
Virgo menghembuskan napas lega ketika dia keluar dari ruangan kakeknya dan berjalan menuju lift. Setelah dia selesai bekerja, maka dia tak merasa jika dia harus berlama-lama di sana. Apalagi ada Ardi yang membuatnya tak nyaman. Memang dia bersikap biasa saja ketika dia harus bertemu kembali dengan lelaki itu, tapi bagi Virgo, menghindari lelaki itu adalah hal yang lebih baik.
Tapi, kenapa Ardi berada di sana sedangkan yang bermasalah adalah sistem dari perusahaan Wondo? Maka jawabannya mudah saja, karena ketika system di perusahaan Wondo dinyatakan bermasalah, Ardi sedang berada di sana untuk melakukan meeting dengan lelaki itu.
Memilih ke kantin kantor alih-alih langsung pulang ke rumahnya, Virgo memesan makanan di sana. Bukan wajah asing memang Virgo berada di tempat itu, karena ibu kantin pun sudah mengenal dirinya.
“Mas Virgo!” sapanya dengan senyum merekah.
“Ya, Bu,” katanya sambil tersenyum, “Buatin saya makanan yang enak ya. Lapar sekali saya.” Yang dijawab antusias dengan perempuan paruh baya tersebut.
“Siap, Mas. Mas mau makan apa memangnya?” lelaki itu tak langsung menjawab karena otaknya sedang memikirkan sesuatu yang bisa menuntaskan rasa laparnya.
“Mie goreng dua porsi dijadikan satu porsi, ada tambahan telur, dan ayam goreng tepung nggak usah di iris. Aku mau menggigitinya,” wajah Virgo yang membayangkan makanan itu nanti akan masuk ke dalam mulutnya, membuat wajahnya berbinar cerah. “Jangan pakai lama ya, Bu.”
“Minumnya, Mas?”
“Haish!” katanya menggelengkan kepalanya, “Es syrup.” Katanya dan langsung pergi ke meja kosong dan menunggu pesanannya itu datang.
Virgo memainkan ponselnya sembari menunggu. Lelaki itu serius sekali dengan benda yang ada di genggamannya. Bahkan tak menyadari jika dia diperhatikan oleh beberapa orang. Mereka seolah ragu akan mendekat, tapi juga ingin. Dan salah satu dari mereka memberanikan diri.
“Mas Virgo!” panggil salah satu dari mereka sampai Virgo mendongak dan mendapati beberapa orang di depannya.
“Ya?” bagi Virgo ini mungkin aneh, tak biasanya ada seorang lelaki yang memanggilnya.
“Terima kasih.” Katanya dengan wajah yang berbinar entah karena apa karena Virgo merasa keheranan.
“Maaf?”
“Mas Virgo sudah menyelamatkan hidup kami.” Katanya menambahkan.
“Menyelamatkan hidup siapa? Nggak paham saya.”
“Virus kiriman dari seseorang itu, Mas yang sudah membuangnya kan? Bang Nino yang bilang.”
“Aaaa!” Virgo paham sekarang apa maksud dari apa yang dikatakan oleh lelaki di depannya itu. Hampir dia menjawab ketika ibu kantin mengantarkan pesanan makanannya.
“Kalian mau balas jasa sama saya nggak?” Virgo mulai mengangkat mie itu menggunakan garpu agar kepulan asapnya bisa keluar.
“Apa, Mas?” begitu tanya lelaki itu.
“Bayarin saya ini.” Liriknya sebentar kemudian memasukkan mie itu ke dalam mulutnya dan mengunyahnya.
“Kalau itu beres, Mas. Jangankan cuma ini, Mas pesan lima porsi pun kami mau membayarnya.” Yang mendapatkan anggukan dari yang lain.
Virgo terkekeh mendengar itu. “Enggak lah, bercanda saja saya. Ya, meskipun uang saya nggak banyak, tapi cukuplah buat bayar makanan saya sendiri.” Begitu Virgo bilang. “Kalian kembali bekerja saja, saya nggak mau kena omel kakek kalau ajak kalian ngobrol di sini.”
Virgo memang dikenal cukup sopan dan humble ketika bersama karyawan di sana. Tak ada sikap dari Virgo yang menunjukkan kekuasaannya padahal dia adalah satu-satunya penerus tahta kerajaan bisnis pak Wondo.
