
Tragedi tumis kacang lembek sudah berlalu satu minggu yang lalu. Libra masih terus belajar memasak sampai sekarang. Tidak mungkin sekali mencoba seseorang akan membuat masakan itu terasa enak bukan? Proses belajar yang panjang juga harus dijalani.
Sedangkan Virgo yang memang selalu menjadi kelinci percobaan bagi Libra, sudah tak kaget lagi dengan rasa masakan sang istri yang terkadang keasinan, kurang asin, kelembekan, atau rasa-rasa yang lain yang memang aneh di lidah.
Proteskah dia dengan itu? maka jawabannya tentu saja tidak. Karena itu adalah proses dari istrinya belajar. Dan keaktifan perempuan itu lah yang membuatnya merasa bangga. Dia suka sekali berselancar di internet mencari tahu resep-resep masakan. Dan di tempel menjadi satu resep-resep itu agar terlihat rapi.
Seperti semalam misalnya, dia yang suka sekali melihat mukbang, mencoba untuk memasak ayam pedas. Dan itulah kali pertama Libra membuat masakannya tak terlalu parah rasanya.
“Kamu mau ikut ke kantor?” hari ini mereka memang tak memiliki jadwal kuliah. Karena itu Virgo masuk kerja dengan jam normal dan mencoba untuk mengajak istrinya.
“Ngapain, Yang? Masa lihat kamu kerja aja.” Dia tak mungkin mau terlihat bodoh dengan melakukan itu bukan?
“Kakek nanyain kamu kemarin.” Virgo yang ada di depan kaca rias kini berbalik untuk melihat sang istri, “Nanti aja pas waktu makan siang. Kamu bawa makan siang, kita makan siang bareng.”
“Bukan masakan aku kan?” Libra tak akan siap kalau dia harus memamerkan masakannya dengan rasa hambar itu kepada kakeknya.
“Kakek itu suka dengan ayam bakar, kamu nanti bawa aja. Yang di deket kantor itu enak. Kakek suka beli di sana.” Itu adalah jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan kepada sang suami.
Libra menyetujui, sebelum Virgo berangkat bekerja, sarapan sudah terhidang dengan manis di atas meja makan dan hasil karya dari Libra. Pagi-pagi tadi, Libra sudah mulai beraktifitas. Mulai dari mencuci pakaian, menyapu, kemudian memasak untuk sarapan. Semua itu dilakukan sendiri karena tentu saja dia tak akan meminta bantuan Virgo yang sehabis sholat subuh kembali tertidur.
Kalau memang dia bisa melakukan semua sendiri, Libra sama sekali tak meminta bantuan dari Virgo. baginya, Virgo sudah bekerja keras untuk menghidupinya dan dia juga tak boleh manja dengan sedikit-sedikit mengeluh.
Virgo sudah berangkat bekerja. Dia di rumah seorang diri tanpa tahu harus melakukan apa. Mungkin nanti sekitar pukul sebelas dia akan berangkat ke kantor Virgo untuk mengunjungi kakeknya. Dia tahu dia seharusnya memang sudah datang ke rumah kakek nenek Virgo setelah menikah. Nyatanya belum sekalipun mereka datang ke rumah Wondo.
Duduk di ruang keluarga, dia melihat galeri dalam ponselnya dan menemukan potret Virgo yang kemarin sedang berbelanja dengannya. Keisengannya membuahkan hasil.
Suaminya terlihat tampan ketika berdiri dengan sandal jepit dan membawa troli belanjaan. Dia ingat betul jika Virgo memang sedang memilih minuman di dalam lemari es besar yang ada di supermarket tersebut. Kemudian memutuskan untuk memposting foto tersebut di social medianya.
Libra – Good boy
Itu adalah caption yang ditulis Libra dan menandai social media sang suami. Follower Libra memang meningkat tajam setelah kejadian basket waktu itu, jadi seandainya ada banyak komentar yang mungkin tak bagus, itu sudah biasa dia dapatkan.
