleh aku ajak si El nya.” Adunya dengan muka yang sebal.
“Nggak bakalan mau lah dia, dia kan mau nidurin El dari tadi nggak berhasil.” Senyum mengejek Sam keluar.
“El emang agak susah kalau sama orang yang jarang sama dia. Kalau Rai udah biasa sama dia, cepet itu tidurnya.” Memang sifat dari si kembar ini jelas berbeda. Mereka seperti tak kembar saja.
Rai mendekat, “Si cantik nggak tidur,” El memang tidak menunjukkan kerewelannya, tapi bocah itu sama sekali tak mau memejamkan matanya padahal sudah terlihat jika sudah mengantuk.
“Mau sama Ayah?” Virgo mengulurkan kedua tangannya dan langsung disambut oleh El dengan menggapai-gapai tangan Virgo. Tere gemas melihat itu. Menggeser Virgo, dia malah mengambil alih El dalam gendongannya.
“Bobok sama Onty ya.” Katanya sambil menepuk bokong bocah itu dan mengelus punggungnya dengan lembut.
Menyanyikan lulabi agar bocah itu mau segera tidur. Dan yang membuat Rai tak terima adalah El bisa langsung memejamkan matanya ketika tersampir di pundak Tere. “Nggak adil banget sih?” matanya melotot tak terima melihat itu, yang membuat teman-temannya tertawa.
Tere memang sering datang ke rumah Libra dan bermain dengan si kembar, karenanya El sudah terbiasa dengan kehadiran Tere, dan jelas kenyamanan dari pelukan gadis itu sudah dirasakan oleh El.
“Makanya sering-sering temui mereka, bocah-bocah juga paham mana yang dirasakan nyaman mana yang enggak.” Edo mencibir Rai yang mendapatkan dengusan dari Rai.
Tak lama setelahnya, Libra datang dengan sedikit berlari. “Gimana anak-anak?” sepertinya perempuan itu sudah tak bisa membendung kekhawatirannya.
“Lo lihat kan, dia tidur dong sama gue.” Bangga Sam ketika mengatakan itu. Dan menunjukkan Al sudah tertidur di pelukannya.
“Syukur, deh. Gue dari tadi mikir mereka terus di kelas. Takut kalian nggak bisa nenangin mereka.” Libra mengambil Al dalam pelukan Sam dan menggendongnya memastikan jika bocah itu sudah bisa di tidurkan di stroller.
“Pulang?” Virgo menawarkan, “Kamu udah nggak ada kelas lagi kan?”
“Tapi kamu masih punya kelas.” Jawab Libra enteng.
“Tapi kita juga nggak bisa lama-lama membiarkan si kembar di sini. Mereka pasti kelelahan setelah ini.” Apa yang dikatakan oleh Virgo memang benar, anak-anak tidak boleh di ajak keluar rumah terlalu lama seperti ini. Maka Libra mengangguk.
“Biar aku naik taksi aja gimana?” Libra berfikir Virgo pasti akan telat jika harus mengantarkannya terlebih dulu.
“Kenapa naik taksi?”
“Ini udah jam berapa, Yang? Kalau kamu antar kami pulang dulu, kamu pasti akan terlambat masuk kelas.” Dan sepertinya Virgo memang sama sekali tak peduli akan hal itu.
“Ya udah nggak papa. Sekali-kali bolos.” Libra menggeplak lengan suaminya.
“Nggak boleh.” Katanya dengan tegas,
“Daripada kamu naik taksi?” teman-teman mereka tak ada yang menanggapi. Sam dan Rai jelas ada kelas setelah ini, Edo dan Tere yang memang satu kelas dengan Virgo tak perlu lagi ditanya. Karenanya mereka membiarkan saja pasangan itu berdebat.
“Lah belum pulang?” Zidan dan Rion tiba-tiba datang. Dengan Shila menyusul di belakangnya.