“Serius, Mas, biar saya aja yang bayar pesanan, Mas.” Yakinnya orang itu kepada Virgo.
“Nggak usah, Bang. Mungkin nanti kalau kakek sama papa nggak kasih saya duit, saya akan cari Abang buat minta traktir makan.” Katanya yang dibalas dengan kekehan dari lelaki itu.
Tak mungkin juga pak wondo dan ayahnya sampai tak memberinya jatah, itu mustahil sekali bukan?
“Kalau begitu, kami pamit dulu, Mas. Nikmati mie nya.” Pamitnya dan mendapatkan anggukan dari Virgo.
Sedangkan Virgo sendiri benar-benar menikmati makanannya dengan sepenuh hati. Tak mempedulikan dan tak tahu jika dia sekarang menjadi trending topic di kantor tersebut karena aksinya terkait dengan mampu ‘mematikan’ virus yang sedang melanda system beberapa saat lalu.
Terbukti ketika dia keluar dari kantin dan berjalan dengan santai, beberapa orang yang berjalan bersisian dengannya menatapnya dengan tatapan yang tak seperti biasa. Kekaguman itu terpancar dari tatapan itu.
“Sepertinya kamu sudah membuat kagum semua orang dengan aksimu.” Entah datang dari arah mana, Virgo lagi-lagi harus berurusan dengan Ardi. Dihadapkan dengan situasi seperti ini, membuat Virgo mengingat cerita dari kedua orang tuanya tempo hari. Tapi berusaha diabaikan oleh Virgo.
“Saya pikir mereka terlalu berlebihan menanggapi itu,” jawab Virgo santai.
“Atau justru kamu senang mendapatkan pujian dari mereka dan diagungkan seperti ini?”
Virgo mana menanggapi dengan serius ucapan Ardi, dia justru terkekeh geli mendengar kalimat yang dikeluarkan oleh Ardi untuknya. “Saya sudah terbiasa mendapatkan hal semacam ini, Om. Jadi bagi saya ini adalah hal yang sangat biasa. Sejak saya kecil, tak pernah sekalipun saya mendapatkan pandangan meremehkan dari orang lain.” Jelasnya.
Dan Ardi balik mendengus sekarang. Meskipun itu adalah sebuah kebenaran, ketika orang itu sendiri mengatakan jika dirinya selalu mendapat pujian dari orang lain, maka itu akan terdengar sombong di telinga orang yang mendengarkan.
Virgo memang sengaja melakukan itu. Dan mengabaikan wajah jengkel dari lelaki di sampingnya. Menyombongkan diri di depan orang yang tak menyukai kita adalah hal yang sangat menyenangkan. Dan Virgo tentu saja dengan senang hati melakukannya.
“Virgo?” Firman datang dengan tanda tanya besar di kepalanya. Sudah sejak tadi putranya itu pamit pulang, tapi sudah hampir satu jam setengah, Virgo masih berada di sana.
“Bukannya kamu tadi pamit pulang? Mampir kemana dulu?” Firman mengabaikan Ardi di sana dan merasa tak perlu bertanya apa yang sedang mereka bahas sambil berdiri seperti itu.
“Aku makan dulu, Pa. Lapar aku habis kerja keras.” Jawabnya yang mendapatkan gelengan kepala dan senyum geli dari ayahnya.
“Makan banyak tadi? Mau makan lagi, biar papa pesankan di restoran langganan kita.”
“Nggak-nggak-nggak,” jawabnya sambil menggeleng. Aku masih kenyang. Nanti aja dulu, mentahnya.” Sambil menaik turunkan alisnya.
“Udah sore, pulang sana.” Usir Firman.
“Lah, Papa mau kemana?”
“Siapa?”
“Siapa lagi kalau bukan mamanya Virgo.” Mengatakan itu, ayah Virgo sambil berjalan menuju mobilnya yang terparkir. Bahkan tahu kalau Virgo mendesis malas karena hal itu.
Mengingat Ardi masih berdiri di sana, Virgo tentu tak melupakan kesopanannya, maka dia berpamitan. “Saya permisi dulu, Om.” Katanya. Dan Ardi hanya berdehem pelan untuk menjawab.