Dan benar saja, baru saja dia memposting itu selama lima menit, sudah banyak sekali komentar yang diberikan untuk foto tersebut. Banyak sekali pujian yang tertulis di sana. Ada juga yang memberi komentar jika Libra begitu beruntung mendapatkan Virgo.
Virgo – Pasti karena aku ganteng, Yang, makanya kamu posting foto ini.
Virgo juga ikut serta dalam memberi komentar. Libra yang melihat itu tersenyum sebelum kembali membalas komentar tersebut.
Libra – Bukan lho, Yang, aku cuma suka sama sandal jepitmu itu.
Dan candaan yang dilakukan oleh Virgo dan Libra semakin membuat yang membacanya itu ikut merasakan kebahagian yang mereka rasakan.
*.*
Libra melihat Virgo di depan kantor sedang mengobrol dengan satpam. Dia juga bisa melihat senyum lelaki itu. Libra sudah memarkirkan mobilnya dan menarik nafas panjang ketika akan turun dari sana. Ini memang bukan pertama kalinya dia masuk ke gedung megah tersebut, tapi kali ini jelas berbeda, karena dia sudah menyandang status istri Virgo meskipun seperti yang Virgo katakan, jika karyawan di sana tak tahu jika Virgo sudah memperistrinya.
Memastikan jika mobilnya sudah terkunci, Libra berjalan mendekati sang suami. Di tangannya sudah ada makan siang yang akan disantapnya dengan Wondo. “Yang!” panggilnya kepada Virgo yang membuat lelaki itu menoleh.
“Udah datang. Langsung masuk yuk, aku tadi udah bilang sama papa juga kalau kita akan makan bareng.” Libra mengangguk dan berpamitan terlebih dulu kepada satpam di sana sebelum masuk ke dalam gedung kantor.
Orang-orang yang berlalu lalang di sana menatap dua orang yang sedang berjalan itu dengan tatapan penasaran. Virgo yang membawakan makan libra dan ditangan lainnya menggenggam tangan Libra itu jelas menimbulkan reaksi bagi orang-orang di sana. Karena akhirnya mereka tahu siapa kekasih dari Virgo.
Naik ke lantai atas, mereka masuk ke dalam ruangan Wondo. Di sana sudah ada Firman yang memang sedang menunggu mereka datang.
Wondo tersenyum lebar ketika melihat Virgo masuk bersama Libra. Lelaki itu langsung berdiri untuk menyambut cucu menantunya tersebut. Libra langsung mendekati para tetua itu untuk bersalaman. “Kakek sehat?” tanyanya.
“Sangat sehat sekali, Nak.” Jawabnya dengan senyum yang mengembang karena merasa bahagia. Pun dengan Firman yang melihat itu juga merasakan kebahagiaan yang sama.
“Main-mainlah ke rumah kakek. Nenek kalian juga udah nunggu-nunggu kalian kok nggak datang-datang, katannya,” mereka sudah mulai makan dengan lahap.
“Iya, Kek, maaf belum pernah datang, kalau weekend biasanya ada aja yang dikerjakan.” Jawab Libra lugas.
“Nggak papa. Namanya juga penganten baru, pasti masih mau pacaran kan? Apalagi proses pacaran kalian waktu itu benar-benar nggak menyenangkan.” Godaan itu membuat Libra tersenyum canggung, “Tapi kakek suka kalian yang seperti sekarang ini. Kalian udah sah, dan nggak akan menimbulkan dosa kalau mau berduaan.” Lanjut kakek Virgo.
“Benar,” jawab Firman, “Lagian kalau kalian pacaran terus, tenaga kalian akan terkuras karena satu orang yang nggak suka kalian bersama.” Libra pasti tahu siapa yang dimaksud oleh ayah mertuanya. Dia hanya bisa tersenyum miris mendengarnya. Dia paham sekali, entah berapa banyak kesakitan yang akan dia dapatkan dari ayahnya jika dia tak meresmikan hubungannya dengan Virgo.
“Pasti nanti beliau juga akan meresetui kok, Pa. Nggak mungkin akan terus berseteru terus kan?” jawab Virgo karena dia merasa tak nyaman jika harus membahas Ardi.
