Blind Love

Blind Love
BAB 25



Putih.


Putih.


Di mana-mana putih.


Apa aku sudah berada di surga? Atau di neraka?


Oh, tentu saja bukan. Ini masih di alam kubur. Sebelum kiamat datang, aku belum bisa ke surga atau neraka.


Tapi ….


Ahhh … rasa letih luar biasa itu datang lagi. Membuat mata malasku kembali terpejam. Lagi. Lagi. Dan lagi.


***


Aku terbangun untuk kesekian kalinya dengan perasaan yang tak jauh berbeda. Seperti ada yang menggantung.


Oh, ternyata begini rasanya mati. Seperti tidur biasa yang tidak nyenyak.


Sayup-sayup telingaku menangkap suara di kejauhan sana. Hanya sekilas. Selanjutnya suara tersebut lenyap, berganti kesunyian panjang tanpa jeda.


Mungkin tadi itu suara arwah di seberang kuburanku.


Haha, lucu sekali punya tetangga arwah.


“Alexa sudah sadar!”


Seruan heboh kali ini terasa lebih nyata, membuat kedua bola mataku terbuka lebar.


Benar-benar terbuka maksudku.


Jika sebelumnya kukira diriku tengah berada di alam surga, maka kini aku pun tahu tempat ini semacam ….


“Ini rumah sakit?” Bahkan telingaku tak percaya suara serak yang baru saja terdengar berasal dari mulutku.


“Alhamdulillah … akhirnya kau sadar juga adikku!”


“Alhamdulillah ….”


Telingaku kembali tak percaya kala mendengar dua suara lain. Dan lebih tak percaya lagi begitu melihat keduanya benar-benar ada di samping ranjangku, tersenyum lebar seraya berurai air mata.


“Kak Nisa?! Kak Deri?!” seruku takjub meski masih bersuara parau.


“Iya, ini kakak, Dik.” Kak Nisa mencium keningku lembut. “Kakak khawatir banget waktu denger kamu koma tiga hari.”


“Aku? Koma? Tiga hari?”


“Iya, Dik. Kami benar-benar cemas.” Kak Deri mengusap rambutku penuh kasih. Oh Tuhan, nyatakah semua ini? “Untung Kakak punya tabungan yang lumayan besar, jadi Kakak bisa jenguk adik Kakak yang cantik ini.”


Aku tersipu. “Kakak gombal.”


Mama yang rupanya berada di ruangan yang sama dengan kami ikut menimpali. “Papa sampai bela-belain ambil cuti demi kamu,” katanya seraya menunjuk satu titik. Tampak Papa tertidur pulas di atas sofa. Saking pulasnya ia sampai tidak tahu anak bungsunya ini telah siuman.


“Sebentar lagi Kakek, Nenek, dan Kak Jovan datang dari Bandung. Mbah Istri dan Mbah Pameget juga katanya mau ke Purwakarta,” kata Kak Nisa yang kutanggapi dengan ‘o’ bernada panjang.


Kakek dan nenek dari kedua belah pihak datang ke Purwakarta? Akan terjadi reuni keluarga besar kalau begitu.


“Oh ya, Cilla gak ke sini, Ma?”


Ya, ampun! “Sekarang tanggal berapa, Ma?” tanyaku rusuh. Ujian semester lima merupakan momen terpenting di kelas XII. Gawat sekali kalau harus ikut ujian susulan di semua mata pelajaran. Tapi kemudian aku menjerit, merasakan sesuatu menyetrum punggung saat aku mencoba bergerak.


Kak Deri membetulkan posisi tidurku seraya menegur, “Hati-hati!” yang kutanggapi dengan cengiran polos.


“Tiga puluh November,” kata Mama. “Tenang, masih hari pertama. Pulihkan dulu kondisimu, baru ikut ujian.”