Tak ada yang tahu apa yang sedang ayah Libra itu pikirkan. Lelaki itu bahkan menampilkan wajah seriusnya. Tak ada yang ingin mengartikan arti ekspresi itu, tapi jika Virgo boleh menebak, lelaki itu memang kurang piknik.
*.*
Ardi termenung di ruang kerjanya dengan pandangan serius menatap layar laptopnya yang sudah menampilkan layar hitam karena memang sudah dimatikan. Pikirannya melayang ke kejadian siang tadi. Entah kenapa dia terpikir dengan lelaki yang selama ini tak disukainya.
Melihat Virgo, membuatnya mengingat Firman saat muda dulu. Terlihat tak pernah serius, tapi sekalinya serius dapat melakukan apapun yang bahkan susah dilakukan oleh orang lain. Tapi setelah lama-lama memikirkan tentang Virgo, ingatannya melayang pada masa lalunya.
“Sintya, kamu tahu kalau kamu hanya sebagai bahan taruhan kami,” Ardi mengatakan itu ketika sudah mulai geram dengan apa yang dilakukan oleh Firman. Karena Ardi sudah meminta lelaki itu untuk meninggalkan Sintya dan Firman justru terus mendekat.
“Tapi itu karena kamu, Di.” Katanya dengan wajah kesalnya, “Kamu yang mempunyai trik murahan itu untuk membuatku patah hati sebagai balasan karena aku menolak kamu.” Kata Sintya.
“Kamu pasti akan meninggalkannya, kan? Kamu nggak mungkin akan bertahan dengan pembohong seperti dia.” Memastikan jika hubugan Firman dan Sintya akan segera berakhir.
“Enggak!” putus Sintya dengan tenang. “Karena dia sudah mengatakan itu ketika awal kami bertemu. Dia mengatakan semua kalau kamu memiliki rencana murahan seperti itu.” Ardi jelas saja marah mendengar hal itu. Firman, adalah teman, kawan, bahkan mereka sering sekali melakukan hal-hal yang menyenangkan bersama, dan berani sekali lelaki itu menghianatinya karena seorang perempuan. Itu sangat menyebalkan.
“Jadi kalian menghianati aku?” tanyanya dengan rahang yang mengetat.
“Ini bukan sebuah pengkhianatan, Di, tapi ini adalah balasan yang harus kamu terima karena kamu sudah berani bermain curang ke aku. Kita sudah berteman lama dan kamu mampu melakukan hal sekotor itu untuk mendapatkan aku? Itu sangat konyol, Di, kamu harus tahu itu.” Sintya merasa geram juga karena apa yang dilakukan Ardi kepadanya.
“Jadi kamu merasa apa yang kamu lakukan itu adalah kebenaran?”
“Aku nggak pernah bilang seperti itu. Tapi aku hanya akan mengingatkan jika hukum karma itu sudah berlaku, Di. Kamu yang menanam, kamu juga yang akan memanen. Bukan aku ataupun orang lain.”
Ardi merasakan guncangan di tubuhnya dan melihat ada istrinya yang berada di sana. “Jadi kenapa lagi sekarang?” tanya perempuan itu. Ibu Libra itu sudah segar karena cream malam dan siap untuk tidur.
Namun lebih dulu mencari sang suami dan ternyata mendapati lelaki itu sedang melamun. Jihan memang sudah mengetahui masa lalu antara orang tua Libra dan juga sang suami, tapi dia hanya menanggapi dengan santai.
“Tidur,” wajah Jihan dibuat semenyebalkan mungkin kemudian berlalu begitu saja dari hadapan sang suami. Ardi hanya menatap istrinya dan menghela napas panjang kemudian mengikuti perempuan itu.
Ardi memang bukan lelaki yang takut akan istri, tapi dia memang mudah sekali takluk dengan perempuan yang sudah menemaninya selama lebih dari dua puluh tahun itu.
Tak ada pertengkaran setelahnya. Jihan dengan santai berbaring di atas kasur dengan selimut yang menutup sampai perutnya. Memejamkan matanya dengan tak memperdulikan suaminya yang sedang menatapnya tanpa sepengetahuannya.
“Aku tadi bertemu dengan Virgo.” Ardi menyelonjorkan kakinya dan memulai bercerita. Jihan membuka kembali matanya ketika mendengar suara Ardi. Perempuan itu menolehkan kepalanya ke arah sang suami.