“Belum, mau pulang naik taksi nggak boleh.” Libra ‘mengadu’ pada teman-temannya.
“Bocah-bocah mau kamu ajak taksi? Lo juga aneh. Ayo! Gue antar.” Penawaran itu tak langsung mendapatkan jawaban dari Libra.
“Gue mau.” Shila nimbrung, “Gue ikut.” Lanjutnya lagi kepada Zidan.
Virgo mengangguk. “Boleh,” katanya, “Gue emang ada kelas lagi setelah ini.” Menjelaskan.
Tere meletakkan El ke stroller karena memang sudah tidur dengan pulas. Dan membiarkan dibawa pulang oleh Libra.
*.*
‘Scutz’ adalah aplikasi pendeteksi dari kejahatan social media seperti peretasan akun oleh pihak yang tak bertanggung jawab dan bisa diakses melalui smartphone. Aplikasi itu sepertinya sedang menjadi perbincangan di kalangan pemuda-pemuda karena mereka bisa mendekteksi kejahatan tersebut sebelum si pelaku melakukan aksinya. proteksinya begitu hebat. Akan ada notifikasi jika akun social mendia itu telah diotak-atik oleh hekcer.
Scutz adalah juga sebuah media social yang bisa digunakan untuk menshare kegiatan seperti media social pada umumnya, namun dengan kelebihannya jelas tak dimilliki oleh media social lain. Sudah di unduh satu juta pengunduh dalam waktu enam bulan.
Dan itu pancapaian luar biasa. Dan Virgo otak dari aplikasi tersebut bahkan sama sekali tak menyangka. Dia memang sudah bekerja keras selama tiga tahun ini, tapi pencapaian itu tak pernah diduganya.
“Adek! Jangan lari-lari.” Suara Libra yang menegur dua anaknya terdengar. Umur Al El sudah dua tahun. Kelucuan mereka sudah tak lagi bisa dibendung. Mereka sudah berbicara, dan kecadelan itu membuat semua orang gemas.
Libra meletakkan minuman di atas meja dan ikut duduk bersama suaminya di sofa. Di sana sudah ada teman-teman Virgo.
“Kita memang butuh kantor.” Virgo memulai, “Kita bisa sih bekerja di rumah, Edo juga melakukannya, tapi kalau ada hal lain yang kita harus membicarakan masalah penting kan harus bertatap muka.” Mereka memang baru memulai karirnya, tapi persiapan mereka memang harus matang.
Rai, yang memang ‘tukang gambar’ adalah orang yang mendesin dari logo Scutz. Sam yang mengerti tentang hukum akan menjadi penasehat, meskipun memang belum ahli dalam hal itu. mereka semua memang dalam tahap belajar semuanya.
Tak ada yang pintar atau lebih pintar. Mereka semua sama.
“Emangnya lo udah ada duit buat sewa ruko?” Edo yang bertanya.
“Kan aplikasi ini udah menghasilkan uang.” Jawab Virgo mengingatkan Edo. Lelaki itu mengangguk.
“Gue baru tahap mencoba.” Edo terus terang, “Gue nggak mau buat yang berat-berat dulu deh, game aja dulu. Apalagi sekarang kan musimnya game.” Virgo menyetujui hal tersebut.
“Kalau begitu, lo belajar aja. Kita butuh sharing banyak hal terkait hal ini.” Jawab Virgo lugas, “Dan tentang keuangan, di sini ada orang akuntansi, kita serahkan aja sama dia.” Katanya melirik sang istri yang sejak tadi hanya mendengarkan sambil memantau anak-anaknya yang sedang bermain di karpet,
“Aku?” tunjuk Libra pada dirinya sendiri.
“Iya. Emang siapa lagi? Kalau memang kamu butuh teman, kamu bisa ajak Shila. Ya tapi aku belum bisa bayar banyak ke dia, kalau memang dia mau.”
