Blind Love

Blind Love
Kisah 3



Meeting kedua sudah dilakukan. Keputusan sudah diambil. Dan sudah mendapatkan persetujuan dari Virgo dan Libra. Persiapan pernikahan juga sudah dilakukan. Seperti yang dikatakan sebelumnya, pernikahan itu memang tidak akan diadakan besar-besaran sesuai yang sudah disepakati bersama. Jadi persiapan pun tak memerlukan waktu yang lama.


Libra dan Virgo bahkan bertekad untuk menemui Ardi beberapa waktu lalu. Tapi tak ada hal yang merubah apapun. Tangis Libra bahkan pecah di depan ayahnya karena merasa sangat kecewa dengan keputusan lelaki itu. Tapi hidup akan terus berjalan, meskipun Ardi tak memberikan restunya, tapi mereka akan tetap melangsungkan pernikahannya beberapa hari lagi.


Bahkan sekarang, mereka sudah berada di butik untuk mengepaskan gaun dan yang nantinya akan digunakan setelah akad nikah. Sedangkan akad nikahnya nanti akan menggunakan kebaya berwarna putih bersih.


“Gimana, Ma?” Libra berdiri di depan tiga orang yang menunggunya fitting baju dan gadis itu keluar dari kamar ganti dengan menggunakan kebaya.


Virgo menilai dari atas sampai bawah. Kebaya tersebut memang simple namun terlihat elegan. “Aku suka.” Virgo lebih dulu menilai. “Kamu cocok pakai itu.” Lanjutnya lagi membuat semburat merah muncul di wajah Libra.


“Aku juga mikir gitu, Yang. Cantik menurut aku. Tapi aku belum coba yang lainnya, Yang.” Memang masih ada beberapa kebaya yang harusnya dia coba untuk menjadi perbandingan.


“Kamu suka yang ini?”


“Suka. Rasanya aku sudah klik aja sama kebaya ini.” Kata Libra lagi dengan binar cerah di matanya.


“ Aku suka, kamu juga suka. Pilih aja yang ini.”


“Tapi di dalem masih ada beberapa kebaya yang sayang kalau nggak di coba.” Libra kembali mendebat. Karena berbeda pemikiran.


“Untuk apa mencoba yang lain kalau pilihan pertama sudah nemu yang pas?” begitu kata Virgo dengan ringan. Kedua ibu yang menemani mereka bahkan harus saling pandang karena kalimat Virgo memiliki arti yang ambigu sekali. Namun tak ada dari mereka yang mendebat, “Berarti sayang juga dong kalau aku nggak coba cari cewek lain di luar sana, sedangkan masih ada banyak yang cantik.”


“Yang!” Libra melotot mendengar ucapan Virgo begitupun juga dengan Jihan dan Sintya.


“Itu adalah pengibaratan, Yang.” Serius Virgo, “Memilih pakaian itu ibarat memilih pasangan. Kalau di awal kamu sudah menemukan yang cocok, tak perlu sibuk untuk memilih yang lain. Karena bisa jadi, ketika piilihan kedua dan ketiga kamu merasa nggak cocok, pilihan pertama kamu sudah diambil orang lain. Dan kamu nggak akan mendapatkan apapun.” Libra berdiri sambil menatap Virgo sedangkan bibirnya sama sekali tak berucap apapun.


“Li!” Sintya berdiri dan mendekati Libra karena gadis itu sepertinya terlalu shock dengan apa yang dikatakan oleh Virgo. Padahal, Virgo hanya mengatakan kalimat yang sama sekali ringan.


“Kalau kamu mau coba yang lain, coba saja. Virgo memang seperti itu orangnya.” Ibu Virgo mencoba mencairkan suasana yang memang tiba-tiba terasa hening.


Libra mengangguk dan berlalu dari sana. Setelahnya, Virgo mendapatkan teguran dari ibunya. “Pemikiran perempuan dengan laki-laki itu berbeda, Vir. Kamu nggak boleh begitu. Dia itu pasti pengen coba beberapa baju yang sudah di pajang di sana. Sedih kan jadinya Libranya.”