“Kakek setuju sama kamu, lambat laun dia pasti akan luluh kalau kamu mau usaha mendekati dia. Jujur saja, kakek juga tak suka dengan apa yang dia lakukan apalagi ingat kamu sampai masuk rumah sakit waktu itu.” Siapa saja bisa melihat rahang Wondo mengetat ketika mengatakan kalimat tersebut.
“Maafkan ayah saya, Kek.” Libra merasa tak enak hati karena mendengarkan betapa buruknya Ardi di mata keluarga suaminya.
“Udah, Kek,” Virgo menengahi, “Bagaimanapun beliau tetap ayah mertua Virgo. Nggak baik kalau kita memendam dendam.” Seharusnya, Virgo lah orang yang lebih sakit hati dengan Ardi karena dia adalah orang yang paling tersakiti oleh tindakan lelaki itu. Tapi tidak, Virgo justru santai saja menanggapinya.
Mereka memilih mengobrolkan hal lain karena tak ingin lebih banyak membahas tentang hal yang buruk.
Waktu makan siang belum selesai. Tapi Virgo sudah membawa istrinya keluar dari ruangan sang kakek. “Aku kenalin sama bang Nino.” Katanya sambil menggandeng tangan Libra. Mereka turun ke lantai bawah untuk sampai ke ruangannya.
Membuka pintu setelah sampai di sana, dan otomatis semua orang yang ada di ruangan tersebut langsung menoleh ke arah pintu. Mereka memang lebih suka menghabiskan waktu makan siangnya di dalam ruangan dengan memesan makanan lewat gojek. Sesimple itu memang hidup mereka. Namun sesekali mereka juga harus keluar jika merasa bosan di dalam ruangan.
“Virgo?” Adit, yang mejanya tak jauh dari pintu lebih dulu menyapa.
Virgo tersenyum dan mengajak Libra untuk masuk ke dalam ruangan kerjanya, “Bang, Kak, kenalin, ini istri gue, Libra namanya.” Kalau Nino yang mendengar itu pasti sudah biasa saja karena dia memang sudah mengetahui hal ini, tapi yang lainnya yang memang belum tahu jika Virgo sudah memiliki istri tentu saja terkaget. Bahkan mereka serentak hanya diam saja dengan ekspresi bodoh.
Virgo melangkah lagi untuk masuk lebih dalam lagi, dan mendekati meja Nino yang lebih besar dari meja-meja yang lain. “Bang, belum kenal sama istri gue kan? Gue bawa dia kesini untuk Abang kenalan sama dia.” Libra langsung mendekat dan bersalaman dengan Nino. Kemudian setelahnya baru berkenalan dengan yang lain.
“Ini beneran istri kamu, Vir? Kamu serius udah nikah?” satu-satunya perempuan yang ada di sana bertanya untuk meyakinkan.
“Iya lah, Kak. Masa aku ngakuin istri orang. Kan nggak lucu sama sekali.” Libra sudah ada di dekat Virgo kembali namun masih menutup bibirnya.
“Pantesan lo mau nikah muda, Vir,” Nino yang sedang menyederkan punggungnya di sandaran kursi itu menatap Virgo dan Libra bergantian, “Cantik kok.” Lanjutnya dengan ekspresi menggoda.
Libra malu dipuji seperti itu di depan orang banyak, maka dia mengeluarkan senyum kecil, “Terima kasih,” dia bilang. Karena jam kantor memang sudah waktunya kembali bekerja, maka Virgo pamit kepada teman satu ruangan itu untuk mengantarkan Libra.
“Ini baru satu ruangan aja yang tahu, Yang, kalau semua orang udah tahu, entah drama seperti apa yang akan terjadi.” Mereka sudah ada diluar ruangan dan turun ke lantai satu karena Libra harus segera pulang.
“Ya, pasti cuma jadi perbincangan aja sih. Nggak ada yang lain.” Santainya lelaki itu. membuat Libra mendengus saja mendengarnya.