“Yang, aku sih nggak masalah menjadi bagian keuangan, tapi kalau misalnya sama Shila, Zidan dan Rion tidak ikut serta, itu nggak bagus.” Libra pasti merasa tak enak dengan dua teman lelakinya itu.
“Kalau gitu lo bisa tangani sendiri, Li.” Sam nimbrung. “Toh kita hanya perlu tahu uang masuk dan keluar aja, belum ada hal yang terlalu banyak yang diurus.”
“Benar,” Rai menjawab, “fokus kita kan masih dalam tahap pengembangan aplikasi ini.” Dan Rai benar, memang tak mudah untuk membuat sebuah ‘Perusahaan’ apalagi dari mereka memang sama-sama belum ada pengalaman sama sekali. Jadi hal itu tentu tak akan mudah.
*.*
Virgo menemui ayahnya ketika ke kantor untuk membicarakan masalah ‘bisnisnya’ yang akan dia buka.
“Papa bangga sekali sama kamu.” Firman tersenyum merekah mengetahui pencapaian yang didapatkan oleh putranya.
“Terima kasih, Pa.” Virgo ikut tersenyum menjawab ayahnya, “Tapi aku mau bicarakan sesuatu sama Papa,” tatapan serius Virgo benar-benar terlihat jelas di mata Firman membuat lelaki itu mengangguk.
“Katakan saja.”
Menghela nafas, Virgo mulai mengatakan keinginannya, “Aku mau pinjam dana ke Papa.” Katanya berterus terang, “Aku mau menyewa ruko untuk aku jadikan markas bekerja.”
“Papa akan belikan buat kamu,” Firman tak akan tak membantu putranya, tapi tentu hal itu ditolak oleh Virgo.
“Kalau memang aku nggak bisa nangani ini, aku akan terima apapun yang Papa kasih ke aku, tapi untuk sekarang, aku ingin pinjam dulu. Dan aku akan berjuang lebih dulu.” Virgo tak ingin selalu menerima bantuan dari ayahnya. Dia adalah seorang lelaki dan dia harus menjadi lelaki yang tak manja.
“Tapi bukannya lebih mudah jika tempat itu adalah milik kita sendiri?”
“Aku takutnya nanti, kami ingin suasana baru dan pindah ke tempat lain. Jadi biarkan kami memulai dari bawah, Pa.” Virgo serius dengan ini dan tak ingin bantahan.
Firman menghela nafas ketika mendengar kesungguhan dari putranya. “Oke!” Putusnya, “Papa akan kasih kamu pinjaman untuk membuka kantor baru.” Virgo tersenyum mendengarkan keputusan sang ayah.
“Terima kasih, Pa.” Virgo memang mendapatkan kehidupan yang selalu dimudahkan oleh Tuhan. Karenanya, ketika dia mendapatkan ujian dalam hal yang lain, maka ujian itu terlalu susah untuk dipecahkan.
Dan Ardi adalah kesulitan itu. Lelaki yang dihadapinya ini memanglah lelaki yang kaku dan keras kepala. Namun setelah dua tahun berjalan, Virgo sudah tak lagi mencoba untuk mendekat. Dia fokuskan dirinya untuk bekerja dan bisa mewujudkan semua mimpinya. Dan kali ini mimpi itu sepertiya memang mulai nyata terlihat.
Virgo akan berjalan dengan hati-hati dan melangkah dengan pasti untuk menghadapi dunia ini. Dia tak boleh lemah dengan halangan-halangan yang nanti akan dia dapatkan. Karena orang hidup di dunia ini hanya memiliki satu ketentuan, siapa yang tak lelah untuk berjuang meskipun berkali-kali gagal adalah seorang pemenang.
Dan menjadi pecundang bukanlah sifat dari Virgo. Dia adalah lelaki sejati, maka menyerah tak akan pernah ada dalam kamus hidupnya.