“Tapi menurutku, Virgo memang benar.” Jihan yang berbicara, “Dia punya prinsip yang sangat bagus. Senyuman itu muncul di bibir Jihan ketika menatapa Virgo, “Laki-laki yang seperti ini, pasti akan menjadi lelaki hebat.” Terlihat bangga ketika menatap Virgo. “Dan Ardi adalah lelaki bodoh yang tidak menyetujui Virgo menjadi menantunya.” Namun kalimat itu dikeluarkan dengan suara yang rendah.


Virgo tak mengatakan apapun, baginya penilaian orang tentang dirinya itu adalah hal yang tidak perlu terlalu dipikirkan. Karena, orang yang tidak menyukai kita, meskipun kita berbuat baik pun akan terlihat buruk di mata mereka. Begitupun sebaliknya dengan orang yang di sukainya, meskipun dia melakukan hal yang buruk, akan tetap benar di mata mereka. Itu adalah hukum alam yang memang sudah terjadi dari ratusan tahun yang lalu.


Masalah gaun dan kebaya sudah terselesaikan. Libra yang mengabaikan ucapan Virgo, lebih memilih tetap mencoba kebaya yang lain tanpa sepengetahuan kekasihnya itu. Namun yang terjadi memang benar. Pakaian-pakaian yang terlihat cantik dan mewah yang dicobanya itu sama sekali tak cocok untuknya. Memang terlihat menakjubkan, tapi ada beberapa bagian yang entah kenapa merasa tak klik saja. Ada yang terasa kebesaran, dan ada yang terasa kesempitan.


Karenanya dia mencoba yang pilihan pertama. Merasa malu dengan dirinya sendiri karena sudah mengabaikan apa yang Virgo katakan.


*.*


Libra menatap foto yang menjadi wallpaper ponselnya. Foto itu adalah fotonya dengan Virgo yang tengah tersenyum lebar di depan kamera. Mereka ada di taman waktu itu sedang berkencan. Dan menyempatkan untuk mengambil foto berdua.


Sebentar lagi dia menjadi seorang istri. Mungkin terdengar biasa saja bagi orang lain namun itu adalah beban bagi Libra. Bukan hanya Virgo yang tak bisa tidur karena memikirkan pernikahannya, itu pun terjadi kepada Libra.


Tapi kebahagiaan yang mereka rasakan bisa menghilangkan kegalauan yang terjadi. Kehadiran satu sama lain, juga membuat perasaan tegang itu menjadi terurai.


“Li!” ibunya masuk ke dalam kamarnya, “Virgo ada di luar.” Libra menoleh dengan cepat ke arah ibunya.


“Nggak ada ngabarin aku kalau dia mau ke sini, Ma.” Tak urung dia juga berjalan untuk keluar kamar.


“Mau ngajak kamu lihat rumah.” Senyum Jihan seperti menyimpan sesuatu dan itu membuat Libra mengetahuinya.


“Mama kenapa?” tanyanya, urung keluar kamar.


“Mama merasa malu sama keluarga mereka.” Jihan sepertiya merasa tak perlu menutupi apa yang sedang ada di dalam dia pikirkan sekarang, “Mereka terlihat mendukung sekali kalian menikah, melakukan sebaik yang mereka bisa tanpa merasa terbebani sedangkan keluarga kita melakukan hal yang sebaliknya.” Libra menunduk mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya dan dia juga menyetujui ucapan tersebut. melupakan jika dia seharusnya segera keluar untuk menemui Virgo.


“Apa ayah akan seperti ini terus, Ma? Kapan dia akan merubah keputusannya?” tak ada orang yang akan mengabaikan begitu saja tentang fakta bahwa dirinya menikah tanpa restu ayahnya.


“Mama masih mengusahakan.” Jihan mencoba untuk menenangkan putrinya, “Setidaknya, dia harus mau menjadi wali nikahmu.” Katanya dengan keyakinan yang begitu besar di dalam hatinya.


“Terima kasih, Ma. Maaf, Libra sudah membuat Mama kerepotan.”


“Nggak ada yang direpotkan, Sayang.” Jihan mengelus kepala Libra dengan sayang, “Mama akan melakukan apapun untuk membuat kamu bahagia. Tanpa ada merasa direpotkan sama sekali.” Dua orang itu sedang berjuang untuk menempa kepala batu dari seorang Ardi. Atau lebih tepatnya Jihan yang melakukannya, karena Libra merasa sudah menyerah dengan keegoisan ayahnya.