“Dia yang menyelamatkan perusahaan Pak Wondo ketika ditimpa masalah besar.”
“Lalu?” Jihan menyambung mendengar hal itu, “Kamu menyesal sudah menentang Libra dengannya?” tanyanya.
“Aku hanya mengingat sesuatu di masa lalu.” Jawabnya tanpa memberi penjelasan dari pertanyaan istrinya, “Tidur.!” Perintahnya seperti apa yang dikatakan oleh Jihan beberapa saat lalu.
Meninggalkan kisah orang tua Libra, kita akan beralih pada Libra yang tengah menatap helm pemberian dari Virgo dengan perasaan yang awut-awutan tak karuan. Helm itu masih disimpan dengan sangat rapi di dalam kamar kosnya. Padahal dia tak membawa kendaraan ketika tinggal di kos, tapi dia tetap membawa helm itu ke sana.
Gadis itu sedang berpikir tentang apa yang sedang terjadi dengan dirinya dan juga Virgo. Kenapa hubungan mereka sekarang sudah menjadi sangat tak nyaman. Dia tak memiliki jawaban atas apa yang ada di kepalanya.
Dan kali ini Libra dan juga Virgo benar-benar sudah pisah sama sekali. Hubungan yang diharapkan bisa diperbaiki kini justru menjadi benar-benar terputus. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi nanti, tapi ketika melihat semua ini sudah menjadi semakin parah, maka dalam pikiran orang adalah mereka benar-benar tak lagi bisa bersatu.
“Li” ketukan pintu kamarnya terdengar dan dengan heboh Tere berteriak, “Buka coba, cepet-cepet.” Katanya seolah dia sedang membawa kabar penting.
Libra mendengus di dalam kamar kemudian namun tak ayal dia juga membuka pintu kamarnya. “Kenapa sih?” begitu tanyanya dengan kening mengernyit.
Namun Tere tak langsung menjawab, karena gadis itu lebih dulu menyerobot masuk ke dalam kamar Libra dan duduk dengan tenang di atas kasur. Libra menutup pintunya sebelum dia ikut bergabung bersama Tere di sana.
“Kenapa?” Libra kembali bertanya karena Tere tak kunjung mengatakan apapun. “Gue bisa minta bantuan elo nggak?” begitu katanya.
“Soal?”
“Edo besok ulang tahun. Mau kasih kejutan kecil-kecilan sama dia. Tapi gue minta bantu lo.”
Libra mengangguk, “Boleh,” jawabnya ringan tanpa berpikir, “Bantuan seperti apa dulu ini?”
“Bantu buat beli barang-barang buat acara dia. Tapi ada Virgo juga di sana,” Tere mengatakan kalimat terakhirnya itu dengan nada tak meyakinkan sama sekali. Mungkin takut jika Libra akan berbalik untuk menolak.
Libra tentulah tahu ini akan terjadi. Untuk melupakan Virgo tak akan semudah yang dibayangkan. Ya, Libra memang sempat ingin segera melupakan semua hal tentang Virgo menyadari jika hubungan mereka tak akan bisa disatukan kembali. Tapi sepertinya memang akan lebih susah dari karena pertemuan mereka akan sering terjadi.
“Nggak masalah,” Libra menunjukkan kepada Tere jika dia akan baik-baik saja meskipun ada Virgo di sana. “Gue akan baik-baik saja. Nggak selamanya gue harus terus menghindar.” Kata-katanya meyakinkan Tere.
“Serius?” Tere juga sepertinya memang ikut tak yakin dengan apa yang dikatakan oleh Libra. Tapi bagaimana lagi, dia harus mempercayai ucapan temannya itu.
“Iya.” Yakinkan Libra kepada Tere.
“Oke!” jawab Tere menyetujui apa yang dikatakan oleh Libra kepadanya. “Kalau nanti misalnya lo nggak nyaman ada Virgo di sana, lo bisa mengalihkan pikiran lo dengan ngobrol dengan yang lain.” Tere hanya mencoba untuk memberikan opsi jika sesuatu terjadi nanti.
“Ya, gue ngerti.” Menolak bukan pilihan yang tepat bagi Libra karena bagaimanapun mereka adalah temannya.
*.*