“Yang, aku jalan boleh?” Izinnya, “Jalan sama Tere, tinggal dapat izin aja dari kamu. Lainnya udah siap semua.” Yang dimaksud oleh Libra adalah jika dia sudah membuat janji dengan sahabatnya itu untuk pergi jalan-jalan.
“Lama nggak?”
“Ya nggak tahu, namanya cewek kalau jalan ya mana bisa diprediksi.” Libra lupa dengan suasana sekitar dan dengan santainya mengalungkan tangannya di lengan Virgo. Membuat orang yang melihat keki saja.
“Aku pulang kerja, kira-kira kamu udah pulang belum?” Virgo menatap istrinya itu meminta jawaban, agar dia juga bisa memberi keputusan.
“Kayaknya bisa sih. Lagian jaraknya kan nggak jauh.” Sepertinya memang Libra berharap sekali dia bisa keluar bersama Tere.
“Oke! Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku. Hp nggak boleh mati, kalau aku chat harus cepet dibalas.” Wanti-wanti sang suami sepertinya memang benar-benar tak biasa memang.
“Oke!” Senyum Libra sumringah sekali ketika mendapatkan izin dari Virgo untuk dia jalan bersama Tere.
“Bawa ATM nggak?” diperhatikan sampai ini adalah hal yang membahagiakan bagi para perempuan. Libra mengangguk dan tersenyum.
“Nanti kalau aku belanja terus duitnya kurang, transfer lagi ya.” Bahkan ketika mengatakan itu, kerlingan mata Libra diberikan untuk menggoda sang suami. Tapi seketika ekpresinya serius ketika mengingat jika mereka sekarang harus berhemat.
“Nggak usah deh, Yang, kan kita harus berhemat sekarang.” Ucapnya, “Kamu aja belum gajian, masa aku mau belanja terus.” Virgo terkekeh mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya. Perannya luar biasa sekali.
“Kamu ngomongnya kaya kita itu beneran nggak punya duit banget gitu loh, Yang.” Balas Virgo, “Kita masih punya uang. Nggak usah difikirkan.” Selama ini, Virgo memang bukanlah lelaki yang tak memiliki perhitungan sama sekali. Dia memiliki tabungan yang cukup banyak dari pemberian ayah dan kakeknya.
“Kamu berangkat sekarang, kalau nunggu lagi, nggak bakalan balik cepet kamu nanti.” Yang disetujui oleh Libra.
Setelah perempuan itu pergi dari gedung kantor, barulah Virgo masuk kembali dan kembali bekerja. Dia tahu jika istrinya merindukan saat-saat dia masih tak memiliki tanggung jawab untuk mengurus suami, rumah, dan masih bebas. Ada masa dimana Virgo merasa bersalah dengan Libra karena merasa sangat jahat dengan menikahi Libra disaat umur mereka masih sangat muda.
Tapi ketika dia kembali befikir, maka dia tak bisa disalahkan. Ini adalah takdir yang sudah Tuhan gariskan untuknya dan juga Libra. Maka tak ada yang bisa mengelak dengan hal ini.
Dan mengizinkan Libra menikmati waktunya seperti sekarang ini adalah hal yang harus sesekali dia lakukan. Dia tak ingin menjadi egois dengan mengekang Libra.
Ternyata izin yang diberikan Virgo kepada Libra ini benar-benar membuat Libra senang bukan kepalang. Ketika dia sudah sampai di kos, Tere sudah menunggunya di depan. Namun ada yang berbeda dengan gadis itu sekarang.
“Kenapa?” tanyanya kepada Tere karena tak biasanya temannya itu bad mood seperti sekarang.
“Tengkar sama Edo,” bahkan jawabannya kaku sekali.
“Jadi?” Libra menjalankan mobilnya untuk berangkat namun kembali meminta kepastian dari Tere jika temannya itu masih ingin keluar, “Kita tetap jalan atau enggak nih?”
“Jadi. Gue BT banget sama dia sekarang.” Tere masih cemberut dan Libra tak ingin menambah gadis itu kesal karena pertanyaannya. Karenanya dia membiarkan dulu Tere merasa lebih baik.
*.*