Ketukan pintu menyadarkan dua perempuan beda generasi yang sedang mengobrol itu. Mereka saling pandang dan seketika berdiri bersamaan dan membuka pintu kamar tersebut. Virgo berdiri dengan wajah datarnya membuat Libra tersenyum canggung.


“Maaf, Yang.” Hanya begitu saja dia menjelaskan akan keterlambatannya keluar kamar. Beruntung, dia sudah menggunakan pakaian yang pantas, karena itu dia langsung masuk kembali ke dalam kamar untuk mengambil tasnya dan keluar kamar untuk mengajak Virgo segera berangkat.


“Ayo!” Virgo sedang mengobrol dengan Jihan ketika Libra sudah siap. Mereka pamit kepada JIhan dan keluar dari unitnya.


“Sekali-kali nggak buat kamu kepanasan karena pakai motor terus.” Virgo membukakan pintu untuk Libra ketika menjawab. Setelah Libra sudah duduk dengan nyaman, dia menutup kembai pintu mobil, “Kasihan kamunya kalau selalu kena matahari tiap jalan sama aku, gitu sih kata mama.” Virgo sudah siap dengan kemudianya dan langsung menjalankan mobil tersebut untuk berangkat.


“Jadi bukan inisiatif kamu sendiri dong.”


“Awalnya bukan karena mama yang ngomel, tapi aku setuju karena memang kamu kayaknya kok sengsara banget jalan sama aku.”


“Lebay!” Libra mendengus mendengar ucapan Virgo yang menurutnya menyebalkan, “Aku aja lebih suka, Yang naik motor dibandingkan naik mobil.” Lanjut Libra.


“Kalau naik motor kan kamu bisa peluka aku. Iya kan?” godaan itu ditaggapi serius oleh Libra.


“Iya. Lebih nyaman,” katanya tanpa sungkan, “Kamu juga suka kan aku peluk?”


“Jelas dong.” Virgo pun tak kalah sungkannya mengatakan blak-blakan, “Berati kita ini saling menyukai ya, Yang.” Entah kegilaan apa yang sedang merasuki Virgo. Yang jelas itu adalah candaan itu hanya mendapatkan anggukan dari Libra.


Sampailah mereka di sebuah perumahan tak jauh dari kampus mereka. Virgo mengajak Libra turun dan masuk ke dalam salah satu rumah di sana. “Rumah ini?” Libra ingin memastikan, tapi dia tak memiliki kalimat lain untuk melanjutkan.


“Iya. Kita masuk aja dulu. Mama dan papa udah ada di sana.” Libra menurut dan masuk ke dalam rumah bersama Virgo.


Sintya menyambut dengan senyumnya ketika melihat kedua anaknya datang. “Kalian lihat-lhat dulu, kalau mama udah suka.” Begitu katanya dengan wajah puas. Dan Virgo langsung dengan gerak cepat melakukan apa yang diperintahkan oleh ibunya.


Rumah itu memang tak besar. Jika dibandingkan dengan kediaman Firman dan Libra, itu tak ada apa-apanya. Tapi memang begitulah yang diinginkan oleh pasangan itu. Karena mereka sendirilah yang mengurus rumah tersebut nantinya.


“Ini adalah perumahan dengan keamanan yang bagus, papa bisa sedikit lega kalau kalian tinggal di sini.” Firman mengatakan itu dengan sungguh-sungguh. Dalam hatinya memang belum sepenuhnya iklas jika putranya harus tinggal berpisah dengan dirinya. Tapi mau bagaimana lagi, keputusan sudah benar-benar diambil.


“Ini memang perumahan baru, dan rumah ini juga baru, jadi belum ada yang pernah menempati rumah ini. Ada beberapa yang harus kita renovasi agar terlihat nyaman. Libra bisa pikirkan pengennya di renovasi seperti apa biar nanti papa yang atur.” Entah sejak kapan panggilan itu berubah menjadi seperti itu. Libra pun tak pernah merubah panggilannya untuk orang tua Virgo.