Sebenarnya masih banyak yang ingin kutanyakan. Tapi sayang tubuhku tak mau berkompromi. Rasanya sangat lemaaas sekali. Mama bilang itu pengaruh obat. Alhasil aku pasrah saat kantuk mengambil alih kesadaranku kembali.


***


Rifa ada di sana, berbaring tenang dengan kedua mata terkatup rapat. Tadi siang om dan tantenya datang membesuk, lalu pulang sekitar lima menit yang lalu.


Dengan langkah terseret, kudekati Rifa. Kondisinya tidak jauh berbeda dengan Tante Diana. Tertidur lelap dengan berbagai alat bantu terpasang di tubuh. Tanpa sadar bulir di mataku menetes. Membasahi lengan lelakiku yang terbalut perban.


Lelakiku? Ah, lucu sekali. Kami bahkan belum berbaikan hingga detik ini.


Kuusap lembut lengan Rifa seraya merenung. Tragedi tersebut nyaris seminggu berlalu. Namun sensasi takut juga ngeri yang mendera masih membekas jelas di benakku.


Dokter bilang, pemicu utamaku mengalami koma selama tiga hari bukan karena luka tembakan, tapi lebih dipengaruhi trauma hebat yang kualami.


Semakin dipikirkan, aku semakin bertanya-tanya siapa gerangan kah yang membawa kami kemari? Hingga detik ini pertanyaan tersebut masih tetap menggantung. Tak ada seorang pun yang mampu memberi jawaban pasti. Tidak kakakku, tidak pula kedua orangtuaku. Mereka hanya mengangkat bahu dan memintaku untuk tidak terlalu memikirkannya.


Bagaimana tidak memikirkan? Bukankah tanpa jasanya aku pasti sudah mati di tangan Raka?


Ah ya, Raka. Ngomong-ngomong, di mana anak itu sekarang?


***


“Ma, di mana Raka?” tanyaku sore itu.


Aku, Mama, dan Kak Nisa baru saja selesai mengemasi barang bawaan kami di rumah sakit. Dokter Reno sudah memberi lampu hijau untukku. Aku bisa pulang kapan pun aku mau. Tentu saja ini kabar gembira. Itu artinya aku tidak perlu membuang waktu lebih lama lagi di tempat ini.


Mama tampak ragu menjawab pertanyaanku. “Kenapa tiba-tiba kamu menanyakan Raka?” tanyanya balik.


“Aku cuma pengin tahu, Ma,” jawabku. “Biasanya kan, di mana ada Alexa, di situ ada Raka mengikuti.”


Benar. Selama ini ia telah menguntitku. Ia memata-mataiku. Ia mencari cara untuk mencelakaiku. Ia musuh dalam selimut!


“Raka ….”


Mama tidak meneruskan ucapannya. Dengan sabar kutunggu Mama kembali berbicara. Namun penantianku tak kunjung bersambut. Mama tetap membisu. Ia justru menutup mulutnya dengan dua telapak tangan. Tak lama, kulihat tubuh Mama berguncang hebat.


“Lho, Ma?” Aku menatap heran. Mengapa Mama menangis? Apa yang sebenarnya terjadi pada Raka? Apa dia …?


Aku berbalik menatap Kak Nisa. “Raka … nggak bunuh diri kan, Kak?” bisikku nyaris tak terdengar. Apa pun itu, kuharap ia menjawab ‘tidak’.


Sayangnya Kak Nisa malah ikut menangis, seolah mengiyakan dugaanku.


Ah, si bodoh itu kembali bertindak bodoh. Untuk apa ia bunuh diri? Untuk apa?!


“Gak mungkin, gak mungkin,” kataku berulang-ulang.


Seperti agar-agar, perlahan tubuhku merosot dengan sendirinya. Seluruh persendianku lumpuh. Mati rasa. Bahkan hati dan pikiranku terasa kosong. Benar-benar kosong.


Aku tidak mengerti mengapa—mengapa cinta bisa membutakan segalanya?