Virgo pernah menyerah mengenai hubungannya dengan Libra. Tidak! Sejujurnya itu bukan menyerah, dia hanya menuruti apa yang dikatakan oleh Ardi agar tak mendekati putri lelaki itu. Maka dia menuruti.
Baiklah, sepertinya sudah selesai membicarakan masa lalu Virgo, karena kita akan fokus pada masa sekarang dan masa depan lelaki itu.
Virgo yang keluar dari ruangan ayahnya membawa senyum kelegaan itu membuat orang yang melihat juga tersenyum meskipun lelaki itu sudah tahu jika ayahnya pasti akan membantu, tapI setelah mendapatkan persetujuan langsung dari sang ayah hatinya terlalu bahagia.
Dia bahkan tak menunda untuk mengatakan itu kepada teman-temannya. Dan tentu saja disambut dengan bahagia oleh mereka.
Setelah pulang ke rumah pun dia menunjukkan kebahagiaannya kepada sang istri. “Aku emang yakin kalau Papa nggak mungkin nggak tolong kamu.” Begitu tanggapan Libra kepada Virgo ketika lelaki itu menceritakan obrolannya bersama sang ayah.
“Aku juga mikir kayak gitu, tapi ketika Papa bilang akan batuin aku, nggak tahu kenapa bahagia sekali rasanya.” Ucapnya lagi, “Kayak ketika nggak punya duit, pinjam sama orang dan langsung dikasih. Gitulah rasanya, Yang.”
Obrolan mereka terhenti ketika rengekan dari anak-anak mereka terdengar. “Nda,” suara El terdengar, dan Libra langsung mendekati anak-ananya. Mengangkat El yang menggapai-gapainya minta untuk di gendong.
Libra langsung memberinya El asi agar bocah itu kebali tenang. Libra memang sekarang masih belajar untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik. Apapun pekerjaan rumah dia kerjakan sendiri tanpa asisten rumah tangga. Masih ada baby sitter, terkadang dia lah yang membantu Libra.
Virgo yang tahan untuk ‘menggoda’ Al pun harus mengangkat putranya itu ke dalam pelukannya. Dia terlentang dan meletakkan anaknya di atasnya, mengelus punggung bocah itu sambil sesekali meciuminya. Membuat Libra menggelengkan kepalanya saja. Sepertinya Virgo akan lebih memanjakan anak-anaknya nanti dibandingkan Libra.
Karena Firman juga melakukan hal itu kepadanya. Dan cara dia diperlakukan oleh ayahnya, itulah cara dia memperlakukan anak-anaknya.
“Si kembar udah tidur lagi, sekarang waktunya kita berdua, Yang.”
“Kenapa emang?” Libra yang masih mengelus perut El menatap sang suami, “Waktu apa?”
“Waktu berduaan.” Virgo menaik turunkan alisnya menggoda Libra. Sedangkan Libra hanya terkekeh saja dengan itu.
Namun tak ayal mendekati Virgo yang sedang duduk di sofa kamarnya. Duduk di dekat sang suami dan menelusupkan tangannya ke lengan Virgo. Mereka diam untuk beberapa saat menikmati kebersamaan mereka.
“Kita akan berjuang bersama-sama, Yang.” Mulai Virgo membuka suara, “Kita dirikan perusahaan kita dengan usaha kita. Yang terpenting adalah kita mampu menjalankan perusahaan itu, maka semuanya akan berjalan dengan baik.”
Libra beralih menggenggam tangan Virgo, “Aku akan menemani kamu berjuang. Aku akan tetap ada buat support kamu.” Libra memastikan hal itu, “Itu kan gunanya aku sebagai istri? Menjadi perempuan yang mendampingi suaminya berjuang dan menikmati hasilnya bersama-sama.” Kekeh Libra karena ucapannya sendiri.
“Yang penting nanti pas kamu udah naik daun kamu nggak pengen mama muda aja, Yang.” Celetuknya namun dengan mata yang menatap suaminya penuh kesungguhan.
*.*