“Biar nanti kami pikirkan, Ma, memang harus di renovasi lagi atau enggak. Toh ini juga sudah bagus.” Rumah itu memang tak tergolong rumah mewah, tapi memang sudah dalam kategori bagus. Satu lantai, dua kamar dua kamar mandi, dengan satu kamar mandi di kamar utama. Dapur, yang berdekatan dengan ruang keluarga, dan juga ruang tamu. Di belakang rumah masih ada lahan kecil.


“Kalian suka? Kalau memang belum suka, kita cari di tempat lain.” Ucapan Firman ini seperti menawari anak-anaknya untuk membeli baju saja, “Tapi papa lebih suka di sini. Sebelumnya papa sudah mencari tahu perumahan yang lain, dan ini adalah yang paling bagus menurut papa.” Tentu ketika mengatakan itu kepada Virgo, ketika orang developernya tak ada di sana.


“Gimana, Yang?” Virgo tak mau mengambil keputusan langsung karena ada Libra yang akan menempati rumah itu juga.


“Aku suka,” Libra menganggukkan kepalanya, “Nyaman juga di sini.” Senyumnya terlihat dan membuat Firman dan Sintya ikut tersenyum lega.


“Kalau memang kalian sudah oke, papa akan mengurus semuanya.” Virgo kembali melihat-lihat rumah itu sebelum benar-benar mengambil keputusan. Rumah yang masih kosong sama sekali itu memang terlihat luas, dan dia setuju dengan Libra jika rumah ini memang nyaman.


“Gimana, Yang?” lagi, Virgo bertanya untuk kedua kalinya.


“Aku udah suka. Tinggal nunggu kamu.” Kata Libra.


“Aku mau, Pa.” Dan setelahnya Firman menemui developer dan mengurus semuanya. Rumah itu atas nama Virgo. Dan akan di tempati oleh pemiliknya setelah Virgo sudah resmi menjadi suami dari Libra.


“Kamu nggak nyesel kan, Yang?” Mereka sudah ada di dalam mobil dan sudah membelah jalanan kota Jakarta. Virgo lagi-lagi memastikan jika keputusan yang mereka ambil itu tak membuat menyesal.


“Nggak, Yang. Aku beneran udah suka. Kamu tahu nggak kalau aku udah ngebayangin aja tinggal di rumah itu sama kamu.” Libra menutup wajahnya karena merasa malu dengan apa yang dikatakannya.


“Pasti akan sangat menyenangkan.” Virgo sepertinya memang sudah membayangkan juga hidup berdua dengan Libra, “Mau ke tempat yang waktu itu lagi nggak, Yang?”


Otak Libra lagsung konek, “Jangan, aku nggak mau setelah kesana akan ada kejadian yang tidak diinginkan lagi.” Libra memang sepertinya masih mengalami yang namanya trauma.


“Kalau begitu, mau ke pantai?” Virgo tak akan memaksa Libra untuk itu, karenanya dia memberikan opsi lain.


“Mau!” binar cerah di mata Libra terlihat, “Kita memang nggak pernah kencan ke pantai kan, Yang.” Melihat kekasihnya yang bersemangat seperti ini membuat Virgo tersenyum. Dia memang belum pernah mengajak Libra ke tempat indah itu, karena memang tak pernah sempat. Bahkan ketika baru saja menjalin hubungan, sudah mendapatkan masalah.


Hamparan laut luas terlihat dari jarak yang tak terlalu jauh. Virgo memarkirkan mobilnya dan mengajak Libra untuk turun. Senyum gadis itu terlalu lebar sampai Virgo merasa gemas dengan Libra.


“Seneng?” tanyanya. Pelukan di lengan Virgo begitu erat dan Libra antusias sekali.


“Banget.” Katanya dengan mendongak menatap Virgo, namun kejahilannya keluar. “Nunduk deh, Yang.” Katanya. Virgo memang tinggi sekali. Sedangkan Libra hanya setinggi pundaknya.


“Kenapa?”


“Udah, nunduk aja.” Virgo tak lagi bertanya dan menuruti apa yang diminta oleh kekasihnya. Virgo menunduk mensejajarkan kepalanya di kepala Libra.


Kecupan itu Libra berikan di pipi kekasihnya. “I Love you.” Katanya setelahnya. Kemudian berlalu begitu saja tanpa menghiraukan Virgo yang terkaget dengan tindakannnya.


*.*